
Suara langkah kaki seorang pria menggema diseluruh ruangan kecil nan tertutup itu. Membuat siapa saja yang melihat nya akan kalang kabut berlarian kesana kemari. Ruangan sempit itu sangat mengerikan, bau amis yang tercium menyengat ke rongga rongga hidung, bunga bunga di setiap sudut ruangan telah layu tak terawat, tak ada oksigen segar yang dapat di hirup ketika berada di ruangan ini.
Langkah demi langkah nya menyusuri lantai keramik kotor yang sedang ia pijak dengan mengenakan sepatu mahalnya.
Sebenarnya, alangkah tak pantas sepatu pria itu menginjak lantai kotor nan berdebu itu.
Perjalanan nya kini terhenti, kala terlihat para bodygard nya berdiri berjejer di depan pintu yang akan dia masuki sembari memberi salam hormat padanya.
"Tuan, pria itu sudah kami siksa tadi malam, tapi sesuai dengan perintah anda, pria itu belum kami bunuh!", ucap salah seorang bodygard yang tak lain adalah Drik pada sang majikan yang kini tengah berdiri sembari menunjukan kan seringai licik nya. Tidak! Bukan dia yang licik tapi dia yang diliciki.
"Bagus, kau menjalan kan perintah ku dengan baik, Drik.", Justin membuka pintu yang ada di hadapan nya dan segera melangkah masuk.
Terlihat seorang pria muda tengah duduk dikursi tua yang penuh bercak merah sambil meratapi sesuatu yang akan terjadi setelah pria kejam itu datang.
"Siapa yang menyuruh mu menyusup di perusahaan ku. Cih, apa kau ingin membuat perusahaanku bangkrut dengan mengambil surat surat penting disana?", pertanyaan dengan senyum jijik justim menggelegar ditelinga pria itu, ia sama sekali tak berani menatap Justin.
"Ayo Katakan, siapakah yang menyuruh mu?", suara Justin lembut, namun menyimpan sebuah intimidasi mematikan, "Ti-tidakk t-tau,", ucap pria itu dengan gelagapan.
"Apa kau tau apa ini?", Justin menyodorkan sebuah pisau tajam, sedikit menggoreskan nya di pipi pria muda ini.
"Aku kasian melihat mu, kau masih muda, tak pantas jika kau mati dengan sia sia.Cepat, lebih baik katakan siapa yang sudah menyuruh mu!", tatap Justin mematikan dengan nada yang sedikit ia tekan kan, namun tetap tak ada respon dari pria itu.
"Baiklah!", jutin berpaling, "Bunuh semua keluarga pria ini, aku sudah muak bermain main dengan nya!", ia melangkah pergi dari ruangan penuh siksa itu Sembari memasukan kembali pisau tajam nya, namun baru saja 3 langkah ia hendak pergi, suara parau nan gemetar menyapa hangat ditelinga nya.
"T-tuan kai,,,rav.", ucap pria muda itu dengan gugup dan sangat lemah. Justin berbalik memandang ke arah pria yang sudah sangat-sangat tidak berdaya.
"Jadi dalang nya kairav? Kurang ajar, ternyata ia ingin membalas dendam pada ku. Lihat saja siapa yang akan menang, kau atau aku!", ucap Justin dengan gaya monolog sendirinya.
__ADS_1
"bunuh pria ini lalu berikan uang pada keluarga nya!", benarkan? Setidaknya Justin masih berbaik hati untuk menebus nyawa pria ini. Justin kini benar benar pergi meninggalkan pria muda yang masih menatap lunglay ke arahnya.
Perlahan, suara langkah kaki pria tampan nan kejam telah menghilang dibalik pintu yang membatasi ruang penyiksaan itu.
Semilir angin pagi berhembus menyapa pepohonan pepohonan rindang dan bunga yang berjejer rapi. Tak lupa pula angin itu mencoba melewati dan menyapa tubuh seorang gadis yang terbalut dengan gamis hijau dan kerudung senada yang menutup seluruh tubuhnya.
Angin membelai lembut ujung gamis dan kerudung nya, mengibas ngibas kannya, Seolah-olah angin ingin membawa pergi pakain suci nan terhormat itu.
Gadis itu kini tengah dalam posisi berdiri. ditambah kibasan angin membuat dia bak seorang model internasional yang akan melakukan pemotretan. Namun nyata nya, tidak! Dia bukan seorang model, tapi dia hanyalah seorang mahasiswi yang masih menimba ilmu untuk kelak masa depan nya.
Gadis cantik itu mendongak kan wajahnya keatas, dibantu mata indah nya untuk melihat gedung tinggi dihadapan nya, ralat universitas.
Siapa yang tak kenal universitas ternama di jawa barat ini, tempat para wanita dan pria yang tajir nya tak dapat di jabarkan lagi. Bahkan banyak wanita disini yang membuka aurat nya walaupun agama mereka rata rata islam, sangat-sangat tidak cocok untuk gadis itu ada di sini, secara pakain nya saja sudah lain
dari yang lain. Dan masalah kekayaan, memang gadis ini kehidupan nya cukup sederhana.
Ia menghembuskan nafas pelan yang keluar dari indra pernafasan nya dan memutar bola matanya, tanda ia malas.
Bagaimana tidak, setiap kali ia memasuki kampus dan berjalan di korikador menuju kelas, semua mata tertuju padanya, entah apa yang ia lakukan sehingga ia selalu jadi pusat perhatian semua orang, salahkah seseorang berpakain sopan Dan menutup auratnya? Tidak! Yang salah dia, mengapa dia masuk ke universitas elit seperti ini.
"Amira!", teriak seorang wanita sambil berlari menuju kearahnya, membuat syaima menoleh kesamping menyambut teriakan itu.
"Assalamualaikum, kamu kenapa sih cik? Bisa nggak kamu tuh nggak usah teriak-teriak, kaya jarak kita tu jauh banget!", celoteh syaima pada teman satu-satu nya ini yang bernama cika.
Cika adalah sahabat karib Amira yang selalu ada untuk nya, saat orang orang dikampus membully nya, siap siap saja bogeman mentah mendarat ke wajah, tak peduli dia wanita atau pun pria.
Sebenarnya, tanpa cika pun syaima bisa melawan seseorang yang tak menyukainya.
__ADS_1
Amel memang perempuan tomboi, ia agak berbeda dengan Amira, sampai saat ini ia belum berhijab, meski pun dia islam, tapi pakaian nya masih sopan karena dia memang tidah suka berpakain mini dan karena nasehat nasehat amira yang sedikit demi sedikit ia dengarkan.
"Huh, huh... wa-waalaikumsalam, capek sya!" ringis cika dengan nafas yang masih tak teratur.
Amira menghela nafas, "nggak ada yang nyuruh kamu lari Amel!"
cika memanyunkan bibirnya, "aku tuh takut kamu tinggalin, terus kamu ngapain berdiri disini natap kampus, mending masuk yuk!", ujar cika.
"Tadi aku nungguin kamu cik, kamu sih lambat banget.", kesal amira pada cika.
"Apaa? Ih, amira! aku pikir kamu tadi nggak bakalan nungguin aku, makanya aku lari-lari nyusul kamu.", ucap cika yang masih dengan nafas ngos ngossan nya.
"C-c cika cantik, kamu nggak ngeliat aku dari tadi berdiri disini, nggak jalan dan nggak kemana mana!", ucap Amira sambil memegang pundak sahabat nya, "Yaudah cik, mending kita masuk kelas. Hari ini pak gafar loh yang ngajar, kamu mau dihukum gara gara telat!",sambung nya sembari menarik tangan cika untuk masuk.
"Iya, iya Amira.", ucap cika pasrah tangan nya ditarik oleh amira padahal dia masih sangat kelelahan.
"APA? Bodoh! kenapa dia bisa tertangkap?dasar pecundang, aku yakin pasti dia memberi tau semuanya pada, Justin. Sial!"
Brakk......
Suara pecahan kaca menggelagar di telinga. Kairav yang biasa di sapa kai sangat marah ketika tau suruhan nya tertangkap basah, Mungkin lagi, lagi dan lagi dia harus berurusan langsung dengan Justin iblis itu.
"Tapi, untuk apa aku takut pada justin. Cih, dia yang mengambil perusahaan ku, apa salah nya jika aku mengambil nya kembali!", kairav bermonolog sendiri menatap kaca jendela yang baru saja ia pecahkan.
"Justin, kau akan ku buat menjadi pecah berkeping keping seperti kaca itu, kau (menunjuk seketaris pria nya) siapkan jadwal ku untuk menemui Justin"
"Baik pak", ucap sektaris nya
__ADS_1
Sedendam-dendam nya kairav pada Justin, sampai saat ini, ia masih tak bisa untuk melenyapkan Justin. Banyak sekali musuh pria dingin itu, namun belum ada satu pun yang bisa membunuhnya. Tapi jangan kan membunuh, menyentuh kulit nya saja pun, harus berfikir beribu ribu kali.