CALONKU SEORANG MAFIA

CALONKU SEORANG MAFIA
Laura?


__ADS_3

warning typo dimana mana


Amira terkejut, ia menengok kesamping, elsa ada disini? Dia tidak memakan supnya?


"Elsa?", amira memanggil namanya dengan penuh tanda tanya, mengapa ia membantunya?


Elsa tersenyum, lalu memegang tangan syaima, "Saya melihat drik ketika ia membuka pintu ini. Nona, cepat! Atau semua orang akan terbangun.", ujar nya.


Amira mengangguk dan tersenyum sumringah, setidaknya elsa adalah orang baik yang datang untuk menolongnya.


Ketika pintu terbuka, terlihat pria setengah tua terengah engah, nafasnya serasa tercekat di tenggorokan. Amira dengan cepat menghampirinya.


"Om, kita akan pergi dari sini."


Pria itu memandang kearah amira. Gadis ini yang pernah ia hina kan. Ia pun seketika menangis, tetesan air matanya mengalahkan bercak darah dipipinya, "ma-maafkan saya!", amira tersentuh, ia mengerti, ayah clarisa merasa bersalah padanya, tapi jujur, ia telah memaafkan ayah maupun clarisa nya.


Amira hanya mengangguk kecil, ia memapah ayah clarisa yang lemas bersama dengan elsa yang membantunya


"Nona, jangan lewat depan, masih ada dua orang yang berjaga diluar rumah."


"Benarkah?", amira pergi lewat pintu dapur yang elsa tunjukan, tapi sesampai nya didepan pintu, syaima teringat bahwa cctv dirumah justin masih hidup, semua aktifitas nya akan terlihat oleh justi. jika ia datang. Amira tak masalah jika justin memarahi nya, tapi elsa? Ia tidak bisa membiarkan nya terlibat dalam hal ini.


"Berhenti membantu ku, elsa!".


Elsa terheran, "Tapi nona,,,".


"Aku tidak bisa membiarkan justin mencelakakan anda.", ujar amira. Elsa mengerti apa yang dinginkan nonanya. Ia terharu, semenjak kepergian ibunya, tidak ada seorang pun yang memperhatikannya lagi. Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan membuat siapapun menyakiti nonanya!


Ia pun mengangguk dan amira melanjutkan perjalanannya mengantar ayah clarisa.


Ia sampai di samping rumah kecilnya, terlihat pagar yang menjulang setengah tinggi membatasi antara dirinya dan clarisa disana. Amira bingung, bagaimana cara nya agar ayah clarisa bisa memanjat dinding ini.


Tapi beruntung, Allah memberikannya jalan untuk bisa mengatasi semua ini. Ada sebuah tangga besi di dekat rumah utama. Amira mengambil nya, ia menyuruh ayah clarisa memanjat tangga ini.


"Apa om bisa naik? Clarisa ada di balik pagar ini om!", mendengar nama clarisa, pria ini tersenyum dan mengangguk dengan cepat, "ya, ya, saya bisa!".


Amira membantunya untuk naik dengan hati-hati, darah dikening pria itu masih saja bercucuran. Pria tua itu telah naik, dapat ia lihat anaknya menunggu di bawah sana.


"Papah!", clarisa dan cika bergegas membantu nya untuk turun. Dan berhasil, clarisa bersyukur ayah nya


telah selamat. t Tapi sayang, ayahnya yang lemah langsung pingsan di dekapannya.


Clarisa hendak pergi, namun dia ingat bahwa amira masih ada di balik tembok ini.

__ADS_1


"mir, lo masih disana?", clarisa berteriak dari seberang, amira mendengarnya.


Ada sesuatu yang harus amira sampaikan pada clarisa, mau tak mau ia memberanikan diri untuk memanjat tangga, untung sekarang dia mengenakan legging sebelum memakai roknya.


Ia melihat clarisa dan cika dengan wajah cemas melihat kearahnya, "Hati-hati mir!", cika berteriak dari bawah.


Amira terkekeh pelan, sejak kecil ia tak pernah memanjat tembok yang agak tinggi seperti ini.


"Risa, Cepat bawa ayah kamu pergi sejauh jauhnya sampai justin nggak bisa menemukannya, jika justin menemukannya, aku nggak bisa berjanji bahwa aku akan menolong nya lagi!".


Clarisa mengangguk, "Mir, gue tau lo istri justin!" ujarnya. Amira terdiam, ia memandang kearah cika, dia tau cika memberi tau semuanya pada clarisa.


"Ada beberapa rahasia yang mungkin lo belum tau dari justin."


Amira menyeringitkan dahinya.


"Justin masih punya seorang ibu!", clarisa berkata dengan tegas.


"Ibu?".


"Ya, dan dokter laura!"


"Dokter laura?", amira bertanya sekali lagi.


"Aku pikir dia adalah kekasih justin, beberapa kali aku melihat mereka sedang bersama!", ujar nya menatap kasihan pada amira. Walau bagaimana pun, ia tidak bisa melupakan jasa amira membantunya.


"Ayo mir, turun. Lo harus pergi secepatnya, dari pada lo di khianati kek gini!"


Amira memasang wajah datar, ia menggeleng pelan memandang kearah cika, "Aku nggak bisa pergi sekarang!".


Cika terkejut, "tapi, mir,".


"Aku nggak bisa ngelawan apa yang telah menjadi takdir ku, cik.", ia tersenyum kearah cika.


Ia menghela nafas, "Kalian cepat pergi dari sini, atau justin akan segera datang!", ujarnya lagi. Clarisa dan cika pasrah, mereka lalu berpamitan dan langsung pergi meninggalkan amira yang masih terduduk di atas pagar ini.


Entah mengapa, ketika nama laura disebutkan, ada sesuatu dihati amira yang bergerisik pelan, ia tak pernah merasakan hal ini.


Ia merasakan lagi sebuah rasa ketakutan. tapi entah ketakutan seperti apa ini, ia sendiri pun tak mengerti.


Amira memfokuskan pikirannya, jika terus seperti ini, maka bisa-bisa ia akan terjatuh dari pagar ini.


Ia ingin turun, tapi semuanya terhenti kala ia tercengang ketika tangga yang mengantarnya kesini mengilang.

__ADS_1


Amira membelalakan matanya, "kemana tangganya?", ia heran sendiri. Namun, Tiba-tiba pria tampan bersama drik muncul seketika.


"Lompat!", justin memerintah.


"hah?", Amira memasang wajah kesal, ia mengumpat pria ini dalam hati, mengapa justin dengan mudahnya mengeluarkan kata yang mengancam keselamatannya.


"Kembalikan tangga saya!", amira bersikeras.


"Bukan tangga anda!", justin menimpali sekali lagi.


"a-apa?", amira rasanya ingin menangis ketika ia harus berhadapan dengan justin. Ya, dia sadar, dirumah ini semuanya adalah milik justin, tak terkecuali dirinya!


"Bagaimama saya turun jika tidak ada tangga?"


"Nona, pagar ini tidak terlalu tinggi.", drik juga mendukung amira untuk lompat, sedang amira memasang wajah tercengang. Memang tidak terlalu tinggi, tapi jika ia lompat, ia pasti akan kesakitan.


"Saya tidak akan menolong anda!".


Amira menatap tajam kearah alex yang berdiri di bawah sana. Marahan amira tiba-tiba ingin meledak ketika mendengar kalimat justin. Seperti biasa, apa yang keluar dari mulut pria itu tak akan pernah bisa untuk ditarik kembali!


Amira mengatur nafasnya, ia menggigit bibir bawahnya, dia menangisi apa yang telah terjadi padanya sekarang.


Dan tanpa aba-aba, amira memberanikan diri melompat dari pagar ini.


Buk!


Amira mendarat dengan lancar ditanah. Tidak ada yang menghalanginya untuk terjatuh dari pagar itu. Ia bisa merasakan sakit dipergelangan kaki kirinya. Seketika ia meneteskan air mata tanpa suara. Apa ia yang terlalu bodoh? Sehingga masih berharap justin akan menangkapnya.


Butiran bening masih mengalir, syaima menatap wajah dingin justin yang melihat kearah nya. Ia tiba-tiba tertawa, Mengapa? Mengapa pria ini terlalu kejam padanya. Sekarang siapapun yang melihat kondisinya akan turut prihatin.


Sedang justin, ia juga menatap amira yang tengah terduduk di tanah. Ia heran, mengapa wanita ini sangat mudah menangis.


Ia tiba-tiba mendekat kearah amira, lalu dengan cepat menggendong nya ala bridal style.


Amira tercengang untuk kedua kalinya. Ia reflek memegang leher putih justin. Ia menatap manik biru justin, mengapa pria ini membantunya setelah ia mendarat ditanah dan kesakitan.


"Turunkan saya!".


Justin berhenti berjalan, "Berhenti bicara, atau saya akan benar-benar menurunkan anda!", amira menghela nafas, kaki nya sakit, ia tidak ingin berdebat dengan justin hingga pada akhirnya ia yang dirugikan.


Biarlah ini akan tercatat dalam ingatannya bahwa justin pernah membantunya dalam hidupnya.


Tapi berbeda dengan justin yang merasakan jantung nya berdegup kencang ketika ia mendekat kearah perempuan ini. Ia dapat melihat dengan jelas wajah cantik amira dari dekat. Matanya sungguh sendu, ingin rasanya justin menutup matanya dan tertidur dalam dekapannya.

__ADS_1


Ya, justin tidak bisa memungkiri, bahwa ia ingin selalu dekat dengan amira.


Janga lupa like, vote, comment, dan follow akun author ya:)


__ADS_2