
Malam telah menjelang. Saat ini tepat sekitar pukul 08.35 PM. Di sebuah pos ronda terlihat sosok bu mia dan yerim yang tengah duduk di atas dipan.
Sudah sejak bu mia dan yerim meninggalkan rumah secara tiba-tiba, mereka berdua berada di pos ronda itu. Dimana pos ronda itu tidak jauh dari rumah paman jodi. Dan sudah sekitar dua jam lewat lima menit bu mia dan yerim berada di pos ronda yang di temani oleh penjaga ronda yang bernama pak masran orochi.
"Maaf bu. Saya sudah menghubungi jodi, kalau ibu ada di pos ronda. Sebentar lagi jodi akan sampai ke sini." Ucap pak masran orochi memberitahu bu mia.
Bu mia menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih pak atas bantuannya." Kata bu mia tulus.
Pak masran orochi tersenyum simpul.
"Iya bu, sama-sama. Jangan sungkan. Sudah seharusnya kita saling membantu sebagai sesama manusia." Jawab pak masran orochi mengingatkan bu mia.
"Iya pak." Balas bu mia singkat.
Terlihat raut wajah penasaran yang terpancar dari muka pak masran orochi.
"Kalau boleh saya tahu, sebenarnya ada apa bu sampai ibu berlari terengah-engah seperti tadi?". Tanya pak masran orochi penasaran.
Bu mia tampak kikuk. Ada rasa malu dan bingung ketika hendak menyampaikan kejadian yang sebenarnya. Takut nanti jika cerita sebenarnya akan cepat tersebar ke masyarakat sekitar lingkungan rumahnya. Menyebar dan melesat cepat seperti api.
Namun tidak mungkin bu mia berbohong atau berdalih.
Tidak berapa lama, paman jodi tiba di pos ronda tempat istrinya, yerim dan pak masran orochi berada.
Dengan tergopoh-gopoh paman jodi berjalan mendekati istrinya dan yerim.
"Istriku... Istriku... Kau tidak apa-apa kan?". Tanya paman jodi sambil dengan nafas yang terdengar sengal.
"Bapak. Kan ibu belum cerita. Harusnya jangan tanya itu dulu." Protes istri paman jodi.
"Oh iya bu. Bapak lupa. Baiklah. Bapak ulang lagi." Ujar paman jodi. Sambil melangkahkan kaki kembali menjauh dari pos ronda. Kemudian ia kembali memutar dirinya. Lalu kembali berlari perlahan menuju arah istrinya dan yerim yang tengah duduk di dipan pos ronda.
Tingkah konyol paman jodi dan bu mia sontak membuat pak masran orochi tertawaka ngakak. Namun kedua pasangan suami istri ini tidak memperdulikan pak masran orochi yang tengah menertawakan mereka dengan keras. Sementara yerim terlihat hanya diam saja. Tidak ada reaksi apa pun ketika melihat kelakuan paman jodi dan bu mia. Yah, karena yerim memang tidak mengerti apa pun.
__ADS_1
"Bu... ibu..." Panggil paman jodi dengan nafas terengah-engah.
Bu mia menunjukkan ekspresi sedih ketika melihat suaminya.
"Bapak." Kata bu mia sendu.
Paman jodi mulai mengatur nafasnya. Membuatnya menjadi stabil kembali.
"Ibu, bapak tadi mencari ibu kemana-mana. Tapi bapak tidak menemukan ibu. Terus bapak mendengar bisikan halus kalau ibu sedang berada di pos ronda ini." Ungkap paman jodi mendramatisir keadaan.
Ungkapan yang di lontarkan paman jodi sontak membuat pak masran orochi terdiam. Padahal sedari tadi ia tengah tertawa ngakak melihat tingkah pasangan suami istri yang 'absurd' di hadapannya saat ini.
Mendengar dua kata 'bisikan halus' membuat pak masran orochi terdiam. Dan menekukkan raut wajahnya. Jelas saja dua kata itu pasti di tujukan untuk dirinya. Bukan untuk orang lain atau makhluk halus dalam arti sebenarnya. Karena yang memberikan kabar pada paman jodi kalau istrinya sedang berada di pos ronda adalah dirinya.
"Hey jodi! Hentikan tingkah konyolmu. Ini tidak lucu. Kau sangka aku jin ya? Masa di bilang makhluk halus. Ck... Ck... Ck..." Protes pak masran orochi pada paman jodi.
Paman jodi langsung menghentikan tingkah lucunya. Menatap pak masran orochi dengan raut wajah tidak enak. Di ikuti dengan bu mia yang tersenyum kaku.
"Aduh. Maksudku bukan begitu masran. Aku cuma khawatir dengan keadaan istriku. Tapi aku kelepasan. Akibat aku dulu ingin jadi artis besar, tapi gagal terus. He...He...He..." Jelas paman jodi sambil terkekeh geli.
"Atama ga Okashii (gila)". Rutuk pak masran orochii.
"Wah. Kau bilang apa?". Tanya paman jodi sedikit sengit.
"Nanchatte (bercanda) jodi-kun." Jawab pak masran orochi sambil tergelak.
Paman jodi mencibir melihat pak masran orochi yang sedang mengata-ngatai dirinya.
"Bu, ayo kita pulang. Ayo yerim." Ajak paman jodi cepat.
Bu mia dan yerim spontan menggelengkan kepala mereka bersamaan. Terlihat raut wajah ketakutan yang terlukis di wajah bu mia dan yerim kembali menghampiri.
Paman jodi mengkerutkan keningnya. Ada tanda tanya besar yang mulai bermunculan di dalam benaknya.
"Jod, sudahlah. Jangan paksa istrimu dulu. Lebih baik kau duduk dulu di dekat istrimu jod. Lalu kau tanyakan sebenarnya ada apa hingga membuat istrimu dan gadis muda itu sampai tidak mau pulang ke rumah." Saran pak masran orochi.
__ADS_1
"Ehem." Paman jodi berdehem.
Ia melangkahkan kakinya. Lalu menjatuhkan bokongnya secara cepat di atas dipan. Duduk di sebelah istrinya.
"Bu. Sebenarnya ada apa? Ceritakanlah padaku." Pinta paman jodi sambil mengusap-usap bahu istrinya.
Bu mia melirik ke arah pak masran orochi. Seperti bu mia ragu-ragu untuk menceritakan kepada suaminya di depan pak masran orochi.
Paman jodi mengikuti lirikan dari mata istrinya yang tertuju kepada pak masran orochi. Sepertinya paman jodi mengerti maksud dari lirikkan istrinya. Seperti rasa kekhawatiran tingkat tinggi.
"Tidak apa-apa bu. Masran tidak akan memiliki lidah seperti ember bocor. Tenang saja. Bapak jamin bu." Ucap paman jodi meyakinkan istrinya.
"Ish, kau ya jod! Lagi-lagi kau mengejekku ya?". Sahut pak masran orochi.
"Baiklah pak. Ibu akan cerita kepada bapak dan pak masran." Sela bu mia.
Bu mia menatap ke arah yerim. Yerim hanya menganggukkan kepalanya. Tanda menyetujui maksud dari bu mia kepada paman jodi.
"Tadi ibu baru pulang kerja pak. Kebetulan ibu pulangnya cepat. Pas di antara senja menuju malam hari." Bu mia membuka cerita.
"Lalu?". Tanya paman jodi mulai penasaran.
"Lalu pas di depan halaman rumah kita, ibu melihat yerim sedang melihat ke arah jalan menuju lapangan dekat rumah kita pak. Terus ibu bawa masuk ke dalam rumah." Lanjut cerita bu mia.
"Terus bu?". Tanya paman jodi lagi semakin penasaran.
"Terus ketika sudah di dalam rumah ibu lupa menutup pintu seperti yang selalu bapak bilang. Bapak tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Dan duduk di atas sofa rumah kita. Bapak juga marah-marah pada ibu." Terang bu mia yang terdengar sedikit kesal.
"Aku bu?". Tanya paman jodi bingung.
"Iya. Bapak. Lalu ibu ambilkan bapak teh hangat dan kue bolu pandan buatan ibu. Eh pas ibu tengah jalan ke ruang tamu sambil membawa nampan yang berisi teh hangat dan bolu pandan buat bapak, ibu terkejut. Ibu lempar saja nampannya. Lalu ibu tarik yerim, untuk berlari keluar dari dalam rumah kita." Jelas bu mia.
"Kenapa bu?". Tanya paman jodi polos.
"Ya iya lah ibu lari. Bapak berubah jadi iblis! hiiii.... Seram pak." Ucap bu mia sedikit bergidik.
__ADS_1
"Apa? Iblis?!!". Teriak paman jodi dan pak masran orochi bersamaan dengan mata yang melotot.