
Hari esok telah menjelang. Melingkari cakralawa di pagi yang cerah ini. Seperti biasa, tidak pernah ada air mata dari langit yang jatuh ke permukaan. Ke tanah tempat desa yang yerim bermukim sejak ia dari kecil. Tapi entah mengapa tetap saja air sungai terus mengalir dan tidak pernah kering. Sungai tempat biasa yerim datangi. Untuk membasuh tubuhnya dan mencuci perlengkapan pakaian yerim. Juga untuk membersihkan peralatan dapur yang biasa yerim pakai untuk menampung makanan yang akan masuk ke dalam lambungnya. Sungai tempat favorite yerim selain di dalam kamarnya. Bukan ia tidak menyukai di rumah ibunya, tapi karena christine tidak pernah mengizinkan yerim untuk berbaur dengan para warga desa dan tidak boleh memiliki teman selain ibunya, jadi sungai lah yang menghiburnya. Yang di jadikan yerim sebagai temannya. Menenangkan jiwa dan raganya. Membuat ia bahagia. Hanya dengan berendam di pinggir sungai atau duduk di atas batu pinggir sungai.
Sudah dua hari ini yerim bangun lebih awal. Tidak seperti hari - hari biasanya. Dan sudah dua hari ini ia selalu melihat ibunya berada di rumah. Padahal seperti hari - hari biasanya christine hampir tidak pernah berada di rumahnya jika hari terang. Yang yerim tahu ibunya selalu sibuk berada di kebun atau sawah mereka yang terletak di dalam hutan belantara. Dan ketika malam hari pun christine hanya sebentar berada di dalam rumah. Lalu pergi lagi untuk mencari kayu bakar, yang selalu ia katakan kepada yerim puteri kesayangan christine.
Setiap christine akan pergi untuk keluar dari rumahnya, ia selalu berpesan kepada yerim puterinya agar tetap di rumah. Kecuali jika yerim ingin pergi ke sungai, ibunya baru mengizinkan yerim. Tetapi tetap dengan syarat tidak boleh terlalu lama, dan segera pulang ke rumah sebelum hari menjadi gelap. Dan yerim selalu patuh akan perintah dari sang ibu.
Yerim tengah berdiri di ruang tamu rumahnya. Matanya menatap ke luar rumah. Menatap suasana halaman rumahnya. Terlihat ibunya sedang menuju untuk masuk ke dalam rumah.
Kini christine sudah berada di dalam rumah. Berdiri tepat di hadapan yerim.
"Ibu tidak ke kebun?". Tanya yerim.
Christine menatap puterinya. Lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak nak. Karena sebentar lagi ada tamu yang akan datang ke rumah kita. Mau menemui ibu." Jawab christine.
Yerim bersikap biasa saja. Seperti sudah mengerti maksud dari perkataan ibunya.
"Apa tamu yang kemarin?". Tanya yerim lagi.
Christine menggelengkan kepalanya kembali.
"Bukan. Ini tamu yang lain." Jawab christine singkat.
"Apa cenayang juga ibu?". Tanya yerim lagi semakin penasaran.
Christine tersenyum sinis, menatap tajam kepada puterinya.
Tertangkap oleh christine, aura yang sangat besar dari tubuh yerim. Rasa ingin tahu yang besar. Rasa penasaran. Rasa ingin memiliki kekuatan yang sama dengan para cenayang. Sudah menjadi sifat seorang manusia, yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki.
__ADS_1
Tapi christine tidak mempermasalahkan itu. Jika yerim yang memiliki rasa tidak pernah puas, dan memiliki keinginan yang besar, christine tidak akan marah. Dan tidak akan pernah marah. Karena baginya yerim adalah puteri kesayangannya. Ia akan menuruti apa saja yang di inginkan oleh puterinya. Asal puterinya datang kepadanya. Menyampaikan kepadanya. Serta meminta kepadanya. Christine akan melakukan apa pun yang di kehendaki oleh puterinya. Koma yerim kapitsa.
"Iya nak. Tamu ibu yang akan datang ke rumah kita nanti adalah cenayang juga. Kenapa? Apa kau takut puteriku?". Tanya christine.
Yerim menggelengkan kepalanya.
"Tidak ibu. Aku tidak takut." Jawab yerim singkat.
Christine tertawa keras. Tertawa menyeramkan. Namun tetap saja di mata yerim biasa saja.
"Bagus nak. Kau tidak perlu takut. Ada ibu di dekatmu." Ucap christine.
Yerim mengganggukkan kepalanya.
"Iya bu." Kata yerim.
"Apa tidak apa - apa bu?". Tanya yerim ragu.
Kembali christine tersenyum sinis. Dengan tatapan yang tajam dan menyeramkan.
"Tidak ada yang berani mengatur ibu. Tamu ibu tidak akan pernah menentang apa yang ibu kehendaki. Kau tenang saja puteriku." Terang christine.
Sebenarnya bagi yerim setiap perkataan yang keluar dari mulut ibunya dua hari ini terkesan aneh. Biasanya ibunya tidak bersikap seperti ini. Dimata yerim biasanya ibunya selalu terlihat hangat dan lembut. Tapi entah kenapa sejak kedatangan para tamu yang kemarin sikap ibunya berubah drastis. Seperti bukan ibu yang di kenal yerim selama ini. Lagi - lagi yerim menepis pemikiran negatifnya tentang sang ibu. Karena baginya, ibunya tetap adalah yang terbaik. Yang sangat yerim cintai dan sayangi.
Tidak berapa lama, terlihat tiga orang pria memasuki pelataran halaman rumah christine. Melangkahkan kaki mereka menuju pintu rumah christine.
Pandangan mata yerim secara reflek melihat ke arah halaman rumahnya.
"Masuklah anak muda!". Titah christine kepada tiga orang pria itu.
__ADS_1
Ketiga pria itu perlahan memasuki rumah christine.
"Duduklah!". Titah christine lagi.
Ketiga pria itu langsung patuh kepada christine. Mengikuti perintah dari christine.
Terdengar aneh di telinga yerim. Mengapa ibunya memanggil tamu - tamunya yang baru saja tiba dengan sebutan anak muda? Padahal di mata yerim, tamu ibunya yang datang kali ini tidak terlihat muda. Dan juga tidak terlihat terlalu tua. Kalau di perkirakan, sepertinya usia mereka 35 tahun ke atas untuk di dunia manusia. Tapi yerim tidak mengerti dengan yang namanya perbedaan usia pada orang - orang. Jelas saja ia tidak mengerti apa lagi memahami, ibunya saja tidak pernah mengizinkan yerim untuk berbaur dengan orang lain. Bagaimana mungkin ia bisa mengerti?
Dan lagi terlihat raut wajah dan ekspresi wajah ibunya tidak sehangat tadi. Tapi menjadi sedikit menyeramkan bagi yerim.
Ketiga orang pria itu langsung menjatuhkan bokong mereka ke atas lantai ruang tamu rumah christine. Kemudian duduk bersila. Salah satu tamu christine menopang dagunya dengan menggunakan tangan kanannya. Tidak sengaja matanya melirik ke arah yerim. Melihat yerim. Seperti terbesit pertanyaan di dalam benaknya. Siapa perempuan yang sedang duduk di samping christine?
"Hmmm..." Christine mengeluarkan suaranya.
"Ada apa gerangan kalian datang kemari anak muda?". Tanya christine.
Salah satu tamunya secara reflek memberikan salam sembah kepada christine. Membuat yerim terperanjat melihat tingkah tamu ibunya.
'Kenapa dia melakukan hal itu?'. Gumam yerim kepada dirinya sendiri.
Yerim berusaha bersikap setenang mungkin. Agar tidak membuat ibunya curiga dengan rasa penasarannya. Ia takut nanti ibunya menjadi murka. Walau ibunya tidak pernah murka kepadanya.
"Maafkan kami ratu. Kami ingin meminta sesuatu kepada ratu." Pinta pria yang secara reflek memberikan salam sembah kepada christine tadi.
'Ratu?'. Gumam yerim lagi.
Christine tersenyum sinis menatap ketiga tamunya.
"Apa yang kalian inginkan? Katakan!." Ucap christine.
__ADS_1