
Yerim dan paman jodi telah selesai menikmati makan malam mereka. Yang telah disajikan langsung oleh pemilik warung kepada mereka berdua. Dengan cepat paman jodi menyelesaikan transaksi pembayaran dengan ibu pemilik warung itu. Paman jodi tidak mau terlalu lama berada di warung nasi itu.
Tentu saja ia enggan berlama-lama disana. Karena sejak awal ia dan yerim memasuki warung nasi itu, mata semua orang yang berada di dalam warung nasi tempat mereka berada saat ini menatap yerim dengan tajam. Melihat sosok yerim dengan pandangan heran. Seperti aneh melihat sosok yerim.
Jelas saja. Karena kondisi tubuh yerim yang memang sedikit aneh. Tidak seperti orang-orang pada umumnya. Dimana penampilan yerim yang terkesan lusuh dan kusam. Seperti terlihat kotor. Apalagi model pakaian yerim yang tidak pernah mereka lihat di pakai oleh orang-orang pada umumnya yang selalu berlalu-lalang di mata mereka. Model pakaian seperti di zaman edo, yang melekat di tubuh yerim. Ditambah lagi kedua kakinya yang tidak memakai alas kaki. Terlihat sangat polos dan seperti ceker ayam ketika yerim menghentakkan kedua kakinya di atas tanah ini.
Namun orang-orang yang memperhatikan yerim tetap terlihat diam saja. Tidak berani mengeluarkan sepatah katapun untuk menegur yerim. Karena mereka tidak kenal dengan sosok yerim. Yang baru pertama kali mereka lihat saat ini, apalagi ditambah seorang paman jodi berada di dekat yerim yang seperti sedang melindungi sosok yerim dari tatapan heran semua orang yang ada di dalam warung nasi itu.
Paman jodi melihat yerim dengan tatapan biasa. Seperti memberikan sebuah kode kepada yerim. Yang yerim sendiri tidak mengerti maksud kode dari paman jodi.
Yerim spontan mengerenyitkan keningnya.
"Apa paman jodi?". Tanya yerim dengan penyusunan kalimat yang terbalik.
Sontak membuat paman jodi tertawa kecil.
"Kau ini. Harusnya kalimat yang kau ucapkan bukan itu nak. Tapi paman mengerti maksudmu." Ucap paman jodi sambil terkekeh geli memecah kekakuan suasana di warung itu.
Yerim menyeringaikan bibirnya. Menunjukkan wujud protesnya kepada paman jodi.
Paman jodi menghentikan reaksi konyolnya kepada yerim.
"Sebaiknya kita cepat pergi dari sini yerim." Kata paman jodi mengalihkan perhatian yerim.
Paman jodi berdiri dari duduknya, diikuti oleh yerim yang berada di belakang tubuhnya. Melangkahkan kaki mereka dengan cepat untuk keluar dari dalam warung nasi itu.
__ADS_1
Kini paman jodi dan yerim sudah berada di samping mobil truk milik paman jodi.
"Ayo cepat masuk nak." Titah paman jodi.
"Ke dalam kotak yang hebat ini paman? Bagaimana caranya?". Tanya yerim polos.
Paman jodi mengusap-usap dadanya dengan telapak tangan kanannya. Sepertinya ia harus lebih sabar dalam menghadapi sikap yerim. Dimana yerim memang seperti tidak tahu apa-apa dalam segala hal. Entah dari planet mana yerim berasal.
"Itu bukan kotak yerim. Itu adalah sebuah kendaraan. Kendaraan roda empat yang bernama mobil. Dan jenisnya adalah truk." Terang paman jodi secara detail.
"Hah? Apa itu? Aku tidak mengerti paman." Ungkap yerim.
Paman jodi menghela nafas panjang. Seperti meluapkan kekesalan di dalam hatinya. Baru beberapa jam saja bertemu dengan yerim namun sudah hampir membuat otaknya mau pecah.
Paman jodi merasa miris melihat yerim. Merasa kasihan dengan yerim. Terlihat kepolosan yang terlukis di tubuh yerim. Lewat sikap dan gerak gerik yerim.
Paman jodi membukakan pintu mobil truk untuk yerim. Perlahan segera membantu yerim untuk naik ke dalam mobil truk miliknya. Kemudian ia menutup pintu mobil truknya dengan sedikit kencang. Membuat yerim sedikit terkejut.
Lalu paman jodi memutar tubuhnya untuk melangkah menuju ke samping kanan mobil truknya. Bergegas masuk ke dalam mobil truk itu. Mengunci pintu mobil truk dari dalam. Membantu yerim memasang sabuk pengaman.
Spontan yerim terlihat sedikit panik. Terkejut dengan perbuatan paman jodi barusan.
Paman jodi malas harus menjelaskan tentang yang dilakukannya barusan terhadap yerim. Malas dengan pertanyaan konyol yang akan keluar dari dalam mulut yerim nantinya. Karena ia merasa sudah sangat letih dengan perjalanan yang cukup jauh tadi. Untuk menyusuri jalanan di dalam hutan menuju ke Kota. Belum lagi menghadapi beberapa sikap konyol yerim tadi.
Paman jodi kemudian dengan cepat memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Menyalakan mesin mobil truk miliknya. Menginjak pedal gas mobil truk secara perlahan hingga mobil truk itu kini berjalan dengan cepat. Dimana semua roda yang melekat di tubuh mobil truk itu menyentuh jalanan aspal yang mulus. Berputar dengan kecepatan lumayan kencang.
Hening. Tidak ada suara yang keluar dari dalam mulut paman jodi dan yerim. Tidak ada sepatah katapun yang meluncur dengan indah untuk memulai sebuah percakapan di antara kedua manusia yang berada di dalam mobil truk ini.
Sudah sekitar satu setengah jam perjalanan ini mereka tempuh.
Terlihat malam semakin larut. Membuat udara yang berhembus menjadi semakin dingin. Hingga mulai terasa menusuk hingga ke tulang.
Yerim memandang hamparan pohon-pohon yang tersebar luas di samping kiri. Menatap pohon-pohon itu melalui kaca jendela. Gelap yang menyelimuti jalanan membuat warna daun pohon yang hijau tidak terlalu jelas. Apalagi tidak ada lampu jalan yang menerangi jalanan yang mereka lalui. Mungkin karena masih di daerah kawasan hutan. Posisi yang terlalu pelosok. Yang mungkin saja untuk pemasangan lampu jalan belum sampai terjamah di daerah sini.
Tiba-tiba sekelebat bayangan putih muncul di sebelah yerim. Dimana melayang dan berjalan sejajar lekat dekat jendela mobil truk dekat yerim duduk. Netra yerim menangkap bayangan putih itu menjadi semakin jelas. Dengan ikatan yang menyembul di atas kepala makhluk astral itu. Wajah yang tidak terlalu jelas di indera penglihatan yerim. Dan mata merah yang menatap yerim dengan tajam. Membuat yerim sedikit terperanjat. Dengan kehadiran sosok makhluk astral tersebut yang secara tiba-tiba.
Yerim membuang pandangannya ke arah depan. Berharap sosok makhluk astral itu segera menghilang dari pandangannya.
Sekilas paman jodi melirik ke arah yerim. Tertangkap oleh kedua mata paman jodi gambaran wajah pucat pasi yang menghiasi muka yerim. Seperti ketakutan menyelimuti dirinya.
"Kau kenapa yerim? Kenapa wajahmu terlihat pucat seperti itu?". Tanya paman jodi.
Paman jodi masih mengemudikan mobil truknya dengan santai. Tanpa ia ketahui ada makhluk tak kasat mata yang mengikuti mereka. Tepat berada di samping yerim. Di luar mobil truk. Di dekat pintu kaca mobil sebelah yerim berada.
Tentu saja paman jodi tidak bisa melihat makhluk tak kasat mata tersebut. Karena ia hanya manusia normal pada umumnya. Bukan manusia yang memiliki kelebihan spesial seperti yerim.
Yerim menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak ingin mengatakan hal yang telah mengganggu ketenangannya.
"Tidak... tidak ada apa-apa paman." Ucap yerim dengan suara yang sedikit bergetar.
__ADS_1