CENAYANG

CENAYANG
Perjalan Menuju Kota


__ADS_3

Senja telah menghiasi langit sore itu. Tapi langit tidak terlalu terlihat dengan jelas karena ditutupi oleh rimbunan pohon-pohon di hutan belantara yang lebat dan menjulang tinggi.


Sebuah truk tengah menyusuri jalanan di dalam hutan itu. Di dalam truk terlihat yerim tengah duduk di samping pria yang membawa ia untuk mengarah ke Kota.


Sudah lima belas menit truk itu berjalan menyusuri hutan. Tidak ada percakapan antara yerim dan pria itu. Hingga pria itu sesekali melirik ke arah yerim.


"Nak siapa namamu?". Tanya pria itu.


Yerim melihat pria itu.


"Koma Yerim Kapitsa." Jawab yerim.


"Oh nak koma." Sambut pria itu.


"Jangan memanggil koma. Cukup yerim saja." Kata yerim memperjelas.


"Baiklah nak yerim." Ucap pria itu.


"Nak? Bukan nak. Cukup yerim saja." Protes yerim.


"Ya ampun. Baiklah yerim saja." Ucap pria itu lagi.


"Yerim! Tidak pakai saja."


"Astaga. Baiklah. Yerim." Kata pria itu dengan sedikit penekanan.


Pria itu menjadi bingung melihat sikap yerim. Baginya gadis muda ini adalah seseorang paling aneh yang pernah ia temui di dalam kehidupannya. Ia tidak menyangka jika ada manusia yang memiliki sikap seperti yerim.


"Dan kau harus ku panggil apa?". Tanya yerim sedikit sarkastik.


Pria itu membelalakkan matanya. Sekilas ia melirik ke arah yerim. Ia merasa sedikit terperanjat ketika mendengar kalimat yerim kepada dirinya. Bagaimana mungkin seorang gadis muda tidak memiliki tutur kata yang baik? Juga tidak memiliki sopan santun kepada orang yang lebih tua darinya.


"Panggil saja Paman jodi." Jawab pria itu datar.


Yerim mengerenyitkan keningnya. Ia terlihat sedikit bingung mendengar jawaban dari pria itu.


"Paman? Itukah namamu?". Tanya yerim lagi.


"Bukan. Namaku Jodi. Tapi kau panggil saja dengan sebutan paman jodi." Jelas paman jodi.

__ADS_1


"Oh. Jodi. Baiklah." Ucap yerim sedikit ketus.


"Aduh." Kata paman jodi.


Paman jodi menepuk keningnya sedikit kuat dengan telapak tangannya.


"Kau kenapa jodi?". Tanya yerim polos.


"Yerim. Kau tidak boleh memanggil orang yang lebih tua darimu hanya nama saja. Itu tidak sopan. Seharusnya ada kata penghormatan di depan nama orang yang kau sebut." Ujar paman jodi.


"Maksudnya?". Tanya yerim seperti menuntut penjelasan.


Paman jodi menghela nafas panjang.


"Begini yerim. Aku ini lebih tua darimu. Sepertinya usia kita terpaut jauh. Jadi seharusnya kau tidak boleh hanya memanggil namaku saja. Kau harus menambahkan di depannya dengan sebutan paman. Makanya aku mengatakan padamu, panggil saja aku dengan sebutan paman jodi. Apa kau sudah mengerti?" Tanya paman jodi.


"Hmm... Ya aku mengerti. Baiklah. Paman jodi." Jawab yerim polos.


"Bagus nak." Ucap paman jodi.


"Nak? Namaku yerim paman jodi." Protes yerim lagi.


Kembali yerim mengerenyitkan keningnya.


"Tapi hanya ibu ku yang memanggilku nak." Tutur yerim polos.


"Setiap orang yang lebih tua boleh memanggil dengan sebutan nak kepada yang muda." Sambut paman jodi kembali memperjelas.


Yerim hanya menganggukkan kepalanya.


Paman jodi sesekali melihat ke arah yerim. Ia masih bingung melihat keadaan yerim saat ini. Dimana yerim memakai pakaian yang tidak pernah di pakai oleh manusia zaman sekarang. Penampilan yerim terlihat seperti di zaman Edo. Zaman yang pernah ada di Jepang dahulu kala.


Warna pakaian yerim yang sudah tidak secerah mentari. Terlihat kusut dan lusuh. Belum lagi kedua kakinya tidak memakai pelindung alas kaki. Dimana telapak kakinya terlihat polos tanpa ada sandal atau sepatu yang melapisi kedua telapak kakinya. Belum lagi rambutnya yang terlihat kusut.


Makanya tadi paman jodi seperti agak takut untuk mendekati yerim. Karena penampilan yerim bukan seperti manusia yang biasa ia lihat di Perkotaan atau di Pedesaan yang pernah ia singgahi setiap ia menempuh perjalanan untuk mendatangi hutan belantara ini.


Tidak terasa mereka sudah satu jam menempuh perjalanan menuju pemukiman warga. Kira-kira sekitar satu jam lagi truk yang dikendarai oleh paman jodi akan keluar dari hutan belantara ini dan sampai ke pemukiman warga terdekat. Desa pertama yang akan di temui setelah keluar dari hutan belantara.


Paman jodi melihat ke arah depan. Dengan hati-hati ia mengemudi truk yang bermuatan hasil panennya untuk di bawa ke Kota.

__ADS_1


Sekilas paman jodi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 PM.


Terlihat warna langit mulai menjadi pudar. Hingga hampir berganti menjadi kelam. Namun sang bulan masih belum menyapa cakrawala di senja kali ini. Padahal biasanya jika berada di dataran yang lebih tinggi atau pegunungan, sang bulan sudah mulai menampakkan dirinya walau masih belum terlalu jelas terlihat di mata manusia yang memandangnya.


"Yerim, sebenarnya tadi kau dari mana? Kenapa kau bisa ada di dalam hutan belantara ini?". Tanya paman jodi.


Sebenarnya sejak dari awal paman jodi melihat yerim, fikirannya sudah mulai bertanya-tanya tentang sosok yerim. Bagaimana bisa seorang gadis muda seperti yerim bisa berada di dalam hutan belantara? Dan dari mana gadis muda ini datangnya?


Tidak mungkin gadis ini berasal dari Desa pertama setelah keluar dari hutan ini. Karena tadi posisi yerim benar-benar tepat pas di tengah-tengah hutan. Terlalu jauh dari Desa pertama.


"Aku dari rumahku paman jodi." Jawab yerim polos.


"Rumahmu di mana nak yerim?". Tanya paman jodi masih penasaran.


"Rumahku tidak jauh dari tempat paman menemukanku tadi." Jawab yerim lagi.


"Hah? Apa di dalam hutan tadi benar ada rumahmu?" Tanya paman jodi kembali, untuk mengorek informasi lebih dalam dari yerim.


Yerim mengalihkan pandangannya ke arah paman jodi.


"Tentu saja ada paman. Aku tinggal di Desa di dalam hutan belantara itu. Dan di Desa itu ada rumah ibuku." Terang yerim kepada paman jodi.


Paman jodi mengerenyitkan keningnya. Otaknya berfikir keras mencerna setiap perkataan yerim. Memastikan kebenaran dari setiap ucapan yang keluar dari dalam mulut yerim.


Namun mulutnya masih tetap terkunci rapat. Belum mulai merespon setiap jawaban yang keluar dari mulut yerim.


"Oh iya paman. Sebenarnya aku dari tadi ingin bertanya pada paman." Ungkap yerim polos.


Paman jodi melihat ke arah yerim sebentar. Kemudian kembali ia mengalihkan pandangannya menatap lurus ke depan.


"Memangnya apa yang mau kau tanyakan kepada paman nak?" Tanya paman jodi.


"Itu paman..." Kata yerim terputus.


"Apa nak? Apa yang kau ingin tanyakan? Katakan pada paman." jawab paman jodi sembari tersenyum ramah.


Yerim menggaruk-garuk kepalanya dengan jemari tangan kanannya. Kemudian ia meletakkan telapak tangannya ke atas lututnya. menekan-nekan lututnya.


"Sebenarnya yang kita duduki sekarang ini benda apa paman? Kenapa benda seperti kayu ini bisa berjalan? Hebat sekali paman. Seumur hidupku, aku tidak pernah melihat benda ini." Ungkap yerim kembali dengan antusias dan kepolosannya itu.

__ADS_1


"Hahhhh?!!!" Paman jodi menjadi semakin bingung.


__ADS_2