
Warning typo bertebaran!
"Apa syaratnya?", amira membuka suaranya, manik indahnya menatap tajam ke arah justin. Justin lalu berjalan lebih dekat lagi ke arah syaima.
"Menikah dengan ku!"
Deg,
bak di sambar petir beribu ribu kali, nafas syaima tercekat di tenggorokan, deru nafasnya tak teratur, Air keringat nya mengucur dengan deras membasahi kerudungnya, jantungnya terasa memompa lebih cepat. Ia terkejut bukan main, penuturan justin berhasil membuat amira mati sesaat. bagaimana bisa seorang pria iblis di depannya mengatakan itu.
Sedang Karsa, ia mengepalkan tangan nya kuat mendengar kalimat yang meluncur dari bibir justin, ia mendesis pelan, jika tidak ada syaima disini, ia benar benar akan mencekik leher justin tak, peduli dia melawan apa tidak.
"Cih, aku yang mencintai dia yang ingin menikahinya!", batin karsa menahan amarahnya dengan muka yang telah memerah.
"Bagaimana?" sambung justin menatap amira yang sedari tadi hanya diam.
"Tidak, jangan mau nak, bahkan binatang pun tak sudi menikah dengan nya!" paman amira yang sedari tadi diam mengeluarkan suaranya dengan sedikit berteriak kepada justin. Ia tau keponakannya tak pernah berhadapan dengan situasi seperti ini.
"Aku tidak bicara dengan mu, tapi dengan keponakan tersayang mu!", justin membalas hinaan paman syaima dengan suara lembut sambil menyeringai. Paman amira pun tak berani lagi menatap justin yang serasa akan menerkam dirinya.
"Wallahi, jika laki laki di dunia ini hanya ada anda seorang, saya lebih memilih bertahan sendiri seumur hidup dari pada harus bersama dengan anda!", ucap amira tegas dengan manik coklat nya yang saling adu pandang dengan manik biru justin.
Amira tak bisa berfikir dengan jernih lagi, kalimat itu meluncur dengan sendirinya, amira tak tau apakah pantas ia mengucapkan kalimat itu, karena pada hakikatnya, jodoh tidak ada yang tau dan hanya Allah yang maha agung lah yang tau. Tapi mau bagaimana lagi, syaima terlalu membenci pria di depannya ini, namun ia tersadar, sejenak ia mengingat bahwa, Allah SWT pernah berfirman dalam Surat Ali Imron ayat 33-34.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
Fyuh, ia menghela nafas mengucap istigfar menahan amarah menghadapi pria iblis yang satu ini.
Karsa tersenyum gembira melihat syaima menjawab seperti itu, ia bernafas lega, setidaknya amira tak menuruti kemauan justin.
Justin sedikit terkejut dengan perkataan amira, baru kali ini ada seorang gadis yang tak ingin ia nikahi. Namun bukan justin namanya jika tidak mengeluarkan aura dan tatapan dingin nya setelah mendengar ucapan amira.
"baiklah!", justin tersenyum pada amira, namun senyuman nya sulit untuk diartikan.
"Ucapkan selamat tinggal pada paman mu tersayang!"
Dor!
__ADS_1
Suara tembakan menggelegar diruangan ini hingga terdengar keluar, drik dan beberapa bodygard yang berjaga di luar pun menggelengkan kepalanya, karsa terkejut, ia tak menyangka justin akan berbuat seperti ini. Dan tak lama,
Bruk,
tubuh paman amira ambruk di lantai dengan peluru panas yang bersarang di kepalanya. Ia terhempas jatuh dari papahan amira.
Amira membelalakan matanya menatap tubuh ambruk itu, ia menutup mulutnya tak percaya, kaki nya bergetar rasa tak sanggup menopang tubuhnya, air matanya menggenang di pelupuk matanya mencari celah agar turun membasahi pipi nya yang pucat. Jantung nya benar benar terasa akan jatuh, kepalanya sedikit agak pusing. Pertahanan tubuhnya roboh hingga lantai menjadi penopangnya saat ini.
Mata nya yang tajam kini menjadi sendu, sangat sendu untuk sekedar menatap justin yang berdiri tepat di depannya.
Tapi justin, entah mengapa dengannya, ketika matanya bertemu dengan mata sendu itu, jiwa nya bergetar hebat seakan merasakan apa yang amira rasakan. Namun ia langsung mengalihkan tatapan nya ke pada tubuh paman amira yang kini telah menjadi mayat.
Amira mencoba berdiri perlahan, lalu tanpa sadar ia berlari ke arah justin dan langsung menarik kerah kemeja justin kuat yang tertutup oleh jasnya.
"KENAPA ANDA MELAKUKAN INI, HAH? KENAPA? ANDA JAHAT! ANDA JAHAT! ANDA JAHAT!", amira berteriak di depan justin dengan bibirnya yang bergetar dan air mata yang terus menetes tanpa permisi. Aneh, tak ada perlawanan dari justin, ia biarkan amira mencengkram kuat kerah kemejanya, biasanya, jangan kan seseorang menyentuh kerah kemeja nya, mendekat denganya pun sudah ia pasti kan akan kehilangan nyawanya.
ingin sekali rasanya amira menampar wajah pria yang ada di cengkramannya, sampai akhirnya,
Kres!
Kalung liontin bermanik biru yang justin kenakan dilehernya putus, karena tak sengaja tertarik oleh amira ketika dia melepaskan cengkraman dikerah justin.
"KAU!", geram justin pada amira.
Karsa yang sedari tadi berdiri disana mengetahui apa yang telah terjadi, dengan cepat ia berlari dan menarik tangan amira yang tertutup handshock.
"Kita harus pergi dari sini!", karsa membawa pergi amira dari hadapan justin, saat ini justin sangat marah, tidak ada yang mampu menenangkan nya. Karsa melewati drik yang hanya diam di depan pintu, ia melirik sekilas tak tau apa yang telah terjadi di dalam ruangan tuannya.
"Apa aku melakukan kesalahan?", ucap amira pelan dengan suaranya yang serak, menatap lurus jendela mobil karsa yang sedang ia tumpangi.
"Ya, kalung itu sangat berharga bagi justin!" karsa menatap amira dengan raut sedih.
"Benarkah? Tapi bagaimana dengan paman ku, apa nyawa nya tak berharga?" air mata amira kembali mengalir dengan mulus, ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis sesegukan tanda kesedihan yang sangat mendalam.
"Aku hanya memutus sebuah kalung, tapi dia?!"
"Tenang lah sya, itu semua adalah takdir paman mu, ia menjemput kematiannya dengan cara seperti itu, ikhlaskan saja kepergiannya, percaya lah kepada Allah." mendengar penuturan karsa, amira semakin menangis, sesak sekali rasa nya menahan perih di hatinya yang menjalar dengan tiba tiba.
__ADS_1
"Pak karsa, apa aku boleh meminta sesuatu dari mu?", syaima menatap dalam ke arah karsa, karsa membalas amira dengan anggukan.
"To-tolong kuburkan jenazah paman ku sesuai syariat islam, jangan biarkan jenazah paman ku tergeletak seperti itu hiks, hiks.", amira berucap penuh harap, dengan matanya yang di penuhi genangan air bening. Lagi-lagi karsa dibuat kagum mendengar ucapan amira. Ia masih memikirkan nasib paman nya yang sudah menjadi mayat itu.
"Aku tau anda dan dia bersahabat, jadi tolong! aku berjanji tidak akan meminta apa pun lagi dari mu!", lanjut amira.
Karsa tersenyum, ia tak menyangka amira bisa menebak bahwa dia dan justin bersahabat.
"Saat ini justin sangat marah, tapi akan ku usahakan untuk menguburkan jenazah paman kamu, yang terpenting aku berhasil membawa kamu pergi dari hadapan justin, karena jika tidak, ia akan segera menghabisi mu. Aku akan mengantar kamu pulang dengan selamat." ujar karsa sambil menyetir mobilnya, meninggalkan rumah tempat penyiksaan itu.
"Terimakasih.", ucap amira pelan.
Cika sampai dikediaman amira, dengan rumah minimalis sederhana berwarna coklat, yang di samping kiri dan kanan halaman terdapat rerumputan hijau, juga banyaknya bunga mawar bermekaran, siapapun yang kesini akan merasakan ketenangan.
Sebelum cika mengetuk pintu, terlihat wanita paruh baya terlebih dahulu membukankan pintunya, sangat jelas terlihat rasa cemas dari raut wajah tua nya.
"Bagaimana ini cika? sampai sekarang amira tak kunjung datang!", ucap nenek amira dengan nada khawatir sambil meremas jari jari tangannya.
Cika melirik sebentar wanita renta yang sangat mengkhawatirkan amira ini, ia meringis ketika membayangkan kalau dia memberitahu bahwa amira diculik dan tiba tiba nenek amira akan terkena serangan jantung. Mengingat bahwa nenek syaima menderita penyakit jantung.
"Sebenarnya nek, amira,,",cika menggantung kalimat nya.
"Ada apa dengan amira anak?"
"Amiradiculik nek!", ucap cika hati hati takut jika ia akan mengejutkan nenek syaima.
"Astagfirullah," nenek amira mengucap istigfar berkali kali mendengar penuturan cika, ia mengelus dadanya pelan, ia tak tau bagaimana bisa ini terjadi.
"Kalau begitu ayo kita lapor ke polisi, nenek tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada amira!", ucap nenek amira bertambah cemas, cika lega nenek amira tidak terkena serangan jantung, ia pun hanya mengangguk.
Namun saat mereka bersiap siap pergi ke kantor polisi, seorang wanita cantik dengan hijab nya berdiri di halaman rumahnya dengan senyum mengembang menutupi kerapuhannya saat ini.
"amira disini nek."
Assalamualaikum reader
jangan lupa vote, comment
__ADS_1
dan Juga jangan lupa follow akun