CENAYANG

CENAYANG
Cahaya Teluh!


__ADS_3

Paman jodi bergegas membuka pintu mobil truk tempat yerim berada. Tampak yerim tengah tertidur pulas.


Paman jodi dan sang istri mengusap-usap dada mereka secara bersamaan. Bersyukur karena yerim dalam keadaan baik-baik saja. Tidak seperti kekhawatiran dari istri paman jodi beberapa saat lalu.


"Pak, ibu bangunkan saja ya?". Tanya istri paman jodi meminta izin.


Paman jodi menganggukkan kepalanya.


"Bangunkan saja bu." Balas paman jodi.


Istri paman jodi mengusap-usap pipi yerim dengan lembut.


"Nak, bangunlah." Ucap istri paman jodi pelan.


Yerim tersadar dari tidurnya. Perlahan ia membuka kedua kelopak matanya.


Istri paman jodi tersenyum melihat yerim.


"Hah? Siapa?". Tanya yerim.


Yerim terkejut kala melihat sosok istri paman jodi.


"Yerim, ini istri paman. Turunlah." Kata paman jodi.


"Istri?". Tanya yerim lagi


Paman jodi menepuk-nepuk kepalanya pelan.


"Arrrrggghhhh!!!!. Lama-lama aku bisa gila." Teriak paman jodi sedikit frustasi.


Istri paman jodi perlahan menarik yerim agar segera turun dari dalam mobil truk milik suaminya.


Yerim menurut saja dengan istri paman jodi. Ia bergegas turun dari dalam mobil. Kemudian melangkah mengikuti istri paman jodi masuk ke dalam rumah.


"Duduklah nak." Titah istri paman jodi.


Istri paman jodi meninggalkan yerim sendirian di ruang tamu. Ia membuatkan yerim secangkir teh hangat. Lalu ia kembali ke ruang tamu memberikan yerim teh hangat hasil dari racikkan tangannya.


"Minumlah nak." Tawar istri paman jodi.

__ADS_1


"Baiklah paman." Jawab Yerim.


"Paman?" Tanya istri paman jodi.


Yerim menyeruput teh hangat buatan istri paman jodi.


"Wah... Apa ini?! Enak sekali!" Teriak yerim takjub.


Manik mata yerim tampak bersinar terang.


"Kau sungguh tidak tahu itu apa nak? Itu namanya air teh nak. Yang di racik dengan gula." Terang istri paman jodi.


"Gula?". Tanya yerim penasaran.


"Nanti pelan-pelan akan ibu ajarkan ya." Ucap istri paman jodi dengan sabar.


"Baik paman ibu". Kata yerim.


"Bukan nak. panggil saja ibu mia. Paman itu untuk sebutan kepada pria yang jauh lebih tua usianya darimu." Jelas istri paman jodi yang bernama mia.


"Pria?". Tanya yerim polos.


Secara reflek ia memandang wajah suaminya. Seolah meminta tolong untuk membantunya memberikan pengertian kepada gadis muda ini.


Paman jodi menggelengkan kepalanya. Seperti tidak setuju dengan kode dari istrinya.


"Sebaiknya istirahat dulu. Nanti setelah kau bangun baru ibu akan mengajarkanmu pelan-pelan ya." Kata bu mia kepada yerim.


Yerim terlihat acuh mendengar ucapan dari bu mia. Wajar saja, yerim memang tidak pernah mengerti apa pun.


Bu mia mengajak yerim untuk beristirahat. Ia menyiapkan sebuah kamar kosong yang lama memang sudah tidak terpakai. Ia menyuruh yerim untuk tidur di dalam kamar kosong itu.


"Masuklah nak. Istirahatlah di dalam. Anggap saja rumah sendiri." Ujar bu mia.


Bu yerim meninggalkan mia sendirian di kamar itu. Ia berjalan menuju kamarnya. Menyusul suaminya untuk beristirahat.


_________________________________________________________________


Senja telah menghiasi langit saat ini. Udara yang tidak sesegar di hutan belantara pun telah berputar-putar mengelilingi seluruh cakrawala. (Hanya udara sepoi-sepoi ya, bukan badai. 😆😆😆).

__ADS_1


Tampak yerim masih terbaring di atas tempat tidur.


Kedua kelopak mata yerim perlahan mulai terbuka. Ia mulai mengerjap-kerjapkam kedua matanya. Kesadaran yerim mulai muncul ke dunia nyata. Tidak sedang di alam mimpi lagi seperti tadi.


Yerim melihat seluruh suasana di ruang kamar yang sedang ia tempati saat ini. Di mata yerim, ruang kamar ini jauh lebih bagus dari pada kamar dan seluruh ruang di rumah ibunya.


Senyum bahagia yerim mulai timbul. Ungkapan rasa takjubnya di dalam hati masih terus terngiang-ngiang di dalam indera pendengarannya.


Baru kali ini ia bisa merasakan tidur yang nyaman. Tidur di atas kasur nan empuk untuk pertama kalinya. Biasanya yerim tidur hanya beralaskan tikar anyaman hasil karya dari tangannya sendiri.


Dan lihatlah ketika yerim bangkit dari tidurnya, ia mendaratkan kakinya ke atas lantai keramik. Menapakkan kedua telapak kakinya. Rasa sejuk kian menjalar di setiap jengkal tubuhnya. Senyum merekah pun makin terlukis jelas di wajahnya.


Tentu saja yerim sangat senang. Biasanya yerim hanya menyentuh lantai yang terbuat dari papan. Yang selalu di kecapi oleh kedua telapak kakinya.


Perasaan takjub makin menjadi-jadi di dalam dirinya. Terasa menghangatkan hatinya.


Netra yerim melihat ke arah jendela kamar, secara spontan sang hati dan sang benak menuntun langkah kakinya untuk menghampiri jendela kamar yang masih terbuka lebar.


Telapak tangan kanan yerim mulai menyentuh kaca jendela.


'Wow.' Gumam yerim.


Hanya satu kata ucapan takjub yang meluncur dari bibir mungilnya.


Tentu saja yerim merasa seperti itu, karena ini benar-benar pertama kali di dalam hidupnya melihat sebuah benda yang tidak pernah dia lihat seumur hidupnya.


Karena jendela kamar yerim tidak terbuat dari kaca seperti ini. Hanya terbuat dari lapisan kayu yang tidak terlalu tebal. Jika jendela kamarnya tertutup rapat, suasana gelap akan menemani hari-harinya. Apabila hari terang jika jendela tertutup rapat maka suasana gelap dan kelam saja yang hadir di sekeliling yerim.


Kembali, yerim menatap suasana lingkungan di luar rumah paman jodi melalui jendela kamar yang terbuka. Memang tidak setenang lingkungan di sekeliling rumah ibu yerim, di desa yang di kelilingi hutan belantara. Yang selalu yerim lihat setiap hari adalah hamparan pepohonan yang lebat. Rimbunan dedaunan yang berserakan di atas permukaan bumi. Di atas tanah. Namun kini yang tertangkap oleh yerim terlihat beberapa rumah yang berjejer. Dengan halaman berlantaikan paving block. Yang yerim sendiri tidak tahu paving block itu jenis apa. Mungkin nanti ia akan bertanya kepada paman jodi kenapa halamannya bukan tanah seperti di pekarangan halaman rumah ibunya di Desa.


Lamunan yerim tersentak, kala ia secara reflek mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap langit senja nan indah. Tiba-tiba saja sebuah cahaya hijau seperti bola terbang melayang di atas langit. Tidak terlalu tinggi memang. Dan cahaya hijau yang seperti bola itu mendarat di sebuah atap rumah di sebelah bangunan rumah paman jodi. Rumah tetangga dari paman jodi. Dimana cahaya hijau yang seperti bola itu tiba-tiba saja pecah dan lenyap dari pandangan mata yerim.


Yerim mengedip-kedipkan kedua matanya. Dengan ekspresi wajah yang melongo. Dan seketika kedua bibirnya menjadi ternganga.


"Cahaya itu? Seperti yang pernah ibu katakan kepadaku. Itu cahaya teluh!". Ucap yerim kepada dirinya sendiri.


Ibunya pernah memberikannya sedikit pengetahuan tentang teluh kepada yerim. Dimana seorang cenayang hitam mengirimkan sesuatu untuk mencelakai orang yang di inginkannya.


Pintu kamar yerim terbuka lebar. Menampilkan sosok bu mia yang tengah berdiri tegak sembari melihat sosok yerim yang tengah berdiri di dekat jendela.

__ADS_1


"Nak, kau sudah bangun ternyata." Ujar bu mia.


__ADS_2