CENAYANG

CENAYANG
Apakah Ini Mimpi?


__ADS_3

Yerim terlihat melamun di halaman rumahnya. Terlihat ia tengah berjongkok di atas tanah sambil jemarinya menggenggam sebuah ranting kayu kecil. Ia menggerakkan tangannya mencoret - coret tanah dengan ranting kayu itu. Sementara fikirannya bebas melanglang buana ke alam imajinasi lewat lamunannya.


Masih terbayang kejadian kemarin di dalam benak yerim saat tiga orang pria yang bertamu kerumah ibunya. Teringat jelas di dalam benaknya kelakuan ibunya dan ketiga pria itu. Saat salah satu pria melakukan salam sembah kepada ibunya. Hal itu benar - benar terlihat aneh di dalam fikirannya. Apa lagi ketika ketiga pria itu memanggil ibunya dengan sebutan 'ratu'. Setahu yerim nama ibunya adalah christine, bukan ratu. Tapi kenapa mereka bertiga memanggil ibunya dengan sebutan ratu? Seingat yerim tamu - tamu sebelumnya juga memanggil dengan sebutan yang sama. Tapi kala itu yerim tidak terlalu memperdulikannya.


Bukan hanya hal itu saja yang terlihat ganjil di mata yerim. Ketika ibunya berkata melihat sebuah kapal besar di halaman ini, tepat dimana yang sedang ia pijak saat ini membuat yerim semakin merasa heran. Apa lagi tiga tamu yang datang kemarin juga membenarkan yang ibunya katakan. Sementara dirinya sendiri tidak melihat benda yang ibunya bilang saat itu.


Hal itu membangkitkan rasa penasaran yang sangat besar dalam diri yerim. Kapal? Benda apa itu? Memangnya seperti apa benda yang di sebut ibunya kemarin. Yang ibunya mengatakan kapal yang sangat besar. Sungguh yerim benar - benar tidak mengerti akan maksud dari ucapan ibunya.


Sebenarnya yerim sudah tidak sabar ingin bertanya kepada ibunya tentang 'kapal besar' itu. Karena kemarin ibunya berkata akan memberitahukan kepadanya apa itu kapal besar. Namun yerim mengurungkan niatnya. Takut nanti ibunya akan marah seperti kepada tamu - tamu sang ibu kemarin. Dan yerim merasa sebaiknya menunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat bukan untuk bertanya. Tapi waktu yang tepat kapan ibunya sendiri yang akan menyampaikan kepada yerim.


Saat ini, yerim masih larut dalam lamunannya semakin dalam. Sampai ia menghelakan nafasnya panjang. Tanpa ia sadari, sosok christine sudah hadir di belakang tubuhnya. Padahal sejak awal pagi tadi ibunya tidak terlihat berada di dalam rumah mereka. Sementara yerim posisi tubuhnya yang sedang berjongkok di atas tanah, tubuh bagian depannya menghadap ke arah depan. Tepat di depan pagar kayu rumah christine. Di tempat biasanya dimana ia akan memasuki pelataran halaman rumahnya. Sejak tadi walau dalam lamunannya, yerim tidak mendengar langkah kaki ibunya. Tidak melihat ibunya melangkah memasuki halaman mereka melalui jalan di depan pagar rumahnya.


Christine menatap tubuh puterinya yang sedang berjongkok di atas tanah. Hingga ia menyentuh pundak puterinya. Dan membuat puterinya yerim sontak saja terkejut.


Secara reflek yerim memutar kepalanya sedikit. Mendongakkan kepalanya keatas. Melihat sosok yang telah menyadarkan lamunannya dengan sentuhan di pundaknya.


"Ibu?". Tanya yerim mulai bingung.


Tentu saja ia menjadi bingung. Dari arah mana ibunya datang? Tidak ada yerim melihat ibunya tadi ketika datang ke halaman rumah mereka.


Christine tersenyum simpul melihat puteri kesayangannya.


"Ibu dari mana saja? Sejak pagi aku sudah mencari ibu kemana - mana. Tapi aku tidak menemukan ibu." Ujar yerim.


Christine lalu mengusap kepala puterinya.


"Kau sudah tahu kemana ibu biasanya bukan?". Christine mengembalikan pertanyaan kembali kepada yerim.


Yerim mengerenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Tapi barusan aku tidak melihat ibu masuk dari arah jalan itu." Ujar yerim sambil menunjuk ke arah pagar kayu rumah christine.


Seketika christine tersenyum sinis. Namun ia tidak menggubris pertanyaan puterinya.


"Kau sedang apa di sini nak?". Christine mengalihkan pembicaraan.


"Aku?". Tanya yerim masih dengan sedikit kebingungan.


Sepertinya konsentrasi yerim sedikit buyar. Sehingga ia tidak sambung dengan pertanyaan dari ibunya saat ini.


Sontak christine tertawa.


"Tentu saja itu kau. Memangnya ada siapa lagi selain kau disini anakku?". Jelas christine sambil tertawa.


Kali ini tawa christine tidak terdengar melengking seperti kemarin ketika ada tamu yang datang kerumahnya saat itu. Tawa christine terdengar biasa saja. Namun tetap saja sedikit terdengar mengerikan. Yerim sudah merasa was - was dengan sikap ibunya sekarang. Entah mengapa yerim bisa memiliki fikiran seperti itu. Seharusnya yerim tidak perlu was - was atau takut, toh christine adalah ibunya. Tidak mungkin ibunya akan melukainya.


Yerim ingin menutupi dari ibunya apa yang tengah ia fikirkan tadi dalam lamunannya. Ia tidak ingin ibunya tahu kebenarannya jika ia sebenarnya merasa bingung dan aneh melihat sikap dan kelakuan ibunya akhir - akhir ini. Tidak seperti hari - hari biasanya yang mereka lewati. Jujur saja, bagi yerim kepribadian baru ibunya beberapa hari belakangan ini seperti yang tidak ia kenal. Dan yerim merasa seperti sedikit ketakutan melihat ibunya.


Christine menyipitkan kedua matanya. Menatap lekat ke wajah puterinya. Mencari celah kebohongan dari sinar mata puterinya. Tapi christine tidak menemukan itu.


"Benarkah? Memangnya kenapa kau melakukan hal itu puteriku?". Tanya christine seperti mencari tahu.


"Aku sedang bosan di dalam kamarku ibu. Makanya aku bermain di halaman ini." Jawab yerim polos.


Christine tersenyum simpul.


Sepertinya christine percaya dari jawaban puterinya yerim. Terlihat dari cara ia melihat puterinya. Puterinya yang memiliki sifat polos di matanya. Tidak mungkin kalau puterinya tengah membohonginya bukan?


"Puteriku, ibu akan mulai mengajarkanmu cara untuk melatih supranaturalmu. Agar kau cepat menjadi cenayang yang hebat dan profesional." Terang christine.

__ADS_1


Lagi, yerim secara reflek mengkerutkan keningnya.


"Supranaturalku? Sekarang ibu?". Tanya yerim.


Christine menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja nak. Sekarang. Memangnya kau mau berlama - lama?". Ujar christine.


Yerim dengan terpaksa mengangguk. Sebenarnya ia belum siap untuk melatih supranaturalnya sekarang. Karena ia benar - benar belum mengerti bagaimana caranya melatih supranatural miliknya. Lagi pula supranatural itu apa yerim tidak mengerti. Namun, yerim menurut saja apa titah dari sang ibu kepada dirinya. Ia takut nanti ibunya akan murka kepada dirinya jika ia tidak mematuhi apa yang ibunya katakan. Itu menurut yerim. Padahal ibunya tidak seperti itu kalau kepada puteri kesayangannya. Justru christine jauh lebih sabar dalam mengajarkan yerim selama ini.


"Baiklah bu." Jawab yerim akhirnya.


"Ayo ikut ibu kesana." Ajak christine.


Christine menunjuk sebuah kursi kayu yang masih terletak di halaman rumahnya. Di samping kiri pohon yang setinggi atap rumah christine.


Pandangan yerim secara reflek jatuh pada kursi kayu yang di tunjuk oleh ibunya.


Dengan cepat ia menganggukkan kepala. Tanda menyetujui ajakan dari ibunya.


"Iya bu." Jawab yerim lagi.


Yerim melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arah kursi itu terletak. Tanpa ia sadari tiba - tiba christine sudah berada di atas kursi kayu itu. Tengah duduk menunggu yerim menghampirinya.


Sontak hal itu membuat yerim terkejut. Karena perasaan yerim tadi ibunya berjalan di belakangnya. Tapi kenapa cepat sekali ibunya sudah duduk di kursi kayu itu? Apa ini nyata? Atau ini mimpi? Yerim mencubit pelan tangannya. Terasa nyeri di bagian tangan yang dicubit yerim tadi. Ternyata ini kenyataan!


"Ibu? Kapan ibu berada di kursi itu? Bukan kah tadi ibu berada di belakangku?" Tanya yerim heran.


Terdengar suara tawa christine yang melengking. Menembus gendang telinga milik yerim dan memecahkan keheningan di lingkungan sekitar rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2