
warning typo di mana mana!!!!
Kaki nya berpijak pada lantai keramik yang kokoh. Mendengar suara kelicikan membuatnya melepaskan aura pembunuh. Tatapan nya yang dalam terkunci pada satu objek didepannya. Entah mengapa? Langkah kakinya mengantarkan dia ketempat ini. Membuat pilihan agar membawanya kembali atau biarkan dia disini.
"tanda tangani surat ini, maka dia akan bebas!" kairav menunjukan selembar surat pada justin. Bagaimana pun cara nya ia harus mendapatkan tanda tangan justin agar perusahaan nya dapat kembali segera mungkin.
"jika tidak?" suara dingin justin membekukan ruangan. Dua puluh lima tahun Kairav hidup, belum pernah ia berada dalam suasana yang begitu dingin seperti ini. Tatapan justin serasa membekukannya sampai ketulang.
"maka dia akan mati!" kairav tak menghiraukan perubahan aura yang mencekam disekitarnya. ia malah mengarahkan pisau lipat ke leher amira yang tertutup hijabnya. Membuat sang empunya membelalakan mata tak percaya. Amira menatap nanar kearah depan, dia benar-benar terjebak dalam permainan dua orang ini.
"saya tidak perduli."
"jangan bercanda justin, saya benar-benar akan membunuhnya!"
Kairav menambahkan cengkraman erat pada pisau lipatnya ke leher amira.
"saya, tidak perduli." justin mengulang kalimat itu sekali lagi dengan menekan kan setiap katanya. Alisnya yang tebal saling bertautan, matanya bukan fokus menatap ke arah kairav tapi menatap kearah gadis didepannya.
Amira juga balas menatap manik biru tersebut. Sang empunya manik biru inilah yang telah membunuh pamannya dengan tragis.
Ia hanya bisa tertawa nyaring dalam hati ketika mendengar kalimat berulang yang justin lontarkan. Dugaan nya sangat tepat, bahwa pria yang datang ini bukan untuk menyelamatkannya. Tapi, amira juga tidak pernah berharap dia akan menyelematkannya.
Kairav menghela nafas panjang "lalu, untuk apa anda datang?"
Justin tak menjawab, ia mengeluarkan selembar kertas dari saku kemejanya. "mari berbisnis." dengan bunyi "pas" ia melempar selembar kertas kearah kairav. Kairav menyipitkan mata, menarik kembali pisau lipat yang ada dileher amira.
Amira yang Melihat pisau tak lagi berada di lehernya, sedikit lega, Ia bisa bernafas dengan tenang. Ia bersyukur ketika melihat hijab yang menutupi lehernya masih rapi dan tidak robek oleh mata tajam pisau itu.
Kairav mengambil kertas yang ada didekat sepatunya, tak memperhatikan ekspresi bersyukur dari gadis disampingnya. Namun, ia tercengang ketika membaca tulisan di selembar kertas yang dilemparkan justin "ini?"
"surat itu sudah ditanda tangani, perusahaan anda telah kembali, bukan?" justin menggeser bangku yang ada disimping nya lalu duduk dengan tenang.
__ADS_1
"haha anda memang tidak masuk akal justin, ternyata saya harus membeli perusahaan saya sendiri?"
"jika anda tidak menginginkannya, maka silahkan robek kertas itu, dan saya akan menunggu anda untuk bisa mengambil hak mu dengan gratis!"
"anda, anda keterlaluan!" kairav benar benar terjebak dalam dipermainan nya sendiri. Dan sayangnya ia tak bisa berbuat apa-apa.
Dikertas itu bertuliskan perjanjian bahwa perusahaannya dapat kembali jika ia membelinya pada justin dengan pembayaran dalam jangka satu tahun.
Tapi, jika dipikir-pikir ini lebih menguntungkan dari pada melawan justin dengan ketidak pastian akan menang atau tidak.
"baik, setuju" kairav menanda tangani kertas itu lalu memberinya pada justin.
Dengan wajah dingin, justin menerima kertas tersebut. kemudian berdiri, sedikit merapikan kancing jas nya lalu berkata "kakayaan saya tidak akan berkurang hanya karena melepaskan satu perusahaan kecil seperti milikmu." kairav yang mendengar kalimat ini merasa kesal setengah mati. kesombongan pria didepan nya membuat dia tak bisa berkata-kata. Jika berhadapan dengan justin ia serasa di ejek dan di hina berkali kali.
justin berjalan dengan perlahan pergi dari ruangan ini tanpa melirik ke gadis yang kairav sandra. Kairav sedikit berfikir apakah dia memang menangkap orang yang salah untuk mengancam justin.
Tunggu, Apa? Mengancam justin.? Tidak, tidak, hari ini dia tidak mengancam siapapun.
"lepaskan dia, sebelum seseorang datang! "kairav melirik pada wanita tua disamping amira. Lalu, segera pergi lewat sebuah pintu rahasia dibelakang rumah tersebut.
Wanita tua yang disuruh kairav tadi perlahan membuka ikatan syaima. Setelah ikatan terlepas, amira baru merasakan sakit di tubuhnya. Ia yakin karena terlalu kencang terikat pasti akan meninggalkan sedikit memar merah.
Wanita itu menuntun syaima untuk berdiri Lalu ia dibawa keluar dari ruangan.
Brak,
Amira dihempaskan di pelataran rumah. Ia hanya meringis kesakitan, walaupun wanita ini sudah setengah baya tapi kekuatan nya masih seperti wanita seumurannya.
Sekali lagi, dengan suara "bang" yang keras, pintu masuk itu tertutup. Amira kaget sesaat, lalu menghela nafas, menenangkan pikirannya yang berkecamuk, dia di buang setelah digunakan untuk mengancam justin oleh pria hindi tadi.
"cara murahan. " semenjak ia mengenal pria bernana justin, hidupnya tak pernah tenang sekali pun.
__ADS_1
Dan sekarang, dia di diculik hanya untuk mengancam justin, berfikir bahwa justin akan menolong nya dengan mempertaruhkan apa pun. Apa? Asal mereka tau, bahwa jika dia dan justin bertemu pasti akan ada peristiwa buruk yang terjadi. Dan sayangnya, peristiwa tak di inginkan itu selalu memihak kearahnya.
Ia berdiri perlahan, melihat ke arah halaman, masih ada motor birunya terpakir manis disana. Ketika ia berjalan, dari kejauhan dapat ia lihat sebuah mobil hendak pergi dari sana dengan Seorang pria putih bermanik biru berada didalamnya.
Dia tau, itu justin. Amira ingin menghentikannya lalu mengucapkan terimakasih. tapi, untuk apa? justin kesini bukan untuk menolongnya, bahkan alasan dia disandra adalah karena dia. harusnya dia yang meminta maaf padanya.
Apalagi, ketika melihat wajah pria itu, ia selalu terngiang akan kematian paman nya tepat didepan matanya. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menatap mobil dijalan yang perlahan melaju.
Baru sesaat pulih dari pikirannya, amira merasa suara seseorang menyapa masuk di pendengarannya. ia menoleh, hanya untuk melihat sesosok pria putih menghampirinya.
"kamu nggak papa kan, mir?" amira meneliti pria di depannya. Ada jejak kekhawatiran yang terpampang jelas di wajahnya. Entah mengapa hati amira sedikit menghangat karenanya. Namun, segera ia ucap istigfar dalam hati.
"alhamdulillah nggak papa, pak karsa"
"syukur lah, dimana orang yang nyulik kamu,mir? aku udah manggil polisi, bentar lagi mereka datang!"
"Mereka udah pergi, pak karsa nggak usah repot repot. Saya sekarang mau pulang aja" amira menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya, pria didepannya ini mempunyai sifat yang jauh berbeda dari alex, jika justin berkepribadian dingin, karsa sebaliknya, ia mempunyai kehangatan yang tak bisa dijelaskan.
Waktu itu, saat dia melihat karsa bersama alex, dia sudah menduga bahwa mereka mempunyai suatu hubungan, entah itu sahabat ataupun musuh.
Jika hari itu karsa dan alex bersekongkol untuk membunuh pamannya, maka dia adalah orang pertama yang akan mengacungkan jarinya untuk menjauhi karsa. Tapi tidak, karsa telah membantunya menguburkan jenazah pamannya, membantunya lari dari ruangan justin sesaat setelah dia memutus sebuah kalung, sebuah kalung bermata biru. Dia tidak tau apakah dia harus meminta maaf pada sang empunya kalung tersebut? tapi, itu semua tidak sebanding dengan kehilangan pamannya, kan?
Bukan nya dia menolak ketetapan Allah akan kepergian pamannya, dia tau Allah lebih menyayangi pamannya sehingga ia dipanggil dengan cepat. Tapi, ketika mengingat peristiwa itu, ia tak bisa berbohong bahwa ia merasakan sesak di hatinya.
Namun sekarang, Ia akan belajar, belajar mengikhlaskan pamannya, belajar memaafkan pria bermanik biru lautan itu, tapi, juga berharap pada Allah untuk tidak dipertemukan dengan dia lagi, lagi, dan lagi.
Assalamualaikum, hay balik lagi ama author, jan lupa vote and comment ya, oh iya mau kasih spoiler dikit nih, kalo next chapter amira sama justin bakal jadi imam dan makmum eaa wkwk, tunggu
ya:)
__ADS_1