
"Anda tidak waras!" amira tertawa kecil, ini adalah kedua kalinya justin mengajak nya untuk menikah. Entah apa yang ada di dalam pikiran justin, ia tak tau dan tidak ingin tau.
Tapi, jika difikir apakah justin masuk islam hanya untuk menikah dengan dirinya. Ini tidak lucu!
Justin berdiri dan mengambil pistol di kantong celana nya, sedikit mendekat kearah amira. Lalu berhenti di samping neneknya.
"jika anda tidak mau menikah dengan saya, maka dia akan menyusul anaknya!"
Amira tercengang, juntungnya berdebar dua kali lebih kencang, ingatan ketika pria ini membunuh pamannya dengan tragis masih tergiang.
Dia tau apa yang keluar dari mulut justin tak akan pernah main main.
Kaki amira gemetar dan tanpa sadar air mata menetes lagi dan lagi. Ujung pistol telah menempel di kepala neneknya.
Sedangkan nenek amira memandang amira sambil tersenyum, tangan keriputnya mencengkram erat jemari amira.
"jangan lakukan apa yang tidak di ingin kan hati mu, nak"
Kalimat "jangan" kembali terucapkan lagi, dulu pamannya juga menentang nya untuk menikah dengan pria ini tapi akhirnya ia harus kehilangan pamannya.
Dan sekarang, ia tak akan pernah ingin lagi kehilangan.
"berjanjilah, anda tidak akan membuat nenek saya celaka!" amira menurunkan pistol justin dari kepala neneknya lalu menghapus air matanya. kemudian Mengirup udara untuk mengeluarkan satu kalimat yang tidak pernah ingin ia katakan dan mungkin akan ia sesali dikemudian hari nanti.
Ia menatap nyalang ke manik biru pria didepannya ini.
"justin, saya amarah qhaza amira bersedia menikah dengan anda!"
Selesai!
ia telah mengatakannya, dunia tau ia mengatakannya karena ia tak punya pilihan lain.
Suasana ruangan sunyi, tidak ada berbicara setelah ia mengatakan kalimat itu, serasa semua makhluk yang melihatnya terperangah.
Justin memandang nya dengan raut wajah yang sulit dijelaskan, ia tak pernah berharap bahwa perempuan ini bersedia untuk menikah dengannya.
Disela kesunyian ini, drik pergi keluar rumah dan masuk lagi membawa seperangkat alat sholat yang ia taroh di meja. Nenek amira memperhatikannya gerak gerik drik lalu tersenyum.
__ADS_1
"tuan, kalau begitu mari kita langsung kan akad nikahnya." drik membangunkan tuannya yang saling menatap dengan amira.
Justin duduk di depan seorang penghulu yang ia bayar. Amira tidak duduk disamping justin, ia duduk di samping neneknya, meremas tangan nya yang basah oleh keringat dingin, air matanya tertahan di pelupuk matanya, bukan air mata kebahagian tapi air mata kesedihan.
"mari kita mulai!"
"tunggu!" amira menghentikannya. Ia menatap justin dengan seksama. Agak ragu ia bertanya.
"Apa anda tau kalimat ijab qabul untuk pernikahan ini?"
"iya"ucap justin
benarkan? Amira bertanya seperti ini hanya untuk memastikan apakah pria ini bisa melafalkan kalimat ijab qabul nanti, sementara baru beberapa menit ia masuk menjadi seorang muslim.
justin rasanya ingin tertawa ketika melihat wajah ragu wanita cantik yang berseberangan dengannya. Namun, ia langsung sedikit menggelengkan kepalanya. Ia balik menatap amira dan berkata "saya sudah belaiar."
Mendengar hal itu, amira hanya menarik nafas panjang dan menundukan kepalanya.
Justin sudah belajar terlebih dahulu mengucapkan ijab qabul di pernikahannya? Berarti ia sudah lama merencanakan pernikahan ini.
Penghulu tersebut menarik nafasnya lalu diam diam tersenyum melihat kedua pasangan ini. Dia tidak tau apa yang terjadi diantara mereka, ia hanya disewa oleh pria bernama justin untuk menikahkannya dengan wanita ini. tapi, sepintas ia melihat ada kecocokan diantara mereka yang tidak bisa dijelaskan.
Justin mengangguk, tapi entah mengapa jantung nya kali ini berdetak sangat cepat. Ia tidak pernah merasakan rasa seperti ini dalam hidupnya. Ia menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk tidak menghiraukannya.
Penghulu tersebut kemudian menjabat tangan putih justin dan berkata.
"Saya nikahkan dan kawinkan andre alexander justin bin fredrick justin dengan wanita pilihanmu bernama amarah qhaza amira binti muhammad husain dengan seperangkat alat sholat, di bayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya amarah qhaza amira binti muhammad husain dengan seperangkat alat sholat, dibayar tunai" dengan nafas panjang dan sekali ucapan kalimat sakral tersebut berhasil justin ucapkan.
"sah" penghulu memandang ke arah drik dan satu pengawal disamping justin.
"sah" ujar dua orang tersebut dengan mantap.
"alhamdulillah." ucap semua yang hadir di ruangan ini.
Entah mengapa ada sesuatu yang berdesir cepat dihati justin, ia melirik amira yang duduk di samping neneknya, wanita itu terlihat meneteskan air mata, ******* ***** jemari putihnya sendiri.
__ADS_1
Sebenarnya Ia juga tak tau mengapa takdirnya membawa ia untuk mengucapkan kalimat yang membuat dia dan wanita itu sah menjadi sepasang suami istri.
jantung amira berdegup begitu kencang. Justin benar-benar merencanakan semua ini.
Justin benar-benar merencanakan semua ini. Sampai-sampai ia tau siapa nama ayahnya yang bahkan ia tidak pernah memberi tau nya sama sekali. Tapi terlepas itu semua, nama nya dan nama ayahnya telah disebut didepan seorang penghulu dan saksi, momen dimana ia menantikannya, dan momen yang ia harapkan untuk sekali seumur hidup. namun, sayangnya kalimat itu keluar dari mulut seseorang yang tak pernah ia cintai.
Oh, ya Allah mengapa semuanya terjadi, takdir seakan menggiring nya ke lubang penuh penderitaan, ia mencoba untuk berlari namun nihil, dia tetap saja menghampirinya.
"sekarang cucu nenek sudah sah menjadi istri seseorang. Dengar, tidak peduli siapa pria yang telah menikahi kamu ini, walaupun dia yang membuat paman mu pergi. tapi ingat, itu semua sudah jalan paman mu, nak. Yang terpenting kamu harus tetap menghormati, menghargai dan memperlakukan nya seperti suami semestinya, kamu mengerti kan, nak? "
Nenek amira menghapus butiran bening di pipi amira.
"kamu anak baik, nak. percayalah, sekarang Allah telah mempertemukan kamu dengan orang baik juga." ia tersenyum lagi.
"yang baik akan bertemu dengan yang baik". Ya, kalimat itu, amira menahan tangisnya. Apakah kalimat ini telah terjadi padanya sekarang?
Ia tak ingin berjanji bahwa ia akan menghormati dan menghargai suami nya ini.
Tidak. tunggu, jangan membawa ke arah sana dulu, sedang sekarang ia masih tak percaya bahwa dia telah menjadi pendamping hidup sah dari andre alexander justin.
Ia harap ini adalah mimpi yang tak pernah terjadi dikehidupannya. Menikah dengan pria yang membunuh paman mu didepan mata sendiri adalah kepedihan yang luar biasa.
Hari ini adalah hari dimana kelulusannya bertepatan dengan hari dimana ia sah menjadi milik orang lain.
Amira dan justin saling melempar tatapan, diantara mereka tak ada yang percaya bahwa mereka adalah insan yang telah bersatu.
Tapi, mereka hanya tak tau, bahwa satu kalimat panjang yang justin ucapkan di depan penghulu akan merubah kehidupan mereka dan memulai kehidupan yang sesungguhnya.
Dan dari sini lah sebuah rasa benci, haru, dan cinta bersatu dalam sebuah ikatan halal. Dan Mereka tak tau sampai batas apa rasa itu tercampur dengan sempurna.
bahkan sekarang mereka lupa bahwa Allah adalah sang maha pembolak balik hati manusia.
Assalamualaikum readers, balik lagi sama author, gimana kelanjutannya? Maaf ya karena cerita bagian ini panjang jd part nya author pisah²:)
1
Author masih rendah pengetahuan masalah akad nikah, jd author mohon krtik dan saran dari readers
__ADS_1
ya.
Mau tau kelanjutan hidup alex dan syaima setelah menikah. yuk, Komen dibawah dan jangan lupa di pencet tanda jempol nya yah biar author tambah semangat.