
Kini yerim dan bu mia sudah berada di dalam rumah. Duduk di ruang tamu rumah paman jodi.
Bu mia seperti melihat ketakutan yang terpancar dari sinar mata yerim. Membuat bu mia penasaran. Ada apakah gerangan? Sampai yerim bisa terlihat seperti saat ini.
"Nak, ceritakanlah pada ibu. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirimu?". Tanya bu mia membuka percakapan antara ia dan yerim.
Yerim melirik takut-takut kepada bu mia. Rasa enggan untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya dipendam oleh yerim. Karena ia berfikir masih dua hari ia kenal dengan bu mia. Takut jika ia mengatakan hal yang sebenarnya, bu mia tidak akan percaya.
Tidak mungkin kan saat ini ia mengaku dan berkata jujur kalau dirinya memiliki kelebihan spesial. Bisa melihat makhluk tak kasat mata atau makhluk astral. Malahan bisa berkomunikasi juga dengan para makhluk tak kasat mata tersebut. Dan mengatakan kalau dirinya adalah cenayang muda yang masih 'fresh'. Akan dianggap hal yang tidak masuk akal bukan? Nanti di sangka sakit jiwa atau sudah gila.
Karena ibunya yang bernama christine sempat berpesan kepadanya agar jangan membuka jati diri yerim kepada siapa pun. Bukankah yerim izin ke kota untuk menjual hasil karya seni dari kedua tangannya? Bukan untuk menjadi cenayang di Kota ini.
Padahal izinnya yerim ke Kota untuk menjual hasil karya seni dari kedua tangannya hanyalah kamuflase di depan ibunya. Agar ibunya mengizinkan. Sebenarnya yerim hanya ingin tahu Kota itu seperti apa. Seperti percakapan yang ia dengar ketika sang ibu berbincang dengan para cenayang yang bertamu ke rumahnya kala itu. Yang tertangkap oleh telinga yerim kalau mereka berasal dari Kota. Sampai terbesit tanda tanya yang besar di dalam benak yerim, 'seperti apa Kota itu'.
Dan ini sudah hari kedua yerim berada di Kota, tapi belum ada tanda-tanda dari paman jodi untuk membawanya menyusuri jalanan perkotaan. Membelah jalanan dengan kedua kaki mereka. Haruskah seperti itu?
Terlalu polos buah dari pemikiran yerim.
"Yerim. Apa kau mendengar yang ibu tanyakan?". Tanya bu mia kembali membuyarkan pemikiran yerim.
Yerim melihat wajah bu mia. Ia tersenyum tipis. Senyum seperti yang di paksakan dari dirinya. Senyum yang terlihat kaku.
"Tidak ada bu. Tidak terjadi apa-apa kepadaku. Sungguh." Jawab yerim berbohong.
Bu mia menatap yerim dengan lekat. Seperti tidak percaya dengan jawaban dari yerim.
__ADS_1
"Lalu jika memang tidak terjadi apa-apa, kenapa tadi kau berteriak sekencang itu nak?". Tanya bu mia sedikit menyudutkan yerim.
"Tadi itu aku hanya terkejut saat ibu menyentuh pundakku. Makanya aku berteriak bu." Jawab yerim mencari alasan yang masuk akal agar bu mia percaya pada ucapannya.
Bu mia manggut-manggut. Dengan ekspresi raut wajah yang serius dan bibir sedikit maju. Seperti ekspresi wajah itik yang sangat menggemaskan.
Masuk akal. Di dalam benak bu mia alasan yang di utarakan yerim sangat masuk akal. Bisa diterima.
"Yerim, ibu ingin menyampaikan suatu pesan kepadamu." Ujar bu mia lembut.
Yerim mengalihkan pandangannya. Menggeser posisi duduknya semakin dekat dengan tubuh bu mia. Ia menatap wajah bu mia dengan serius. Menuntut lanjutan dari perkataan bu mia kepadanya.
"Mohon maaf bu. Apa yang ingin ibu sampaikan kepadaku?". Tanya yerim mulai penasaran.
"Dengarkan ibu. Seharusnya kau mendengarkan kata ibu dan paman jodi yang telah kami katakan kepadamu saat pagi tadi." Ucap bu mia.
Bu mia mulai mengusap dadanya. Seperti mulai tidak sabar menghadapi tingkah polos yerim. Seperti kata suaminya. Bisa membuat suaminya sedikit depresi. Ia bisa merasakan hal itu di dalam hatinya.
Namun tentu saja berbeda. Bu mia bisa lebih sabar dalam menghadapi yerim. Karena ia adalah seorang wanita. Seorang ibu. Yang memiliki kasih sayang yang tulus untuk anaknya. Walau yerim bukan anaknya, bu mia sudah mulai perlahan menganggap yerim sebagai puterinya sendiri. Berbeda dengan suaminya yang seorang pria. Wajar saja suaminya tidak terlalu memiliki rasa empati yang tinggi seperti yang ia miliki. Bu mia paham benar itu.
"Seharusnya kau tidak boleh keluar dari dalam rumah. Dan lagi pula, tidak di benarkan keluar rumah ketika pergantian sore ke malam hari. Itu tidak baik. Pamali. Kalau kata orang-orang tua zaman dahulu mitosnya kita bisa tersapa. Atau keteguran." Terang bu mia.
"Mitos? Keteguran? Apa itu bu?". Tanya yerim semakin memperlihatkan kepolosannya.
"Mitos itu suatu cerita yang belum tentu kebenarannya, namun orang-orang tua zaman dahulu meyakininya. Bahwa itu adalah nyata dan sering terjadi di dalam kehidupan mereka." Jelas bu mia secara detail.
__ADS_1
"Lalu bu?". Tanya yerim lagi semakin ingin memuaskan diri dari rasa ingin tahunya yang besar.
"Iya begitu. Kau bisa tersapa atau keteguran." Ucap bu mia.
"Apa itu bu?". Tanya yerim lagj semakin menuntut penjelasan yang lebih rinci kepada bu mia.
"Ya ampun. Kau ini memang benar-benar tidak tahu apa-apa ya nak. Polos sekali kau nak." Ujar bu mia kepada yerim.
Namun yerim terlihat biasa saja. Tidak ada rasa tersinggung dalam dirinya mendengar kalimat barusan yang terlontar dari mulut bu mia tentang minimnya wawasan yerim tentang dunia.
Yerim hanya menggelengkan kepalanya. Membenarkan kalimat bu mia yang di tujukan kepada dirinya, jika ia memang tidak tahu sama sekali tentang apa pun. Wajar saja ia seperti itu, karena ibunya memang tidak pernah mengizinkannya untuk berbaur dengan orang-orang di lingkungannya. Dimana yerim hanya boleh berada di dalam rumah, di halaman depan rumah ibunya, atau kalau ia pergi keluar, hanya boleh pergi ke sungai dan ke kebun mereka saja. Yang jelas tidak boleh berkomunikasi dengan siapa pun kecuali ibunya.
Tapi entah mengapa kali ini christine memberikan izin kepada yerim untuk pergi jauh dari dirinya. Pergi menyusuri daerah yang tidak pernah yerim sentuh. Mungkin karena rasa sayang yang terlalu besar kepada puterinya. Sehingga ia memuaskan keinginan puterinya. Ingin puterinya yerim bahagia dengan menuruti kemauan yerim. Lagi pula yerim hanya izin sebentar saja memijakkan kedua kakinya di Kota besar ini. Guna mendagangkan hasil karya seni buatan dari kedua tangannya yang terampil.
"Keteguran atau tersapa itu berbahaya nak. Kau bisa sakit karena di ganggu oleh hantu. Dedemit atau makhluk tak kasat mata. Nanti kau bisa merasakan tubuhmu sangat tidak nyaman." Jelas bu mia lagi.
"Makhluk tak kasat mata?". Tanya yerim memastikan.
"Iya nak." Jawab bu mia membenarkan.
"Maksud ibu seperti sosok yang memiliki rambut sampai terseret ke tanah? Lalu lidahnya terjulur dan terjuntai ketanah juga? Dan kedua bola matanya yang hampir keluar dengan wajah yang hancur?". Yerim memperjelas maksud dari perkataan bu mia.
"Iya itu maksud ibu." Sambung bu mia spontan.
Bu mia seketika terperanjat dengan ekspresi wajah yang bingung. Ia memicingkan kedua matanya.
__ADS_1
"Loh, bagaimana kau bisa tahu yerim?". Tanya bu mia terkejut.