CENAYANG

CENAYANG
Meminta Izin Kepada Ibu


__ADS_3

Lima Hari Kemudian...


Senja telah menyapa dunia. Terlihat langit sore yang berubah warna menjadi orange kebiru-biruan yang membentang di horison, yang menandakan proses siang dan sore telah berhenti sehingga bumi menyambut datangnya malam dengan terbuka.


Namun, yerim terlihat masih berada di pelataran halaman rumahnya. Dimana posisi tubuh yerim tidak jauh dari pintu rumahnya. Tidak sedang duduk di tengah-tengah pekarangan rumahnya.


Yerim masih sedang menganyam kerajinan tangan hasil karya dirinya. Sebenarnya ia sejak siang sudah pulang dari sungai. Sudah menangkap ikan di sungai untuk menu makan malamnya nanti. Dan sudah memetik beberapa sayuran dari kebun milik ibunya. Tambahan untuk menu makan malam yerim.


Karena ia merasa jenuh dengan tidak adanya hal yang harus ia lakukan, makanya yerim merajut dengan kedua tangannya. Untuk mengisi kegiatannya sore ini. Agar ia tidak menghabiskan waktu dengan sia-sia. Yang membuatnya bisa melamun atau pikirannya pergi entah kemana.


Teringat di dalam pikiran yerim, saat kejadian lima hari yang lalu. Dimana ia sedang berinteraksi dengan ibunya.


Ibunya yang menceritakan tentang dunia tempat para cenayang yang bertamu ke rumahnya beberapa waktu silam.


Tentang Kota. Ya, Kota.


Awalnya yerim tidak terlalu perduli. Tapi setelah mendengar cerita dari ibunya tentang sebuah tempat yang bernama Kota, membuat yerim menjadi penasaran. Ada keinginan lebih dalam untuk mengetahui tentang kota.


Entah mengapa yerim jadi ingin menginjakkan kakinya ke sebuah tempat yang bernama Kota itu. Walau bagaimanapun telah ia tepis, namun ia tidak bisa menahan keinginan hatinya.


Padahal ibunya tidak mengatakan tempat itu baik untuk dirinya. Justru ibunya berkata tempat itu sangat berbahaya untuk yerim. Tidak seaman dan senyaman di tempat ia tinggal saat ini. Yang jauh lebih tenang dan aman seperti kata ibunya.


Tidak. Baru kali ini yerim percaya dengan perkataan ibunya. Seperti ia mempunyai tekad yang kuat untuk dia harus berkunjung ke sebuah tempat yang bernama Kota. Yerim ingin membuktikan sendiri bahwa sebuah tempat yang bernama Kota itu tidak seperti yang ibunya katakan.


Yerim masih menganyam. Tapi fikirannya masih melayang-layang di udara. Sementara otaknya berfikir keras untuk menghasilkan sebuah alasan yang tepat agar ibunya segera memberikan izin kepada yerim, untuk bisa pergi ke Kota.


Sebuah ide muncul dari dalam otak yerim. Ia akan mengatakan kepada ibunya, kalau ia ingin membawa hasil karya seni yang dibuat dari tangannya untuk di bawa ke Kota. Agar bisa di tukarkan dengan bahan makanan seperti yang selalu ibunya ceritakan kepada dirinya. Yerim ingin dirinya sendiri yang terlibat. Bukan ibunya lagi. Yah, sepertinya itu ide yang tepat dan masuk akal. Semoga saja christine mengizinkan yerim untuk pergi ke Kota dengan alasan yang yerim buat nanti.


Sambil menganyam, yerim terlihat senyum-senyum sendiri. Membayangkan seperti apa bentuk sebuah tempat yang bernama Kota itu. Ah, rasanya ia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera ke sana.


Christine melihat yerim yang sedang senyum-senyum sendiri. Ia baru saja tiba di dalam pekarangan rumah miliknya. Dengan segera ia menghampiri puteri kesayangannya.

__ADS_1


"Kau sedang menganyam?". Tanya christine.


Sontak yerim menjadi terkejut. Bagaimana tidak terkejut? Tentu saja terkejut, karena yerim tadi masih dalam angan-angannya hingga ia senyum-senyum sendiri seperti orang yang tidak waras.


Yerim menyelesaikan anyamannya. Karena memang ini sudah bagian akhir dari anyamannya.


Yerim mengalihkan pandangannya. Ia melihat ke arah ibunya.


"Iya ibu. Ini aku sudah selesai menganyam hasil buatan tanganku." Cerita yerim sedikit bangga.


Christine tersenyum simpul.


"Lalu kau mengapa barusan senyum-senyum sendiri? Apa yang kau pikirkan nak?". Tanya christine penasaran.


Yerim bingung dengan ibunya. Ternyata ibunya selalu tahu tentang apa yang yerim lakukan. Sekeras apa pun yerim menyimpan sesuatu, ibunya pasti lebih tahu. Dan ibunya tidak pernah bisa di bohongi sampai detik ini. Memang yerim bukan seorang gadis yang pembohong. Yerim adalah seorang gadis yang jujur. Dan anak yang sangat baik serta penurut. Memang benar kata pepatah, Ikatan benang merah tidak bisa terputus. Seorang ibu selalu memiliki insting yang kuat terhadap keluarganya, apalagi terhadap anaknya. Memang sudah hukum alam sepertinya.


"Aku sedang membayangkan hasil karyaku ini ibu." Ucap yerim polos.


"Hasil karyamu? Memangnya kenapa dengan hasil karyamu?". Tanya christine.


"Seandainya aku bisa membawanya ke Kota. Untuk menukarkannya dengan bahan makanan, seperti yang selalu ibu katakan padaku dulu. Pasti sangat menyenangkan ya bu." Jawab yerim.


Christine tersenyum kecut.


"Maksudmu kau ingin pergi ke Kota?". Tanya christine lagi.


"Iya ibu. Aku ingin melakukannya sendiri. Menukarkan hasil karyaku ini dengan bahan makanan di Kota." Yerim membuat alasan.


Christine tersenyum sinis. Seperti ia tidak suka dengan perkataan dari puterinya itu.


"Di sana tidak baik untukmu. Akan sangat berbahaya untuk dirimu nak. Tidak seaman di tempat tinggal kita ini." Ucap christine dengan nada khawatir.

__ADS_1


Tampak christine tidak mendukung keinginan puterinya.


"Tapi bukankah ibu berkata aku memiliki kelebihan spesial? Supranaturalku. Dan aku kan sudah membuktikan pada ibu, kalau aku sudah menguasai supranaturalku. Jadi aku rasa akan aman bagi diriku jika aku telah berada di Kota. Aku bisa melindungi diriku ibu." Yerim mulai membantah untuk membela diri.


Christine mulai menatap puterinya dengan tajam.


"Sepertinya kau sangat penasaran dengan tempat itu? Apa kau benar-benar ingin pergi kesana?". Tanya christine ingin memastikan.


Yerim menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ia takut nanti ibunya kembali menyangkal perkataannya. Seperti Lima hari yang lalu, saat ibunya menjelaskan tentang kehidupan Kota kepada dirinya.


"Iya ibu. Aku sangat ingin ke sana. Ku mohon izinkan aku ibu." Pinta yerim.


Christine menatap puterinya sendu. Sebenarnya ia berat melepaskan puterinya. Berat baginya jika jauh dari sang puteri. Ia takut nanti puterinya betah berada di sana. Sehingga tidak ingin kembali lagi ke tempat mereka saat ini.


Christine menghela nafasnya panjang.


"Kau tahu nak, Kota itu sangat jauh. Kau harus menempuhnya dengan berjalan kaki. Dan kau nanti akan melewati hutan belantara yang mengelilingi desa kita ini. Ibu khawatir kau tidak akan sanggup." Christine seperti masih melarang puterinya. Masih mencoba menahan keinginan puterinya.


"Aku siap ibu." Kata yerim meyakinkan ibunya.


"Baiklah. Ibu izinkan. Tapi jika kau sudah, berhasil, cepatlah pulang ke desa kita ini. Jangan terlalu lama disana. Itu tidak baik bagi dirimu." Ujar christine.


Yerim tersenyum senang. Terlihat senyum lepas yang ia tunjukkan dari wajah cantiknya.


"Iya ibu. Baiklah. Ibu, terimakasih banyak sudah mengizinkan ku untuk ke sana." Ucap yerim.


"Hmmm. Tapi ingatlah satu hal. Jika kau terlalu lama di sana, ibu akan segera menjemputmu untuk kembali ke desa kita ini. Ibu tidak mau sendirian disini nak." Kata christine mengingatkan puterinya kembali.


Yerim menganggukkan kepalanya dengan cepat, takut nanti ibunya berubah pikiran lagi.


"Iya bu." Jawab yerim.

__ADS_1


__ADS_2