CENAYANG

CENAYANG
Yerim Yang Polos


__ADS_3

Malam pekat semakin larut. Dimana warna langit yang semakin kelam. Dan bulan purnama yang tertutup sedikit oleh awan yang terlihat, hitam. Samar-samar cahaya bulan purnama masih menerangi permukaan bumi. Walau sinar cahaya sang bulan purnama tampak remang-remang.


Ditambah lagi embun yang sedikit tebal menempel di permukaan kaca mobil truk paman jodi. Sehingga sekali-kali paman jodi menghidupkan wiper kaca mobil truknya. Agar tidak mengganggu penglihatannya kala sedang mengemudikan mobil truknya. Jika tidak hal yang mengerikan bisa saja nanti terjadi. Hal yang bisa mengancam nyawa dirinya dan seorang gadis muda yang sedang bersamanya saat ini.


Udara yang berhembus kencang membuat suasana malam ini menjadi komplit. Dingin yang menembus hingga menyentuh kulit membuat paman jodi sedikit gemetaran. Namun karena di dalam mobil terasa pengap tetap saja paman jodi menyalakan AC mobil menyala. Agar ia dan yerim merasa nyaman di dalam mobil truk miliknya.


Tapi tidak bagi yerim. Selama ini ia tidak pernah merasa kedinginan. Seumur hidupnya. Tidak pernah. Karena desa tempat ia tinggal memiliki hawa yang begitu panas. Cuaca yang selalu cerah. Walaupun pada malam hari ia selalu merasa kepanasan. Hingga peluhnya selalu mengalir dan membuat tubuhnya menjadi lengket dan terasa lekit.


Tidak pernah ada udara yang berhembus sekencang ini di daerah desa tempat ia tinggal. Jangankan udara yang berhembus kencang, udara yang berhembus sepoi-sepoi hampir tidak pernah ada. Di Desa tempat tinggal yerim itu cuaca dan hawanya tetap biasa saja. Selalu stabil. Tidak pernah memiliki dinamika.


Sudah empat setengah jam mobil truk yang ditumpangi yerim membelah jalanan lajur luar kota. Melaju dengan kecepatan lumayan kencang. Tanpa ada jeda untuk paman jodi singgah lagi ke tempat-tempat lain.


Yerim sejak tadi sudah tertidur di samping paman jodi. Mungkin karena ia merasa lelah dengan perjalanan yang ia tempuh dari desanya menuju ke hutan belantara dengan berjalan kaki. Apalagi untuk pertama kalinya ia mengalami kejadian aneh. Yang membuat yerim sedikit ketakutan. Sampai paman jodi menemukannya di tengah jalan, di dalam hutan rimba yang di kunjungi oleh paman jodi.


Udara dingin dari luar yang bercampur dengan udara dingin yang keluar dari AC mobil membuat yerim merasa kedinginan. Baru pertama ia mengalami hal seperti ini. Suhu udara dingin ini sampai membuat yerim menggigil. Hingga terasa menusuk ke dalam tulang-tulang tubuhnya. Membuat ia terbangun dari tidur nyenyaknya.


Yerim perlahan membuka kedua kelopak matanya. Ia mengerjap-kerjapkan matanya dengan pelan. Menguap dengan spontan. Lalu ia memperbaiki posisi duduknya dengan benar. Melipat kedua tangannya tepat di ulu hati. Menyelipkan kedua telapak tangannya ke dalam ketiak.

__ADS_1


Paman jodi sekilas kembali melirik ke arah yerim. Tampak olehnya tubuh yerim yang terlihat sedikit gemetaran. Seperti menggigil. Karena tidak kuasa menahan hawa yang begitu dingin. Lagi pula yerim tidak memakai lapisan baju yang tebal. Karena ia memang tidak memiliki bahan baju seperti itu. Di Desa tempat tinggal yerim tidak pernah ada tempat perbelanjaan. Apalagi sebuah warung. Makanya tadi ia sangat bingung saat di ajak paman jodi untuk masuk ke dalam warung nasi. Yang ada di Desa yerim hanya pasar tradisional. Dimana ia tidak pernah di izinkan oleh ibunya untuk pergi ke pasar itu. Makanya yerim memang tidak tahu apa-apa dalam segala hal.


"Kau kenapa yerim? Apa kau merasa kedinginan?". Tanya paman jodi.


Bibir yerim mulai terlihat pucat dan kering.


"Kedinginan? Apa itu paman?". Tanya yerim polos.


Paman jodi tiba-tiba mengetuk-ngetuk keningnya. Seperti ada batu besar yang tiba-tiba saja menimpa kepalanya. Perasaan sedikit frustasi kembali menghampiri dirinya.


Jujur saja, ia benar-benar bingung menghadapi tingkah laku yerim. Entah terbuat dari apa otak anak ini di dalam pemikiran paman jodi. Apakah yerim benar-benar manusia seperti dirinya? Atau salah satu makhluk tak kasat mata? Tapi kalau dia makhluk tak kasat mata kenapa kakinya tetap berpijak di atas bumi? Menyentuh tanah? Tapi penampilannya sangat aneh? Itu yang sedang berputar-putar di dalam benak paman jodi.


Paman jodi mematikan AC mobil miliknya. Kemudian ia kembali fokus menyetir mobil truk yang tengah ia tunggangi. Menatap lurus kedepan. Sedikit tidak memperdulikan yerim.


"Apa itu paman?". Yerim bertanya saat ia melihat paman jodi menyentuh AC mobil truk yang ia tumpangi.


"Itu AC." Jawabnya singkat.

__ADS_1


"AC?". Tanya yerim polos sambil mengerenyitkan keningnya. Menatap ke arah paman jodi.


"Ya. Air Conditioner." Sambung paman jodi.


"Jadi itu apa..." Kalimat yerim terputus.


"Jangan tanya lagi. Paman tidak tahu bagaimana menjelaskan kepadamu nak. Nanti saja paman akan memberitahumu ketika kita sudah sampai di dalam Kota." Sela paman jodi.


Paman jodi memutuskan rasa penasaran dari diri yerim. Ia tidak mau terlalu banyak bicara jika sedang fokus menyetir. Takut konsentrasinya menjadi pecah. Dan bisa membahayakan nyawanya dan gadis muda yang sedang ia berikan tumpangan secara gratis.


Yerim terdiam kaku. Ia tidak bisa lagi mengeluarkan sepatah katapun. Karena di matanya, terlihat sikap paman jodi yang sudah tidak bersahabat seperti awal mereka bertemu.


Ia takut jika paman jodi murka kepadanya. Meluapkan kemarahannya kepada yerim. Karena ia tidak pernah di marahi oleh ibunya. Namun ia pernah melihat ibunya marah kepada para tamu cenayang yang datang ke rumahnya saat itu. Melihat sikap ibunya seperti itu saja membuat yerim sangat ketakutan.


Pandangan yerim terpusat ke arah depan. Memandang jalanan yang tampak begitu sepi dan lenggang. Tidak ada kendaraan-kendaraan lain yang melintas di jalanan itu. Hanya mobil truk milik paman jodi yang ia tumpangi saja, yang mengisi jalanan aspal mulus tanpa ada cacat sedikitpun. Tidak ada lubang-lubang bolong yang menghiasi aspal tebal itu. Dan tidak tampak lagi pemandangan makhluk tak kasat mata yang merusak kesucian indera penglihatannya.


Namun kicauan beberapa suara burung hantu yang terdengar jelas di indera pendengaran milik yerim dan paman jodi mulai terdengar bersahut-sahutan. Seperti bergantian. Hingga membuat paman jodi sedikit bergidik ngeri. Tapi yerim terlihat biasa saja. Karena ia hampir tiap malam mendengar suara burung hantu itu di desa tempat ia tinggal. Tanpa pernah melihat sosok burung hantunya. Hanya mendengar suaranya. Dan ia tidak tahu nama hewan itu. Tidak pernah bertanya juga kepada ibunya.

__ADS_1


Malam larut yang mendekati dini hari mulai terasa mencekam bagi paman jodi. Hingga paman jodi memutuskan untuk menambah kecepatan putaran roda mobil truknya.


Memacu jalanan sepi di lajur luar kota. Agar cepat sampai di daerah Perkotaan.


__ADS_2