
Happy reading
Hujan yang terus berjatuhan dari langit terus membasahi tubuh Kevin. Bersamaan dengan darah yang mengalir dari mulut serta tubuhnya
Cukup lama ia berada di tempat tersebut. Dimana air yang berjatuhan dengan sangat deras kini berubah hanya menjadi rintik-rintik saja.
Kaki serta tangan Kevin sudah mulai kembali bisa digerakkan, tetapi ia tidak bisa bangkit dari tempat tersebut. Keadaan tubuh Kevin yang cukup babak belur ternyata bisa mengalahkan egonya.
Kevin kali ini meminta pertolongan, tetapi tidak ada seorang pun yang mendengarnya. Karena tempat itu jarang sekali di lewati orang-orang.
Di sisi lain Lisa merasa aman sendirian. Setidaknya ia tak terlalu memikirkan sesuatu yang harus dihadapinya untuk saat ini.
Kini ia berada diruang tengah sedang melakukan bersih-bersih. Lisa tidak sengaja mendengarkan bunyi dering ponsel secara terus-menerus.
Gadis itu mengabaikan beberapa panggilan ponsel Kevin yang tertinggal. Dirinya tak berani untuk ikut campur dalam urusan Kevin.
Namun beberapa saat melihat ponsel itu dipenuhi dengan notifikasi 20 panggilan tak terjawab dan 100 pesan membuat Lisa memberanikan diri menggapai ponsel Kevin.
Panggilan masuk kembali dengan kontak manager Kevin. Ingin sekali Lisa mengabaikannya, tetapi ia merasa kemungkinan panggilan itu penting, karena sudah berkali-kali manager Kevin menelepon.
Akhirnya gadis itu menerima panggilan tersebut dan memulai panggilan.
"Halo," sapa Lisa memulai percakapan.
"Siapa ini? Dimana Kevin?"
"Aku is-- aku pelayannya tuan muda. Tuan muda belum pulang sejak siang tadi."
"Apa kau tahu dimana keberadaannya?"
"Tuan muda tidak ada kabar sama sekali, jadi saya tidak tahu dimana keberadaannya."
"Baiklah terimakasih, sampaikan padanya untuk kesini jika ia sudah pulang."
"Iya pak," jawab Lisa mengakhiri panggilan.
Lisa meletakkan ponsel Kevin kembali di tempat semula. "Hah, ternyata tidak terlalu penting."
Selang beberapa menit kemudian ponsel Kevin berbunyi kembali dengan kontak yang berisi nomor saja.
Lisa tidak terlalu yakin untuk mengangkat panggilan tersebut, tapi bisa saja itu sesuatu yang penting bukan? Tangannya pun tergerak untuk mengambil ponsel tersebut.
__ADS_1
Seorang pria dari panggilan itu memulai percakapan duluan, Lisa tak membalasnya. Ia mencoba menerka maksud dari pria tersebut.
"Huft, aku lega kau mengangkat panggilanku Vin, Dimana kau sekarang? Apa kau masih tergeletak berbaring ditanah? Ha, ayolah. Berbicara setidaknya sedikit saja agar aku tidak perlu khawatir. Apa kau tidak menelepon pengawal untuk menyelamatkanmu? Hahaha."
"...."
"Ck! Ternyata tidak mau bicara juga. Tunggu aku di sana aku akan menyelematkanmu kawan," ujar pria itu dengan penuh ledekannya.
Tutt... Tutt..
"Kevin sialan! masih mau main-main rupanya," ujar Devan seraya menggerakkan jari telunjuknya untuk memberi perintah.
Lisa mematikan panggilan itu di sebelah pihak, kini ia tahu situasi apa yang terjadi sekarang.
Gadis itu langsung mengambil payung dan berlari menuju lokasi jalan yang sempat diucapkan Devan dimana lokasinya tidak jauh dari apartemen.
Sementara Kevin masih senantiasa berbaring sambil meminta tolong. Namun tidak ada seorang pun yang mendengarnya. Sebelum memejamkan mata ia melihat seorang wanita berlari menuju kearahnya meskipun terlihat samar-samar.
Kevin mengangkat tangannya dan meminta tolong sekeras mungkin dengan kemampuan yang tersisa.
Kini jarak gadis itu pun sudah dekat. Ia kembali menurunkan tangannya dan berfokus pada gadis yang berada dihadapannya.
Gadis itu sangat tidak asing bagi Kevin, orang yang sangat dibencinya. Siapa lagi kalau bukan Lisa.
Dengan sengaja Kevin mendorong gadis itu kuat hingga rok yang dikenakan Lisa basah. Payung yang di pegang Lisw juga sudah terlempar jauh terbawa oleh angin.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" tegas Kevin. Kata-kata ini sudah tiga kali terucap dari mulutnya.
Namun seketika pandangan Kevin semakin samar-samar, bintik-bintik hitam di langit semakin banyak, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
"Tuan, Kevin!" teriak Lisa sambil menepuk-nepuk pipi Kevin, namun tidak ada reaksi dari pria itu.
Lisa mencoba merangkulnya dan membawa pria itu dengan sekuat tenaga, meskipun sepatu Kevin masih terseret-seret di tanah.
Selang beberapa menit kemudian Devan dengan para teman-temannya kembali ke tempat semula.
Untungnya Lisa dan Kevin sudah cukup jauh dari lokasi kejadian, sehingga mereka tidak melihat keberadaannya.
"Ck. Dia mempermainkanku!"
********
__ADS_1
Jakarta 07.00
Hari ini tampak berbeda dari semalam, cuaca tampak sangat cerah bahkan di waktu subuh pun. Matahari sudah mulai mengeluarkan sinarnya.
Kevin terusik ketika tangannya sebelah kiri mengenai meja. Rasa sakit bekas pukulan itu kembali terasa.
"Akhh," keluh Kevin sambil membuka mata perlahan. Ia mengerjapkan mata berulang kali dan memperhatikan tangan kirinya yang sudah di perban dengan rapi.
Kevin kemudian memegang kepalanya yang sudah ada handuk kecil di keningnya. Matanya kemudian melihat langit-langit kamar yang berbeda dari kamar dirinya.
"Ini bukan kamarku," batin Kevin yang langsung menoleh kesamping. Pandangan Kevin seketika terhenti tatkala melihat gadis yang sedang duduk dengan kepala dan tangan berada di atas ranjang, sembari memegang pergelangan tangan kanannya yang terbalut perban.
Cukup lama Kevin memperhatikan Lisa. Gadis itu terlihat sangat cantik saat tidur menurutnya. Namun seketika dirinya sadar, ia hempaskan semua pikiran segala hal baik yang ada pada Lisa.
Sinar matahari semakin terang membuat gadis itu menjadi terusik. Melihat hal itu Kevin memejamkan matanya kembali, berpura-pura untuk tidur.
"Ya ampun!" Lisa benar-benar kaget ketika menyadari tangannya ternyata menggenggam tangan Kevin semalan. Gadis itu langsung melepasnya dengan perlahan agar Kevin tidak terusik.
"Huft, untung saja dia belum bangun," ucap Lisa merasa lega.
Gadis itu kemudian mengambil handuk kecil tersebut dari kening Kevin. Suhu tubuh Kevin mulai terasa turun dan rasa khawatirnya sedikit mulai reda.
Lisa kemudian menyelimuti Kevin dari ujung kaki hingga dadanya. Lalu mengambil rantangan yang berada di meja bersama handuk kecil tersebut.
"Hah, rasanya sangat tenang melihatmu sedang tertidur," batin Lisa sembari memandangi Kevin yang setia memejamkan matanya.
Lisa tersadar dari lamunannya. "Apa yang kupikirkan!" ujar Lisa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu langsung berjalan dengan cepat menuju keluar kamar.
Saat Kevin merasa Lisa sudah cukup jauh keluar dari kamar, Kevin membuka satu matanya memastikan Lisa tidak lagi berada dikamar tersebut.
"Hah, syukurlah. Tunggu. Kenapa aku harus berbuat seperti ini? Ayolah Kevin, ini tidak seperti dirimu saja," monolog Kevin.
Pria itu mulai menggerakkan kakinya, ia merasa cukup kuat untuk berjalan sekarang. Dengan perlahan, ia berjalan menuju toilet yang berada di kamar Lisa.
.....
Dikediaman Tuan Besar Arga
"Aku sudah siap sayang! Ayo kita pergi," ucap Arga yang sudah tak sabar dan terlihat sangat bersemangat.
"Sepertinya kau semangat sekali bertemu Kevin dan Lisa. Aku yakin, kau pasti merindukannya bukan?" goda Claudia yang merupakan istri tuan besar Arga.
__ADS_1
TBC