
Happy reading
Makan bersama hari itu berjalan lancar. Meskipun Kevin tidak berbicara sedikit pun. Arga bersama istrinya sudah pergi dari 1 jam yang lalu. Didalam apartemen itu, hanya menyisahkan Lisa dan Kevin.
Lisa pov
Sejak kedatangan papa dan mama mertua. Kelvin terus menerus cemberut, bahkan ia tidak mau melihatku sedikit pun.
Apa aku melakukan sesuatu kesalahan yang membuat Kevin benci? Aku menatap wajah Kevin. Ia sedang menatap kesembarang arah, yang pasti bukan ke arahku.
"Kevin, kau marah padaku?" tanyaku berusaha memecah keheningan. "Tidak," jawabnya singkat. Satu kata itu membuatku tahu kalau saat ini ia sedang marah. Aku ingin lebih tahu tentang dirinya. Kucoba lagi memberanikan diri untuk berbicara padanya.
"Kevin?"
"Hmm?"
"Kenapa kau membenci orangtuamu sendiri?"
"kau sangat ingin tahu?" tanya Kevin kembali. Lisa mengangguk sebagai jawaban 'iya'
"Sejak kecil aku dibesarkan bi Ina. Bersama dengan anaknya Jun yang sudah aku anggap saudara sendiri. Hanya bi Ina dan Jun yang bisa kuandalkan, dan mereka? Mereka tidak pernah menjagaku. Hingga akhirnya aku hilang ingatan. Sampai sekarang mereka tidak pernah memberitahu sebab hilangnya ingatanku."
Aku salah jika aku berpikir terlalu menyalahkannya. Kevin tidak bersalah sepenuhnya. Hanya saja, aku tidak tahu apa yang ia rasakan hingga dia berbuat seperti ini.
"Kurasa aku juga pernah kehilangan ingatan," ucapku sembari mencoba mengingat masa lalu, dimana aku terbangun dari rumah sakit.
"Bagaimana, bisa terjadi?" tanyanya dengan ekspresi serius. Aku yakin, kali ini pasti dia benar-benar penasaran. Aku mencoba mengingat kembali masa itu, tapi hanya sedikit serpihan yang kulihat.
"Ntahlah. Ayah tidak memberitahuku. Tapi, aku mengingat sedikit dimana aku bisa kehilangan ingatanku. Seseorang mengejarku dengan motornya. Pikiranku melayang, nafasku tersengal-sengal, dan tujuanku hanya satu, yaitu menjauh darinya."
Kevin terdiam. Aku meliriknya pupil matanya yang bewarna coklat terang. Sangat indah, seperti wajahnya yang menawan. Aku terlalu serius menatap Kevin, hingga aku tidak menyadari kalau saat ini ia sedang menatapku dengan wajah bingung.
"Lisa?" panggil Kevin sembari melambaikan tangannya tepat di depan hadapanku. "Ah iya?" Aku tersadar dari lamunanku dan saat itu aku menyadari, pada akhirnya aku hanya berkhayal untuk mendapatkannya. Jika hatinya tidak untukku, setidaknya aku bersyukur diterima di apartemen besar ini.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Kevin lagi.
"Lupakan saja. Sebaiknya kau bergegas! Air mandimu sudah kusiapkan," ucapku mengalihkan perhatian. Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sembari berjalan, ia menatapku dengan bingung.
****************
Dengan mobil mewah bewarna merah, Kevin berjalan memasuki gerbang gedung besar. Disambut dengan beberapa temannya Jefri dan Alisya serta bapak manager di samping mereka.
Alisya berlari berhamburan keluar gedung dan langsung memeluk Kevin dengan erat.
"Aku merindukanmu. Kau kemana saja?"
Kevin menghela nafas ketika melirik mobilnya yang terkena sinar matahari membuat tampak kilatan seseorang di dalamnya. Jika kalian bertanya siapa di dalam mobil itu, tentu saja adalah Lisa.
Kevin sudah mendorong Alisya, tetapi tetap saja gadis itu menolak dan memeluknya dengan erat. Pak Hendra sang manager yang menyadari ketidaknyamanan Kevin langsung menarik gadis itu kebelakang.
"Ish! Bapak kok jahat banget sih?!" sontak Alisya seraya melepas genggaman pak Hendra.
"Kurasa itu wajar. Kau tidak lihat wajah Kevin? Dia tak nyaman!" sergah Jefri menatap tajam kearah Alisya. Begitu pula sebaliknya, Alisya menatapnya dengan tatapan mematikan.
"Makasih Jef, makasih pak," potong Kevin sembari tersenyum hangat kearah Jefri dan pak Hendra.
"Kamu kok gitu sih, Vin?! Biasanya juga nggak marah," ucap Alisya.
"Btw bro! Daritadi lo ngelihatin mobil, memangnya didalam mobil lo ada apa?" seru Jefri menatap Kevin kemudian beralih menatap mobil merah milik Kevin.
"Gak ada apa-apa kok," balas Kevin menarik mereka secara bersamaan untuk masuk kedalam gedung. Jefri tidak memperdulikan hal itu, tetapi Alisya terus menoleh kebelakang.
Kini mereka berempat telah berada di halaman belakang gedung, biasanya tempat itu sering dijadikan lokasi syuting. Karena, pemandangannya yang indah. Mereka juga membahas beberapa masalah atas film yang akan mereka keluarkan tahun ini.
"Aku mau film ini tayangkan ditahun depan saja pak. Untuk sekarang, aku belum bisa melanjutkan syuting," ungkap Kevin dengan wajah lesuhnya.
"Bagaimana mungkin kita akan menayangkannya tahun depan? Kita bahkan, sudah berjanji untuk menyelesaikannya tahun ini!" seru Alisya bernada tidak terima.
__ADS_1
"Tapi untuk sekarang aku ingin libur Lis! Ah tidak, lupakan saja. Sekarang aku memanggilmu dengan nama lengkap saja. Lagipula kalian juga sering berlibur. Jadi mengapa aku tidak bisa?" jawab Kevin.
"Hah sudahlah, aku akan mengatur jadwal kalian. Untuk syuting yang ini, akan ditayangkan tahun depan sesuai permintaan Kevin," pak Hendra menengahi percakapan tersebut. Alisya menatap kesal kearah mereka berdua dan berlari masuk ke dalam gedung.
Gadis itu masih bingung dengan sikap Kevin yang berubah. Ia juga masih curiga sesuatu yang disembunyikan Kevin di dalam mobil. Gadis itu berjalan menuju halaman depan.
Lisa menghela nafasnya berat "huh, kenapa aku harus merasa kesal. Apa aku harus mendiaminya. Tapi, jika ia bertanya apa yang membuatku mendiaminya. Apa yang harus aku jawab?" pikir Lisa.
Lisa berhenti dengan pikirannya. Kali ini ia lebih berfokus kearah gadis yang kini menuju mobil yang Kevin. Lisa menggigit-gigit jari-jarinya, apa yang harus dilakukannya? Gadis itu semakin dekat dan hanya berjarak 2 meter sekarang.
Daripada bersembunyi, akhirnya Lisa lebih memilih untuk keluar dari mobil. Padahal sebelum mereka berangkat, Kevin berpesan untuk tidak keluar dari mobil sedikitpun. Tetapi, sepertinya Lisa melupakan pesan itu sekarang.
Alisya menutup mulutnya tak percaya. "Daritadi yang berada di mobil itu kau?' Lisa tersenyum ramah kearahnya menundukkan tubuhnya 90 derajat kemudian kembali tegak.
"Iya," jawab Lisa singkat.
Alisya menatap gadis itu dari bawah hingga atas. Wajah dan tubuhnya memang mendekati kata sempurna. Tetapi penampilannya? Sangat sederhana. Tidak sesuai dengan kriteria yang disukai Kevin.
"Maaf. Anda itu siapanya Kevin?" tanya Alisya dengan tatapan remehnya.
"Aku—aku," Lisa gugup. Apa yang harus ia jawab? Jika ia mengatakan Kalau Kevin adalah suaminya. Ia takut karir Kevin berantakan, lagipula ia terlalu percaya diri jika mengatakan itu. Padahal Kevin tak mengganggapnya seperti itu.
"Bingung mau jawab apa? Aku sudah tahu kok, anda pembantunya bukan? Lagipula Kevin tidak mungkin mempunyai pacar dengan pakaian biasa seperti ini."
"biar kuberitahu. Kevin sudah mempunyai pacar yang sekarang sedang berada di London. Jadi, sebaiknya jangan bermimpi untuk mendapatkan Kevin, biasanya wanita-wanita sepertimu hanya menginginkan uangnya!"
Lisa meneteskan air matanya, kata-kata yang terakhir berhasil meruntuhkan pertahanannya. Ia kembali mengingat kata-kata Kevin, dimana pria itu pernah mengatakan kata yang sesuai dengan akhir kalimat Alisya.
"Lisa!" teriak Kevin dari kejauhan.
Kevin berlari menuju mereka berdua, menatap wajah keduanya satu persatu. Pria itu menarik Lisa kebelakang dan menggenggam erat tangan Lisa. "Apa yang kau lakukan dengan Lisa?!" sentak Kevin pada Alisya.
"Tidak ada. Ia menangis sendiri, karena aku mengatakan kalau ia cocok sebagai pembantumu!"
__ADS_1
"Kau gila? Dia ini istriku!"
TBC