
Sebuah mobil truk tampak masuk ke pelataran halaman rumah milik paman jodi. Mobil truk tersebut tepat berhenti di parkiran samping rumah paman jodi.
Paman jodi terlihat turun dari dalam mobil truk miliknya. Menutup pintu mobil truk dengan sedikit kencang. Lalu mengunci pintu mobil itu dengan rapat.
Terlihat pintu rumah paman jodi yang masih terbuka lebar. Membuat paman jodi memicingkan matanya. Merasa heran dengan pintu rumahnya yang masih terbuka lebar.
Paman jodi sebenarnya tidak suka jika pintu rumahnya masih terbuka lebar saat jam seperti ini. Dimana pergantian sore ke malam yang tepat pukul 6.30 PM.
Mitosnya kata orang-orang tua pada zaman dahulu kala, 'pamali'. Takut ada tamu yang tak di undang muncul tiba-tiba dan masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Bukan tamu dalam wujud manusia. Melainkan dalam wujud jin yang bentuk rupanya berbeda-beda.
Padahal paman jodi sudah selalu mewanti-wanti kepada istrinya jika saat pergantian sore ke malam tidak boleh keluyuran di luar rumah, dan harus menutup pintu rumah. Lihat saja rumah para tetangga paman jodi, tidak ada satu pun yang masih terbuka. Jangankan terbuka lebar, terbuka sedikit saja tidak ada. Yang terlihat malah tertutup sangat rapat.
Padahal mereka semua hidup di Kota besar, tapi tingkah laku dan adat mereka masih di jalankan seperti orang-orang yang tinggal di perkampungan atau desa. Atau bisa di katakan adat istiadat dari nenek moyang mereka zaman dahulu kala masih tetap di terapkan dalam kehidupan masing-masing tiap keluarga. Bahkan dalam lingkungan masyarakat.
Raut wajah paman jodi yang tadinya terlihat lelah kini bertukar menjadi raut wajah masam.
Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju teras rumahnya, memasuki pintu rumahnya.
"Permisi, selamat malam!". Sapa paman jodi ketus.
Paman jodi menutup pintu rumahnya dengan sedikit tekanan membanting pintu rumahnya. Membuat bu mia dan yerim terperanjat. Terkejut mendengar dentuman dari suara pintu yang tertutup.
Spontan pandangan mata bu mia dan yerim melihat sosok paman jodi yang sudah berada di hadapan mereka. Dengan raut muka yang ketat dan merengut.
"Bapak. Baru pulang pak? Kenapa membanting pintu rumah kita?". Tanya bu mia sedikit takut.
__ADS_1
Yerim tampak hanya diam saja menatap paman jodi.
"Bukankah sudah selalu ku katakan kepadamu bu, jika pergantian sore ke malam di jam seperti ini tutup pintunya rapat-rapat. Jangan terbuka lebar seperti itu. Pamali!" Teriak paman jodi lantang.
Suara paman jodi terdengar seperti suara gemuruh di langit yang kelam. Terdengar seperti petir yang menggelegar. Membuat bu mia menjadi ciut.
Namun tidak bagi yerim. Karena ia tidak pernah mendengar ibunya marah kepadanya. Tapi ia pernah mendengar ibunya sedikit murka dengan suara yang hampir mirim dengan paman jodi, marah kepada tamu-tamunya yang berprofesi sebagai cenayang. Kala yerim masih berada di Desa tempat ia dan ibunya tinggal.
"Aduh. Maafkan ibu pak. Ibu lupa pak. Tadi ibu sangat panik pak." Ucap bu mia melakukan pembelaan diri di depan suaminya.
Paman jodi kembali memicingkan kedua matanya. Menatap lekat ke wajah istrinya.
"Panik? Ibu panik kenapa?". Tanya paman jodi dengan volume suara yang sedikit menurun. Tidak dengan intonasi tinggi seperti tadi.
"Sebaiknya bapak duduk dulu. Lepas dulu sepatu bapak. Biar ibu ambilkan bapak minum ya." Bu mia memujuk suaminya dengan lembut.
"Hmm...". Ucap paman jodi dengan suara yang sedikit serak.
Bu mia kemudian berlalu dari hadapan paman jodi dan yerim. Bergegas ke dapur membuatkan teh untuk suaminya.
Paman jodi tidak mengindahkan perkataan istrinya. Ia langsung menghamburkan dirinya ke atas sofa. Duduk di atas sofa empuk. Menatap yerim dengan tatapan tajam dan menyeramkan.
Sebenarnya ada rasa janggal yang mengganjal di dalam hati bu mia. Setahu bu mia suaminya tidak pernah berteriak atau berkata kasar kepada dirinya. Walaupun bu mia membuat kesalahan sebesar apa pun. Selalu paman jodi mengerti dan memberitahukan segala hal dengan suara lembut dan perlakuan yang romantis.
Dan juga tadi bu mia sedikit aneh melihat wajah paman jodi. Yang terlihat berwarna ke abu-abuan dan sedikit menghitam. Terlihat sedikit menyeramkan. Padahal tidak pernah suaminya memiliki raut wajah seperti itu. Namun bu mia dengan cepat menepis asumsi negatif dari dalam kepalanya. Dalam benaknya yang terlahir dari buah pemikiran otaknya.
__ADS_1
Kini di ruang tamu rumah paman jodi terlihat hening. Tidak ada suara yang mengisi ruang di antara paman jodi dan yerim. Hanya tatapan tajam yang terlukis di kedua netra paman jodi. Saat melihat yerim saat ini. Seperti sedang menangkap warna aura yang terpancar dari tubuh yerim.
Namun yerim terlihat biasa saja. Tidak ada perasaan takut yang tergambar dari raut wajahnya yang imut nan jelita.
Yerim masih belum sadar jika di hadapannya kini sebenarnya bukanlah sosok dari paman jodi. Yang tiba-tiba saja telah berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan.
Dimana di atas kepala makhluk itu tiba-tiba muncul dua tanduk yang terlihat runcing. Dengan mata bulat besar yang sangat menyeramkan dan tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata. Belum lagi tanduk kecil yang keluar di antara hidung dan kening milik makhluk astral di depan yerim kini.
Tubuhnya yang seperti berotot dengan urat-urat yang jelas menonjol yang terlihat sedikit pucat tanpa aliran darah. Dan warna kulit yang ke abu-abuan, sedikit ungu dan kehitaman. Terlihat jelas di tubuh sosok makhluk tak kasat mata tersebut.
Gigi yang sedikit taring tampak keluar dari dalam mulutnya, dengan darah yang belepotan di sekitar mulut dan pipinya. Menetes sedikit demi sedikit yang mengalir melalui dagu makhluk tak kasat mata itu.
Perlahan bu mia berjalan ke arah ruang tamu. Mendekati yerim dan sosok makhluk tak kasat mata yang masih di kira oleh bu mia adalah suaminya. Paman jodi.
Sontak bu mia tiba-tiba berteriak kencang. Terkejut melihat sosok makhluk tak kasat mata yang sangat menyeramkan. Yang masih duduk di atas sofa miliknya. Bu mia menghempaskan tatakan yang berisi teh hangat dan sepiring kue bolu pandan buatannya. Menarik tangan yerim dengan cepat untuk segera berlari keluar dari dalam rumah miliknya.
"Aaaaaaaaa!!! Iblis!!!!". Teriak bu mia sangat kencang.
Yerim langsung melirik ke arah makhluk tak kasat mata yang ada di depannya. Dengan ekspresi wajah bingung. Dengan mulut yang terlihat mengnganga.
"Yerim ayo cepat lari!!!". Teriak bu mia lagi.
Bu mia segera berlari keluar sambil menarik pergelangan tangan yerim. Dan yerim yang hanya mengikuti perintah dari bu mia. Turut berlari keluar dari dalam rumah paman jodi.
Terdengar suara tawa yang sangat menyeramkan. Memekakkan gendang telinga yerim dan bu mia.
__ADS_1