
Panas matahari siang ini membuat kulit menyengat. Saat ini semua orang berteduh untuk mencari tempat yang sejuk, tapi tidak dengan seorang gadis yang tengah menjual koran di tengah jalan. Tidak ada kata lelah untuknya, yang mencari nafkah seorang diri.
Gadis itu adalah Lisa Alexandra Qiana. Ibunya meninggal setahun yang lalu, sedangkan ayahnya saat ini sedang sakit-sakitan.
Lisa berjalan menghampiri ayahnya dengan buah tangan. "Ayah! aku membawakanmu buah," serunya sambil menyodorkan sebuah plastik yang berisikan beberapa buah-buahan.
"Terimakasih putriku. Tapi, ayah tidak mau memakannya," ujar sang ayah mendorong pelan plastik itu dari dekatnya.
"Ish. Kenapa?" Lisa mendengus kesal melihat sang ayah yang begitu tega menyia-nyiakan pemberiannya.
"Yang pertama kau menyia-nyiakan penghasilanmu. Lebih baik jika kau kumpulkan uangnya dan menuju ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
"Yang kedua... Ayah tidak ingin kau susah karena ayah, seharusnya ayah yang membiayai semuanya untukmu. Tapi, kau malah membuat ayah merasa bersalah, tahu!"
"Aku tidak pernah bilang ayah membebaniku. Aku hanya ingin ayah sembuh, dan kita bisa berjalan bersama-sama lagi."
"Tapi, kalau ayah bilang seperti ini, ya mau bagaimana lagi? Baiklah. Setidaknya ayah harus memakan buah yang kubawa hari ini," pinta Lisa sambil berkacak pinggang.
"Baiklah putri ayah yang cantik," jawab sang ayah mengambil plastik buah-buahan tersebut.
Lama mereka berbincang sambil tertawa dan bercanda. Hingga waktu menjelang sore. Lisa pun berpamitan pada ayahnya untuk kembali berjualan.
Tapi sesaat sebelum ia pergi, ia baru saja teringat kalau sudah beberapa bulan biaya pengobatan ayahnya belum juga dibayar.
Lisa pun pergi menuju ke ruang administrasi rumah sakit untuk segera membayar biaya pengobatan. Alangkah terkejutnya Lisa melihat biaya pengobatan ayahnya yang banyak menunggak.
Biaya itu menunggak karena belum lama ini sang ayah baru saja menjalani operasi. Uang simpanan dan uang pendapatannya telah dihabiskan untuk biaya operasi sang ayah. Selain itu hutang pada para rentenir juga belum dibayar.
Semuanya bisa terbayar juga berkat bantuan sahabat ayahnya. Tapi kali ini, sudah beberapa bulan mereka tidak mengunjungi Setya ayah Lisa.
Setelah berhasil keluar dari tempat itu, Lisa langsung meneteskan air mata. Ia ingin ayahnya cepat sembuh. Tapi dirinya sendiri saja tidak punya biaya pengobatan.
Bagaimana mungkin bisa sembuh, tanpa biaya pengobatan? Saat ini, apapun akan dilakukannya agar ayahnya dapat sembuh.
Gadis itupun duduk tepat di dekat halte bus. Dengan mata sedikit sembab, Lisa memperhatikan poster dan beberapa iklan yang terpampang jelas di samping jalan tol.
__ADS_1
Iklan itu menggambarkan seorang pria yang baru-baru ini sangat memuncak namanya. Terlebih lagi, ia merupakan anak dari seorang presdir yang cukup terkenal.
Lisa memperhatikan cukup lama iklan yang terpampang jelas nama Kevin Anggara.
||β’||βπππππ||β’||
Hidup kaya dan memiliki semuanya pasti sangat diinginkan semua orang. Tapi bagaimana jika kalian tidak pernah merasakan kasih sayang? Begitulah yang dirasakan Kevin saat ini.
Pria yang notebenenya anak dari salah satu seorang pengusaha terkaya didunia. Kevin atau nama lengkapnya Kevin Anggara Arreondo merupakan anak dari seorang presdir Arreondo's grup.
Saat ini Kevin tengah duduk bersandar dikursi sambil menyeruput teh hijau kesukaannya. Ia menatap luar jendela melihat pemandangan halaman mansion.
Tetapi pemandangan itu merusak matanya seketika. Tatkala ia melihat seorang gadis yang berusaha masuk ke dalam mansionnya.
Para pengawal Kevin tidak memperbolehkan gadis itu untuk masuk. Tapi ia tetap bersikeras untuk masuk dan menemui Kevin secara langsung.
Tok tok tok
"Masuklah!" suruh Kevin sambil menyeruput santai teh hijaunya.
"Tuan muda, seorang gadis memaksa untuk bertemu dengan anda ....," belum sempat pria itu melanjutkan katanya Kevin sudah terlebih dahulu memotong pembicaraan itu.
"Aku tahu itu," jawab Kevin seraya melihat kembali ke arah jendela.
"Jadi apa yang harus kami lakukan?" tanya penjaga itu kembali.
"Biarkan dia masuk," perintah Kevin dengan sedikit seringainya.
Pengawal pribadi Kevin pun memberi isyarat bahwa gadis itu diperbolehkan untuk masuk, tapi tidak terlepas dari pengawasan mereka.
Pelayan nakal, sempat melihat wajah Lisa yang indah dan rupawan. Jarang sekali seseorang gadis di perbolehkan masuk kecuali gadis itu adalah wanitanya Kevin.
Mereka mengira bahwa gadis yang tak lain adalah Lisa merupakan wanitanya Kevin. Jadi, mereka tidak berani sedikit pun mendekati Lisa. Yang ada jika mereka mengganggu milik Kevin, maka tunggu saja tanggal kematiannya.
Pengawal pribadi Kevin pun mengetuk kembali pintu dan membiarkan Lisa untuk masuk.
__ADS_1
Kevin memutar kursinya mengarah tepat di depan Lisa. Pria itu memberi isyarat kepada para pengawal untuk keluar dari ruangan pribadinya.
Mereka pun menundukkan kepala, kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. Yang tersisa hanya Kevin dan Lisa di ruangan itu.
"Apa yang membuatmu datang ke mansion ini, apa kau menawarkan diri untuk menjadi ..., Wanitaku?" tanya Kevin dengan tatapan angkuhnya.
"Maafkan kelancangan saya kepada anda. Izinkan saya untuk meminjam uang anda!" ujar Lisa sambil membungkukkan badannya.
Terasa aneh, tapi baru kali ini Kevin melihat seorang gadis meminjam dan bukan meminta uang kepadanya. Terlebih lagi biasanya para gadis menggodanya untuk diberikan uang, tetapi Lisa sedikit berbeda.
"Hahaha...., Kupikir kau mau memberikan tawaran dengan dirimu, ternyata hanya meminjam uang, ya... Ck. tidak berguna!" seru Kevin sambil menyeruput kembali tehnya.
Lisa mengepalkan tangannya kuat, sebenarnya dia paling benci di rendahkan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi tujuannya hanya satu, yaitu agar ayahnya cepat sembuh.
"Baiklah ...., berapa besar yang kau butuhkan?"
"100 Juta. Aku membutuhkan 100 juta untuk pengobatan ayahku, hingga ia sembuh," balas Lisa dengan tatapannya yang sangat bersungguh-sungguh.
"Aku akan memberikannya, dengan syarat kau harus membayarnya dalam satu bulan. Bagaimana, kau setuju?" ucap Kevin sambil menaikkan sebelah alisnya, sebenarnya ia cukup menikmati percakapan ini.
Sementara gadis tersebut bimbang dengan pilihan yang diberikan Kevin. Bagaimana mungkin bisa dia dapat uang sebesar itu dalam sebulan?
Dirinya berpikir cuman ini satu-satunya jalan supaya pengobatan ayahnya berjalan lancar. Tanpa pikir banyak Lisa pun menyetujuinya.
"Baiklah, aku setuju!"
"Jika kau tidak bisa menggantinya dalam sebulan, apa jaminan yang akan kau berikan padaku?"
"Aku ...., aku akan bekerja di rumahmu selama satu tahun lebih tanpa gaji."
"Tenaga kerja seperti dirimu ataupun uang tidak dibutuhkan disini nona, bagaimana jika dirimu bayarannya?"
Ungkapan Kevin membuat Lisa terbungkam, gadis itu mengepalkan tangannya kuat sambil berpikir apa yang harus dilakukannya.
Haruskah ia menyerahkan dirinya begitu saja? atau membiarkan ayahnya merasakan penderitaan? Apapun pilihannya mau tidak mau pasti itu berujung kesakitan.
__ADS_1
TBC