
Kembali, sang bulan telah pulang ke peraduan. Digantikan oleh sang mentari yang mulai menerikkan sinarnya.
Namun hari ini yerim sudah bangun lebih awal dari hari - hari biasa yang ia lalui. Mungkin karena tidurnya tidak nyenyak seperti biasanya. Karena ada rasa terbebani dengan kejadian kemarin. Dimana para tamu ibunya yang menatapnya dengan intens. Dan seperti yang ia tahu kalau ibu nya tidak pernah menerima tamu di rumah ini. Tentu saja membuat yerim menjadi berfikir aneh. Apa lagi dua orang tamu ibunya yang melontarkan kalimat aneh kepada dirinya kemarin. Bagaimana tidak menjadi beban fikiran untuk yerim?.
Pagi ini, yerim terlihat sedang duduk di lantai rumahnya. Di pintu rumahnya. Kaki yerim terlihat berayun - ayun. Sementara tatapannya masih menatap halaman rumahnya. Terlihat suasana yang terasa sepi di lingkungan rumah ibunya.
Yerim tidak ada niat ingin melakukan suatu kegiatan hari ini. Tapi ia tetap akan pergi ke sungai untuk membasuh dirinya. Kira - kira agak siang ia akan berangkat menuju ke sungai.
Terlintas bayangan orang - orang yang bertamu kerumahnya kemarin. Berlalu lalang pertanyaan - pertanyaan yang menyita otak yerim. Sebenarnya siapa orang - orang yang bertamu ke rumah ibunya? Kerumah ini. Ada tujuan apa mereka menemui ibunya?
Yerim tidak dapat menemukan jawaban dari desakkan buah pemikiran otaknya. Dan kenapa dua orang tamu ibunya bisa melontarkan kalimat aneh itu kepada yerim? Anak manusia? Wangsit? Apa maksud dari semua ini?
Tampak ekspresi wajah yerim terlihat ketat. Terlihat tegang. Seperti tengah berfikir dengan keras. Memaksa otaknya agar mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya. Namun tetap saja nihil. Yerim belum juga mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
Yerim menghela nafas panjang. Kedua tangan yerim terlihat menyentuh lantai kayu rumah ibunya. Sementara tatapannya terlihat kosong. Seperti lamunan telah menyita kesadarannya.
'Haruskah aku bertanya pada ibu?'. Gumam yerim pelan.
Christine tiba - tiba hadir di belakang yerim. Menatap sosok puteri kesayangannya. Dimana puterinya terlihat sedang duduk di lantai rumahnya, dekat pintu masuk rumahnya, sambil menatap suasana di depan rumahnya.
Christine kemudian berjalan mendekati yerim. Lalu ia duduk di belakang yerim.
"Nak." Panggil christine.
Seketika yerim tersentak. Lalu ia memutar posisi tubuhnya. Menghadap kebelakang. Tapi tetap masih duduk di lantai.
Netra yerim menangkap sosok ibunya di hadapannya kini.
"Ibu?." Ujar yerim.
Tentu saja yerim terlihat bingung. Karena sejak awal ia bangun tadi, ia tidak menemukan sosok ibunya. Memang setiap yerim terbangun dari tidurnya, pertama kali yang dilakukannya adalah mencari sosok ibunya. Tapi seperti biasa, ibunya selalu saja tidak pernah ada di rumah. Sangat jarang ibunya berada di rumah jika cuaca di luar sangat terang. Christine biasanya baru ada di dalam rumah ketika malam hari. Sangat jarang ia ada di rumah ketika hari terang seperti ini. Dan ia selalu bilang pada puterinya, kalau ia pergi ke hutan. Ke kebun atau sawah mereka. Tapi pada malam hari pun ia hanya sebentar berada di rumah dan akan pergi lagi ke hutan untuk mencari kayu. Yerim selalu percaya pada perkataan ibunya. Tidak pernah terlintas pemikiran negatif di dalam otaknya.
Christine tersenyum kepada yerim. Sangat jarang christine tersenyum seperti ini. Entah ada gerangan apa hari ini ia memberikan senyuman kepada puterinya.
"Kenapa ibu ada di rumah?". Tanya yerim tiba - tiba.
__ADS_1
Tidak ada gurat kemarahan di wajah christine. Seperti kemarin. Dimana ia menunjukkan ekspresi wajah yang menyeramkan pada tamu - tamu nya.
"Kenapa ibu tidak boleh berada di rumah? Apa kau tidak suka nak?". Christine melemparkan pertanyaan kembali kepada yerim.
"Tentu saja boleh ibu. Aku senang." Jawab yerim.
Yerim tersenyum girang. Ingin rasanya ia memeluk ibunya. Namun christine paling tidak suka di sentuh. Walau orang itu adalah puterinya sendiri.
"Apa kau tidak mau bertanya pada ibu?". Tanya christine.
Yerim mengerenyitkan keningnya.
"Bertanya? Memangnya apa yang harus aku tanyakan pada ibu?". Tanya yerim.
"Hmm... Tentang orang - orang yang bertamu kemarin." Jawab christine.
"Hah? Memangnya kenapa ibu?". Tanya yerim lagi.
Berat rasanya yerim ingin melontarkan kalimat yang hendak ia ucapkan. Tentang pertanyaan - pertanyaan yang di desak oleh otaknya. Ia takut kalau ibunya akan marah padanya. Tapi ternyata malah ibunya yang menawarkan duluan. Bukankah ini seperti di timpa durian runtuh? Apa yerim terlalu berlebihan jika berfikir seperti itu?
"Mereka adalah para cenayang." Ucap christine mematahkan kalimat yerim.
Yerim menyipitkan kedua matanya.
"Cenayang? Apa itu?". Tanya yerim.
Christine tersenyum mengerikan. Tapi di pandangan mata yerim tidak terlihat demikian.
"Seorang manusia yang mampu memahami hal - hal yang tidak kasat mata." Jelas christine.
Kembali yerim mengerenyitkan keningnya. Ia merasa bingung dengan ucapan dari ibunya.
"Hal yang tidak kasat mata?". Tanya yerim lagi.
"Ya. Lebih jelasnya seorang 'pawang' (dukun) yang dapat berhubungan dengan makhluk astral." Jelas christine lagi.
__ADS_1
"Pawang? Maksud ibu? Aku tidak mengerti." Kata yerim.
"Seorang manusia yang memiliki kelebihan spesial. Dan dia memilih takdirnya menjadi seorang pawang dan bisa melakukan komunikasi dengan para makhluk astral." Terang christine.
"Makhluk astral? Apa itu ibu?". Tanya yerim penasaran.
Memang yerim tidak mengetahui dan tidak mengerti tentang yang di katakan ibunya padanya. Ia tidak pernah tahu. Karena sang ibu tidak pernah menceritakan hal - hal aneh sebelumnya. Atau mengajarkannya hal - hal yang tidak masuk diakal.
"Makhluk astral adalah makhluk yang tidak kasat mata. Yang tidak bisa dilihat oleh para manusia pada umumnya. Kecuali manusia itu adalah pilihan. Seorang manusia yang memiliki kelebihan spesial. Atau para pawang menjuluki mereka seseorang yang punya 'wangsit'." Terang christine lagi.
"Hah? Yang benar ibu?". Tanya yerim.
Christine menganggukkan kepalanya. Membenarkan perkataannya pada yerim.
"Jadi para tamu ibu kemarin adalah pawang?". Tanya yerim.
Christine kembali mengganggukkan kepalanya.
"Semuanya?". Cecar yerim.
"Iya nak." Jawab christine singkat.
Yerim menyibakkan rambutnya ke belakang. Kali ini ia sedang tidak menjalin rambutnya. Sengaja ia biarkan tergerai agar kulit kepalanya mendapatkan oksigen yang cukup.
"Lalu kenapa mereka datang ke rumah kita? Ada apa mereka menemui ibu?". Kembali yerim mencecar christine.
Christine tersenyum sinis. Netranya melihat rasa penasaran di dalam tatapan yerim kepadanya.
"Apa kau benar - benar ingin tahu puteriku?". Tanya christine kemudian.
Yerim terlihat gugup. Ada rasa ingin berkata jujur pada ibunya. Benar, kalau dirinya memang ingin tahu tentang yang di katakan ibunya kepada dirinya. Apakah ibunya akan marah nanti jika ia mengatakan 'iya'?.
Kini yerim seperti mulai tidak perduli. Biarkan saja jika memang ibunya akan marah kepada dirinya. Karena rasa ingin tahu yang besar. Yang merongrong otaknya untuk selalu mencecar ibunya dengan pertanyaan yang mendesak di dalam benaknya.
Yerim menganggukkan kepalanya. Tanda membenarkan pertanyaan ibunya. Kalau iya memang ingin tahu dan menunggu penjelasan dari ibunya.
__ADS_1
"Iya ibu. Aku ingin tahu." Kata yerim cepat.