Change You

Change You
Permulaan


__ADS_3

Happy reading


Sella mengirimi pesan setiap hari pada Kevin bahkan dalam sehari bisa sampai lima belas kali.


"Kevin, aku merindukanmu. temui aku di cafe siang nanti seperti biasa, oke."


"huh." Kevin menghela nafas dengan memposisikan dirinya setengah duduk di ranjang.


Pria itu menoleh kesamping, memperhatikan Lisa yang tengah terlelap dalam tidurnya. Saat tidur, wajah teduh Lisa selalu berhasil membuat Kevin tersenyum.


Hanya menghitung beberapa Minggu lagi, Kevin akan segera menceraikan Lisa. Ia tidak akan menyakiti Lisa untuk kedua kalinya, sudah cukup dengan keegoisannya.


Lisa membuka mata perlahan saat merasakan tangan hangat berada di kepalanya. Tangan itu tak berhenti membelai rambutnya.


"Kau sudah bangun?" tanya Kevin sembari tersenyum.


Gadis itu melirik Kevin yang tengah tersenyum, kemudian beralih kearah jarum jam. Sontak Lisa merubah posisinya menjadi duduk.


"Aku terlambat!"


"Terlambat untuk apa?"


"Terlambat bangun. Aku belum menyiapkan sarapan, mandi dan semuanya," ucap Lisa seraya berdiri tergesa-gesa.


Kevin mencekal lengannya. "Tidak usah tergesa-gesa. Jun sudah kuminta untuk menyuruh pelayan memasak."


"Sungguh? Kalau begitu, aku bantu mereka, ya."


"Huft, yasudahlah. Kau ini, memang tidak bisa diam di satu tempat, ya?"


"Hehe. Kalau tidak bekerja, rasanya tubuhku terasa berat."


"Lisa." panggil Kevin dengan suara beratnya. Lisa membalikkan tubuhnya menghadap Kevin, menatap bingung dengan ekspresi wajah Kevin yang tiba-tiba berubah.


....


Flashback ke beberapa Minggu sebelumnya...


"Anak... s-siapa yang kau kandung?"


"Anakmu."


Kevin menggelengkan kepalanya, masih tidak percaya dengan perkataan Sella. Ia mundur beberapa langkah berharap ini tidak kenyataan.


"Kau akan lari, dari tanggungjawabmu? Kalau kau tidak percaya, kita bisa tes DNA sekarang," tukas Sella.


Beberapa jam telah berlalu. Mereka sudah mengetes DNA dari 45 menit yang lalu. Namun hasilnya belum keluar juga.


"Jika benar terbukti kalau janin ini Anakmu. Kau harus bertanggungjawab, Vin," ucap Sella di sela-sela kesenyapan.


"Aku akan bertanggungjawab. Tapi, kalau dia bukan anakku, maafkan aku. Aku akan menjauh darimu."


"Kenapa kau mengatakan itu, Vin?! Bukannya kau mencintaiku? Kemana semua janjimu selama ini. Apa semua ini karena, Lisa?!"

__ADS_1


Kevin sejenak terdiam, ia kembali mengingat janji-janjinya pada Sella beberapa tahun yang lalu. Ia juga pernah berjanji akan menikahi Sella suatu hari nanti.


"Kenapa diam, Vin. Kau sudah mulai jatuh cinta pada Lisa?"


"Bukan begitu, Sel. Aku hanya mera—"


"Kau hanya, merasa harus bertanggungjawab pada Lisa. Karena dia istrimu, bukan?"


"Darimana kau tahu semua itu?"


Sella mengabaikan pertanyaan Kevin, dengan menunjuk kearah dokter yang akan menghampiri mereka.


"Ini hasil tesnya tuan, nyonya," ucap sang dokter memberikan kertas tersebut. Mereka membuka kertas hasil DNA tersebut, tapi sebelum itu Sella menampilkan senyum smirknya.


Sedangkan Kevin, sudah menduga bahwa hasil tesnya sesuai pemikirannya.


....


"Lisa." panggil Kevin dengan suara beratnya. Lisa membalikkan tubuh menghadap Kevin, menatap bingung dengan ekspresi wajah pria itu yang tiba-tiba berubah.


"Iya?"


"Boleh aku memelukmu?" pinta Kevin.


Lisa tersenyum sembari mengangguk kecil. Gadis itu duduk dipinggiran ranjang, di depan Kevin. Menepuk pelan punggung Kevin dengan penuh kasih sayang.


Kevin memajukan tubuhnya menatap sosok gadis yang dulunya ia sangat benci, namun rasa itu berubah menjadi kasih sayang.


Kevin memeluk gadis tersebut dengan sangat erat. Dengan tangan yang melingkar dipinggang Lisa dan kepalanya berada didada gadis tersebut.


"Kamu kenapa tiba-tiba begini, cerita kalau terjadi sesuatu."


"Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan, jangan terlalu dekat dengan Jefri. Dia suka padamu tahu!"


"Tapi, bukannya kamu akhir-akhir ini yang nitipin aku ke dia?" sanggah Lisa.


"Tapi itu mendesak, Lis. Lain kali, aku bakal nyuruh Jun aja. Nanti, kamu berpaling lagi ke dia," ujar Kevin.


Lisa tertawa kecil mendengar ucapan Kevin.


"Lagian tidak mungkin kan...? Suamimu ini paket komplit. Ganteng, mapan, dan satu lagi... sexy."


Lisa mengulum senyumnya didekat Kevin. Sedikit memanas-manasi Kevin mungkin adalah ide yang bagus.


"Ya. Tapi, Jefri lebih manis, sih."


Kevin melepaskan pelukannya dan langsung mengambil ponsel. "Baiklah, akan kusuruh Jefri kemari dan menunjukkan muka manisnya yang sok imut itu!"


"Hahaha," Lisa tertawa terbahak-bahak disela-sela kecerewetan Kevin.


"Kamu lebih manis, daripada Jefri saat cemburu. Apa aku buat, cemburu setiap hari kali, ya?" sambung Lisa.


"Boleh, sebagai gantinya aku akan mengurung kamu dikamar seharian. Bagaimana?"

__ADS_1


....


Hampir dua jam Jefri terus menangis didekat Alisya. Tisu yang dibawa Alisya juga hampir habis semua. Membuat Gadis itu semakin jengkel melihatnya.


"Alisyaaaaaaa!" teriak Jefri ketika gadis itu mengambil tisu dari tangannya.


"Lo, kok nangis terus sih. Jef! Bising tahu!" sentak Alisya sambil menyeruput jus kesukaannya.


"Hiks, Huaaaa. Gue gak ada kesempatan lagi buat dapatin Lisa lagi, Al!"


"Gue baru nyadar, kalau lo lebih lebay dari gue. Udahlah, berati gak jodoh," ujar Alisya.


"Lo kok bisa setenang itu, sih?! Bukannya Lo suka sama Kevin, ya?"


"Dulu, sekarang gue lebih suka sama si pangeran," jawab Alisya dengan santai.


"Jun, maksud lo? Dasar cewek ganjen. Gak tetap pendirian," tukas Jefri.


"Ya, mau gimana lagi. Kevin kan dah milik Lisa tuh," ledek Alisya.


Jefri memasang tatapan mematikannya terhadap Alisya yang tertawa cekikikan. Agaknya pria itu semakin kesal setelah mendengar ledekan Alisya.


....


Kembali pada ruangan gelap favorit Devan. Dengan laptop didepannya dan beberapa pengawal di sekeliling ruang.


Devan berdiri dari kursi untuk menghampiri sella di dalam kamarnya. Rasa khawatir akan janin yang dikandung Sella selalu membuat pria itu kepikiran. Terlebih lagi Sella pernah berniat menggugurkan kandungannya.


Devan mengusap wajahnya. kepalanya masih memikirkan perkataan Sella. Setelah ia pikir, bagaimana mungkin ia mengkhawatirkan janin tersebut? Bukannya pekerjaannya menjual anak-anak dan wanita?


"Dev, Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sella.


"Aku akan membantumu. Menculik Lisa," ungkap Devan.


"Kau berubah secepat, ini? Apa yang membuatmu berubah?" tanya Sella sembari menautkan alisnya.


"Aku hanya menjalankan dendam ayahku. Tidak bisa balas dengan orangnya, maka dengan anaknya," ujar Devan dengan sedikit sunggingan di ujung bibir.


"Kau, mau mengulang kejadian 13 tahun yang lalu?"


"Ya. Sepertinya hal itu bisa memancing kemarahan Arga Arreondo."


"Kau boleh berbuat sesukamu pada gadis itu.Tapi, tidak dengan Kevinku."


"Bahkan dengan kekayaan, Arga Arreondo?" tanya Devan.


"Aku akan memikirkannya. Huft, kau tidak adil!"


"Masih banyak pria seperti dia, Sel. Aku janji, setelah kita berhasil mendapatkan kekayaan Arreondo, 55% adalah milikmu."


"Huft, Kevinku. Baiklah aku setuju!"


"Ck! kau memang wanita psychopat."

__ADS_1


"Kevin adalah milikku dan akan selamanya menjadi milikku. Setelah berhasil melakukan semuanya, aku akan menjadikan Kelvin sebagai milikku." batin Sella.


TBC


__ADS_2