
18 September 1999
Di Sebuah Desa yang di kelilingi hutan belantara.
Malam menyelimuti cakrawala. Terlihat di langit gelap yang di tutupi oleh awan kelam, bulan yang berukuran bulat penuh ikut menghiasi langit malam. Yang biasa orang pada zaman dahulu menyebutnya bulan purnama.
Samar - samar terdengar suara burung hantu, yang mengisi keheningan hutan belantara dengan teriakkannya.
Seorang gadis tengah berlari di dalam hutan belantara. Dengan wajah pucat pasi. Menyusuri tiap jalan setapak yang ada di hadapannya. Berlari dengan cepat dan semakin cepat.
Tapi kecepatan ritme langkah kaki gadis itu menjadi semakin lambat. Seperti ada kekuatan yang menarik tubuh gadis itu. Sehingga tampak sosok putih yang mengejarnya dari belakang tubuhnya. Dan gadis itu jatuh terpental ke atas tanah. Membuat wajahnya mencium permukaan tanah yang berwarna hitam kecokelatan.
Kemudian gadis itu dengan cepat membalikkan tubuhnya. Tepat di depan wajah gadis itu, dengan jarak 5 Cm dari wajahnya. Melayang sosok makhluk astral dengan balutan kain berwarna putih. Dengan ikatan kain yang meruncing di atas kepalanya. Dan wajahnya yang terlihat tidak terlalu jelas. Tapi matanya yang berwarna merah sedang menatap lekat gadis itu. Membuat gadis itu sampai mati ketakutan.
"Aaaaaaaaaaaaaargghhhhh!!!" Teriak gadis itu.
Malam semakin larut. Ketika suara burung hantu kian terdengar jelas. Ditambah lolongan suara anjing yang mengisi keheningan malam di hutan belantara.
______________________________________________
Pagi telah menjelma. Ketika sinar mentari menembus kedalam rumah melalui ventilasi.
Terlihat sebuah rumah yang terbuat dari papan kayu. Dengan atap yang berbahan sirap kayu belian. Dan berlantaikan papan kayu, yang terletak sedikit lebih jauh dari rumah - rumah para tetangga yang berbahan dan bermodel sama dengan sebuah rumah itu. Di sebuah desa yang di lingkari oleh hutan belantara.
Seorang wanita tua berkisar 55 tahun, berjalan perlahan memasuki kamar seorang gadis. Perlahan ia menarik tirai yang menutup kamar sebagai pengganti pintu kamar. Melangkahkan kaki mendekati jendela kamar si gadis yang masih tertidur pulas. Tangannya perlahan menyentuh daun jendela. Membuka jendela kamar gadis itu dengan kedua tangannya.
Sinar mentari mulai menyentuh kulit gadis itu. Hingga kesadaran dirinya dari dunia mimpi kembali ke dunia nyata.
Perlahan gadis itu membuka kedua kelopak matanya. Mengerjap - kerjapkan kedua matanya. Tampak yang pertama di lihatnya adalah langit - langit atap rumahnya.
"Yerim. Bangunlah. Hari sudah hampir siang. Kau lihat itu di luar, matahari sudah bersinar terik." Ujar wanita tua itu kepada sang gadis.
Sang gadis yang bernama yerim, perlahan bangkit dari tidurnya. Duduk di atas tikar yang menjadi tempat tidurnya sehari - hari. Yerim mengucek - kucek kedua matanya dengan tangannya.
"Ibu. Apa aku kesiangan?. Seluruh tubuhku terasa sakit semua." Keluh yerim kepada wanita tua itu.
Ya, wanita tua itu adalah ibu dari yerim. Seorang wanita yang bernama christina. Yang termasuk dihormati di Desa itu.
Christina tersenyum melihat anak gadisnya. Lalu ia mendekati yerim, dan duduk di samping anak gadisnya.
__ADS_1
"Ibu, tadi malam aku bermimpi. Mimpinya sangat menyeramkan." Cerita yerim.
Christina mengernyitkan keningnya. Seperti menunggu lanjutan cerita dari yerim.
"Tadi malam aku bermimpi tentang hantu ibu. Dia mengejarku di dalam hutan. Hantu itu terbang melayang di belakangku, dan terus mengikutiku. Ketika aku berlari semakin kencang, langkahku seperti di tahan olehnya. Sehingga kecepatanku menjadi lambat. Sampai aku terjatuh tersungkur. Dan wajahku mencium tanah." Lanjut yerim.
Kembali christina menatap yerim. Kemudian ia membelai rambut yerim yang tergerai berantakan.
"Ibu, aku sungguh takut. Ketika aku membalikkan tubuhku, hantu itu sudah ada tepat di depan wajahku. Benar - benar sangat menyeramkan." Cerita yerim lagi.
Tidak terdengar suara dari mulut christina. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya.
Sementara tangannya masih terus membelai rambut yerim.
Yerim mulai merasakan sentuhan tangan christina yang terasa dingin menyentuh kulit kepalanya.
Mulai terasa hawa aneh yang berputar di ruang kamarnya. Hawa dingin yang sampai menusuk kulit tubuhnya. Padahal matahari telah menyinari bumi dengan terik. Hingga masuk ke dalam kamarnya melalui ventilasi dan jendela kamarnya yang terbuka lebar.
"Ibu..." Panggil yerim manja.
Tapi tidak ada sahutan dari christina.
Pandangan mata yerim tengah bertumpu pada dinding kamarnya yang berbahan papan kayu. Terdapat jam dinding yang tergantung di dinding kayu kamar yerim. Terlihat oleh yerim waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 a.m.
Yerim mengalihkan pandangannya dari jam yang berada di dinding kamarnya. Ia ingin melihat ibunya yang kini ia merasa ibunya tengah membelai rambutnya yang sedikit berantakkan.
Tertangkap oleh kedua matanya, sosok makhluk astral lain berbalut kain putih. Dengan rambut panjang tergerai. Dan kuku yang sangat panjang di tiap jemari tubuhnya. Dimana tangannya tengah membelai lembut kepala yerim. Membuat yerim terkejut.
"Aaaaaaaarrrggghhh!!!!!!". Teriak yerim kencang.
Sontak yerim bangkit dari posisi duduknya dan berlari keluar dari kamarnya. Lari keluar dari rumahnya. Hingga ia berada di pelataran halaman rumahnya.
Terlihat christine yang baru saja pulang dari kebunnya, melihat anak gadisnya tengah dalam kondisi panik.
Christine melepas keranjang yang terbuat dari anyaman rotan. Yang berisi hasil dari kebunnya yang baru saja ia panen.
Christine dengan cepat menangkap anak gadisnya. Menarik tangan anak gadisnya dengan cepat.
"Yerim!". Teriak christine menyadarkan yerim.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaa!!!!!". Teriak yerim lagi kencang.
Christine mengguncang tubuh yerim kencang. Ia hendak menyadarkan anak gadisnya.
"Yerim, kenapa nak? Sadar nak. Ini ibu." Teriak christine.
Yerim menghentikan teriaknya. Menatap ibunya. Tampak yerim sudah sedikit tenang. Tapi cemas yang menyelimuti dirinya masih terlukis jelas dari tatapannya kepada christine.
"Benarkah ini ibu?." Tanya yerim seperti tidak percaya.
Mata yerim terlihat berkaca - kaca.
"Ini benar ibu yerim. Kau kenapa nak? Kenapa kau sampai seperti ini?." Tanya christine ingin tahu.
Christine nampak cemas karena melihat anak gadisnya dalam kondisi ketakutan seperti sekarang.
"Ibu." Kata yerim.
Yerim memeluk christine dengan erat. Tangisnya pecah seketika. Rasa ketakutan yang menghantui dirinya kini mulai memudar perlahan. Karena kehadiran ibunya dalam pelukannya.
Christine membalas pelukan yerim. Mengusap - usap punggung anak gadisnya lembut.
"Yerim kenapa nak?. Katakan pada ibu." Pinta christine.
Yerim melepaskan pelukkannya. Lalu ia menatap wajah ibunya. Christine mulai mengusap kedua pipi anak gadisnya. Menghapus air mata yang mengalir dari kelopak mata yerim.
"Ibu, aku takut. Aku sangat takut ibu." Keluh yerim dengan suara serak.
"Kau takut kenapa nak?." Tanya christine.
Yerim masih tidak menjawab pertanyaan ibunya.
"Ayo kita masuk yerim. Kau ceritakan pada ibu di dalam rumah." Ajak christine.
Yerim lalu menggelengkan kepalanya. Ia masih takut untuk masuk ke dalam rumahnya. Takut jika makhluk astral yang membelai rambutnya tadi masih berada di dalam kamarnya.
"Yerim, tenanglah. Ada ibu. Kau jangan takut." Christine meyakinkan anak gadisnya.
Christine mengambil keranjang yang ia letakkan di tanah tadi. Lalu menarik yerim untuk masuk ke dalam rumah mereka.
__ADS_1
Yerim akhirnya menuruti kata ibunya. Lalu mereka berjalan memasuki rumahnya. Sambil christine tetap merangkul anak gadisnya.