CENAYANG

CENAYANG
Tiba Di Kota


__ADS_3

Sang rembulan tampak kian memudar. Seperti sudah ingin kembali ke peraduannya. Menunggu sang surya menggantikan kehadirannya menemani butala yang indah ini. Dengan menghangatkan setiap jenis spesies yang ada memalui pancaran sinar hangat milik sang mentari.


Namun kehadiran sang rawi sepertinya masih sekitar dua jam lagi mungkin akan hadir. Karena waktu saat ini telah menunjukkan pukul 04.00 AM.


Mobil truk yang di kemudikan oleh paman jodi terlihat melaju dengan kecepatan penuh. Membelah jalanan yang mulai memasuki ibu Kota. Dengan segera paman jodi menurunkan kecepatan mobil truknya. Membuat putaran rodanya menjadi mulai stabil.


Seharusnya mereka tiba bukan secepat ini. Seharusnya mereka baru sampai di daerah perkotaan ini sekitar sore hari. Namun karena tadi paman jodi mengemudikan kendaraan mobil truk miliknya dengan kecepatan penuh, membuat mereka tiba cepat dari waktu yang sudah di tentukan. Untung saja hal buruk tidak terjadi pada paman jodi dan yerim saat di jalanan tadi.


Paman jodi melirik yerim yang tampak sedang tertidur. Menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah lengkungan senyum yang tipis. Terlihat lukisan kepolosan yerim dari pancaran raut wajahnya. Tidak ada kebohongan yang terlihat disana, laksana bayi suci yang baru saja terlahir ke dunia yang fana ini.


Sebenarnya paman jodi ingin membangunkan yerim. Tapi melihat yerim yang tertidur pulas membuat ia enggan menyadarkan yerim dari dunia mimpinya.


Namun keraguan mulai menyelimutinya. Tidak mungkinkan gadis muda ini dibawa ke rumahnya? Apa yang akan di katakan oleh istrinya nanti? Ia takut istrinya akan mengamuk tak tentu arah jika ia tetap membawa yerim pulang ke rumah mereka. Tapi jika ia meninggalkan yerim seorang diri ditempat asing bagi yerim, bukankah itu terlihat kejam? Sampai hati sekali ia memperlakukan seorang gadis muda yang terlihat sangat polos di matanya.


Sesaat paman jodi menepis keraguannya. Membuat sebuah keputusan yang berat menurut pemikirannya. Biarlah ia tetap membawa yerim pulang ke rumah ia dan istrinya. Hadapi saja jika nanti sang istri murka kepada dirinya. Sangat kasihan jika meninggalkan yerim sendirian di pinggir jalan. Lagi pula yerim juga tidak mengenal Kota ini. Tidak pernah menginjakkan kakinya di Kota besar ini.


Padahal waktu menunjukkan masih pagi buta. Namun hiruk pikuk kehidupan di Kota itu sudah terlihat sangat sibuk. Dimana kendaraan yang tampak sudah berlalu lalang memenuhi jalanan Ibu Kota. Walaupun belum terlihat sangat macet ketika hari sudah menjadi terang.


Tiga puluh menit paman jodi membutuhkan waktu untuk sampai di pelataran halaman rumahnya. Mobil truk yang dikendarainya kini telah terparkir rapi di pekarangan rumahnya. Memang rumah paman jodi tidak di lingkari oleh pagar besi seperti rumah-rumah para tetangga di lingkungan paman jodi. Bukannya ia tidak mampu memasang pagar besi itu, namun untuk memudahkan jika mobil truknya masuk ke halaman rumahnya.


Paman jodi merasakan detak jantungnya yang berdetak mulai tidak teratur. Seperti roller coaster yang dipacu dengan kecepatan tinggi.


Ada sedikit rasa ketakutan untuk turun dari dalam mobil truk miliknya. Ketakutan jika menghadapi istrinya. Wajah paman jodi terlihat cemas. Namun sekarang ia membulatkan tekad untuk menghadapi istrinya.


Paman jodi perlahan membuka pintu mobil truk miliknya. Dengan cepat ia turun dari dalam kendaraan kebanggaannya. Menapakkan kedua kakinya ke tanah pekarangan rumahnya. Meninggalkan yerim untuk sementara waktu.


Dengan cepat ia melangkahkan kedua kakinya berjalan menuju pintu teras rumahnya.


Seketika seorang wanita membukakan pintu rumahnya. Seorang wanita yang sangat ia kasihi. Istri tercintanya.

__ADS_1


Istrinya menyambut kepulangan paman jodi dengan antusias. Senyum manis dari bibirnya tampak terukir di wajahnya yang manis.


Paman jodi mengulurkan tangan kanannya. Sang istri dengan cepat meraih tangan suaminya, mencium punggung tangan kanan paman jodi. Lalu mereka duduk di kursi ruang tamu.


"Kenapa bapak cepat sekali pulangnya? Bukannya seharusnya nanti sore baru sampai ke rumah?". Selidik istri paman jodi ingin tahu.


"Ehem..." Paman jodi berdehem.


"Bapak mau minum?". Tanya sang istri memahami kode dari suaminya.


"Boleh. Tapi kali ini bapak tidak ingin meminum kopi. Karena bapak ingin segera istirahat." Ujar paman jodi.


Istri paman jodi tersenyum tipis.


"Ibu buat kan secangkir teh hangat ya pak?". Tawar istrinya.


Istri paman jodi bergegas ke dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat. Tidak membutuhkan waktu lama, istri paman jodi sudah berada kembali di hadapan paman jodi dengan membawa secangkir teh hangat dan sepiring kue bolu cokelat untuk suaminya. Ia meletakkan hidangan itu di atas meja. Di hadapan suaminya.


"Silahkan di nikmati pak." Kata istri paman jodi dengan suara lembut.


"Terimakasih bu." Jawab paman jodi.


Paman jodi segera mengambil secangkir teh hangat di meja ruang tamu yang ada di depannya. Kemudian ia menyeruput air teh hangat itu sedikit demi sedikit. Lalu kembali meletakkan cangkir teh itu ke atas meja.


Ia menatap wajah istrinya dengan tatapan hangat. Seperti ingin memberitahukan perihal penting kepada sang istri. Dan berharap istrinya bisa menerima dan tidak murka kepada dirinya.


"Bu, ada yang ingin bapak katakan kepadamu." Ujar paman jodi sendu.


Ada getaran ketakutan dari nada suara yang keluar melalui pita suara paman jodi, kerongkongannya mendadak serasa kering. Namun ia tetap berusaha untuk mengendalikan dirinya di depan sang istri.

__ADS_1


"Apa yang ingin bapak sampaikan kepada ibu? Katakanlah." Ucap istri paman jodi.


"Tapi ibu jangan marah kepada bapak ya." Pinta paman jodi cemas.


"Memangnya ada apa pak?". Tanya istri paman jodi lagi mulai menuntut.


Paman jodi menghela nafas panjang. Mengatur ritme nafasnya dengan benar.


"Sebenarnya bapak tidak pulang sendirian ke rumah kita. Ada seseorang yang bapak bawa dari dalam hutan belantara." Paman jodi membuka cerita.


"Hah? Maksudnya apa pak?". Tanya istri paman jodi lagi sedikit bingung.


"Bapak menemukan seorang gadis muda di dalam hutan belantara. Saat bapak menuju jalan pulang kembali ke Kota dari kebun kita yang ada di dalam hutan belantara itu bu." Cerita paman jodi lagi.


"Gadis muda? Bagaimana mungkin ada seorang gadis muda di dalam hutan belantara pak?". Tanya istri paman jodi lagi tidak percaya.


"Bapak juga tidak tahu bu. Tidak mungkin bapak meninggalkannya di jalanan sendirian. Apalagi dia terlihat seperti orang yang dungu. Hampir membuat kepala bapak seperti ingin pecah. Susah bapak menjelaskan kepada ibu saat ini. Sebaiknya ibu lihat saja sendiri nanti." Lanjut cerita paman jodi.


"Lalu dimana gadis muda itu pak?" Tanya istri paman jodi lagi.


Terlihat istrinya tidak menunjukkan kemarahan pada dirinya. Malah terlihat penasaran dengan yang dialami oleh paman jodi.


"Masih ada di dalam mobil bu." Jawab paman jodi singkat.


Wajah istri paman jodi terlihat pias.


"Astaga pak. Kenapa bapak meninggalkan gadis muda itu sendirian di dalam mobil? Nanti gadis muda itu bisa mati karena tidak ada oksigen yang cukup di dalam mobilmu pak. Ayo cepat kita bawa dia ke dalam rumah." Ujar istri paman jodi.


Seketika paman jodi dan istrinya berjalan cepat keluar dari dalam rumah mereka menuju mobil truk milik paman jodi.

__ADS_1


__ADS_2