
Warning typo bertebaran!
Akad nikah telah selesai, penghulu tersebut berpamitan pada semua orang yang ada diruangan sini.
Setelah kepergiannya, Justin berpaling kearah drik yang ada disampingnya. Sedikit mengangguk, ia seakan memperintah sesuatu. Drik langsung mengerti apa yang diinginkan tuannya.
Ia menuju ke arah nenek amira. Namun, justin juga sudah mendahuluinya pergi ke arah syaima dan dengan gerakan yang sangat cepat ia mencengkram erat tangan kiri syaima yang terbalut baju lengan panjang.
Amira membulatkan bola matanya.
"apa yang anda lakukan, justin? Lepaskan saya!" amira membrontak. Ia menatap justin dengan raut wajah marah.
"Diam!" seru justin dengan suara rendah.
tiba tiba drik yang berada
tiba tiba drik yang berada disamping nenek amira mengeluarkan sebuah pil di tangannya, ia menyodorkan tepat di wajahnya.
"makanlah!" justin memerintah agar nenek syaima memakan pil yang ada ditangan drik. amira menatap heran justin, ia sedikit panik, apa yang ingin dia lakukan?
"tidak! anda berjanji bahwa anda tidak akan mencelaka kan nenek saya, lalu ini apa?" amira berusaha keras untuk lepas dari cengraman justin.
Justin tak bergeming mendengar pertanyaan amira. ia hanya fokus memandang kearah nenek amira.
Sedang nenek amira yang disodorkan pil tersebut malah menatap balik justin dengan tatapan sulit diartikan. Entah mengapa, Ketika ia melihat pria ini, ada sebuah kepercayaan yang tersirat di dalam matanya. Ada sebuah rasa tenang ketika amira berada disamping pria bemata biru ini.
Nenek amira tidak tau siapa dia, tapi hati kecilnya seakan berkata dia pria baik. Lantas, nenek amira tanpa fikir panjang langsung menelan pil tersebut.
Tak berapa lama dengan bunyi "pak" tangan wanita separuh baya itu terjatuh lunglai kebawah. ia menutup matanya dengan rapat.
Amira membelalakan matanya tak percaya. hatinya tak karuan, kakinya berasa tak berpijak dibumi. Ia tak lagi melawan cengkraman justin, dan justin juga melepaskan cengramannya. Amira berlutut ke lantai memperhatikan mata keriput itu tertutup.
Air matanya tak lagi menetes, hanya kalimat istighfar yang keluar dari mulutnya.
Sejumlah pertanyaan menghampiri benaknya. Mengapa? Mengapa ia terlalu mempercayai laki laki ini.
Penyeselan akan selalu datang di akhir, tapi amira tau tak akan ada penyesealan jika kita tau bahwa itu semua adalah jalan cerita yang Allah siapkan.
Tapi, untuk saat ini jalan hidupnya terlalu berduri, sampai-sampai ia takut untuk melangkah. Jika ia bisa melangkah untuk mundur, maka ia akan mundur dengan segera.
Untuk beberapa saat amira hanya diam kebingungan, ia tersadar ketika seseorang yang berada dibelakang drik mengangkat tubuh neneknya dan pergi.
Amira hanya menatap mobil dimana neneknya dibawa tanpa menghentikannya. Ia tak kuat lagi untuk sekedar berteriak bahkan menangis.
"Bawa dia!" suara justjn menggema di telinga amira. Pria ini berdiri di depan amira sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkannya.
Ya. Meninggalkannya! Sendiri.
Drik yang melihat amira masih berlutut membantu nya berdiri. namun, langsung di tepis oleh amira "saya bisa sendiri!" ujar nya penuh penekanan.
Ia keluar dari rumahnya menuju halaman.
Semuanya kosong, hanya ada sepeda motor matic kesayangannya dan mobil yang dikendarai drik.
__ADS_1
Hari terlihat mendung, angin sepoi sepoi membelai wajah amira.
Kemudian, Ia diantar drik menuju mobil. Sebentar ia berpaling lagi melihat kearah rumah dimana ia telah tinggal selama 21 tahun, dan sekarang ia harus meninggalkannya.
Semua kenangan tersimpan disini, teringat lagi senyum nenek dan pamannya ketika dia pertama kali mengerti segala hal.
Sekarang dua orang tercinta itu pergi, pamannya telah tiada tepat didepan matanya, sementara neneknya? dia tidak tau apa yang terjadi padanya.
"Allah tak akan pernah menguji hambanya melainkan sesuai kemampuannya." pesan terakhir yang syaima ingat dari mulut neneknya, dan ia percaya itu, dan akan selalu begitu.
"Nyonya, saya pastikan nenek anda akan baik baik saja." drik membuyarkan lamunan amira.
Amira tak melihat kearah drik, ia langsung berbalik menuju pintu masuk mobil sambil berkata, "Jangan mencoba untuk menghibur saya!"
"Nyonya."
"Jangan panggil saya nyonya. Saya bukan nyonya anda!" amira menyela perkataan drik. Drik bingung, ia hanya bisa mengangguk pasrah. Bagaimana pun, perempuan ini adalah istri sah sang tuan secara agama.
"Nona, percayalah tuan justin tidak pernah mengingkari janjinya." setelah mengucapkan kalimat itu drik langsung menutup pintu mobil amira.
Sedang amira tak bergeming, ia tak percaya apa yang dikatakan drik karena pada kenyataannya semuanya tak sesuai.
Mesin mobil menyala dan mulai berjalan meninggalkan halaman rumah minimalis ini.
Amira menengok sekali lagi dari kaca belakang mobil, ia tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati ia hanya berkata, 'selamat tinggal kenangan.'
Dulu, ia pernah berada dalam titik terendah dalam hidupnya dan sekarang ia merasakan lagi, tapi dengan waktu dan suasana yang berbeda.
Dulu, ada keluarga yang mempu membuat ia berdiri walau ia tak mampu, tapi sekarang?
Memang, ia tak punya siapa pun didunia ini, tapi setidaknya ia masih punya Allah yang selalu hadir di kala suka dan duka, ia punya Allah yang mencintai nya tanpa syarat, ia punya Allah yang ada disaat semua orang berlari pergi meninggalkannya.
Bibirnya membentuk kurva samar. hatinya benar-benar tenang ketika ia mengingat Allah.
Mata cantiknya perlahan menutup, ia ingin menghilangkan penat nya sebelum ia bangun menghadapi kejam nya dunia lagi.
Waktu berlalu, awan masih sama seperti tadi, masih setia dengan warna abu-abunya. Persis seperti hati amira yang rundung tak karuan, kini ia terbangun dari alam bawah sadarnya.
Ketika ia membuka matanya, ia tak melihat drik di dalam mobil. Ia kemudian mengarahkan pandangan nya ke jendela mobil, dari luar ia melihat sebuah rumah bak istana megah berdiri kokoh, warnanya putih namun lebih didominasi dengan warna coklat cream hampir mirip dengan warna rumahnya.
Arsitekturnya bergaya clasik eropa. syaima turun dari mobil, ia tak melihat satupun rumah berada di samping maupun depan rumah ini. Yang ada dikanan kiri hanya sebuah taman yang ditumbuhi pepohonan rindang. Ada sebuah komplek perumahan elit, tapi jauh berada di depan jalan masuk menuju rumah ini.
Dua orang berdiri di pagar rumah mewah ini, dan dua orang lagi berada di pos sampingnya. Mereka memakai baju berwarna hitam seperti drik.
Tak lama, seorang wanita menghampiri syaima, penampilannya seperti seorang pelayan, rambutnya di kuncir kuda, badannya agak kecil dengan wajah nya yang cantik, usianya seperti jauh lebih muda dibanding syaima. Mungkin sekitar tujuh belas tahun.
"Nona, anda telah bangun? mari ikuti saya." pelayan tersebut tersenyum ramah pada amira. Ia mempersilahkan nya masuk, membawanya melewati halaman justin yang hijau dan ditengahnya ada hamparan lantai carport berwarna abu-abu menuju rumah besar ini.
Beberapa pohon yang berjejer rapi menjadi pemandangan yang sangat syaima sukai. Ia bisa merasakan betapa suasana disini membuatnya tenang. Ia tak pernah menyangka kediaman justin bisa sebegitu nyaman nya.
Mereka berjalan lebih dekat ke istana megah ini, masing masing di dikiri kanan rumah ada sebuah bangunan kecil.
Disamping kanan terlihat sebuah bangunan garasi untuk parkir banyak mobil dan kendaraan.
__ADS_1
Sedangkan disamping kanan, ada sebuah bangunan kecil yang agak condong kebelakang sehingga dari depan halaman tak akan terlihat kecuali dari jarak dekat.
Ketika sampai diteras rumah, syaima disuguhkan oleh lantai granit mewah berwarna coklat cream. pintu masuk rumah ini juga sangat besar. Hanya ada satu kalimat yang menggambarkan rumah ini, yaitu "istana raja".
Namun sayangnya tak ada sedikitpun kebahagiaan dihati syaima ketika melihat kemewahan di depannya. Ia telah dua kali kehilangan harta paling berharga karena sang pemilik rumah ini.
"Nona, ini rumah utama. Tapi tempat tinggal nona bukan disini, mari ikuti saya lagi." ujar sang pelayan cantik itu.
Syaima menurut, dan mereka berjalan kesamping kiri melalu teras panjang ini dan akhirnya sampai pada bangunan kecil yang ia lihat tadi.
"Anda akan tinggal disini, nona." pelayan tersebut menunjuk kearah rumah kecil ini.
Amira sudah menduga, bahwa ia menikah dengan justin bukan untuk diperlakukan seperti layaknya seorang ratu raja.
ia mengangguk kepelayan lalu berkata "Justim, tidur dimana?"
"Tuan tidur dan tinggal dirumah tersebut." ujar nya sambil menujuk rumah megah di sampingnya. Amira tersenyum dan mengangguk, setidaknya ia akan jarang bertemu dengan justin jika tempat tinggal mereka dipisahkan.
"Nona, didalam tidak ada dapur untuk memasak"
"Lalu?"
"Saya akan mengantarkan makanan setiap hari kesini. Nona hanya tinggal menunggu saja." syaima mengangguk sembari ber oh ria.
"Siapa namamu?" syaima bertanya lagi.
"elsa, nona." dia tersenyum.
Amira juga tersenyum dan mempersilahkan elsa untuk pergi. Kemudian, Ia masuk membuka pintu kecil yang berbanding terbalik dengan rumah mewah disampingnya.
Hal pertama kali yang disuguhkan ketika masuk adalah tempat tidur yang tertata rapi dan ada sebuah meja dan kursi yang diatas nya bertumpuk beberapa buku berada disini.
Amira membuka jendela dekat kasurnya. Ia melihat pagar samping rumah yang agak tinggi. Sebenarnya, ia bisa kabur lewat pagar ini. Tapi, ia tak bisa pergi begitu saja dari sini, sampai ia tau dimana justin menyembunyikan neneknya.
Terlihat juga ada sebuah lemari di samping tempat tidur, setelah amira buka ada banyak baju, long cardigan dan rok serta hijab didalam sana. Ini memang outfit yang suka ia kenakan.
Apakah justin begitu mencari tau tentang dirinya?
Dan Air mata amira yang telah terkumpul di pelupuk matanya hampir terjatuh kala ia melihat sebuah mushaf alquran dan mukena juga berada didalamnya.
Ia tak tau siapa yang meletakan nya, tapi satu hal yang ia yakini bahwa bukan justin yang melakukannya.
Amira menghela nafas panjang. Menikmati sensasi sunyi dan tenang dalam ruangan ini. Ia kemudian duduk sebentar ditempat tidur. Ketika duduk, ia tersenyum kecil.
tempat tidur ini tidak berasa empuk sama sekali, bahkan kasurnya bisa menyakiti badan jika ia tidur. Satu-satu nya yang bisa membuat nya nyaman adalah selimut tebal yang di letakan disini.
"Tok, tok." terdengar suara ketukan dari pintu. Amira bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Terlihat drik berdiri disana.
"Nona, tuan justin berpesan, bahwa anda tidak boleh keluar dari ruangan ini selama satu minggu." ujar drik.
Amira berdehem pelan. Ia tak marah jika justin ingin mengurungnya disini untuk kurun waktu yang lama. Ia memang perlu waktu untuk menelaah apa yang telah terjadi padanya, baru lah ia akan menerima apa yang seherusnya ia terima.
Jangan lupa vote and comment yang banyak ya, dan follow akun athor
__ADS_1
Tunggu next chapternya, see you:)