CALONKU SEORANG MAFIA

CALONKU SEORANG MAFIA
Pernikahan yang nyata


__ADS_3

Amira benar-benar terkejut. Buket bunga yang ia pegang terjatuh ke lantai. Tepat di samping kursi ruang tamu, ada neneknya dengan tangan terikat dan mulut yang terlakban menjadi pemandangan pertama setelah ia menyalakan lampu.


"nenek." lirik amira tanpa sadar.


Saat ia hendak melangkah kan kaki menuju neneknya, dua orang menangkap tangannya. Amira terperanjat lagi, ia tak sadar bahwa ada dua orang di belakang nya.


"kalian siapa? Lepas!" amira mencoba keras untuk lepas dari kekangan mereka. Pikirannya hanya satu, ia ingin membantu neneknya, segera!


"amrah qhaza amira." suara bass menggema dari arah belakangnya, dari balik pintu masuk, menuju ke arah amira. Lagi dan lagi ia kenal suara ini. Suara seseorang yang tak pernah ingin amira dengar.


Langkah kaki seseorang itu semakin mendekat ke arah amira. Tanpa menoleh dan melihat ke belakang syaima sudah tau dia siapa. Ya, dia Justin.


"saya tidak tau sampai kapan anda akan menggangu hidup saya. Lepas kan nenek saya, atau...."


"atau apa?" kalimat amira belum selesai tapi justin langsung memotongnya. Ia pun hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Jika justin ingin membuat neneknya celaka, maka ia akan melawan sampai titik darah penghabisan, tidak perduli apa yang terjadi. Satu hal yang harus justin tau, dia, amarah qhaza amira tidak akan takut pada siapa pun kecuali Allah swt.


"lepaskan dia!" perintah justin pada dua orang yang menangkap lengan amira.


Setelah terlepas dari kekangan, reflek syaima langsung berbalik ke belakang. Saat berbalik Amira terperanjat, pria blasteran ini tepat berada di depannya. Sangat dekat! Manik biru itu menatapnya seolah dia adalah target yang tak bisa dilepaskan.


Amira tersadar dan sedikit mundur, ia langsung teringat nenek nya. Bergegas ia menuju kesana. Dengan susah payah ia melepaskan ikatan dan lakban yang menempel di mulut neneknya. Air matanya tanpa sadar menetes. Jika boleh jujur hal di dunia ini yang bisa membuat dia menangis adalah ketika semua menyangkut tentang neneknya. Pria itu benar benar menguji kesabarannya.


"selamat atas kelulusan anda!" juatin maju dan duduk dikursi depan amira. Disampingnya ada drik yang dari tadi menikmati permainan tuannya.


amira menatap justin sambil merangkul bahu lemah neneknya "apa yang anda lakukan dirumah saya?"


"tidak ada." tanpa basa basi justin menjawab dengan singkat.


Amira mengertak kan giginya, ia yang awalnya berjongkok langsung berdiri, tangannya ia kepalkan kencang.


"justin, coba katakan pada saya apa kesalahan saya pada anda? Jika ini semua berawal dari tabrakan di kafe, maka tidak perduli siapa yang salah dan benar, saya yang akan meminta maaf dengan sangat sangat tulus pada anda, setelah itu, tolong, tolong untuk pergi dan jangan pernah mucul lagi di hadapan saya untuk selama lamanya!" jujur, syaima sangat frustasi jika berhadapan dengan pria satu ini.


justin terdiam sejenak. Ia kemudian berkata "setelah paman mu tiada, kau menjadi seorang pemarah."


"apa?"

__ADS_1


Kata-kata justin sukses membuat nenek amarah syok, ia tak tau apa yang pria ini katakan benar atau tidak. Ia memegang tangan amira yang terkepal "apa itu benar, nak?" amira kaget ia benar-benar tak menyangka justin mengatakan hal yang selama ini ia rahasiakan.


Dengan susah payah syaima mengatur nafas dan tangis nya agar dia tidak terisak, ia lalu berjongkok lagi di depan neneknya dan memeluknya lama.


"Yang dia katakan itu benar, nek" mendengar hal itu. Nenek amira menangis sekencang kencang nya dibahu amira. Kehilangan anak untuk kedua kali adalah hal yang paling menyakitkan, amira mengerti itu, apalagi jika neneknya tau bahwa yang membunuh pamannya adalah pria di depannya. Pria yang tak mempunyai hati sama sekali.


Nenek amira melepaskan pelukan nya "sebenarnya Apa yang telah terjadi nak hiks, hiks?" Katanya mengeratkan gengaman tangannya.


Sedang justin memasang wajah dingin kearah dua wanita di depannya. "saya yang membunuhnya!" dengan mudahnya justin mengatakan hal itu.


Sementara nenek amira hatinya berasa di tusuk beribu ribu kali. Pembunuh anaknya sekarang ada didepannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ia hanya mengangkat kepalanya kearah atas, air matanya jatuh melewati pipinya yang keriput. Ia berdoa dalam hati agar pria ini diberikan petunjuk yang benar dari Allah swt.


Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan tapi balas dengan kebaikan. Dan doa kan agar Allah mengampuni dosa nya. Itu yang nenek amira lakukan sekarang.


"Astagfirullahalazim" nenek amira memegang kearah jantungnya. Amira ketakutan, takut jika terjadi apa apa dengan neneknya.


Dia tidak tau apa yang justin inginkan, apa ia ingin mencoba membunuh neneknya juga? Satu kalimat keluar dari bisikan hatinya "tidak akan bisa!".


"cukup, justin. Saya ingin anda pergi dari rumah saya sekarang juga!" amira tanpa sadar berteriak, dalam hidupnya ia tak pernah semarah ini. Justin yang diteriaki hanya diam masih mempertahankan wajah dinginnya.


"assalamualaikum, boleh saya duduk disini?" pria tua tersebut berbicara pada amira. Amira memandang justin sebentar ia tak mengerti maksud justin, ia pun tanpa sadar mengangukan kepalanya.


Pria tersebut duduk berseberangan dengan justin dibatasi sebuah meja. Amira mencoba menenangkan dan menuntun neneknya untuk duduk di kursi samping pria tersebut. Sementara ia berdiri di samping neneknya meliat permainan apa yang akan justin mainkan. Dan pastinya permainan itu akan selalu merugikan dia.


Sekilas amira melihat pria tua berpeci ini mengangguk seakan meminta persetujuan justin. Lalu dibalas anggukan juga oleh justin.


"Andre Alexander Justin, tolong ikuti saya" justin mengangguk.


"bismillahirrahmanirrahim"


"Bis....bismillahirrahmanirrahim" justin sedikit terbata saat mengucap kalimat ini untuk pertama kalinya.


"Asyhadu an la ilaha illallah"


"Wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah"

__ADS_1


"saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi muhammad adalah utusannya"


Dengan lantang justin mengucapkan dua kalimat syahadat sembari dituntun oleh pria tersebut.


"alhamdulilah sekarang anda telah menjadi muslim" pria berpeci itu menjabat tangan justin. Setelah itu ia mengucapkan hamdallah dan justin.


juga mengikutinya.


suara bass justin ketika mengucapkan dua kalimat syahadat membuat jantung amira berdegup kencang. ini tak mungkin, tapi nyata.


Mata dan telinganya tak mungkin berbohong, pria ini masuk islam disaksikan dirinya. Ia tak tau mengapa tiba-tiba ada bulir air bening yang keluar dari matanya menetes perlahan.


ada suatu perasaan yang aneh dalam hatinya. Ia melihat kearah neneknya. Neneknya juga mengucapkan hamdallah. padahal nenek nya tau bahwa pria ini adalab pembunuh anaknya.


Ia mungkin tak bisa seikhlas dan setabah neneknya, bahkan Bibirnya terasa kaku untuk mengucapkan barang satu kata pun. Pria ini, dia tak mengerti.


"alhamdulillah, anda harus belajar banyak lagi tentang islam, apalagi jika ada seseorang yang dapat membimbing anda." pria tersebut tersenyum kearah justin.


mengucapkan dua kalimat syahadat dan pertama kalinya mengucapkan hamdallah dalam hidupnya membuat justin hanya diam. Entah apa yang terjadi padanya.


Ia telah memutuskan untuk memeluk agama islam. ia benar-benar merasa ada yang berbeda setelah mengucapkan kalimat tersebut. ia merasakan tuhan yang tidak pernah ia anggap ada, berada dekat dengannya. hatinya terasa lapang.


Matanya memunculkan sedikit kaca bening. namun, ia tersadar dan sedikit memalingkan wajahnya kesamping, ia kembali dalam keadaan nya seperti biasa, wajah datar dengan aura dinginnya.


Pria yang menbimbing justin tersebut keluar dari rumah amira setelah berpamitan.


Lalu, seseorang kembali masuk dengan pakain hitam dan berpeci hitam juga. Amira dan neneknya saling pandang.


Amira mencoba memejamkan matanya. Tidak tau apa yang harus dia lakukan, pria ini datang tanpa permisi kerumahnya lalu mengundang orang yang tak ia kenal tanpa izinnya juga.


"duduk lah dan nikahkan saya!" kalimat justin membuat mata amira yang terpejam langsung terbuka. Ia melirik disekitarnya mencoba mencari siapa yang ingin justin nikahi.


"dengan dia! " justin menunjuk amira, sedang amira yang di tunjuk menatap justin intens, mata cantiknya tak berkedip.


Kepanjangan! Scroll bawah aja:)

__ADS_1


__ADS_2