
Sedang asyik bercerita tentang kejadian yang dialami oleh bu mia dan yerim, tanpa mereka sadari sebuah kepala melayang terbang mendekati pos ronda tempat dimana bu mia, yerim, paman jodi dan pak masran orochi sedang berada.
Bu mia mengalihkan pandangannya dari paman jodi dan pak masran orochi. Tertangkap oleh netra bu mia sebuah kepala sedang melayang terbang di dekat belakang tubuh yerim yang sedang duduk di atas dipan pos ronda.
Seketika muka bu mia tampak pucat. Namun mulutnya tidak bisa terpaku dan terkunci rapat seperti orang-orang lain jika melihat makhluk tak kasat mata.
Sontak bu mia berteriak kencang. Sambil menarik tangan yerim. Dan yerim langsung berdiri dan mendekati bu mia
"Aaaaaaa!!!!! Hantu kepala!!!!". Teriak bu mia kencang.
Paman jodi dan pak masran orochi terkejut mendengar suara teriakan bu mia yang nyaring.
Yerim dengan segera melihat ke arah pandangan bu mia.
Mata yerim terbelalak seketika.
"Lari!!!!". Teriak bu mia kencang.
Tanpa menunggu persetujuan dari suaminya, bu mia berlari sambil menarik tangan yerim yang juga mengikuti bu mia. Ikut berlari kencang menyusuri jalanan. Di ikuti dengan paman jodi dan pak masran orochi.
Suara seram yang keluar dari makhluk tak kasat mata yang hanya berbentuk sebuah kepala terdengar seperti jauh dari gendang telinga mereka. Sementara kepala itu terbang melayang cepat mengikuti mereka berempat.
Kini, bu mia dan ketiga orang yang bersamanya sudah tiba di depan rumah paman jodi. Dengan segera mereka berempat memasuki rumah paman jodi. Bu mia dengan cepat mengunci rapat pintu rumahnya.
Mengintip dari balik jendela ruang tamu. Terlihat makhluk tak kasat mata yang berbentuk kepala tengah melayang-layang terbang di halaman rumahnya. Dengan rupa yang sangat mengerikan.
__ADS_1
"Ya ampun. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa hari ini sangat begitu aneh?". Rutuk bu mia sedikit cemas.
Paman jodi menggelengkan kepalanya dengan cepat. Seperti memberikan kode kalau dia tidak paham dengan maksud perkataan dari istrinya.
"Apa masih ada bu makhluk tak kasat mata itu?". Tanya pak masran orochi.
Matanya menatap bu mia. Menunggu jawaban dari bu mia.
Bu mia menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Masih ada. Itu kepala masih melayang-layang terbang di halaman rumahku." Bu mia memberitahukan dengan suara yang seperti sedang berbisik.
Yerim tampak diam saja. Tidak ikut mengeluarkan komentar soal makhluk astral yang sedang berada di halaman rumah.
Sebenarnya ia sedikit terkejut dengan penampakkan yang secara tiba-tiba tersebut. Namun tidak ada sedikitpun terbesit rasa ketakutan di dalam dirinya.
Otak yerim berfikir keras. Bagaimana caranya ia akan menghancurkan makhluk tak kasat mata yang bernama 'kepala' tersebut? Seperti ingin melindungi tiga orang yang berada satu ruang dengannya saat ini.
Tapi yerim tidak mau membuka jati diri ia yang sebenarnya di hadapan ketiga orang itu.
Lalu jika ia tidak melakukan itu maka mereka akan selalu dalam ancaman. Dan jelas itu bisa sangat membahayakan diri mereka berempat.
Tahu tidak, kenapa makhluk tak kasat mata itu mengikuti mereka?
Sebenarnya bukan mau mengikuti tiga orang tua yang bersama yerim. Makhluk tak kasat mata itu hanya ingin mengikuti yerim seorang. Kenapa? Karena yerim memiliki aura warna lain dari orang pada umumnya. Yang terpancar dari aura tubuhnya. Yang tertangkap oleh makhluk tak kasat mata tersebut. Membuat makhluk tak kasat mata itu penasaran. Dan sangat menarik perhatiannya. Makanya para makhluk tak kasat mata yang selalu mendatangi yerim dari dulu sejak masih di Desa tempat ia tinggal selalu muncul di hadapannya. Dan sampai detik ini yerim belum menyadarinya, serta belum mengerti apa-apa tentang hal itu. Karena minimnya pengetahuan yerim tentang dunia ghaib. Tentu saja aura warna yerim berbeda dengan orang biasa, karena ia adalah salah satu anak indigo yang memiliki kelebihan spesial
__ADS_1
Yerim menarik pelan tubuh bu mia. Mendorong tubuh bu mia dari dekat jendela ruang tamu. Ia dengan cepat mengintip makhluk tak kasat mata itu dari balik jendela. Memperhatikan dengan seksama. Dengan rinci. Yerim memicingkan matanya. Tangan yerim kini menyentuh gagang pintu rumah paman jodi. Seperti ingin memutar knop pintu agar terbuka.
Namun dengan segera bu mia menahan gerakkan tangan yerim.
Yerim dan bu mia saling bertatapan. Bu mia menggelengkan kepalanya. Tanda memberi kode pada yerim untuk tidak membuka pintu rumahnya. Dengan raut wajah bu mia yang seperti ingin menangis.
Jelas ada rasa cemas dalam dirinya. Takut jika mereka berempat atau salah satu dari mereka bisa terluka. Jika makhluk tak kasat mata yang berbentuk kepala itu berulah.
"Jangan nak. Jangan lakukan itu. Jangan gegabah nak. Ibu tidak mau kalau nanti kita terluka. Bisa celaka nak." Ucap bu mia dengan suara yang kecil.
Paman jodi dan pak masran orochi menganggukkan kepalanya. Menyetujui perkataan dari bu mia kepada yerim.
Yerim kemudian melihat ke arah paman jodi dan pak masran orochi. Seperti berharap yerim tidak melakukan tindakkan konyol yang jelas bisa membuat mereka celaka. Celaka apa terluka? Yah begitulah. Sama-sama jelas berbahaya.
"Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa. Jangan takut." Akhirnya yerim mengeluarkan suaranya.
Sepertinya yerim sudah memutuskan untuk mengambil sikap. Walaupun sesuatu yang akan ia lakukan bisa mengancam dirinya. Bukan dari makhluk tak kasat mata yang tengah melayang-layang terbang di luar rumah. Melainkan dari bu mia dan paman jodi. Takut jika paman jodi dan bu mia mengusirnya dari rumah ini. Nanti akan tinggal dimana yerim jika ia di usir? Di depak dari dalam rumah milik paman jodi dan bu mia. Sementara yerim belum benar-benar tahu dan mengenal seluk beluk 'Kota Jutsu Shinobi' ini.
Makhluk yang hanya berbentuk sebuah kepala. Ini bukan kuyang ya. Jelas hanya sebuah kepala. Bukan kepala yang dilengkapi dengan organ seperti jantung, hati, usus yang tergantung di bawah kepala, seperti kuyang.
Bu mia, paman jodi dan pak masran orochi tidak bisa menahan keinginan gadis muda ini. Terlihat mereka hanya pasrah dengan sikap yang akan di lakukan yerim.
Yerim menganggukkan kepalanya. Kemudian ia dengan lembut menepis telapak tangan bu mia dari atas pungguk telapak tangan kanannya yang sedang memegang knop pintu rumah pasangan suami istri itu.
Yerim memutar knop pintu. Kemudian pintu itu terbuka lebar. Memperlihatkan tubuh yerim di hadapan makhluk tak kasat mata yang sedang melayang terbang di awang-awang.
__ADS_1
Ia melangkahkan kakinya. Berjalan menuju halaman rumah paman jodi.
"Hey kepala! Bersiaplah kau!". Teriak yerim kencang.