CALONKU SEORANG MAFIA

CALONKU SEORANG MAFIA
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Warning! Typo bertebaran


"Selamat datang nona!", justin menyapa nya dengan manis.


Ia melempar senyum termanis yang pernah ia keluarkan. Menebarkannya hingga membuat wanita mana pun yang melihat akan gila dibuatnya, amun lain lagi dengan amira, Ia hanya menatap nya datar, tak ia acuhkan senyuman manis yang mengembang di bibir justin.Justin yang terihat santai dengan duduk diatas meja langsung berdecih kecil.


amira beralih menatap karsa yang berdiri disamping sofa berwarna coklat. Karsa bingung, ia ingin tersenyum tapi mata hitamnya tak berani menatap manik coklat milik amira. Ia tau, amira pasti bertanya tanya mengapa dia ada disini? Apa urusannya dengan iblis ini? Ah, sudah lah semua pertanyaan amira pasti akan terjawab seiring waktu berjalan.


Kemudian, mata amira beralih ke sosok pria setengah paruh baya yang sedang terkujur pingsan. Ia meneliti setiap inci dari wajah pria yang terbaur oleh darah yang keluar dari keningnya. Mata nya mulai berkaca kaca, sedikit demi sedikit matanya yang tajam mulai sendu, sakit! sangat sakit melihat sosok yang selama ini selalu hadir disetiap suka dan duka syaima tengah pingsan dan terlihat darah mengucur di wajahnya.


"Paman!", lirihnya beralunan bersama bulir yang berhasil mencair dari pelupuk matanya. Menetes dipipi putihnya, membasahi hijab yang ia kenakan.


Ia berjalan dengan cepat menghampiri sang paman. Tak lagi ia pedulikan tatapan dua pemuda yang berada diruangan ini. Ia menjulurkan ujung hijabnya, membersikah wajah sang paman yang tengah berpetualang di bawah alam sadar. Ia Menepuk nepuk pipi sang paman agar dia terbangun.


Sedang karsa, ia Tak kuat hati rasanya melihat air mata amira yang keluar dengan isak tangis pilunya. Ada rasa bersalah menghampiri diri karsa. Seandainya saja ia menjaga amira agar tak diculik oleh justin dan dibawa kesini, pasti amira tak akan melihat pamannya disiksa oleh justin. Ah, karsa merasa dirinya pantas untuk diumpat.


"Ternyata dia pamanmu?", justin mencoba berbasi basi.


"Anda apakan dia?!", amira tak sadar suaranya meninggi dari suara justin, jujur, tak pernah ada satu pun wanita yang berani meninggikan nada bicara nya didepan justin.


"Tenanglah, dia hanya sedikit terluka, iya kan karsa!", justinmenoleh pada karsa, sambil tersenyum miring seakan meminta sebuah kata 'ya' keluar dari mulut karsa.


Suasana ruangan ini sangat dingin. Sungguh, rasanya senja disekitar rumah ini seperti malam dikutub utara.


Karsa yang ditoleh meneguk saliva nya, membasahi tenggorokannya yang kering akibat jantung nya yang memompa berdetak kencang tak seperti biasanya. Ia hanya bungkam seribu bahasa apalagi ketika amira juga ikut menatapnya dengan penuh selidik. Gugup, ya itu yang karsa rasakan sekarang. Justin hanya tersenyum melihat tingkah karsa. Ia gelagapan seperti anak kecil yang dituduh mencari sesuatu.


"Paman ku yang membunuh adik pamanmu itu!", justin kembali bicara pada amira, memberikan pernyataan yang seolah olah memberi tanda tanya. Amira menyeringitkan dahinya. Otaknya serasa tak bisa mencerna setiap kata yang justin ucapkan.


"Adik pamanmu!", kalimat itu terulang-ulang dipikirannya. Adik paman mu? satu satu nya paman amira adalah seorang pria yang terbujur lemah di samping nya, dan adiknya?


"abi!?", kata itu lolos dari bibir mungil nya. Beriringan dengan setetes air mata yang keluar tanpa permisi. Ah, lagi dan lagi amira gagal membendung air matanya, ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya yang gemetar, ingin sekali ia berteriak menumpahkan semua yang ia rasa.

__ADS_1


kehilangan orang tua yang ternyata terbunuh oleh paman pria ini, adalah kenyataan pahit yang paling menyakit kan bagi syaima.


Tapi mau bagaimana lagi, untuk apa menangisi kejadian yang telah lalu dan tak bisa diulang, amira tau semua yang terjadi di muka bumi ini adalah kehendak Allah swt. Ia hanya bisa sabar dan bertawakal kepadanya karena cepat atau lambat semua makhluk hidup akan mati termasuk dirinya sendiri.


"Sudah hampir senja, amira belum juga pulang, kemana anak itu!", cemas wanita lebih setengah abad sambil bersender di tiang pelataran rumahnya. Kemudian ia masuk kedalam untuk menelpon seseorang diseberang sana.


"Assalamualaikum, cika. Amira ada sama kamu ya?"


"Waalaikumsalam, amira nek? Bukan nya dia udah pulang duluan, cika nggak bisa nganter amira pulang tadi nek, karena ada urusan mendadak dirumah sakit!"


"Aduh, amira dimana ya, nak. Dari tadi dia belum juga pulang. Nenek takut dia kenapa kenapa!", ujar wanita paruh baya ini cemas.


"Gini aja nek, nenek tenang dulu, nanti cika bantu cari amira, kalau urusan cika udah selesai.", cika berusaha menenang kan nenek amira.


"terimakasih nak cika, ya sudah nenek tutup dulu ya, assalamualaikum."


"waalaikumsalam nek.", Sambungan telepon terputus, harap harap cemas masih menghampiri nenek tegar ini.


lantunan Suara azan magrib menggema, saling bersahut sahutan di penjuru dunia. Matahari mulai menyembunyikan wajah berserinya. Berganti dengan bulan yang bersinar merekah. Namun belum mampu menyinari kelam nya kehidupan sang bintang yang selalu mengitari dirinya.


Kini Pria yang berada disamping syaima membuka mata nya, sedikit terkejut melihat keponakan nya berada disini. Ia mencoba berdiri dengan sebelah tangannya menutup luka dikeningnya.


"Dia sudah sadar, jika tidak ingin seperti ini, suruh paman mu jangan ikut campur urusan orang lain!", justin menunjuk paman amira yang baru sadar, sementara yang ditunjuk masih gemetar tak berani menatap justin.


Amira tak menghiraukan justin, "Paman, ayo pergi dari sini!", ia berusaha membantu pamannya berdiri.


"Apa kalian ingin pergi? Tidak bepamitan dengan aku atau pun dia?", alex menunjuk karsa. Kemudian senyum kecil terbit dibibir justin. Karsa hanya memalingkan wajahnya saat mata syaima terarah padanya.


"Tidak!", amira menjawab dengan nada kasar, membuat justin yang awalnya menatapnya manis beralih menatapnya penuh benci.


Dor!

__ADS_1


Peluru menembus pintu, amira dan pamannya kaget, tangannya gemetar memegang gagang pintu yang hendak ia buka. Peluru itu nyaris mengenai kepala amira. Ia membalik kan badannya kearah peluru itu berasal. Ia terkejut saat melihat pistol ditangan justin masih terarah padanya.


"Anda boleh pergi dari sini, tapi dengan satu syarat!", ujar justin sambil menurunkan kan pistolnya lalu bejalan menuju amira dengan langkah pelan, ia menatap syaima sangat tajam, sampai tak sadar bahwa sepatunya menginjak darah bekas paman amira.


Ia berhenti tepat di depan syaima dengan jarak hanya satu langkah. Amira menatap justin dengan penuh benci, begitu juga sebaliknya. Mata mereka beradu antara satu sama lain.


Sedetik, Dua detik, Tiga detik,


"Indah,...." batin justin.


"teduh,...." batin amira. Mereka mengucapkan bersamaan kata itu dalam hati.


2


"Astagfirullah!", kalimat itu meluncur dari bibir amira, ia memalingkan wajahnya ke arah manapun, selain kearah pria ini. Rasanya ia telah berdosa mengatakan hal itu dalam hatinya. Bahkan satu kata yang terlontar dihatinya itu tak pantas diberikan pada pria yang sampai sekarang ia tak tau namanya siapa.


Sedang Justin berdecih kecil. Ia mengumpat dirinya sendiri, kata itu tadi lebih mulia di ucapkan pada wanita malam yang ada diclubnya dibanding dengan gadis di hadapannya ini. Sudah lah, Justin berfikir jika cinta datang dari mata.


Cika memakirkan sepeda motor matic nya dekat warung bakso depan gang, ia yakin setelah dari rumah sakit syaima pasti memilih jalan ini untuk pulang.


"kau memang bodoh cika, seharusnya tadi kau mengantarnya pulang dengan selamat, maka tak akan ada masalah seperti ini!", cika menepuk jidat nya sendiri.


Berjalan digang sempit ini membuat nya merasa tak nyaman, ditambah lagi hari sudah menjelang malam, tapi mau bagaimana lagi, dia harus segera mencari amira, jika tidak nenek pasti sangat khawatir.


Hari sedikit gelap, hingga kaki cika tak sengaja menginjak sesuatu, refleks ia langsung mengangkat kakinya, lalu melihat kebawah dan ternyata hanyalah sebuah bingkisan.


"Ini kan punya amira, tapi amira?"


"diculik?", cika membelalakan matanya, apa yang baru saja ia katakan, apa benar amira diculik? Tapi oleh siapa? Ah tidak, tidak, ini tidak benar. Cika berlari keluar gang, ia sangat cemas, tapi bagaimana lagi, dia harus memberi tau nenek tentang semua ini.


Assalamualaikum readers:) hai balik lagi sama author, ada yang rindu nggak sih sama author wkwk maaf ya author jarang banget apdate, sibuk nya author tuh nggak ketulungan :(, tapi author tetep usaha in buat apdate ya.

__ADS_1


Jangan lupa vote sama comment yang banyak ya biar author tambah semangat lagi nulisnya wkwk


__ADS_2