
"Ratu, kami sudah tiba di rumahmu. Sudah sejak tadi ratu." Ucap seorang pria.
Terdengar suara ribut di dalam rumah christine. Ada tujuh orang pria sedang bertamu di rumah christine. Empat pria paruh baya, dua orang pria sekitar usia 25 tahunan dan seorang pria muda sekitar usia 19 tahun.
Sebenarnya para pria yang sedang bertamu ke rumah christine tidak datang secara bersamaan. Mereka datang dengan tubuh sendiri - sendiri. Seperti ada kepentingan yang harus di selesaikan.
"Benar ratu. Mohon maaf kalau kami bersikap lancang. Bukan bermaksud untuk mendesak ratu, tetapi tubuh kami tidak bisa bertahan lama jika datang ke rumah ratu". Ucap pria paruh baya yang satu lagi.
Christine tersenyum sinis. Lalu menatap kepada para tamunya dengan tatapan datar. Tidak menjawab pertanyaan dari dua orang pria paruh baya yang tengah membujuknya.
Waktu telah menunjukkan pukul 02.00 pm. Terlihat matahari sudah semakin terik. Entah mengapa di desa yang di kelilingi hutan belantara ini sejak yerim masih kecil tidak pernah turun hujan. Sehingga yerim tidak pernah tahu dan merasakan sentuhan air hujan di kulitnya. Udara dingin yang berasal dari air hujan pun yerim juga tidak pernah merasakannya.
Hari ini terlihat yerim masih tertidur pulas di atas tikar sebagai alas tempat tidurnya. Mungkin karena tadi malam ia makan terlalu banyak sampai terlalu kenyang, sehingga membuat yerim tidur sampai siang hari.
Samar - samar yerim mendengar suara ribut dari dalam rumahnya. Membuat kesadarannya mulai muncul kepermukaan. Hingga suara ribut di dalam rumahnya menjadi semakin jelas dalam pendengarannya. Seperti ada orang - orang yang tengah mengobrol.
Yerim mulai membuka indera penglihatannya. Mengkerjap - kerjapkan kedua kelopak matanya. Lalu secara reflek yerim menguap. Sementara indera pendengarannya mulai difokuskan untuk memastikan adanya asal suara ribut dari dalam rumahnya.
Yerim lalu bangkit dari tidurnya. Duduk sebentar di atas tikar yang menjadi alas tempat tidur yerim.
Pandangannya jatuh kepada tirai yang bertengger di atas pintu masuk ke kamarnya.
Terlihat bayangan beberapa orang di ruang tamu rumahnya sedang duduk bersila. Sedang melakukan pembicaraan yang yerim tidak mengerti.
__ADS_1
Ada rasa penasaran di dalam hati yerim. Siapa sebenarnya orang - orang yang bertamu di rumahnya? Sepengetahuan yerim sejak ia kecil, ibunya tidak pernah menerima tamu. Tidak pernah ada yang datang berkunjung kerumah christine. Para warga desa saja tidak pernah datang ke rumahnya, apa lagi orang luar.
Sebenarnya yerim tidak terlalu tahu kalau dunia luar itu ada. Yang ia tahu hanya desa nya saja yang ada. Hanya saja ibunya pernah berkata kepadanya, bahwa sebenarnya ada kota besar di luar sana. Yang cerita dari ibunya tempat itu sangatlah jauh dari desa mereka. Dan tidak mungkin untuk mereka pergi ke sana.
Kemudian yerim menjalin rambut panjangnya. Memperbaiki baju yang sedang melekat di tubuhnya. Lalu ia meletakkan rambut yang telah di jalinnya ke arah depan. Sehingga tidak menjuntai di belakang punggungnya.
Yerim berdiri dari duduknya. Melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamarnya.
Awalnya yerim merasa ragu untuk keluar. Namun, rasa gerah telah melilit di tiap kulit putihnya. Sudah terasa lengket peluh yang mengucur saat ia masih tidur tadi. Karena sinar matahari yang sedikit lebih terik dari pada kemarin. Sehingga yerim memutuskan untuk tetap keluar dari dalam kamarnya. Ia ingin pergi ke sungai. Seperti biasanya, ia ingin membasuh tubuhnya agar menjadi segar kembali. Dan sekalian ingin mencuci kain miliknya serta piring - piring kotor bekas ia makan kemarin malam.
Yerim menyibakkan tirai kamarnya. Melangkahkan kakinya keruang tamu rumahnya. Lalu ia berhenti di depan para tamu yang secara spontan menatap ke arah yerim.
Hening. Tiba - tiba saja suara ribut tadi tidak terdengar lagi. Para tamu terdiam kaku. Penglihatan mereka tajam menatap yerim. Seolah mereka dilanda kebingungan. Sehingga menimbulkan pertanyaan di dalam otak mereka.
"Anak manusia?". Ucap seorang pria yang paling muda. Matanya menatap yerim tajam. Kemudian ia tersenyum sinis.
"Dia puteriku!". Kata christine tegas.
Pria muda itu lantas terdiam.
"Apa kau punya wangsit gadis muda?". Tanya seorang pria yang berusia 25 tahunan.
Yerim menatap pria itu dengan tatapan bingung. Apa lagi ini? Kenapa pria ini menanyakan tentang wangsit kepada yerim? Sementara yerim sendiri tidak mengerti maksud dari kata wangsit itu. Tidak pernah ibunya mengajarkannya hal - hal aneh.
__ADS_1
"Tutup mulutmu anak muda! Sudah ku katakan dia puteriku!". Teriak christine tiba - tiba.
Selama yerim hidup, sejak ia masih kecil tidak pernah ia melihat ibunya marah. Tidak pernah mendengar ibunya berteriak atau pun memaki orang lain, apa lagi berteriak kepada yerim. Itu tidak pernah terjadi.
Seketika yerim menjadi ketakutan. Takut karena melihat ibunya sedang marah pada dua pria yang mengeluarkan kalimat tadi untuknya.
Christine menatap ke arah yerim. Kemudian memberikan senyum kepada puterinya. Senyum manis agar puterinya merasa tenang. Karena tertangkap oleh kedua indera penglihatan christine rasa takut dari puterinya yang terpancar dari gerak - gerik tubuh yerim.
"Kau sudah bangun nak?". Tanya christine kepada yerim.
Yerim menganggukan kepalanya. Sementara suaranya seperti tercekat di dalam kerongkongannya. Tidak mampu untuk keluar dari dalam mulutnya. Karena hal barusan yang ia lihat. Mendengar suara teriakkan ibunya.
"Maaf ibu belum masak. Apa kau ingin keluar?". Tanya christine.
Lagi, yerim menganggukkan kepalanya cepat.
"Pergilah nak. Ibu sedang ada tamu disini. Bawalah sesuatu nanti untuk ibu masak. Jangan terlalu lama diluar. Sebelum hari gelap kau sudah harus berada di rumah." Pesan christine kepada yerim puterinya.
Yerim mengangguk mengerti. Kemudian ia berlalu dari hadapan ibunya dan para tamu yang ada di dalam rumahnya.
Yerim berjalan menuruni tangga rumahnya. Mengambil bakul yang berisi pakaian kotornya dan piring - piring bekas ia makan tadi malam. Lalu ia berjalan dengan langkah yang cepat keluar dari halaman rumahnya. Menyusuri jalan setapak untuk menuju ke arah sungai. Dan menghilang dari pandangan seluruh tamu ibunya.
Pandangan para tamu ibunya masih menatap halaman rumah christine. Melihat kepergian yerim. Sampai mata mereka yang tidak berkedip sama sekali. Terlihat ekspresi takjub mereka pada yerim. Seperti ada rasa iri dan rasa ingin tahu tentang yerim.
__ADS_1
Tiba - tiba wajah christine terlihat jadi menyeramkan. Menatap tajam kepada tamu - tamunya.
"Apa yang kalian lihat?! Apa kalian ingin aku musnahkan?!!!". Teriak christine.