
Warning typo bertebaran!
Matahari kembali menampakan senyum berserinya pada dunia. Sinar nya memberi kehidupan pada bunga bunga indah yang berjejer rapi di rak depan sebuah toko dengan ukiran papan kayu yang menggantung di atasnya bertuliskan "cika florist".
Hiruk pikuk kota jakarta masih terasa di pagi ini, kendaraan terus berlalu lalang tak kenal lelah, sesekali berhenti mematuhi tiang dipojok jalanan dengan mata merah, hijau dan kuning tersebut.
Trotoar untuk pejalan kaki depan toko bunga tersebut pun tak kalah ramainya, rutinitas bekerja, sekolah dan sebagainya mengisi damai nya pagi saat ini.
Seorang gadis tengah tersenyum memandang bunga bunga dengan beragam jenis. Ada bunga lili, anggrek, mawar dan sebagainya.
Dan ya, white roses atau yang lebih dikenal mawar putih adalah kesukaan nya. Baginya bunga mawar putih melambangkan kesucian dan ketulusan. Setiap kali melihat bunga tersebut, kesejukan meliputi perasaannya. Kini, Sejenak ia lupakan kejadian yang pernah membuat batin nya terguncang.
"mir, tolong bantu aku rapi in bunga yang pengen di bagikan nanti dong.", cika memanggil amira yang tengah berdiri di depan pintu masuk toko yang terbuat dari kaca. Amira yang merasa dirinya dipanggil pun menoleh ke dalam toko lalu menghampiri sahabatnya.
Ia meniliti empat keranjang berukuran sedang dihadapannya. Setiap keranjang berisi 30 buket bunga. Satu buket flanel mini membalut dua tangkai bunga mawar merah, lalu Ada secarik post-it yang menempel pada setiap buket dengan tulisan "semoga hari mu menyenangkan" lalu dibawahnya tertanda dari cika florist.
"Emang mau dibagi in kemana cik?"
"Ke orang orang yang lewat, mau itu di depan toko atau pun orang yang berhenti di lampu merah sana. Kamu tau kan ini hari perdana toko bunga aku buka." cika menghela nafas lalu tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih.
"Dan sekalian buat promosi sih, haha.", Cika setengah berbisik pada amira lalu tertawa kencang. Amira menggeleng kepala pelan, ia sudah terbiasa dengan celutukan sahabatnya ini.
"Makasih ya cik, ini hari pertama aku kerja disini jadi kasir toko bunga kamu," Amira tersenyum ke arah cika, tangan nya dengan lihai menempelkan post-it yang masih tersisa pada buket bunga tersebut.
"Tapi, toko aku buka kalo kita nggak ada kelas atau lagi libur, nggak papa kan?"
"Nggak papa, asalkan gaji aku nggak kamu kurangin!", amira melototkan matanya kearah cika diringi nada ancaman, cika menunduk kan kepalanya, tak berani menyela, ia merasa ia ditindas begitu saja. Keheningan mengubah suasana, selang beberapa waktu, tawa dua wanita pecah di ruangan.
"Drama anak tiri haha," cika dan amira tertawa bersama sama, drama kecil sukses menggelitik perut mereka.
"Huft, yaudah mir, aku mau naroh keranjang ini ke depan toko dulu ya." Cika akhirnya berdiri sembari mengangkat satu keranjang berisi buket bunga di tangannya.
"Aku bantuin ya cik."
"oke.", Cika mengangguk.
la keluar terlebih dahulu untuk menaruh keranjang penuh bunga tersebut di halaman depan tokonya. Ia sedikit menggeser pintu kaca dengan kaki nya, badan nya ia condongkan ke samping kanan untuk membantunya meletakkan keranjang namun tiba tiba dari arah belakang suara laki laki dengan sedikit berteriak mengagetkan cika.
"Asslamualaikum mbak!"
"Eh, eh waalaikumsalam.", Cika tersentak ia menjawab salam juga dengan sedikit berteriak namun,
Brak
"aduh!", Cika meringis dengan kencang sembari memegang jari-jari kaki nya. Sakit mulai menjalar, pasalnya keranjang yang ia pegang tak sengaja ia jatuhkan tepat diatas kaki nya yang hanya memakai sendal tali. Buket bunga yang berada di keranjang pun berceceran.
Cika menarik nafas nya dalam, mencoba mengatur nafasnya yang memburu. ia memejamkan matanya sebentar menahan kekesalan, lalu segera ia balikan badan nya ke belakang melihat sosok pria terkutuk itu.
__ADS_1
"LOE GILA YA! KALAU MAU NGAGETIN BILANG DONG!!", ia berteriak tepat di depan wajah pria itu. Pria tersebut hanya diam. Penampilan nya sangat rapi, Ia mengenakan kemeja putih dan celana jeans membalut tubuhnya yang atletis membuat siapa pun yang melihat nya akan pangling seketika.
"Cuman orang nggak waras yang minta izin dulu buat ngagetin.", jawab pria itu santai menatap cika yang muka nya telah memerah karena marah.
"TERSERAH LOE! Pokoknya lo harus tanggung jawab buat rapi in bunga gue yang udah kececer kesana kemari!", tekan cika. Oke, mulai sekarang cika akan menggunakan kata loe-gue kala bicara dengan pria terkutuk satu ini.
"Kalo aku nggak mau?", pria ini mengangkat satu alisnya.
"Maka siap siap bogeman mentah mendarat di wajah loe!", cika mengepalkan tangan kanan nya di udara tepat di depan wajah pria itu.
Sungguh, dari kali pertama bertemu, pria di depan nya ini selalu membuat nya naik pitam. entah kenapa dengan melihat wajahnya cika merasa ingin menjambak nya. ya, walau pun harus ia akui pria di depan nya ini tampan.
Pria tersebut tersenyum kecil saat melihat muka cika yang memerah karena kejahilan nya. Tak ingin membuat cika tersulut emosi lebih lama lagi, ia segera meraih beberapa buket bunga dibelakang cika yang tercecer untuk di masukan dan dirapikan kembali ke keranjang yang siap menunggu.
"Tuh, udah rapi lagi."
Cika membelalakan mata nya kaget, ia tak percaya jika pria di depan nya ini sangat cepat dan cekatan. Namun, segera ia sikapnya ini, tak mungkin kan kalau dia menatap pria menyebalkan di depan nya ini dengan tatapan kagum.
"Pak karsa?" amira atang tiba-tiba, ia berdiri di ambang pintu dengan membawa sekeranjang buket bunga menatap heran dua insan di depan nya.
"Kalian kenapa?" tanya amira.
"Tanya aja tuh sama pangeran cacing!" ketus cika sambil menatap karsa yang berada di depannya, memang benarkan? Tak mungkin ia mengatakan sesuatu tanpa dasar, Karsa itu memang mirip cacing bagi cika, yang membuat nya geli dan ingin memenggal menggalnya tubuhnya kapan saja.
Sementara karsa, tak sanggup rasanya ia menahan ketawanya melihat cika yang telah beranjak masuk ke dalam toko dengan emosi yang menggebu-gebu. Ia sadar walaupun diberi julukan pangeran cacing tapi Setidaknya kata "pangeran" masih tersematkan dalam dirinya.
"Pak karsa ada urusan apa kesini?" tanya amira lagi.
"Alhamdulillah, makasih sekali lagi pak karsa.", amira tersenyum menampilkan lesung pipinya yang samar membuat karsa rasanya tak ingin berpaling menatap wajah nya yang cantik.
"Sesama umat muslim kita harus saling tolong menolong, mir.", balas karsa yang hanya diangguki amira.
Selang beberapa menit cika datang kembali membawa sisa keranjang bunga. Ia tak berniat menengok pada pria yang ia sebut "pangeran cacing". Ia melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya, sudah menunjukan jam sebelas siang. Waktunya untuk membagikan bunga sebelum matahari semakin naik. Ia memanggil amira yang tengah berbincang dengan karsa. Amira menghampirinya lalu membawa beberapa buket bunga kemudian beranjak ke seberang jalan dekat lampu merah.
Selepas kepergian amira. Cika memperhatikan gerak gerik karsa yang berdiri di sampingnya. Terlihat jelas jika ia hanya fokus memandang amira. Huh, cika benar benar jengah melihatnya.
"Kalo suka sama syaima, bapak harus bantu dia. Nih!", cika menyodorkan beberapa buket bunga nya. Karsa melirik sebentar ke arah cika, ia dapat merasakan atmosfer kekesalan dari perempuan berambut pendek sebahu ini.
"Oke, tapi semua ini demi amira ya.", ucapnya membuat cika menatapnya malas.
Bagaimana bisa ia mengatakan demi syaima, padahal berbagi itu haruslah dengan niat tulus. Cika berpikir dia memang pria terkutuk yang di perangkap dalam bumi, menyebalkan.
------------------------
Amira sibuk berjalan di sela sela kendaraan yang berhenti di lampu merah. membagikan buket bunga mawar dan selalu mendapatkan senyuman tulus dari si penerima. Wajahnya yang cantik selalu memberikan kesan indah. Tak jarang jika beberapa penerima melontarkan kalimat-kalimat pujian seperti,
"makasih gadis cantik"
__ADS_1
"makasih kaka cantik"
"Bunga nya cantik, seperti orangnya"
Ya, kurang lebih seperti itu. Ia hanya membalas nya dengan senyuman. Buket bunga yang ada ditangannya sudah habis. Ia kembali ke trotoar jalan, menunggu lampu untuk pejalan kaki menyala agar ia bisa kembali ke toko, mungkin untuk membagikan beberapa bunga lagi.
"kak, mau beli bunga dari aku?" gadis kecil disampingnya menyodorkan buket bunga yang ada di genggamannya.
"bunga terakhir kak," lanjutnya sambil memperlihatkan wajah imutnya.
amira tersenyum "kamu namanya siapa dulu?" ucapnya lalu mencubit pelan pipi chubby anak kecil tersebut.
"aisya kak," ia tersenyum.
"aisya jual berapa?"
"terserah kaka mau beli dengan harga berapa,"
"segini bisa?" amira menyodorkan
uang dua ratus ribu.
"bisa kok kak," dengan cepat ia mengambil uang yang di beri amira. Senyum nya pudar, Sejenak ia berfikir bahwa uang yang di beri tak seimbang dengan bunga kecil yang ia jual.
"kak," gadis kecil berpony ini pun menyodorkan uang amira tadi. " ini kebanyakan," ujarnya
"nggak papa, ambil aja buat kamu," syaima mengacak pelan pucuk rambutnya tanda ia gemas.
Gadis kecil itu menatap amira dengan mata berbinar. " nanti kalo kaka memberi bunga ini ke seseorang lagi, semoga dia bisa jadi malaikat baik bagi kaka,".
"kenapa gitu?" amira membungkuk kan sedikit badannya.
"iya. soalnya, bunga ini adalah bunga terakhir yang membawa aisya bertemu dengan malaikat baik kaya kaka," amira tertawa mendengar penuturan polos dari anak kurang lebih berusia enam tahunan ini.
"ya. semoga," amira mencolek sekali lagi pipi anak kecil itu, sebelum ia pergi meninggalkan amira setelah mengucapkan kata terimakasih. Benar benar menggemaskan pikirnya.
Amira hendak menyebrang ketika pelican crosing telah beoprasi. Namun terhalang oleh mobil hitam yang bertengger di depan nya. Apa apa an! Mobil nya melewati jalur zebra cross, amira memutar bola matanya malas melihat pengendara yang tak tertib seperti ini.
Tangan seseorang keluar dari kaca jendela penumpang mobil hitam itu, ia terlihat meminta sesuatu pada amira.
Seakan mengerti apa yang diinginkannya, syaima langsung nelirik bunga yang di pegang nya hasil membeli dari anak kecil tadi. Ia memberi nya pada tangan yang terjulur itu. Walau sedikit rasa tak rela ketika melepas bunga tersebut, pasalnya bunga itu adalah mawar putih kesukaaan nya apalagi di balut oleh buket flanel warna pink.
Setelah menerima bunga, kaca jendela mobil tersebut terbuka menampilkan sosok pria berkaca mata hitam. Rambut nya agak sedikit berkibas kala di serang oleh hembusan angin yang masuk.
Amira membelalakan matanya kaget. Rahangnya nya sedikit mengeras ketika melihat wajah itu.
Belum sempat amira berbicara, mobil tersebut berlalu meninggalkan nya dengan cepat. Ia menyesal memberi bunganya pada pria yang menghabisi paman nya tanpa ampun.
__ADS_1
"Dia bukan malaikat baik," amira tertawa sumbang, matanya yang lekat masih mengekori mobil hitam tersebut.
Jangan lupa vote anda comment, follow akun author ya. Tunggu next chapter