
Malam telah menyapa. Menyelimuti bumi dengan udara yang sedikit hangat dan ditemani oleh rembulan yang terlihat melengkung seperti senyuman manis di wajah yerim.
Yerim kini tengah berada di ruang makan rumah paman jodi.
Paman jodi menatap heran kepada yerim. Yerim tampak berdiri di depan meja makan milik paman jodi.
Sementara matanya menatap takjub pada hidangan menu makanan yang telah tersaji di atas meja makan.
"Duduklah nak." Titah bu mia kepada yerim.
Yerim kemudian menjatuhkan bokongnya ke atas lantai. Membuat paman jodi dan bu mia terlihat melongo. Tidak menyangka dengan sikap konyol yerim menurut mereka.
Padahal yerim memang biasanya seperti ini jika di rumah ibunya. Karena di rumah ibunya hanya terlihat rumah polos tanpa ada furniture di dalamnya. Seumur hidup, baru kali ini yerim melihat barang-barang ajaib di rumah paman jodi yang memang baru pertama kali di lihat oleh yerim. Bagaimana mungkin ia bisa bersikap biasa saja? Tentu saja perasaan haru dan takjub mengitari dirinya saat ini. Dengan senyum bahagia yang terukir di wajah cantiknya. Namun tertutup dengan kekusaman yang menghiasi wajahnya. Seperti sebuah mutiara yang terjatuh di dalam parit. Dimana sinarnya tidak bisa terlihat oleh mata orang-orang yang berlalu lalang.
Paman jodi menepuk jidatnya. Ia merasa semakin depresi melihat tingkah dan kelakuan yerim.
"Yerim. Apa yang kau lakukan di atas lantai itu?". Tanya bu mia.
Yerim tersenyum sumringah.
"Bukankah ibu menyuruhku untuk duduk? Ini aku sudah melakukannya." Jawab yerim polos.
Bu mia berjalan mendekati yerim. Kemudian ia perlahan menarik tubuh yerim untuk segera berdiri.
"Ibu memang menyuruhmu untuk duduk nak. Tapi bukan di atas lantai ini." Ujar bu mia.
Bu mia mengarahkan yerim untuk duduk di atas kursi. Tampak yerim hanya menurut saja.
Yerim menjatuhkan perlahan bokongnya di atas kursi makan. Seketika ekspresi wajahnya kembali terlihat takjub.
"Woaaaahhhh...." Kata yerim.
Kemudian terlihat tawa riang yerim mengisi keheningan di ruang makan rumah paman jodi.
"Kenapa kau tertawa yerim?". Tanya paman jodi heran.
"Ini apa. Kenapa indah sekali paman?". Tanya yerim.
__ADS_1
"Kau ini lucu sekali. Bagaimana mungkin kau tidak tahu benda yang kau duduki itu apa?". Rutuk paman jodi.
Yerim menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Sungguh paman. Aku tidak tahu. Dari aku kecil hingga sampai sekarang, baru kali ini aku melihat benda ini. Di Desa ku tidak ada yang seperti ini. Di rumah ibuku tidak ada paman. Di dalam rumah ibuku tidak ada satu pun barang-barang aneh seperti di rumah paman." Terang yerim polos.
"Aneh?". Tanya paman yerim sambil mengerenyitkan keningnya.
Yerim kembali menggeleng dengan cepat.
Gelak tawa dari bu mia terdengar jelas di gendang telinga yerim dan paman jodi. Seperti sebuah pertunjukkan akrobat yang membuat bu mia tertawa terpingkal-pingkal. Bagi bu mia ini adalah hal yang sangat lucu. Hingga terasa menggelitik perutnya.
Paman jodi mengalihkan pandangannya. Menatap kelakuan istrinya.
"Kenapa tertawa bu?". Tanya paman jodi.
Bu mia kemudian menghentikan tawanya. Mengusap tengkuknya.
"Tidak apa-apa pak. Ini benar-benar sangat lucu." Jawab bu mia.
Paman jodi menekukkan wajahnya. Seperti memberi kode tidak suka akan sikap kedua wanita yang tengah berada satu ruang dengan dirinya.
"Model berbeda-beda?". Tanya yerim bingung.
Bu mia melambaikan tangannya ke arah yerim.
"Sudahlah. Jangan kau pikirkan nak. Nanti pelan-pelan ibu akan mengajarkan kepadamu. Hal-hal yang tidak kau ketahui." Ucap bu mia.
Bu mia tersenyum tipis menatap yerim.
Kemudian bu mia berjalan mendekati meja makan. Mengambil piring paman jodi. Lalu mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk pauk yang telah ia masak tadi di dapur. Lalu ia meletakkan piring nasi milik suaminya tepat di hadapan suaminya. Menuangkan air putih ke dalam gelas yang terbuat dari seng.
Bu mia juga mengambilkan nasi untuk yerim dan meletakkan sepotong ayam goreng bagian paha ke atas piring yerim. Lalu mengambilkan gulai sayur pakis dan tempe goreng. Lantas meletakkan sedikit sambal goreng di atas piring makan yerim. Bu mia menyodorkan piring itu kepada yerim. Dan menyodorkan segelas air putih untuk yerim.
"Makanlah nak. Mudah-mudahan kau menyukai masakan ibu." Tawar bu mia.
Yerim dengan segera menyentuh makanan yang ada di dalam piring makan miliknya. Dengan cepat bu mia menangkap tangan yerim.
__ADS_1
"Cuci tangan dulu nak. Bukan langsung menyentuh makananmu seperti itu. Itu tidak baik yerim." Ucap bu mia mengingatkan yerim.
Bu mia mengajarkan yerim untuk mencuci tangan. Membantu yerim membersihkan tangannya dengan ceret dan kobokan yang sudah bu mia siapkan di atas meja. Kemudian mengelap tangan yerim dengan kain lap makan yang sudah tersedia di atas meja.
"Begitu caranya yang harus kau lakukan sebelum makan nak." Ujar bu mia.
Yerim tersenyum girang. Terlihat ia semakin takjub melihat tata cara yang di ajarkan oleh bu mia kepadanya.
"Makanlah yerim. Kau juga bu, harus makan. Duduklah bu." Titah paman jodi.
Bu mia kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Lalu ia memulai ritual makannya sambil melirik-lirik ke arah yerim.
Yerim menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Kemudian memasukkan sedikit sayur ke dalam mulutnya. Mengunyah dengan perlahan. Tampak kedua matanya yang berbinar. Seperti menemukan kenikmatan atas hidangan yang sedang di santapnya.
"Ini enak sekali bu. Sungguh, baru pertama kali aku memakan makanan yang seenak ini." Ucap yerim memuji masakkan bu mia.
"Benarkah?". Tanya bu mia senang.
Yerim menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Sungguh bu." Jawab yerim singkat.
"Terimakasih nak. Makannya pelan-pelan saja. Jangan terburu-buru. Itu tidak baik nak." Tegur bu yerim.
"Iya bu." Jawab yerim lagi.
"Coba kau makan ayam goreng itu nak. Itu juga sangat enak. Pasti nanti kau suka. Cobalah." Bu mia mengarahkan sambil menunjuk potongan bagian paha bawah ayam goreng di atas piring makan yerim.
Yerim mengambil ayam goreng di atas piringnya. Kemudian menggigitnya dengan gigi bagian depan miliknya. Lalu ia mengunyah perlahan daging ayam goreng buatan bu mia. Terasa renyah, lembut dan garing yang menyatu di dalam mulutnya. Rasanya yang nikmat membuat yerim secara reflek memejamkan kedua matanya. Sambil mengunyah dengan perlahan.
"Bagaimana nak? Apa enak?". Tanya bu mia penasaran.
Yerim perlahan membuka kedua matanya. Kemudian ia mengangguk pelan.
"Enak sekali. Ini apa? Baru pertama kali aku memakannya." Tanya yerim.
Paman jodi menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hatinya terbesit perasaan aneh. Tidak menyangka telah menemukan seorang gadis muda yang memiliki kepribadian aneh di matanya.
__ADS_1
"Itu ayam goreng. Sebaiknya kau makan saja!". Kata paman jodi sedikit tegas, membuat suasana riuh di ruang makan menjadi hening. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu menyentuh piring milik paman jodi.