CENAYANG

CENAYANG
Yerim Pulang Dari Sungai Dan Melihat Makhluk Astral?


__ADS_3

Matahari terlihat semakin tinggi. Dimana bayangan tubuh yerim, tampak sejajar dengan tubuhnya. Seperti siang telah menjelang. Terlihat sinar mentari yang kian terik.


Yerim bergegas untuk naik ke atas. Ketika ia telah selesai membasuh tubuhnya di pinggir sungai.


Yerim melangkahkan kakinya dengan cepat. Menyusuri jalan setapak menuju rumah ibunya. Cukup memakan waktu 10 menit untuk yerim sampai di depan rumahnya.


Ketika memasuki pelataran halaman rumahnya, yerim di kejutkan dengan sosok christine ibunya. Dimana christine tengah berdiri tegak di depan pintu. Menatap kedatangan yerim. Dengan posisi tubuhnya yang sedikit membungkuk. Dan terlihat sedikit lebih tinggi. Tidak seperti biasanya yang yerim lihat sehari - hari. Entah mengapa semakin bertambah usia yerim, ia melihat sosok ibunya tidak seperti saat dia masih kecil. Semakin hari seperti terlihat semakin aneh namun yerim selalu menepis pemikiran negatifnya itu.


Bukan hanya ibunya saja yang terlihat aneh. Batin yerim mengatakan kalau seluruh warga di desa tempat ia tinggal kini juga semakin terlihat aneh. Dimana sejak ia kecil, christine tidak pernah membiarkan yerim untuk berbaur bersama dengan warga di desa itu. Tidak boleh bersosialisasi dengan orang - orang yang tinggal di desa itu. Yerim tidak pernah bertanya kepada ibunya maksud dari tujuan ibunya melarang ia untuk tidak berbaur dengan warga desa.


Yerim sekilas melihat para warga yang sedang berlalu lalang di dekat rumahnya.


Christine terus menatap yerim dari depan pintu rumahnya. Tanpa mengeluarkan suara untuk memanggil puteri kesayangannya. Ia hanya melihat yerim dengan tatapan datar, kosong.


Yerim melangkahkan kakinya dengan santai memasuki pelataran halaman rumahnya semakin dalam. Ya, halaman rumah christine memang terbilang cukup luas. Yang biasa yerim pakai untuk melakukan kegiatannya sehari - hari.


Kemudian yerim menghentikan langkahnya. Berdiri tepat di hadapan ibunya. Ia memberikan senyum manisnya kepada ibunya. Ibu yang sangat ia sayangi. Sangat ia cintai. Tetapi, christine tetap hanya menatap yerim dengan tatapan kosong.


"Ibu sudah pulang dari kebun?." Tanya yerim.


Christine hanya mengangguk. Tidak menjawab dengan suaranya.

__ADS_1


"Aku baru saja pulang dari sungai ibu. Kali ini aku mendapatkan seekor ikan yang besar. Ini ibu." Ucap yerim.


Christine lalu mengambil ikan yang dibawa yerim dari sungai. Hasil tangkapannya. Lalu ia berlalu meninggalkan yerim sendiri yang masih berdiri di depan pintu rumah christine.


Yerim memiringkan kepalanya. Melihat sosok ibunya berjalan menuju dapur rumah mereka.


Yerim kemudian masuk ke dalam rumahnya. Lalu ia segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti kain basah yang melilit di tubuhnya, yang terlihat lembab.


__________________________________________________________________


Matahari tampak mulai terbenam. Menghilang dari langit yang berwarna biru muda. Sinarnya memang tidak seterik tadi siang. Tapi tetap masih terasa sedikit hangat di kulit yerim.


Yerim tengah duduk di lantai depan pintu rumahnya. Dimana model rumah christine tidak sejajar dengan tanah. Tapi seperti rumah panggung. Sehingga yerim bisa menjuntaikan kakinya ke bawah, sambil menggoyang - goyangkan kakinya. Menikmati cuaca sore hari. Sambil menunggu christine menyiapkan makan malam untuknya.


Yerim memutarkan tubuhnya. Melihat ke dalam rumahnya. Terlihat, makan malam untuk yerim sudah tersaji di piring seng kebangsaannya. Piring milik christine yang menjadi favorite yerim.


Bau yang menyengat dari masakan ibunya telah melekat di indera penciuman yerim. Hingga perut yerim mulai meronta. Terdengar bunyi suara dari dalam perut yerim. Yerim sudah merasa sangat lapar.


Tapi yerim tersadar. Lagi - lagi ia tidak melihat ibunya. Rasanya yerim tidak mendengar ibunya masuk ke dalam rumah mereka. Dari dapur. Ketika meletakkan sajian makan malam untuk yerim.


Tapi lagi - lagi yerim menepis fikirannya. Rasa lapar dari perutnya mengalahkan rasa ingin tahu tentang keberadaan ibunya.

__ADS_1


Yang ia tahu sejak dirinya kecil setiap akan makan ibunya tidak pernah untuk ikut makan bersamanya. Ibunya selalu saja menghilang dari pandangannya.


Jika di waktu yang cerah ia bertemu ibunya, ia akan selalu bertanya kepada ibunya. Ibunya pergi kemana setiap ia akan mengisi perutnya? Dan christine akan selalu menjawab, ia pergi kehutan untuk mencari kayu. Kayu yang dipakai sebagai bahan bakar untuk ia masak nantinya. Tapi kenapa selalu malam hari ibunya pergi? Bukankah pada pagi hari atau siang hari lebih baik. Bukankah pada malam hari di hutan belantara biasanya banyak terdapat binatang buas. Hewan - hewan liar yang memang hidup di hutan belantara ini? Bisa jadi berbahaya untuk keselamatan ibunya kelak. Tapi christine tidak pernah menjawab tentang rasa penasaran yerim.


Sejak saat itu yerim tidak pernah lagi menanyakan kepada ibunya. Cukup ia hanya bertanya di dalam hati. Dimana sampai detik ini, yerim tidak pernah menemukan jawabannya.


Yerim berdiri dari duduknya. Langsung menghampiri hidangan yang telah di siapkan oleh ibunya. Menikmati Ikan bakar yang terasa nikmat di lidah yerim. Dan juga sayur bayam bening yang disajikan juga oleh ibunya. Sayur bayam? Dari mana ibunya mendapatkan sayur bayam ini? Bukankah yerim tidak kekebunnya hari ini? Ia rasa tadi ia tidak membawa sayur bayam dari kebunnya. Hanya ikan yang ia dapat dari sungai dibawanya pulang. Hasil tangkapannya.


'Ah sudahlah. Yang penting aku makan saja.' Gumam yerim.


Yerim melanjutkan makan malamnya. Dengan lahap yerim menikmati ikan bakar kesukaannya. Sampai hidangan di depannya habis tidak bersisa. Terlihat piring seng yang menjadi licin dan tinggal tulang belulang dari ikan.


Yerim mulai merasa kekenyangan. Hingga kantuk dengan cepat menghampirinya. Yerim bergegas membersihkan piring - piring makanannya. Meletakkan piring - piring dan bakul nasinya di dapur. Seperti biasa, besok ia akan pergi ke sungai. Guna membasuh pakaian dan piring - piring kotor yang sudah yerim gunakan.


Langkah kaki yerim terhenti di depan pintu kamarnya. Ia melihat ke arah pintu masuk rumahnya. Terlihat pintu itu masih terbuka lebar. Yerim tadi lupa, ia memang belum menutup pintu rumahnya. Karena tadi ia merasa sangat lapar. Dan sudah tidak sabar ingin menikmati makanan yang telah dimasak ibunya.


Yerim kemudian berjalan ke arah pintu rumahnya. Memegang pintu rumahnya. Mendorong pintu itu agar tertutup. Tapi Seketika ia melihat sekelebat bayangan berdiri di halaman rumahnya. Dan bayangan itu menjadi semakin jelas di netra yerim.


Terlihat Sosok makhluk astral. Dimana tubuhnya dililit dengan kain putih. Yang meruncing di atas kepalanya. Menyembul dengan ikatan di atas kepala sosok makhluk astral itu. Dengan berdiri seperti memijak tanah. Tetapi sebenarnya sosok makhluk astral itu tengah melayang beberapa centimeter dari atas tanah. Dengan wajah yag tidak jelas. Dan sinar mata yang berwarna merah.


Yerim terkejut. Mulutnya terlihat menganga. Sekilas ia teringat dengan mimpinya beberapa hari yang lalu. Mimpi buruk yang ia alami.

__ADS_1


"Sosok itu yang di dalam mimpiku!." Teriaknya kemudian.


Dengan cepat yerim menutup pintu rumahnya rapat - rapat dan menguncinya. Lalu yerim berlari masuk ke dalam kamarnya. Membaringkan tubuhnya di atas tikar. Memejamkan matanya.


__ADS_2