
Tik tik...
Terdengar lagi tetesan hujan yang turun dari langit. Akhir-akhir ini sering kali terjadi hujan, mungkin karena musim penghujan.
Cuaca dingin membuat pria tampan dengan kulit putih dan bertubuh besar ini sangat nyenyak dalam tidurnya.
Pria itu tak lain adalah Kevin.
Sudah beberapa kali ponselnya menerima panggilan tetapi tak ada respon darinya. Ia lebih memilih untuk mengabaikan panggilan dibandingkan harus bangun dari tidurnya.
Akhirnya Kevin terbangun tepat saat pukul 08.00. Tubuhnya masih babak belur akibat insiden kemarin. Rasa sakit bekas pukulan itu masih terasa hingga kini.
Sambil berjalan, pria itu memegang perutnya yang kini sudah keroncongan.
Pria itu berbalik lagi mengambil ponsel untuk memesan makanan. Tetapi tangannya berhenti seketika, ketika mengingat kalau Lisa pasti memasak sesuatu untuknya.
......................
Kevin menuruni tangga dengan santai, ditatapnya meja makan berulang kali untuk memastikan Lisa benar-benar memasak untuknya atau tidak.
Kemampuan Kevin dalam berakting tidak diragukan lagi. Lisa mengira bahwa Kevin sedang mengawasi pergerakannya padahal tidak.
"Tuan, aku sudah menyiapkan sarapan untuk anda," ceplos Lisa yang tak sengaja melontarkan kalimat tersebut.
Seperti biasa Kevin memandang Lisa dengan wajah datarnya. Sedangkan Lisa yang menyadari akan hal itu hanya bisa tertunduk ketakutan.
"Aku akan memakannya," jawab Kevin seraya berjalan mengarah meja dengan tangan yang dimasukkan disaku celana.
Lisa mendongakkan kepalanya, ia bahagia sekali rasanya. Hampir saja gadis itu ingin loncat-loncat kegirangan. Ia mengira, Kevin akan menolaknya lagi.
Kevin sudah duduk di kursinya. Ia menoleh kearah Lisa yang masih memandangi dirinya hingga saat ini. "Apa kau akan terus disini? Aku ingin makan dengan tenang!" seru Kevin.
Lisa membungkukkan tubuhnya kemudian berjalan meninggalkan meja makan itu.
Lisa sudah terbiasa dengan kata-kata kasar Kevin. bukannya sedih, gadis itu malah senang bukan kepalang melihat Kevin memakan hidangan yang disajikannya.
......................
"Syuting ini bukan main-main Kevin. Filmnya akan segera di tayangkan! Jika kau terus seperti ini--"
"Seperti ini apa? Bapak mau memecatku? Silahkan. Aku tidak keberatan jika harus di pecat!" sontak Kevin membuat managernya terbungkam.
"Bukan seperti itu, hanya saja--"
"Sudahlah, aku pergi dulu."
Kevin berjalan dengan santai sembari memainkan kunci mobilnya. Pria itu lagi-lagi tersenyum karena mengagumi dirinya sendiri.
Drrtt drrtt (suara ponsel bergetar)
__ADS_1
Baru saja Kevin akan membuka pintu mobil. Namun, kakinya terhenti seketika mendengar getaran ponsel dalam saku.
"Sialan ini lagi?" gerutu Kevin sembari menerima panggilan tersebut.
"Yo! Sudah lama kita tidak ketemu, Vin."
"Sebenarnya apa maumu!"
"Aku ingin kita hanya bertemu berdua, ini tentang Sella."
Devan mematikan panggilan sebelah pihak, membuat Kevin menjadi semakin geram.
Kevin mengepalkan tangannya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
......................
Lagi-lagi Kevin dan Devan bertemu di tempat yang sepi. Devan menunggu di sebelah rumah kosong sambil mengisap putung rokok. Dengan langkah berat, Kevin menghampiri Devan yang kini tersenyum kearahnya.
"Dimana Sella!" sentak Kevin yang dibalas gelak tawa dari Devan.
Devan berhenti dengan gelak tawanya. Kini ia memasang wajah serius. "Kau bercanda? Harusnya aku yang bertanya seperti itu!"
Kevin memegang kerah baju Devan dengan sekuat tenaganya. "Jadi apa maksudmu dengan kata tentang Sella!"
Dengan santai, pria itu membuang puntung rokoknya dan menatap Kevin dengan tatapan yang menyedihkan.
"Omong kosong. Aku tidak pernah menghamilinya!"
"Apa kau masih ingat waktu kita di bar? Sella menangis tetapi dia tidak memberitahumu. Kau hanya minum terus menerus dan tanpa kau sadar kau meluapkan nafsumu!"
Kevin melepaskan tangannya dari kerah baju Devan.
"Gak mungkin! Gak mungkin aku lakuin itu sama Sella!" Kevin mengacak rambutnya yang membuat ia terlihat kacau.
"Dan yang paling parah, orang tuamu mengusirnya," bisik Devan.
Seperti biasa pria itu mengeluarkan senyum smirk saat ia merasa puas dengan keberhasilannya.
Devan berlalu meninggalkan Kevin yang terlihat semakin frustasi. Benar atau tidak, yang pasti Kevin harus mencari Sella untuk mencari kebenarannya.
......................
01.00
Hari sudah sangat malam, bahkan sebentar lagi menjelang pagi. Kevin tidak pulang juga sedari tadi membuat Lisa harus menunggu di sofa hingga ia ketiduran.
Bel pintu mansion berbunyi berkali-kali. Lisa yang sudah tenang dialam tidurnya, kini harus memaksakan diri untuk bangun.
Gadis itu membukakan pintu itu perlahan. "Tuan!" sontak Lisa terkejut dengan keadaan Kevin yang begitu berantakan.
__ADS_1
Gadis itu merangkul Kevin yang berjalan sempoyongan dan membaringkan tubuh pria itu atas sofa.
"Lisa, aku tidak mungkin melakukannyakan?" tanya Kevin di luar alam sadarnya.
"Melakukan... Melakukan apa?"
"Katakan saja tidak!" Bentak Kevin seraya mendorong Lisa dengan sangat kuat, hingga gadis itu tersungkur di meja.
Lisa memegang punggungnya seraya meringis kesakitan. Sambil meneteskan air mata, gadis itu menenangkan Kevin dengan memeluknya. Ia yakin rasa sakit yang dirasakannya tidak separah rasa sakit Kevin.
Kevin tidak membatah dan juga tidak membalas pelukan itu. Tetapi, ia merasa cukup tenang sekarang. Lisa tersenyum kemudian melepaskan pelukannya.
Ia mengusap air mata dari wajah Kevin, pria itu tak bergeming tapi menerima semua perlakuan Lisa. Kevin memegang tangan Lisa yang mengusap air matanya, kemudian melepasnya perlahan dari wajahnya.
"Aku pergi dulu."
Kevin menatap Lisa sejenak. "Terimakasih," ucapnya kemudian meninggalkan Lisa yang menatapnya dengan tidak mengerti.
Pria itu berjalan di luar apartemen dengan sempoyongan. Meskipun begitu, Lisa tetap mengikutinya dari belakang karena khawatir akan terjadi sesuatu pada Kevin.
Untuk beberapa saat, aman-aman saja. Namun ada kejanggalan. Lisa melihat ada seorang pria memakai topi mengikuti Kevin dari belakang. Pria yang membututi Kevin lebih dekat posisinya dibandingkan Lisa.
Memang sangat mencurigakan kemanapun Kevin pergi, ia mengikuti arah Kevin berada. Bahkan saat duduk sekali pun. Tetapi Kevin tak menyadarinya sama sekali, mungkin karena efek minuman beralkohol yang diminumnya.
Pria penguntit itu seperti mengeluarkan sesuatu dari sakunya, Lisa semakin dekat dengan penguntit itu meskipun harus diam-diam.
Ia melihat ke kanan kiri sembari memegang benda tajam. Lisa yang melihat itu semua menutup mulutnya tak percaya, ia langsung berlari menuju sang penguntit.
Pria dengan baju serba hitam itusemakin dekat dengan Kevin. Daerah komplek itu memang sangat sepi, tak ada satu pun orang yang berlalu pada tengah malam.
Agaknya sudah berada 5 meter dari keberadaan Kevin. Sementara Lisa berlari mengendap-endap agar tidak diketahui penguntit tersebut. Jika ia berteriak yang ada penguntit itu langsung bergerak bukan?
Untuk itu gadis itu mencari akal untuk menjatuhkan penguntit tersebut. Lisa mengambil kayu dari lorong gang sebelah. Ia sudah sangat dekat, sudah berada di belakang pria bertopi hitam tersebut.
Namun gagal, pria aneh itu langsung menyadari kalau Lisa sudah berada di belakangnya. Baru saja Lisa akan memukul pria itu dengan balok kayu, tetapi kehadirannya sudah duluan di ketahui.
Lisa tetap melayangkan kayunya. Namun pria itu bisa mengelak, yang ada gadis itu yang menjadi target pria penguntit tersebut.
"Uhuk!"
Gadis itu memegang perutnya yang mengalirkan darah terus menerus. Ia terduduk dan tak mampu berteriak.
"Kevin," panggil Lisa dengan suara yang sangat pelan, ia bahkan tak sanggup lagi untuk berbicara.
"Target gagal!" ucap pria penguntit tersebut dengan ponselnya. Lisa masih bisa mendengar ucapan itu. Namun selang beberapa detik ia kemudian memejamkan matanya.
"Kuharap kau menyadari keberadaanku, Kevin," batin Lisa.
TBC
__ADS_1