CENAYANG

CENAYANG
Melihat Sosok Wanita Lain Di Tepi Sungai


__ADS_3

Matahari terlihat bersinar sudah tidak terlalu terik. Pertanda sore telah menjelang di muka bumi. Artinya malam akan segera tiba tidak lama lagi.


Sudah cukup lama yerim berada di sungai. Dirinya juga sudah selesai membasuh tubuhnya. Pakaian miliknya dan piring - piring yang kotor pun sudah selesai ia cuci.


Yerim kemudian duduk di atas batu besar di pinggir sungai. Jerat untuk menangkap ikan miliknya di sungai tiba - tiba saja bergerak - gerak. Pertanda ia telah mendapatkan mangsa penghuni air sungai yang ia inginkan. Yerim bergegas mengambil hasil tangkapannya. Terdapat beberapa ikan kecil - kecil yang sudah ia pindahkan ke dalam wadah untuk menampung ikan - ikan yang akan menjadi santapan makan malamnya.


Tadi sebelum ia pergi ke sungai, yerim pergi ke kebun milik ibunya terlebih dahulu. Untuk memetik sayuran yang akan menjadi tambahan menu makan malam untuknya. Tentu saja ibunya yang akan memasakkan untuknya. Dimana ketika sudah berada di sungai saat pertama datang, yerim sudah membersihkan dan mencuci sayuran yang diambilnya dari kebun tadi.


Yerim lalu naik kembali ke pinggir sungai. Ia mulai mengangkat barang - barang yang dibawanya tadi ke sungai. Hendak segera pulang ke rumah ibunya. Namun, yerim seperti mendengar suara seorang wanita sedang bersenandung di dekat sungai.


Secara reflek, tubuh yerim berbalik menghadap ke arah sungai. Mata yerim mulai mencari asal suara seorang wanita yang ia dengar. Yang sedang bersenandung.


Sebenarnya seumur hidup yerim sejak ia dari kecil sampai detik ini, belum pernah ia mendengar orang yang bersenandung. Tentang apa itu senandung saja ia tidak mengetahui. Ia hanya tahu sungai, masak, menganyam, bersih - bersih dan beristirahat. Bersih - bersih dalam segala hal tentunya. Seperti membersihkan diri dengan membasuh seluruh tubuhnya. Mencuci piring - piring kotor atau alat - alat masak yang sudah dipakai oleh ibunya. Membersihkan rumah, halaman. Serta menjemur dan menumbuk padi agar menjadi beras dan bisa di masak menjadi nasi untuk ia nikmati saat waktu makan nanti.


Dan, indera penglihatan yerim menangkap sosok seorang wanita. Wanita yang terlihat sangat cantik di mata yerim. Dimana wanita itu sedang membasuh tubuhnya di pinggir seberang sungai. Tampak ia memakai gaun yang tidak pernah yerim lihat. Dengan selendang panjang yang menjuntai ke dalam sungai. Dan seperti ada mahkota yang melingkar di kepala wanita itu.


Yerim mengerenyitkan keningnya. Otaknya mulai berfikir dengan sendirinya. Hingga terlintas di dalam benaknya. Bahwa sepengetahuan yerim, tidak ada warga desa seperti wanita yang ia lihat sekarang. Tidak pernah yerim melihat wanita itu. Apa lagi dengan pakaian yang aneh di mata yerim.


Perasaan cemas mulai hadir di hati yerim. Dimana fikiran - fikiran yang negatif mulai berkeliaran di dalam benaknya. Apakah sosok wanita yang ia lihat itu adalah manusia? Atau sosok wanita itu adalah makhluk astral? Seperti jin.


Tanpa berfikir panjang lagi, yerim bergegas meninggalkan sungai. Dengan cepat kaki yerim melangkah menyusuri jalanan setapak menuju rumahnya. Dengan hutan belantara yang terlihat lebat di sekeliling yerim.

__ADS_1


Yerim tidak mau mengambil resiko jika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan. Yang bisa membuat dirinya terluka. Dan membuat sang ibu menjadi murka. Bukan murka kepada dirinya. Tetapi murka kepada seseorang yang telah membuat yerim terluka. Seandainya hal itu terjadi. Makanya yerim bergegas meninggalkan sungai. Dimana juga terlihat senja semakin pudar. Hendak berganti dengan pekatnya malam.


____________________________________________________________________


Yerim tiba di pelataran halaman rumahnya. Perlahan ia menghentikan langkah kakinya. Berdiri di tengah - tengah halaman rumahnya, menatap ke arah pintu rumahnya.


Tertangkap oleh indera penglihatannya, suasana di dalam rumahnya yang masih ramai. Tidak hening dan sepi seperti biasanya.


Padahal langit sudah semakin gelap. Pertanda awal malam hari yang sudah tiba. Bulan yang berbentuk sabit saja sudah mulai hadir untuk menemani malam. Tapi tanpa bintang - bintang yang bertaburan di langit. Hanya bulan dan sedikit awan kelam yang menemani langit malam.


Ragu - ragu yerim hendak melangkahkan kakinya ke dalam rumah ibunya. Ia takut hal tadi siang terjadi lagi kepadanya. Ketika dua orang pria yang tengah bertamu ke rumahnya memberikan komentar aneh kepadanya.


Tapi jika ia tidak segera masuk, tubuhnya bisa menjadi sakit. Karena kain basah masih melekat di tubuhnya. Yang tampak terlihat lembab.


Akhirnya ia membulatkan hatinya. Memutuskan untuk tetap melangkah dan masuk ke dalam rumahnya. Tapi, yerim tidak mau memasuki lewat pintu depan rumahnya. Sehingga ia memutar ke samping rumahnya. Berjalan menuju dapur rumahnya. Kebetulan di dalam dapur rumah milik ibunya masih ada bajunya yang tergantung. Yang telah kering setelah di jemurnya di terik matahari kemarin. Tapi belum sempat yerim ambil dan membawanya ke kamarnya.


Kini yerim sudah berada di ruang dapur milik ibunya. Tentu saja menjadi miliknya juga. Yerim dengan segera mengganti kain basah yang melekat di tubuhnya. Mengganti dengan pakaian bersih yang tergantung di dinding dapur miliknya.


Kemudian yerim pergi menuju halaman belakang rumahnya. Untuk menjemur kain basah yang melekat di tubuhnya. Serta pakaian yang telah di cucinya saat di sungai tadi.


Kembali yerim bergegas masuk ke dalam dapurnya. Sebenarnya ia ingin masak di dapurnya. Karena ibunya seperti masih menjamu tamu yang ada di ruang tamu rumahnya. Tapi ia takut jika nanti ibunya akan menegurnya. Karena ibunya tidak pernah mengizinkan yerim untuk memasak. Seperti kata ibunya, kalau christine takut puterinya kenapa - kenapa nanti.

__ADS_1


Akhirnya yerim memutuskan untuk tetap masuk ke dalam rumahnya. Tidak perduli jika para tamu ibunya masih ada di dalam rumahnya.


Yerim melangkahkan kakinya. Masuk ke dalam rumahnya melalui pintu belakang rumahnya. Yang terhubung antara pintu dapur dan pintu belakang ruang tamu rumahnya. Dimana ruang tamu dan ruang tengah menjadi satu.


Semua para tamu ibunya kembali memandang sosok yerim yang tiba - tiba saja sudah hadir di ruang tempat mereka berada. Termasuk christine juga menatap ke arah puterinya.


"Kau sudah pulang nak?". Tanya christine.


"Sudah ibu". Jawab yerim singkat.


"Masuklah ke kamarmu. Karena ibu akan memasakkan makan malam untukmu sebentar lagi". Titah christine kepada yerim.


Yerim dengan segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Menyibakkan tirai yang menjadi penutup pintu kamarnya. Masuk ke dalam kamarnya. Dan kembali merapatkan tirai kamarnya.


Kembali, indera penglihatan tiap tamu christine menatap lekat ke arah yerim. Hingga yerim menghilang dari pandangan mereka.


Masih mengganjal di hati mereka, rasa penasaran yang besar tentang yerim. Namun, masih belum berani mereka bertanya kepada christine.


Lagi, raut wajah christine kembali terlihat seram. Seperti ia tidak suka kalau para tamunya melihat puterinya. Seperti tadi siang dan saat ini, yang tertangkap oleh netra christine.


"Hey kalian! Sudah aku katakan jangan melihat puteriku!". Teriak christine.

__ADS_1


__ADS_2