CENAYANG

CENAYANG
Masakkan Ibu Dan Pergi Ke Sungai.


__ADS_3

Christine tengah berada di dapur rumahnya. Dapur di rumah christine memang tidak menyatu dengan rumahnya. Posisi dapur christine terletak tepat di belakang rumahnya. Satu ruang dapur tunggal yang dindingnya juga terbuat dari kayu. Berlantaikan tanah. Sementara untuk memasak christine memiliki tungku. Tungku yang di buat sendiri. Untuk kebutuhannya memasak dengan menggunakan kayu bakar.


Terlihat, christine tengah memasak didapur. Sudah terbiasa dengan keadaannya saat ini, christine terlihat lihai memasak dengan menggunakan kayu bakar. Padahal sewaktu ia masih tinggal di kota, ia memasak selalu menggunakan kompor listrik. Tidak pernah memakai kayu bakar atau kompor dengan menggunakan gas sebagai pemantiknya.


Christine begitu sangat menyayangi yerim. Padahal yerim bukanlah darah dagingnya. Melainkan seorang bayi yang ia temukan dahulu. Satu tahun setelah christine menetap di desa hutan belantara ini.


Sebenarnya christine memiliki seorang putra. Tapi saat ia menangkap basah suaminya yang sedang selingkuh dengan bawahan christine, ia kalut. Ia bercerai dengan suaminya. Lalu meninggalkan keluarganya. Meninggalkan putera semata wayangnya. Tanpa berfikir panjang.


Terlintas ingatan christine kala itu, ketika ia berlalu dari hadapan keluarganya, puteranya menangis histeris. Berteriak memanggil christine, agar tidak pergi dari rumah mereka. Tapi christine mengacuhkan puteranya. Karena fikirannya kala itu di penuhi oleh beban yang sangat berat. Hati yang sangat terluka. Yang di torehkan oleh cinta pertama dan cinta terakhirnya.


Ada perasaan sedih yang melingkar di dalam hatinya. Ingin rasanya christine kembali dan menggapai putera semata wayangnya. Mengatakan kata maaf kepada puteranya. Mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada puteranya. Tapi semua itu tidak mungkin terjadi. Suatu hal yang christine tidak mungkin bisa menggapainya dan tidak akan pernah bisa.


Christine kini sudah berada di dalam rumahnya. Ia telah meletakkan hasil masakkannya untuk puteri tercinta, yerim.


Rumah ini memang tidak memiliki furniture. Christine selalu meletakkan piring yang berisi makanan di lantai yang juga terbuat dari papan kayu.


"Yerim. Ini makanannya sudah selesai. Makanlah nak." Panggil christine kepada yerim.


Agak lama yerim baru keluar dari kamarnya. Ia baru saja selesai mandi di sungai tadi. Sambil mencuci baju miliknya di sungai. Yang kini sudah ia jemur di halaman belakang rumahnya.


"Baiklah bu." Jawab yerim.

__ADS_1


Yerim kemudian mencari sosok ibunya. Ia mencoba untuk mencari ibunya ke dapur, tapi juga tidak ada.


Yerim mengerenyitkan dahinya. Dulu sedari ia kecil, setiap yerim akan makan, ibunya tidak pernah ikut menemani yerim untuk makan. Tidak pernah ia tahu kapan ibunya itu akan makan. Tapi semakin lama yerim tidak terlalu memperdulikannya dan juga tidak pernah bertanya kepada ibunya. Dalam fikiran yerim, mungkin saja ibu nya sedang sibuk melakukan kegiatan lain. Karena ibunya selalu pergi untuk mencari kayu. Padahal itu malam hari. Setiap malam ibunya selalu pergi ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar. Itu yang selalu yerim tahu. Sehingga setiap malam sedari ia kecil, yerim selalu tidur sendirian di rumahnya.


'Ah, mungkin ibu sudah keluar untuk mencari kayu. Tapi kenapa cepat sekali ya?.' Gumam yerim.


Tanpa berfikir panjang, yerim kemudian duduk bersila di lantai rumahnya. Mengambil sebuah piring yang terbuat dari seng. Piring yang bermodel seperti zaman dahulu kala. Yerim menuangkan nasi ke piringnya. Lalu mengambil sayur dan sepotong ikan sungai goreng yang ia tangkap tadi sewaktu ia mandi di sungai. Yerim mulai menikmati makanan yang telah di masakkan oleh christine untuk dirinya.


Malam semakin larut. Kantuk sudah mulai melanda diri yerim. Dimana kedua kelopak matanya sudah mulai terkatup. Kesadaran yerim mulai menghilang. Hingga ia tertidur lelap ke dunia mimpinya.


________________________________________________________________


Ya, yerim berlari mengejar sosok ibunya. Sosok chtistine. Dimana christine sedang ditarik oleh beberapa orang. Dengan memakai jubah - jubah putih. Yerim berteriak kencang memanggil ibunya. Terus menerus berteriak memanggil christine.


"Ibu!... Ibu!... Ku mohon jangan tinggalkan aku. Ibu tunggu... Ibu!!!." Teriak yerim kencang.


Tapi tetap saja yerim tidak bisa menggapai ibunya. Dimana orang - orang yang memakai jubah putih itu mulai menghilang dengan membawa christine. Hilang dari pandangan indera penglihatan yerim.


"Ibu!!!..." Teriak yerim lagi.


Yerim kemudian membuka matanya. Tersadar dari mimpi buruknya. Nafasnya terlihat tersengal - sengal. Sementara peluh telah menghiasi keningnya. Keringat yerim mulai bercucuran.

__ADS_1


Yerim melihat ke arah jendela kamarnya. Tampak sedikit sinar mentari memasuki kamarnya. Terselip diantara lubang - lubang yang ada dijendela kamarnya.


Memang rumah christine sudah tampak terlihat rapuh. Terlihat tua. Seperti tidak ada orang yang tinggal di dalamnya. Seperti rumah kosong. Tapi tetap kelihatan bersih kala mata memandang rumah itu. Karena yerim setiap hari rajin membersihkan rumah christine.


Yerim memang tidak selalu menganyam rotan. Ada kegiatan lain yang juga ia kerjakan. Seperti menumbuk padi yang telah ia panen untuk menjadi beras. Tapi sebelumnya ia akan menjemur bakal beras itu dahulu. Lalu nanti akan dimasak oleh ibunya. Untuk ia nikmati dengan berbagai lauk yang sudah di masakkan oleh ibunya.


Sebenarnya yerim bukan tidak bisa memasak sendiri. Ia sangat pandai memasak. Tapi christine selalu melarang yerim. Ia takut yerim akan terluka. Terkena percikkan dari kayu bakar yang tengah menyala. Atau kena percikkan dari minyak makan yang tengah panas - panasnya di dalam kuali. Makanya christine lah yang selalu memasakkan untuk yerim. Karena kasih sayangnya yang besar untuk yerim.


Yerim mengusap wajahnya. Menyeka keningnya yang penuh dengan buliran keringat. Terasa panas memang cuaca pagi ini. Karena sinar mentari yang mulai begitu terik menyinari bumi ini. Memang saat ini tidak terlalu pagi. Terlihat dari jarum jam yang telah menunjukkan pukul 09.05 a.m. Dimana pagi akan berganti menjadi siang.


Yerim kemudian bangun dari duduknya di atas tikar yang biasa ia pakai untuk tidur setiap hari. Ia berjalan menuju jendela kamarnya. Perlahan kedua tangannya mulai membuka jendela kamarnya. Agar pertukaran udara di dalam kamarnya bisa bertukar. Dan sinar mentari bisa singgah dan bertamu ke dalam kamarnya.


Yerim kemudian mengambil handuknya. Lalu mengambil kain sarung untuk di bawanya ke sungai. Rasa gerah sudah mulai melekat di tubuhnya. Sehingga ia merasa ingin menyegarkan tubuhnya. Ingin pergi ke sungai yang biasa ia datangi setiap hari untuk mandi.


Yerim kemudian berlalu dari kamarnya. Sejenak ia mencari keberadaan christine, ibunya. Tapi nihil. Di dalam rumah, dapur dan halaman belakang yang sudah yerim datangi, tetap saja ia tidak menemukan keberadaan ibunya.


'Mungkin ibu sedang di kebun.' Gumam yerim.


Yerim melangkahkan kakinya. Keluar dari dalam rumahnya. Memijakkan kedua kakinya di pelataran halaman depan rumahnya. Terlihat, suasana di depan rumahnya yang selalu sepi. Hanya ada angin yang berhembus pelan serta suara kicauan burung yang selalu menemani pendengaran yerim.


Yerim mulai berjalan, menyusuri jalan setapak di depan rumahnya untuk menuju ke arah sungai. Dimana ia akan menyegarkan tubuhnya dari peluh yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2