CENAYANG

CENAYANG
Sosok Wanita Dengan Lidah Yang Terjulur Panjang


__ADS_3

Satu Hari Kemudian...


Tidak terasa satu hari telah berlalu. Sudah dua hari yerim tinggal di Kota. Menetap di rumah paman jodi.


Yerim belum ada keluar dari dalam rumah. Walau hanya sekedar untuk berjalan-jalan, mengitari lingkungan sekitar rumah paman jodi.


Terlintas bayangan percakapan antara paman jodi dan bu mia di dalam benak yerim. Saat yerim tidak sengaja mendengar suara pasangan suami istri itu di depan matanya. Ketika yerim mengintip paman jodi dan bu mia yang sedang duduk di sofa ruang tamu di dalam rumah milik paman jodi.


~Flashback ~


"Ibu tidak apa-apa pak, jika yerim tetap tinggal di rumah kita saja. Apa lagi kita tidak memiliki anak. Ibu ingin yerim menjadi puteri kita. Kasihan yerim pak." Ucap bu mia.


Paman jodi menopang dagunya dengan telapak tangan kanannya yang bertumpu di sandaran tangan sofa. Matanya berkedip-kedip dengan sedikit cepat. Seperti mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya. Yang telah memenuhi gendang telinganya.


"Lagi pula yerim terlihat sangat polos pak. Lihat saja pak, ia sama sekali tidak tahu tentang apa pun. Ibu khawatir jika yerim tidak tinggal dengan kita dan lepas dari pengawasan kita ia bisa celaka pak. Bapak kan pasti lebih paham bagaimana kehidupan di Kota ini pak. Sangat keras pak. Apa lagi buat gadis muda seperti yerim yang terlihat sangat polos." Terang bu mia membujuk sang suami.


Paman jodi menghela nafas panjang. Dalam fikirannya berputar-putar kalimat-kalimat yang berunsur negatif. Bagaimana nanti jika yerim benar-benar tinggal di rumahnya dengan ia dan istrinya? Rasa depresi pasti akan semakin membelit jiwanya dan otaknya.


Namun ia tidak pernah bisa menolak apa pun permintaan sang istri yang sangat ia sayangi. Melebihi sayang kepada dirinya sendiri. Ada benarnya juga perkataan dari istrinya. Kalau mereka tidak memiliki anak. Sehingga rumah mereka selalu sepi, tidak ada warna warni dan suara kisruh yang menghiasi rumah mereka, serta hari-hari mereka. Tapi sejak ada yerim di rumah mereka, suasana yang tadinya sepi tiba-tiba lenyap. Berganti menjadi ramai. Seperti ada sepuluh orang yang menghuni rumah paman jodi. Padahal baru satu hari yerim tinggal bersama paman jodi dan bu mia.


"Pak... Pak... Bapak dengar yang ibu bilang tidak?". Tanya bu mia membuyarkan lamunan paman jodi.


Paman jodi sedikit tersentak setelah istrinya mengusap-usap punggung telapak tangan kanannya. Menyadarkan dirinya dari lamunan tingkat tinggi yang sedang menguasai jiwa dan raganya. Matanya menatap wajah istrinya.

__ADS_1


"Iya bu, bapak dengar." Jawab pama jodi singkat.


Ibu mia menyelipkan telapak tangannya kebawah telapak tangan kanan suaminya. Menggenggam telapak tangan kanan suaminya dengan lembut.


"Jadi bagaimana pak?". Tanya bu mia seperti menuntut persetujuan dari suaminya.


Berharap suaminya mengabulkan permintaannya. Menjadikan yerim sebagai anak mereka berdua. Sebagai puteri paman jodi dan bu mia. Mata bu mia menatap paman jodi dengan tatapan sendu, agar suaminya luluh dengan rayuan perkataan bu mia.


"Hmmm... Terserah ibu saja. Yang penting ibu senang dan bahagia. Bapak sih oke-oke saja." Jawab paman jodi.


Akhirnya permintaan bu mia untuk menjadikan yerim sebagai puteri mereka di setujui oleh sang suami. Senyum bahagia terlukis jelas di wajah manisnya. Dengan cepat ia melepaskan genggaman tangannya. Memeluk tubuh suaminya dengan erat. Kemudian mengecup lembut pipi suaminya.


"Terimakasih ya pak. Ibu senang sekali mendengarnya." Ucap bu yerim sedikit mesra.


Melihat pemandangan yang tidak pernah yerim lihat sebelumnya, membuat mata yerim terbelalak. Ketika perlakuan mesra bu mia kepada suaminya. Tanpa bu mia dan paman jodi sadari, ada sepasang mata yang melihat kelakuan ia dan istrinya. Koma yerim kapitsa.


~Flashback Off~


Lamunan yerim buyar seketika. Saat ia mendengar seperti suara seorang wanita. Bukan terdengar seperti berbicara atau pun tertawa. Tapi suara itu terdengar seperti merintih. Namun suara yang yerim dengar bukan berasal dari dalam rumah paman jodi. Lebih terdengar jelas kalau suara itu berasal dari luar rumah paman jodi.


Rumah paman jodi memang terletak di Kota besar. Tapi bukan di tengah-tengah Kota besar ini. Atau pun di dalam Kotanya. Melainkan terletak di pinggir Kota. Makanya di lingkungan rumah paman jodi masih tertata beberapa pohon di depan rumahnya. Seperti hutan yang tidak terlalu seperti hutan belantara. Seperti di Desa tempat yerim tinggal yang di kelilingi oleh hutan belantara.


Kota Jutsu Shinobi. Yah, nama Kota ini adalah Kota Jutsu shinobi. Dimana yerim belum sempat untuk mengelilingi Kota Jutsu Shinobi ini. Tentu saja yerim belum sempat berkunjung untuk menjamah setiap sudut Kota Jutsu Shinobi ini. Yerim baru saja dua hari berada di Kota ini.

__ADS_1


Yerim saat ini tinggal sendirian di dalam rumah paman jodi. Karena paman jodi pergi ke dalam Kota untuk menjual hasil panennya yang diambil dari kebun milik paman jodi di dalam hutan belantara dekat dengan Desa yang yerim tempati. sementara bu mia juga pergi untuk bekerja.


Bu mia dan paman jodi tadi sempat memberi pesan kepada yerim. Agar yerim tidak keluar dari dalam rumah mereka. Mewanti-wanti yerim agar tetap berada di dalam rumah. Karena bu mia khawatir jika yerim keluar akan hilang dari mereka nantinya.


Namun, suara rintihan seorang wanita yang terdengar oleh yerim spontan membuat kaki yerim melangkah untuk keluar dari dalam rumah.


Hingga yerim kini sudah berada di depan jalan rumah paman jodi.


Kini suara rintihan itu makin terdengar jauh dari gendang telinga yerim.


Langkah kaki yerim terhenti seketika. Tubuh yerim terlihat seperti kaku. Saat matanya kini menatap sosok makhluk tak kasat mata yang sedang berdiri sedikit melayang sekitar 10 langkah dari tubuhnya.


Dimana Sosok makhluk tak kasat mata itu terlihat memiliki rambut panjang yang terjuntai. tanpa potongan tubuh yang lengkap. Belum lagi wajahnya yang sangat menyeramkan. Dengan bola mata yang hampir keluar dari dalam kelopak matanya. Dan lidahnya yang terlihat terjulur sangat panjang dan terjuntai sampai menyentuh aspal jalan di depan rumah paman jodi.


Baru kali ini ia melihat sosok makhluk tak kasat mata yang aneh. Dimana biasanya ia hanya bertemu dengan jenis-jenis makhluk tak kasat mata lainnya.


Sebuah tangan menyentuh pundak yerim. Membuat yerim spontan berteriak kencang.


"Aaaaaaaaa.....!!!". Teriak yerim nyaring.


Tangan yang menyentuh pundak yerim dengan cepat membalikkan tubuh yerim. Yang kini berhadapan sejajar dengan tubuhnya.


"Yerim kau kenapa nak?". Tanya sosok itu kepada yerim.

__ADS_1


Terlihat sosok bu mia yang sudah berada di hadapan yerim. Memandang yerim dengan tatapan cemas.


__ADS_2