
"Lisa bangun!" seru Kevin seraya menepuk-nepuk pelan pipi Lisa.
Lisa membuka sebelah matanya, "Hm, ada apa?
Dengan semangat Kevin mengatakan, "Kita akan syuting hari ini. Bukannya kamu harus bersiap?"
Lisa membuka dan mengucek matanya seraya melirik kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 05.00 pagi.
Pandangan Lisa kini beralih kearah Kevin. Gadis itu mengepalkan tangannya kuat. Dari mata Lisa, seakan menunjukkan gadis itu ingin memakan Kevin sekarang juga.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Kevin tanpa merasa bersalah.
Dengan lembut Lisa menjawab, "Tuan Kevin Anggara Arreondo yang terhormat. Kita syuting jam 09.00 pagi dan ini masih jam 05.00. Bukankah anda sudah keterlaluan?"
"Tapi Lisa--"
"Sudah sana! Aku masih mau tidur." Lisa membelakangi Kevin sambil tertawa kecil.
Pria itu menghela nafas sepanjang mungkin. Jujur saja sebenarnya Kevin hanya ingin ditemani karena ia tidak bisa tidur semalaman ini.
Mimpi kedua anak kecil bermunculan lagi dalam pikirannya. Kevin ingin menceritakan tentang ini semua pada Lisa. Tetapi entah mengapa dia belum menemukan waktu yang tepat.
Satu jam telah berlalu sejak Kevin membangunkan Lisa. Namun keadaan sudah terbalik, Kevin yang tertidur di ranjang Lisa dan Lisa yang malah terbangun.
Lisa lagi-lagi tersenyum menatap wajah Kevin. Saat Kevin tengah tertidur pulas, wajahnya seperti anak kecil. Ia memeluk guling dan menempati setengah ranjang Lisa.
"Aku pernah mengagumimu dan sekarang aku berada di sampingmu."
Masih dalam khayalan, Lisa merasa kaget ketika Kevin memegang Lisa secara tiba-tiba.
"Apa Kevin mendengar ucapanku barusan?" batin Lisa.
Kevin menggenggam pergelangan tangan Lisa. "Lisa, aku ingin mie goreng buatanmu." ucapnya dengan mata tertutup.
Lisa merasa lega. Ternyata Kevin hanya mengigau dan memegang lengannya secara tidak sadar.
......................
Hari sudah mulai cerah dan burung-burung sudah berkicau. Namun Kevin tak kunjung juga bangun.
Lisa mulai lelah untuk membangunkan Kevin, pasalnya pria itu malah mengambil guling dan menutup telinganya agar suara Lisa tidak kedengaran.
Sudah 30 menit terlewat. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 09.35. Akhirnya Kevin membuka mata setelah mendengar suara ponselnya terus berbunyi.
"Kevin kenapa kalian tak datang juga!"
Terdengar suara panggilan dari kontak managernya. Kevin segera melirik kearah jam dinding.
__ADS_1
"Aku akan segera kesana." Jawab Kevin sambil menyibakkan selimutnya dan berlarian kebawah untuk mencari Lisa.
"Ribut sekali, apa yang sedang kau lakukan?" tanya pak Hendri dimana telepon itu masih berlangsung.
"Aku sedang memakai baju!" Kevin langsung mematikan panggilan.
Ia mencari Lisa kesana kemari. Ternyata gadis itu berada di dapur dengan pakaian yang sudah rapi.
"Sudah bangun ternyata." sambut Lisa dengan senyuman.
Kevin memperhatikan Lisa dari atas sampai bawah. Pakaiannya sudah rapi tapi ia tidak menemukan sedikit pun polesan make up di wajah Lisa. Walaupun begitu, Lisa terlihat tetap cantik tanpa polesan make up.
"Kenapa kau tidak memakai make up?" protes Kevin.
"Hm aku pikir mereka akan memberikan make up untukku."
Kevin tidak menanggapi dia hanya berpikir, "Untung cantik." pikirnya. Karena melihat penampilan Lisa yang cantik tanpa polesan make up, Kevin hampir saja lupa akan apa yang ingin ditanyakannya tadi.
"Ah iya. Kenapa kau tidak membangunkanku?!"
"Aku sudah membangunkan anda 10 kali bahkan lebih. Aku juga menghidupkan alarm, tapi anda tidak mau bangun."
Kevin menghela nafasnya. Kali ini ia benar-benar telak dibuat Lisa.
"Pergilah mandi! Air mandi dan sarapan anda sudah siap."
......
Pak Hendri terus memperhatikan jam tangannya. Namun Kevin tak kunjung juga datang.
5 menit kemudian pria paruh baya itu melihat sebuah motor dengan kecepatan tinggi menuju ketempatnya.
"Siapa orang gila itu?" batin Hendri.
Pria itu membuka helmnya kemudian mengibas-ngibaskan rambut. Pak Hendri kaget ternyata Kevinlah yang datang dengan motor berkecepatan tinggi. Tidak biasanya Kevin datang dengan motor.
Dibelakang Kevin sudah ada gadis cantik yang kemarin sempat dilihat Hendri. Kalau dilihat dari kejauhan mereka memang sangat cocok, tidak, ternyata dari jarak dekat juga cocok.
"Kenapa kalian datang sangat lama?"
"Lisa tidak membangunkanku," jawab Kevin santai.
"Lisa?" Pak Hendri menoleh kearah gadis cantik yang berada di belakang Kevin. Ia menundukkan kepalanya karena sedikit malu. Terlebih lagi Kevin mengatasnamakan nama Lisa karena terlambat.
"Ooh gadis yang dibelakangmu ternyata." timpalnya.
"Dia tidak hanya sekedar gadis biasa, dia istriku." sanggah Kevin.
__ADS_1
Mata pria paruh baya itu seketika melotot. Kenapa ia baru tahu Kevin sudah menikah? Apa pernikahannya disembunyikan begitu saja?
"Bagaimana mungkin kau tidak konfirmasikan dirimu kalau sudah menikah?! Uangku sudah habis untuk menutupi semua rumormu dengan gadis itu."
"Huh, nanti aku bayar."
"Karirmu bisa rusak Kevin!"
"Hubungan kami akan segera kuumumkan."
Pria paruh baya itu menghela nafasnya. Ia sangat tahu Kalau Kevin sudah memutuskan suatu keputusan, maka tidak akan bisa di ganggu gugat.
"Lisa, aku yakin kau keberatan dengan pria ini." ucap Hendri menatap gadis itu dengan kasihan. Walaupun niat Hendri sebenarnya untuk meledek Kevin.
Lisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil, tapi senyum itu berubah menjadi bengong ketika dengan pedenya Kevin mengatakan, "Lisa beruntung memilikiku."
Keduanya hanya bisa tertawa mendengar ocehan Kevin yang selalu bangga dengan dirinya.
......................
Syuting dimulai, wajah Lisa tidak terlihat disini karena ia hanya peran pengganti. Namun peran ini sangat penting bagi Kevin, karena ia tidak perlu melakukan kiss scane dengan orang lain, melainkan dengan istrinya sendiri.
"Cut!"
Lisa sudah melakukan kesalahan beberapa kali, dan ini membuat Kevin semakin jengkel. Pasalnya gadis itu tertawa setiap kali ingin melakukannya.
"Lisa bisa tidak serius?! Kita sudah hampir satu jam disini hanya untuk melakukan itu."
"Mukamu lucu sekali hahaha."
Sejujurnya Lisa gugup saat Kevin menggunakan mode serius. Pria itu sangat tampan apalagi dilihat dari jarak dekat.
Sementara pak Hendri hanya bisa menggelengkan kepala melihat pasangan satu ini. Si pria galak dan angkuh, si wanita terus ketawa tanpa kejelasan.
"Ekhem! Bisa kita mulai ini?" kali ini giliran pak Hendri yang berbicara.
"Bisa pak." jawab keduanya.
Dengan tatapan serius Kevin memulai, dan Lisa memejamkan matanya agar tidak gugup. Kevin menggenggam erat tangan Lisa walaupun itu tidak ada di skrip percakapan.
Ia melangsungkan kiss scane dan menatap Lisa dengan rasa cinta. Ini mungkin bisa menggantikan hal semalam yang akan mereka lakukan.
Lisa hanya bisa mengikuti gerak irama dari Kevin. Seandainya ini bukan syuting, apakah mereka akan melakukannya seperti ini? pikir Lisa.
Ini adalah hal yang pertama kali dilakukan Lisa dan seorang pangeran itu tak lain adalah idolanya sendiri.
Hal yang pertama kali dipikirkannya adalah apakah Kevin bisa sehangat ini? Dia semakin menyukai pria ini lagi dan lagi.
__ADS_1
TBC