
Satu Hari Kemudian...
Di dalam hutan belantara yang mengelilingi desa, tampak sosok yerim sedang menyusuri jalanan hutan yang penuh dengan dedaunan yang telah gugur. Terlihat ada tumbuhan liar lainnya yang menjalar indah di sepanjang jalan yang tersentuh oleh kedua kaki yerim.
Sudah sejak pagi yerim pergi meninggalkan Desanya. Ia sudah bertekad untuk menginjakkan kakinya ke sebuah tempat yang bernama Kota.
Sebenarnya ada perasaan berat yang mengganjal di dalam hatinya. Seperti tidak rela pergi untuk meninggalkan ibunya sendirian di rumah mereka. Namun karena rasa penasaran yang begitu besar membuat yerim terpaksa tetap pergi untuk melampiaskan hasrat hatinya.
Mungkin terdengar sedikit egois. Namun ia sudah meminta izin kepada sang ibu. Dan ibunya mengizinkan yerim. Walau sebenarnya christine berat untuk melepaskan yerim. Tapi yerim sudah beranjak dewasa. Tidak mungkin christine selalu menahannya agar selalu tetap di rumah. Ia takut nanti kalau sang anak berfikir untuk kabur. Nekat meninggalkan dirinya dan rumah mereka.
Yerim masih ingat dengan jelas pesan sang ibu kepadanya sebelum berangkat. Bahwa yerim tidak boleh terlalu lama nanti di sana. Ibunya ingin yerim segera cepat pulang kembali ke desa mereka ketika urusan yerim sudah selesai di Kota nanti. Dan yerim harus selalu hati-hati. Tidak boleh terlalu mudah percaya dengan orang lain.
Christine membekalkan beberapa makanan yang di bungkus dengan daun pisang. Dan air yang di letakkan di dalam bambu. Serta beberapa lembar pakaian. Semuanya di bungkus dengan menggunakan kain yang sudah terlihat lusuh.
Sinar mentari yang begitu terik membuat yerim merasa begitu lelah. Hingga ia ingin menghentikan langkah kakinya. Ingin beristirahat sejenak untuk mengisi lambungnya dengan makanan yang sudah di bekalkan oleh ibunya. Rasa haus yang sampai membuat kerongkongannya begitu kering benar-benar membuat yerim menghentikan langkahnya. Ia bersandar pada sebuah pohon besar yang sudah tampak sangat tua tapi masih tetap kokoh menancap di atas permukaan bumi.
Yerim duduk di atas tanah. Dengan cekatan ia membuka penutup atas bambu tempat air minum yang memang di bawanya dari rumah sejak pagi tadi. Yerim menenggak air minum dari bambu itu. Kemudian ia membuka bekal yang dibungkus dengan daun pisang.
Nahas bagi yerim. Keberuntungan memang sedang tidak berpihak kepadanya. Mata yerim seketika terbelalak melihat isi bekal yang dibungkus dengan daun pisang untuknya. Tampak ia terperanjat dengan apa yang dilihatnya. Bukan makanan yang ada di dalam daun pisang itu. Tapi banyaknya jumlah belatung bercampur cacing tanah yang sedang bergerak-gerak di atas daun pisang yang telah terbuka.
Spontan yerim mencampakkan daun pisang yang berada di tangannya. Ia bergidik ngeri melihat banyaknya belatung dan cacing tanah yang ada di atas daun pisang tadi. Yang sebenarnya yerim tidak tahu itu adalah makhluk apa. Karena sejak kecil ia tidak pernah melihat dua makhluk itu. Yang ia tahu hanya ikan. Dan yerim tidak tahu kalau makhluk-makhluk itu adalah golongan hewan. Dia tidak tahu apa itu hewan.
Yerim terlihat bingung. Ia tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. Tidak pernah di dalam hidupnya yerim mengalami hal aneh seperti saat ini. Geli yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya membuat ia secara reflek berdiri mengambil kain yang membungkus pakaiannya dan bambu yang berisi air minum untuknya.
__ADS_1
Dengan cepat yerim berlari meninggalkan tempat ia duduk tadi. Rasa ketakutan yang mulai menghantui dirinya kini merajalela di dalam fikirannya. Yerim benar-benar terlihat sangat kalut saat ini. Kepanikan yang mendera otaknya membuat ia tidak bisa berfikir normal. Sampai-sampai sebuah truk yg sedang melaju di jalan nyaris menabrak tubuhnya. Membuat yerim berteriak histeris. Dan truk itu berhenti mendadak.
Seorang pria sekitar usia 40 tahunan segera turun dari dalam truk yang tengah di kendarainya tadi. Wajahnya masih terlihat pucat pasi karena terkejut oleh kejadian yang baru saja ia alami.
Indera penglihatannya menangkap sosok yerim yang tengah terduduk di depan mobil truknya.
Rasa heran menyelimuti otak pria ini. Bagaimana mungkin ada seorang gadis muda di dalam hutan belantara seperti ini? Dimana pemukiman warga sangat jauh dari hutan ini. Membutuhkan waktu dua jam untuk sampai ke pemukiman warga jika cuaca terlihat bagus. Dan membutuhkan waktu kurang lebih sekitar tiga jam jika hari hujan. Karena ada beberapa jalan yang agak sulit untuk di lewati dengan kaki ataupun kendaraan.
Ada rasa ragu dan sedikit rasa takut yang terbesit di dalam hati pria ini. Benarkah seorang gadis muda yang dilihatnya saat ini adalah seorang manusia? Atau gadis ini adalah makhluk halus seperti 'dedemit' atau sebangsanya?
Tapi tidak mungkin saat siang bolong seperti ini ada makhluk halus yang berkeliaran? Bukankah makhluk halus biasanya berkeliaran saat malam hari? Itu lah yang selalu terlintas di dalam benak pria itu. Sejenak ia menepis fikiran negatifnya. Tidak mungkin kan ia meninggalkan gadis ini di dalam hutan belantara sendirian? Ia merasa tidak tega membiarkan gadis muda ini di dalam hutan.
"Nak, apa kau tidak apa-apa?". Tanya pria itu kepada yerim.
"Nak, apa kau mendengar paman?". Tanya pria itu lagi.
Masih tidak ada jawaban dari yerim.
Pria itu menghela nafasnya. Kemudian ia hendak membantu yerim untuk berdiri. Tapi yerim dengan spontan menolak bantuan dari pria itu.
"Jangan takut nak. Paman bukan orang jahat.". Ucap pria itu.
Yerim bisa menangkap aura berwarna putih dari raga pria yang ada di hadapannya saat ini. Bukan aura gelap seperti para tamu cenayang yang ia lihat di rumahnya beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
Perasaannya sekarang mulai tenang dan yerim berusaha bangkit berdiri.
Kini ia tegak tepat di hadapan pria itu.
"Kau mau kemana nak?". Tanya pria itu lagi.
"Aku mau ke kota." Jawab yerim akhirnya.
Pria itu mengerenyitkan keningnya. Sedikit bingung mendengar kalimat yang keluar dari dalam mulut yerim.
"Kota?". Tanya pria itu sedikit terperanjat.
Yerim menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Lagi, pria itu menghela nafas panjang.
"Nak, jarak dari tempat ini untuk sampai ke Kota itu sangat jauh. Membutuhkan waktu seharian. Bahkan bisa lebih. Itu jika menggunakan kendaraan. Namun jika berjalan kaki mungkin berbulan - bulan baru akan sampai ke Kota. Itu pun tanpa jeda. Tidak ada waktu untuk istirahat." Terang pria itu.
Yerim tidak mengerti dengan ucapan pria itu. Ia hanya diam saja mendengarkan celoteh dari pria yang berada di hadapannya sekarang.
"Kalau kau mau ke Kota, ikut saja dengan paman. Kebetulan paman juga mau pulang ke Kota." Tawar pria itu.
Yerim masih menatap pria itu tanpa ekspresi. Tidak menggubris tawaran dari pria yang berada di hadapannya.
__ADS_1