CENAYANG

CENAYANG
Warung Nasi Di Desa Mikage


__ADS_3

Malam pekat kini sudah mulai menjelma. Ditemani oleh bulan purnama yang terang menyinari bumi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 PM. Terlihat dari detak jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri paman jodi.


Kini truk yang ia kendarai baru saja keluar dari dalam hutan belantara. Roda truk yang telah berputar dengan kecepatan sedang, telah menyentuh jalanan yang dilapisi oleh aspal tebal. Aspal yang memang khusus untuk jalur perjalanan luar kota.


Cukup membutuhkan waktu lima belas menit dari awal truk itu keluar dari dalam hutan untuk sampai di Desa pertama setelah keluar dari dalam hutan belantara.


Paman jodi menghentikan truk yang ia kendarai di pinggir jalan. Di samping sebuah warung makan yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu, beratapkan daun nipah, dan berlantaikan tanah.


"Wah, kotak yang bisa berjalan ini berhenti paman?". Tanya yerim polos.


Ekspresi dari raut wajah yerim terlihat seperti takjub. Takjub dengan kehebatan kotak berjalan yang bisa berhenti secara mendadak. Hal itu yang terlintas di dalam benak yerim.


Karena rasa lapar yang sudah menggerogoti perutnya, paman jodi tidak terlalu menghiraukan sikap yerim. Walau sebenarnya ia masih heran dengan kelakuan yerim. Seperti seseorang yang lebih udik dari pada orang yang udik. Baru kali ini paman jodi menemui spesies manusia aneh seperti ini. Dan manusia itu adalah yerim.


"Aku rasa kita sudah sangat lapar nak. Karena tadi perjalanan kita sangat jauh dari dalam hutan. Ayo turun nak." Titah paman jodi.


Yerim mengalihkan pandangannya. Ia melihat ke arah paman jodi.


"Turun?". Tanya yerim


"Astaga yerim. Tunggu biar paman contohkan." Ujar paman jodi.


Paman jodi membuka pintu mobil truk miliknya. Kemudian ia dengan cepat turun dari dalam truk itu. Ia menutup pintu truk. Lalu ia berjalan berputar menuju ke arah samping kiri mobil truk miliknya. Membuka pintu mobil di tempat posisi yerim sedang duduk.


"Sekarang turunlah. Mari paman bantu." Ucap paman jodi.


Paman jodi memegang pergelangan tangan yerim. Membantu yerim untuk segera turun dari dalam mobil.


Yerim menuruti perintah paman jodi. Tidak ada sedikitpun kata protes dari dirinya. Ia memijakkan kakinya ke tanah. Kemudian ia bergeser agar paman jodi bisa menutup pintu mobil truk itu.

__ADS_1


"Ayo ikuti paman masuk ke dalam sana." Ajak paman jodi sambil menunjuk ke arah warung nasi tepat di hadapan mereka.


Yerim mengerenyitkan keningnya. Ia tampak terlihat bingung.


"Kesana?. Kenapa kita harus masuk ke dalam sana paman? Bagaimana nanti kalau yang punya rumah akan marah kepada kita?" Tanya yerim bingung.


Yerim tampak gelisah. Sepertinya ia tidak ingin mengikuti apa yang diucapkan oleh paman jodi.


"Ya ampun nak. Itu bukan rumah orang. Tapi itu warung nasi nak." Kata paman jodi menjelaskan.


"Warung?". Tanya yerim semakin bingung.


Paman jodi menepuk pundak yerim pelan.


"Sudahlah yerim. Nanti akan aku jelaskan. Yang penting kita masuk saja dulu. Aku sudah sangat lapar." Ujar paman jodi.


Paman jodi memilih untuk tidak menjawab pertanyaan yerim. Ia dengan cepat menarik pergelangan tangan yerim. Membawa yerim masuk ke dalam warung nasi tersebut.


Namun yerim banyak tidak mengenali menu-menu yang ada di dalam etalase tersebut. Karena memang ia tidak pernah melihatnya. Ibunya tidak pernah mengenalkannya atau memberikannya menu-menu makanan seperti yang ada di dalam etalase itu. Yang ia tahu hanya menu ikan bakar atau ikan panggang. Dengan sayur yang hanya seperti pucuk ubi rebus. Atau sayur cangkok manis yang biasa di masak bening oleh ibunya. Tentu saja masakan yang khusus untuk dirinya.


Yerim terlihat seperti melongo.


Paman jodi mendorong pelan tubuh yerim. Menuntun yerim untuk duduk di atas kursi kayu panjang.


"Duduklah nak." Titah paman jodi lembut.


Yerim menjatuhkan bokongnya ke atas kursi kayu panjang. Mengatur posisi duduknya dengan benar. Agar terasa nyaman bagi tubuhnya.


Paman jodi memesan sepiring nasi putih dengan lauk paha ayam goreng dan sayur lodeh serta sedikit sambal untuknya. Tidak lupa ia memesan segelas teh manis hangat serta dua potong tempe goreng.


"Kau mau makan apa nak? Pesanlah." Tawar paman jodi.

__ADS_1


Suara paman jodi menyadarkan yerim dari lamunannya. Yang masih terlihat sangat bingung dengan suasana yang ada di dalam warung tersebut.


"Aku?". Tanya yerim bingung.


"Tentu saja itu kau yerim. Memangnya paman bertanya dengan siapa selain pada dirimu." Ujar paman jodi sedikit kesal.


"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah melihat semua yang ada di dalam kotak aneh itu." Ujar yerim polos.


Paman jodi menghela nafasnya panjang. Ia terlihat sedikit frustasi saat menghadapi tingkah konyol yerim menurutnya. Padahal yerim kenyataannya memang seperti itu. Yerim memang benar-benar tidak tahu akan semua ini. Jelas saja. Yerim memang tidak pernah tinggal di Desa seperti Desa pertama yang sedang mereka singgahi sekarang. Desa yang bernama Desa Mikage. Memang sangat berbeda jauh dengan Desa tempat tinggal yerim. Jauh sangat berbeda. Makanya yerim menjadi sangat bingung dengan melihat suasananya.


"Jadi apa yang biasa kau makan nak?". Tanya paman jodi seperti terlihat pasrah.


Yerim menunjuk ke arah etalase yang ada di hadapannya. Ia menunjuk ke salah satu makanan yang sangat ia kenal. Sangat ia sukai. Dan sehari-hari yang biasa ia nikmati. Yang selalu disajikan oleh ibunya untuknya.


"Ikan?". Tanya paman jodi heran.


Yerim menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Bu, tolong berikan satu porsi lagi. Nasi putih dengan ikan goreng. Lalu berikan sayur yang sama dengan punyaku dan sedikit sambal. Jangan lupa teh manisnya yang hangat tambah satu gelas lagi." Pinta paman jodi kepada pemilik warung nasi.


Ibu pemilik warung nasi tersenyum melihat paman jodi.


"Baiklah pak." Jawab ibu pemilik warung nasi dengan ramah.


Tidak berselang lama, pesanan paman jodi untuk dirinya dan yerim sudah tersaji di hadapan mereka. Dimana paman jodi sudah tidak sabar untuk segera mengeksekusi makanan kesukaannya. Yang benar-benar menggugah selera.


Belum sempat ia menyuapi makanan miliknya ke dalam mulutnya, suara yerim telah menyadarkan dirinya.


"Ini ikan? Kenapa bisa seperti ini paman?". Tanya yerim polos.


Paman jodi menepuk keningnya sedikit kencang. Ia benar-benar merasa depresi menghadapi tingkah yerim yang terlihat konyol.

__ADS_1


"Yerim. Itu ikan goreng. Nanti akan paman jelaskan kepadamu. Sebaiknya kau nikmati saja makanan itu." Ucap paman jodi semakin kesal.


__ADS_2