
Karsa tak dapat mengatur nafasnya secara stabil. Berulang kali menghirup udara segar namun gagal, udara itu cukup cepat melintas didepan karsa. Oh! tolong beri karsa kehidupan untuk nantinya bersama seseorang yang ia cintai.
Untung saja, Peluru drik masih berbaik hati untuk tidak menembus dada karsa yang didalam nya terdapat hati yang sedang memupuk benih cinta, berharap akan tumbuh subur dengan kebahagian yang haqiqi.
Lengan bahu kanannya benar benar sakit, tapi rasanya lebih sakit lagi ketika dia menengok ke samping ada tangisan pilu dari wanita yang selama ini ia dambakan. yah, benar benar sakit. Rasanya air mata dia bagai peluru ganas yang menembus dada sampai ke hati. Bak duri tajam yang menancap tepat dihati.
"Pak karsa tak apa apa kan?", tanya syaima dengan derain air mata. Karsa pun menggeleng pelan pada syaima mengisyaratkan bahwa ia tak apa apa. Betapa bahagianya karsa ketika wanita idamannya mengkhawatirkannya. Karsa selalu ingin seperti ini. Untuk apa ke dokter jika dengan hadirnya syaima sudah mengobati luka nya.
Sementara Alex, ia menatap karsa dengan wajah datar seperti tak terjadi apa apa. Matanya beralih menatap syaima yang sedari tadi menangis sesegukan. Ia mendekat pada drik mengatakan sesuatu yang hanya ia dan drik yang bisa mendengar. Sesaat kemudian ia melangkah keluar melewati syaima yang kini dalam posisi berjongkok tepat disamping karsa yang terduduk dengan darah yang mengalir deras.
Ia keluar tanpa diikuti drik dan bodygard lainnya. Drik berjalan menuju karsa dengan sebuah pistol silvers yang masih berada ditangan kekar nya.
Cika mencoba menghalangi tubuh kekar drik. Ah! Apa lagi ini? Apa sang tuan masih belum puas dengan tragedi ini? Apa kah dia ingin membuat pria yang telah terkena peluru ini mati ditempat?
"Berhenti! Anda mau apa lagi, hah?", ujar cika sedikit berteriak.
"Minggir, jika kau tak ingin jadi korban selanjutnya!", drik menodongkan pistolnya pada cika. Amarah berdiri dan langsung menarik tangan cika. Pastilah amarah tak ingin jika cika menjadi korban selanjutnya. Jika saja malam ini dia tak bertemu dengan pria ganas itu, mungkin semuanya tak akan begini. Karsa tak mungkin tertembak. Amarah tau, penyebab semua ini adalah dia.
Drik berjalan ke arah karsa, orang orang disekitar menahan nafas membayangkan apa yang akan terjadi. Namun, tanpa disangka drik langsung memapah karsa keluar dari restoran. amarah dan cika mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa seorang pengawal iblis itu menolong karsa yang terluka akibat ulah mereka.
Apa mungkin dihati nurani mereka masih tersimpan secuil simpati pada karsa? Amarah dan cika mengikuti drik dari belakang hingga sampai diantara jejeran mobil mewah, Drik memasukan karsa secara perlahan takut menambah rasa sakit di lengan karsa.
"Kalian berdua, naiklah!", ujar drik lalu masuk kedalam mobil di kursi depan sekaligus dia yang mengendarakan.
Awalnya dua wanita cantik itu kebingungan, tapi apa daya ketika melihat wajah kelelahan dari karsa membuat hati mereka tersentuh apalagi semua ini terjadi akibat Amarah. Tidak, bukan sepenuhnya salah Amarah, tapi seorang pria yang pergi begitu saja tanpa bersalah bahkan tidak meninggalkan jejak kemana dirinya melanglang buana mencari ketenangan setelah kejadian ini.
Mereka sampai di rumah sakit yang terletak tak jauh dari restoran tersebut. salah satu suster membantu memapah karsa untuk dibawa keruang perawatan. Beruntunglah luka yang dialami karsa tidak terlalu parah. Peluru hanya menembus bagian kulit lengan tanpa menembus dalam ke bagian tulangnya. Namun demikian, luka karsa harus tetap dijahit dan dirawat barang sebentar saja.
Setelah menyerahkan segala urusan pada suster dan dokter. Drik pergi meninggalkan syaima dan cika, karsa yang telah berbaring dengan rasa sakit berusaha tenang dan sesekali memejamkan matanya.
__ADS_1
Dokter segera lagi akan menangani luka nya, Amarah dan cika diminta untuk menunggu di luar. Dengan sabar mereka menunggu karsa sampai akhirnya penanganan selesai, dokter dan suster keluar membawa peralatan medis yang telah digunakan untuk karsa.
"Anda istrinya?", tanya dokter berkacamata pada cika yang berada di samping kanan Amarah, Amarah yang juga berada disamping cika langsung menutup mulut menahan kekehan kecilnya.
Cika membulatkan bola matanya, "bukan!saya bukan istrinya. Saya temannya!", ia menjawab dengan cepat tanggapan dokter tersebut, yang benar saja dia istri pria modus itu, baginya, Setiap ia bertemu dengan karsa membuat suasana hati nya cepat bosan.
Dokter itu langsung menganguk dan memperbolehkan mereka berdua masuk keruang rawat tersebut.
Terlihat Karsa terbaring dengan perban di lengannya. Amarah berjalan menghampiri nya. Dia tau semua ini tak akan terjadi jika bukan karena dirinya. Betapa besar kesalahannya jika saja peluru itu menembus jantung karsa, Amarah terasa canggung jika harus bertanya tentang keadaan karsa. Suasana di ruangan ini hening, cika duduk disofa dengan perasaan kesal atas perkataan dokter tadi.
"Pak karsa, tak apa-apa kan?", Amarah/Amira buka suara.
Karsa tersenyum, "aku tak apa, hanya sakit sedikit saja!", karsa ingin bangun dari kasurnya namun Amira mencegahnya.
"nggsk perlu bangun pak, lengan bapak masih sakit kan?", terlihat raut wajah khawatir dari Amira, karsa tersenyum penuh kemenangan. ia berhasil membuat gadis didepannya khawatir pada keadaannya.
Amira kemudian melihat ke arah jam dinding di rumah sakit tersebut. Tepat pukul 10 malam, nenek nya pasti akan khawatir jika tengah malam begini ia belum juga pulang.
"Pulanglah!", seakan mengerti Amira/amarah, karsa menyuruh nya untuk pulang.
"Tapi,", Amira menggantung kalimatnya dan memasang wajah cemas dihadapan karsa.
"Aku baik baik saja, nanti aku akan menyuruh seseorang kesini!", ujar karsa. mendengar pernyataan karsa, Amira/amarah mengangguk tanda mengerti. Cika yang sudah berada di samping amira memasang wajah ngantuk, sama seperti amira, lelah dan ketakutan, itulah yang mereka alami tadi. Rasanya mereka seperti terkena trauma sikis akibat kejadian tadi.
selang beberapa menit Mereka berpamitan pada karsa lalu berjalan menuju pintu luar meninggalkan karsa yang terbaring seorang diri.
Kairav membuka kancing jas nya, Menghela nafas panjang dari mulut nya. Sekaligus membuang amarah (marah) yang sedari tadi menguasainya.Justin marah, kairav juga marah. Apalagi saat justin menolak dengan mentah mentah permintaannya.
"Dasar iblis!"
__ADS_1
Dia tau Justin adalah seorang yang cerdik. Mana mungkin dia menipu alex dengan cara yang sudah terbaca oleh Justin, mengapa selalu Justin yang unggul? Bisakah sekali saja kairav menang melawan Justin. Dengan cara apa lagi untuk bisa membuat Justin tunduk pada nya? Menipunya sudah, namun gagal, melenyapkan orang yang ia kasihi? Tapi siapa? seumur hidup kairav, ia tak pernah melihat ada seorang perempuan yang benar benar Justin kasihi berada disamping pria itu
Drttt...Drtt!
Handphone Kairav berdering, ia merogoh handphone nya dan mengangkat telepon dari seseorang diseberang sana.
"Assalamualaikum pak."
"Waalaikumsalam, ada apa?", kairav menjawab salamnya. Kalian jangan heran ketika kairav menjawab salam yang biasa dipakai seorang muslim. Ya, dia muslim. Seorang pria yang menganut agama terbesar ke dua didunia ini, memang berasal dari tanah india yang mayoritas beragama hindu dan berkarir di negara indonesia. walaupun, Kairav bisa dibilang salah satu muslim yang tidak terlalu taat pada agama sama seperti karsa. Tapi setidak nya dia tidak menyekutukan Allah dan menyembah berhala seperti mayoritas agama di tanah kelahirannya.
3
"Tadi, setelah bapak pulang dari restoran, tenyata ada peristiwa penembakan yang melibatkan musuh bapak, Justin", ujarnya diseberang sana penuh semangat.
kairav tersenyum menanggapi pernyataan dari seseorang yang diketahui salah satu suruhannya.
"Siapa korbannya?"
"Pak karsa, dan sepertinya penyebabnya adalah seorang wanita!", jawabnya.
"Pak karsa, dan sepertinya penyebabnya adalah seorang wanita!", jawabnya.
Kairav langsung mematikan telepon secara sepihak, ada rasa gentar ketika nama karsa disebutkan. Karsa yang dipastikan seorang teman Justin saja bisa ia tembak, a-apa lagi musuhnya. Dan penyebabnya seorang wanita, lucu sekali.
Sejak kapan seorang wanita tersangkut di kehidupan justin. Entahlah, yang pasti kairav bersumpah suatu saat nanti akan membuat justin berlutut di kakinya walaupun kemungkinan terjadinya sangatlah kecil bahkan hampir tiada. tapi, siapa yang tau.
Assalamualaikum readers
Tunggu next chapternya ya Jangan lupa vote and comment. Oh iya author mau ngucapin selamat berpuasa walau bentar lagi mau masuk hari raya idul fitri jadi, sekalian aja deh author ngucapin mohon maaf lahir batin hhe
__ADS_1