CALONKU SEORANG MAFIA

CALONKU SEORANG MAFIA
Antara Elsa dan Drik!!


__ADS_3

warning typo dimana mana!!!


Liza mempel lantai dengan kesal. Kemarin ia melihat justin menggendong amira, mengapa justin melakukan hal yang menjijikan itu!? Ia tau pasti amira memanfaatkan keadaan nya demi dekat dengan justin.


Ia sekarang harus berhati-hati dengan perempuan itu, dia tidak sepolos yang ia kira, ia pasti mempunyai hati yang hitam! Pasalnya, kemarin ia pingsan karena memakan sup yang telah wanita itu beri obat bius. Jika mengingat hal itu, darah liza naik sampai ubun-ubun.


Dan juga, apa perempuan itu terlalu bodoh sehingga berani membebaskan tawanan justin. Wanita itu benar-benar mencari mati. Tapi, ketika liza mengingat lagi saat justin dan amira berdekatan ia sekali lagi menggertakkan giginya.


Dengan bunyi "pakk" liza menjatuhkan pel ditangannya dengan keras. Ia menghentak kan kakinya.


"Jika saja jackson tak menyuruh ku menjadi mata-mata dan menjadi pelayan, maka semua tidak akan seperti ini!", liza menggeram.


Ia menyukai justin saat ia pertama kali bertemu. Coba bayangkan, siapa yang tidak akan tergoda dengan justin. Pria itu punya segalanya, ketampanan dan kekayaannya yang menjadi daya tarik sendiri. Liza tidak memungkiri bahwa ia menyukai nya karena hal itu.


"Anda kenapa? Cepat selesaikan pekerjaamu!", seseorang menegurnya dari arah belakang. Liza terkejut, ia berbalik dan mendapati bi arta disana.


Dia lagi, pelayan setia justin.


Ia hanya menghela nafas pelan, dalam hati ia berkata 'sial'.


"Maafkan saya!", ujar liza pelan membohongi perasaan nya yang geram.


"Urusan saya belum selesai dengan anda!".


Kalimat justin itu selalu terngiang dikepala syaima. Ia tak tau apa yang merasuki justin waktu itu, sampai-sampai ia berani menggendongnya. Justin memberinya waktu untuk memulihkan kakinya. Dan selanjutnya, amira tak tau apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini.


"Kaki nona sudah sembuh!", elsa meloncat kegirangan saat melihat nonanya bisa berdiri.


Amira tersenyum, "Anda merawatku dengan baik."


Pelayan kecil ini mengangguk dengan semangat,


Tak lama kemudian, seseorang mengetuk dari pintu. Elsa dengan cepat membuka kannya.


Namun seketika ia terdiam saat drik yang berdiri di depan pintu melihat ke arahnya, ia tak berani menatap mata sang empunya, ia sekarang terlalu gugup, sehingga tangannya tanpa sadar di remas dengan kencang.


"Elsa, katakan pada nona, tuan justin ingin bertemu dengannya.", ujar drik, ia tersenyum lalu berlalu pergi tanpa menunggu elsa menjawab. Elsa menghela nafasnya. Dia tak salah lihat kan, yang benar saja, drik tersenyum padanya?, bibirnya membentuk kurva samar, hatinya sungguh berbunga-bunga.


Amira yang melihat elsa tak bergerak di depan pintu segera menghampirinya. Melihat dari ekspresi elsa, amira tau mengapa ia seperti ini.

__ADS_1


"Anda menyukainya?", amira menggoda elsa yang menyapu keringat didahinya.


Elsa gelagapan, "Ah, nona. Itu, itu tidak benar."


Amira tersenyum lalu mendongak kan dagu elsa dengan tangan lembutnya, "Mata anda tidak bisa berbohong, elsa."


Ia tertunduk, pipinya tiba-tiba memerah, amira pun tertawa melihat tingkahnya.


Dan tak lama kemudian pria tampan membuka pintu, ia berdiri kokoh dengan dada bidangnya. Elsa yang tersenyum mulai terdiam. Berbeda saat bertemu drik, ia tak berani menatap tuannya ini bukan karena gugup, tapi ia takut!


"Tuan.", ujarnya dengan suara sedikit tertahan.


"Pergilah!", Justin tak memandang ke arah pelayannya, lalu bersuara pelan menyuruh nya pergi. Elsa mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan amira dan justin berdua di dalam ruangan ini.


Amira memandang ke arah pria yang baru datang, belum sempat ia berbicara, justin telah memulai duluan.


"Kemana pria itu pergi?".


Amira tau justin akan menanyakan hal ini lagi, "Saya tidak tau!", ia hanya menyangkal dan tidak terlalu memperdulikan hal ini lagi.


"Anda membebaskan orang yang jahat!", justin berkata lagi dengan nada datar.


"Dia yang akhirnya terbebas dari orang jahat!", amira menekan kan kata-katanya.


Ia tak bergerak ditempat walau justin menuju kearahnya.


Saat langkah justin berjarak sekitar tiga langkah, amira dengan cepat bekata, "Berhenti disana, justin!".


Justin berhenti, amira tercengang, dia mendengarkan perintahnya?


Justin kembali bicara dengan tegas, "Anda gemar membantu orang kan?", mata dingin nya menyapu wanita anggun di depannya. Pertanyaannya membuat amira menghela nafas dan menggeleng, "Membantu orang bukan kegemaran, tapi kewajiban!"


Mendengar jawaban amira, justin menatapnya dalam dan tiba-tiba ia menarik tangan amira dan membawa nya pergi dari ruangan ini.


"Lepaskan!", amira berteriak.


Ia tak tau kemana lagi pria ini ingin membawanya. Percuma jika bertanya, pria dingin ini akan mengacuhkannya.


Justin melepaskan tangan nya sesaat setelah mereka sampai di dekat mobil lalu masuk kedalam mobil dengan segera.

__ADS_1


"Masuk!", Justin menyuruh amira yang masih berdiri diluar mobil.


Amira menggeleng, "Mau kemana?".


Tidak ada jawaban dari justin, pria itu malah memalingkan wajahnya dari amira.


Ia menghela nafas sekali lagi, dia sudah menduga respon justin seperti ini. Ia tak habis fikir, apa susahnya memberitahu kemana mereka akan pergi. Pria ini sangat pelit bicara!


Ia masuk ke dalam mobil, dan mobil pun berjalan meninggalkan istana milik justin.


Ia melihat ke kaca spion mobil, drik dan beberapa bodygard lainnya mengikuti mereka dari belakang.


Amira kemudian menengok ke arah justin yang duduk di sampingnya. Wajah tegas justin saat fokus menyetir sangat terlihat. Ia tak bisa memungkiri bahwa pria ini sangat tampan ketika sedang fokus pada satu hal saja.


Dari wajah tegas justin, ada satu bagian yang membuat amira tak ingin berpaling. Manik birunya. Ya, itu terlihat indah ketika ia berkedip berkali-kali.


Saat amira fokus menatap justin, tiba-tiba pria ini menoleh ke arahnya juga, amira terkejut dan dengan cepat langsung mengarahkan pandangannya ke luar jendela.


Sudah, dia tertangkap basah!.


Jantung nya berdegup, apa dia sudah tidak waras? Ingin rasanya amira menepuk jidatnya sendiri. Tidak tau apa yang merasukinya, ia terlihat sangat konyol.


Tapi tak apa kan, justin telah menjadi suami nya, dia dan justin sudah sah sekarang, setidaknya ia tidak melakukan zina mata hanya dengan memandang wajah tampan nya.


Amira menggelengkan kepalanya, dia benar-benar sudah tidak waras!


Sementara justin yang melihat apa yang terjadi pada amira, tanpa sadar bibirnya membentuk kurva samar, sangat samar. Dia tau, gadis ini sangat menggemaskan.


Citt!


Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan dua lantai. Terlihat sepi, ada beberapa perempuan dengan pakai terbuka dan pria berlalu lalang.


Amira menautkan alis nya yang indah, berkedip menatap bangunan di depan. Ia tersadar ketika membaca palang yang berada di depan bangunan ini yang bertuliskan 'Club malam'.


Amira membuka matanya lebar tanda ia tak percaya, dalam hidupnya ia tak pernah sekali pun terbayang akan sampai kesini, ke tempat hiburan malam.


Ia mengepalkan tangannya, lalu dengan cepat menatap kearah justin yang juga menatap nya dengan smirk kecil terbit dibibirnya.


"Apa yang anda inginkan?", amira membuka mulutnya dengan suara bergetar menahan amarahnya, ia mengepalkan tangannya dengan kuat.

__ADS_1


Jangan lupa vote, comment dan follow akun author:)


Tunggu chapter selanjutnya ya, See you.


__ADS_2