
Christine tersenyum sinis. Menangkap aura berbeda dari tubuh puterinya. Aura yang sangat besar. Sangat menarik perhatiannya. Berbeda dengan orang - orang yang biasanya ia jumpai.
"Para cenayang kemarin datang ke rumah kita karena ada kepentingan mendesak." Ujar christine.
Yerim menatap lekat wajah ibunya. Melihat dengan tatapan yang serius.
"Kepentingan mendesak?". Tanya yerim polos.
Lagi, christine tersenyum sinis.
"Ya. Mereka membutuhkan bantuan ibu." Jawab christine.
Yerim semakin bingung. Wajahnya terlihat sedikit tegang.
"Memangnya apa hubungan para cenayang itu dengan ibu? Kenapa mereka jadi membutuhkan bantuan ibu?". Tanya yerim lagi semakin penasaran.
Christine tertawa. Tawanya terdengar sedikit menyeramkan. Tapi tidak bagi yerim. Ia biasa saja melihat reaksi ibunya saat ini, di hadapannya.
Tidak ada sedikitpun rasa takut di dalam dirinya. Tidak ada sedikitpun rasa cemas di dalam hatinya. Hampir tidak pernah ia melihat ibunya tertawa. Baru kali ini lah ia melihat tawa dari wajah ibunya. Sesuatu hal yang baru bagi diri yerim. Hingga ia merasakan ada rasa menggelenyar di dalam dadanya. Di seluruh tubuhnya. Namun ia tidak tahu apa namanya.
Wajar saja jika yerim tidak merasakan ketakutan atau kecemasan dari kelakuan christine di hadapannya. Karena dia tidak pernah mengenal sosok lain selain ibunya. Tidak pernah berbaur dengan orang lain. Tidak pernah dekat dengan orang lain.
Jelas saja, kegiatan yerim sejak dari kecil sangat monoton. Hanya berada di desa itu. Di rumah, ke sungai, ke kebun, ke sawah atau di halaman depan rumahnya. Sementara di dapur sangat di larang ibunya untuk yerim melakukan kegiatannya di sana.
"Ibu bisa memberikan apa yang mereka inginkan. Bantuan apa saja yang mereka butuhkan. Tapi semua itu tidak bisa mereka dapatkan dengan gratis." Ujar christine dengan angkuh.
"Benarkah?". Tanya yerim.
Tidak ada rasa terkejut di dalam diri yerim. Tetap masih biasa saja. Namun, rasa ingin tahu yang kian besar terus menerus merong - rong dirinya. Mendesak hatinya. Memaksa mulutnya untuk terus mencecar ibunya dengan berbagai pertanyaan yang lahir dari otaknya.
"Hm. Ibu akan memberitahumu lebih dalam lagi tentang para cenayang." Ucap christine.
Yerim mengganggukan kepalanya. Ia menuruti perkataan dari ibunya.
"Para cenayang biasanya di dunia tempat mereka tinggal akan di cari oleh orang - orang yang membutuhkan bantuan mereka." Terang christine.
__ADS_1
"Dunia?". Tanya yerim bingung.
Christine tidak menanggapi pertanyaan yerim tentang 'dunia' yang ingin diketahui oleh puterinya.
"Orang - orang yang datang biasanya meminta tolong ke para cenayang itu untuk melakukan segala keinginan yang mereka kehendaki. Atau meminta untuk di obati, bahkan meminta untuk memusnahkan sesuatu!". Jelas christine.
Yerim mengerenyitkan keningnya. Yerim masih tidak paham atas perkataan - perkataan dari ibunya sejak tadi. Tapi, otaknya masih saja berfikir keras untuk mencerna kalimat - kalimat yang di lontarkan oleh ibunya.
Hening. Christine tidak lagi mengeluarkan suaranya. Hanya diam sambil menatap puterinya secara lekat. Dengan ekspresi wajah yang menyeramkan. Namun, tetap saja yerim tidak ada rasa takut dari tatapan mata ibunya. Tetap ia masih merasa biasa saja.
"Ibu bolehkah aku meletakkan kepalaku di pahamu?". Pinta yerim tiba - tiba.
Seketika christine terkejut mendengar permintaan yerim. Mau meletakkan kepalanya? Yang benar saja. Apa maksud yerim ia ingin mati? Ingin memenggal kepalanya? Lalu meletakkan kepalanya di pangkuan christine? Di paha christine?
'Tidak bisa! Apa puteriku gila? Tidak mungkin aku membiarkan puteriku melakukan itu. Tidak mungkin aku membunuh puteriku sendiri!'. Christine berkata di dalam hatinya.
Christine memberikan tatapan tajam pada puterinya, dengan ekspresi wajah yang sangat menyeramkan. Namun tetap saja reaksi dari yerim masih biasa saja. Tidak mengerti akan tatapan christine kepada dirinya.
"Apa maksudmu?!" Tanya christine sedikit garang.
"Aku ingin berbaring di pangkuan ibu." Jelas yerim kemudian.
Christine terlihat menjadi sedikit lebih tenang. Ternyata maksud dari puterinya tidak seperti yang terlintas di dalam kepalanya. Di dalam benaknya.
Kemudian christine menghilangkan ekspresi seram dari wajahnya, menggantikan dengan tatapan yang hangat. Tersenyum lembut.
Sebenarnya ia tidak suka di sentuh oleh siapa pun, termasuk puterinya sendiri. Tapi kali ini ia merasa tidak menolak. Ia mengizinkan yerim untuk baring di pangkuannya. Mungkin karena ia sangat menyayangi yerim. Layaknya anak sendiri. Walau pada kenyataannya yerim bukanlah darah dagingnya.
Christine menepuk - nepukkan pahanya dengan telapak tangan kirinya.
"Kemarilah nak. Berbaringlah di pangkuan ibu." Titah christine lembut.
Yerim menggeser sedikit tubuhnya untuk lebih dekat dengan tubuh ibunya. Dengan cepat ia menjatuhkan tubuhnya. Kepalanya ia sandarkan ke paha ibunya.
Kembali, getaran dari rasa menggelenyar itu menghantam seluruh organ tubuhnya. Seluruh aliran darahnya terasa berdesir. Rasa bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan. Tidak bisa ia ucapkan. Sudah lama ia tidak di perlakukan seperti ini oleh ibunya. Terakhir ibunya memanjakan yerim seperti ini saat dia masih kecil. Bayangan masa lalunya mulai terlintas di dalam benaknya. Yerim tersenyum senang.
__ADS_1
"Puteriku. Sebenarnya kau memiliki kelebihan spesial. Sama seperti para cenayang kemarin. Tapi kelebihan milikmu jauh di atas mereka. Sangat jauh. Kau bisa lebih hebat dari mereka." Christine kembali membuka percakapan.
Yerim menggesek - gesekkan jari telunjuk tangan kanannya ke lantai rumah christine. Lantai tempat tubuhnya berbaring saat ini. Tubuhnya yang terbaring dengan posisi miring ke kanan.
"Benarkah ibu?". Tanya yerim.
Tapi tidak ada rasa ingin tahu yang besar kalau itu menyangkut tentang dirinya sendiri.
"Ya." Jawab christine singkat.
Kaki yerim mulai sedikit menekuk seperti huruf C.
"Dari mana ibu tahu?". Tanya yerim singkat.
Christine mulai membelai kepala yerim. Membelai rambut yerim.
"Tentu saja ibu tahu. Karena kau puteri ibu." Jawab christine dengan intonasi suara yang sedikit lebih tinggi.
Yerim terlihat hanya diam saja. Sementara jari telunjuknya masih menggesek - gesek lantai.
"Apa kau mau menjadi seperti para tamu ibu kemarin?". Tawar christine.
"Maksud ibu aku menjadi cenayang seperti mereka?". Tanya yerim polos.
"Ya. menjadi cenayang yang lebih hebat dari mereka. Ibu akan membantumu untuk melatih kemampuan tenaga supranaturalmu. Sampai kau akan menjadi cenayang yang lebih hebat dari pada tamu - tamu ibu kemarin. Dan tidak akan terkalahkan." Ujar christine.
Christine tersenyum sinis.
"Supranatural?" Tanya yerim bingung.
Lagi, christine tertawa menyeramkan karena melihat reaksi putrinya yang polos. Tidak seperti para tamu - tamunya yang datang kemarin. Yang memiliki sifat tamak. Yang ingin memiliki segalanya di dunia ini.
"Nanti kau akan mengerti apa itu supranatural. Ibu akan mengajarkan kepadamu pelan - pelan. Kau jangan takut puteriku." Jelas christine lagi sambil masih mengelus kepala puterinya dengan lembut.
Yerim tidak melanjutkan pertanyaan - pertanyaan kepada ibunya. Ia takut membuat ibunya menjadi marah nantinya. Jadi yerim membiarkan saja mengalir seperti apa adanya.
__ADS_1
Sore telah menjelang. Terlihat senja yang mewarnai langit. Sambil menunggu sang malam menghampiri cakrawala.