
Yerim spontan memutar tubuhnya ke arah belakang. Netranya menangkap sosok ibunya yang berada tepat di hadapannya kini.
"Ibu?! Apa ibu baru pulang?". Tanya yerim.
Christine tidak menjawab pertanyaan puterinya. Ia tersenyum sinis sambil menatap wajah puterinya.
"Apa yang kau lakukan puteriku?!". Tanya christine tegas.
Christine hanya berbasa-basi kepada puterinya. Padahal sejak awal puterinya melakukan tindakan konyol tadi, ia sudah ada di tempat itu. Melihat tindakan konyol yang di lakukan oleh puterinya. Bahkan christine tidak ada niat untuk menghentikan perbuatan puterinya. Tidak ada pergerakkan dari tubuhnya untuk menghalangi kelakuan puterinya itu. Ia malah menikmati suguhan tontonan gratis dari kelakuan yerim. Cukup menghiburnya. Dan membuat ia merasa bangga. Karena apa yang ia ajarkan kepada puterinya hasilnya sangat memuaskan di matanya. Tidak sia-sia ia membimbing puterinya untuk mengasah supranatural sang anak.
Yerim terlihat sedikit gugup. Tatapan dari ibunya terlihat tajam yang tertangkap dari netra yerim. Seperti akan memakan dirinya hidup-hidup. Dan itu sangat menakutkan bagi yerim. Ia tidak ingin ibunya menjadi murka kepadanya.
"Kau tidak mau menjawab ibu?". Tanya christine lagi.
Christine menurunkan intonasi suaranya yang sempat menjadi tinggi tadi. Ia sadar kalau puterinya takut kepadanya. Terlihat dari gerak gerik tubuh yerim.
"Itu ibu... Aku... aku...". Ucap yerim gugup.
Christine masih menatap lekat wajah puterinya.
"Aku sedang mencoba kekuatan ilmu supranaturalku Bu." Jawab yerim lemas.
Yerim akhirnya mengatakan kebenarannya. Bahwa dia telah mencoba ilmu supranaturalnya tadi. Yerim berharap ibunya tidak marah padanya. Karena ia merasa bersalah telah melakukan hal itu.
Sebenarnya saat yerim berhasil menguji supranaturalnya, ia sedikit merasa terkejut karena melihat hasilnya. Lihat saja, kedua pohon itu tidak terlihat segar lagi dan tidak berdiri kokoh seperti awal sebelum yerim menghancurkannya. Lantas apakah ibunya benar akan murka kepada dirinya karena kelakuan konyolnya? Entahlah. Yang jelas yerim merasa sudah pasrah. Jika memang ibunya marah artinya ini pertama kalinya bagi yerim. Karena sejak ia kecil sampai detik ini, ibunya tidak pernah marah kepada dirinya.
Christine mengalihkan pandangannya. Tatapan yang awalnya menuntut jawaban tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan. Terlihat dari ekspresi raut wajahnya. Kemudian christine tertawa sangat mengerikan. Seperti bangga dan puas mendengar jawaban dari puterinya.
"Kau memang puteriku. Akhirnya kau berhasil menguasai dirimu dan sudah bisa mengendalikan ilmu supranaturalmu. Bagus!". Ujar christine bangga.
Yerim termenung setelah mendengar kalimat dari ibunya. Otaknya mulai berfikir, sehingga menuntun benaknya untuk memerintahkan hatinya agar melahirkan pertanyaan kepada ibunya. Yang harus di keluarkan dengan ucapan melalui mulutnya. Namun pita suara yerim seperti terasa telah putus. Sehingga kerongkongannya terasa tercekat untuk mengeluarkan suara. Hingga akhirnya yerim mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada ibunya tentang kenapa ibunya malah tidak marah kepada dirinya.
Biarkan saja seperti ini. Toh ibunya juga terlihat senang dengan apa yang di lakukan yerim. Dan yerim tidak ingin merusak kebahagiaan ibunya. Jadi yerim tetap diam dan sama sekali tidak mengeluarkan suara.
"Ibu hendak menceritakan sesuatu kepadamu." Tawar christine.
__ADS_1
Yerim mendekatkan wajahnya ke wajah ibunya. Kira-kira jarak wajahnya dan ibunya sekitar 30 Cm.
Yerim memasang ekspresi wajah serius.
"Cerita? Cerita apa ibu?". Tanya yerim mulai penasaran.
Christine tersenyum.
"Apa kau benar - benar ingin tahu? Ingin mendengar cerita ibu?". Tanya christine.
Yerim menganggukkan kepalanya dengan cepat. Tanda ia setuju oleh tawaran ibunya.
"Iya ibu. Aku mau." Jawab yerim lantang.
Yerim mulai bersemangat. Ketika christine mengajak dirinya untuk bercerita.
Rasa penasaran kembali menyelimuti yerim. Tampak ia sudah tidak sabar agar bisa cepat mendengar cerita dari ibunya.
"Baiklah. Kalau begitu ayo ikut ibu. Kita masuk ke dalam rumah." Ajak christine.
Yerim bergegas meninggalkan lokasi tempat tadi ia berdiri. Dimana ia telah menghancurkan dua makhluk hidup di depan pekarangan halaman rumahnya.
Dan lagi - lagi ia terkejut. Ibunya kembali seperti kemarin. Dimana christine tiba-tiba saja sudah berada di dalam ruang tamu di dalam rumahnya.
Yerim terperanjat. Masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Walau ini sudah yang kedua kalinya. Bagaimana mungkin ibunya tiba-tiba saja sudah berada di dalam rumah mereka? Sementara yang yerim tahu barusan, ibunya masih tengah berjalan di belakang tubuhnya. Tapi mengapa kini tiba-tiba saja sudah berada di dalam rumah mereka? Entahlah.
"Apa kau tetap hanya mau berdiam diri di depan pintu nak?". Tanya christine kepada puterinya.
Suara christine sontak menyadarkan yerim dari lamunannya.
"Tidak ibu. Baiklah, aku akan masuk ibu." Jawab yerim.
Sebenarnya christine tahu kalau yerim terkejut saat tiba-tiba melihat dirinya sudah berada di dalam rumah mereka. Namun christine tidak memperdulikan hal itu.
Yerim kini sudah masuk ke dalam rumah mereka.
__ADS_1
Seperti biasa, yerim duduk di lantai tepat di depan pintu rumahnya yang terbuka. Ia memang sangat menyukai duduk di depan pintu rumahnya. Karena ia bisa merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang menyentuh kulitnya. Terasa dingin. Apa lagi saat cuaca panas seperti ini. Membuat yerim merasa kepanasan dan gerah.
"Aku sudah siap ibu." Yerim membuka perbincangan mereka.
Yerim sudah terlihat tidak sabar untuk mendengar cerita dari ibunya.
Christine tersenyum tipis.
"Puteriku. Apa kau masih ingat dengan para tamu ibu kemarin?". Tanya christine mencoba mengingatkan puterinya.
"Para cenayang itu ibu?". Tanya yerim memperjelas maksud ibunya.
"Hm..." Kata christine
"Iya ibu. Aku ingat dengan mereka. Memangnya ada apa dengan mereka ibu?". Tanya yerim lagi.
"Tidak ada apa-apa dengan mereka." Jawab christine datar.
"Lantas kenapa ibu bertanya soal ingatanku akan mereka?". Tanya yerim penasaran.
Lagi-lagi christine tersenyum sinis.
"Ternyata kau penasaran juga puteriku. Apa kau tidak ingin tahu asal mereka dari mana?". Christine memancing yerim.
"Memangnya mereka dari mana ibu?". Tanya yerim yang termakan pancingan christine.
"Mereka datang dari tempat yang jauh. Jauuuuhhhh sekali. Jauh dari desa kita." Jawab christine.
"Jauh?". Tanya yerim semakin ingin tahu.
"Ya. Sangat jauh. Mereka datang dari Kota. Tempat biasa ibu mengirim hasil rajutanmu untuk ibu tukarkan dengan bahan makanan yang kau butuhkan nak." Terang christine.
"Kota?". Yerim mengerenyitkan keningnya.
Memang pernah sekali ia mendengar soal kota. Saat dulu ibunya berkata padanya akan membawa hasil karya seni dari tangan yerim. Tapi saat itu yerim tidak terlalu perduli dengan perkataan ibunya. Baginya ia cukup bersama dengan ibunya. Itu membuatnya bahagia. Sehingga ia tidak membutuhkan apa-apa Dan tidak mau tahu tentang apa pun.
__ADS_1
Namun kini rasa ingin tahunya menjadi sangat besar.
"Iya puteriku. Kota." Jelas christine lagi.