
||β’||βπππππ||β’||
Jika kau tidak bisa menggantinya dalam sebulan, apa jaminan yang akan kau berikan padaku?"
"Aku ... aku akan bekerja di rumah anda selama satu tahun lebih tanpa gaji!"
"Tenaga kerja, ataupun uang tidak dibutuhkan di sini nona. Bagaimana jika dirimu bayarannya?"
Lisa mengepalkan tangannya kuat, apa yang harus dilakukannya? Haruskah ia menyerahkan dirinya begitu saja atau membiarkan ayahnya merasakan penderitaan?
"Aku ..., Aku tidak bisa!" jawab Lisa seraya meneteskan air matanya.
Kepalanya tertunduk tak kuasa menahan air mata hanya dengan ini dia bisa menyembunyikan lukanya.
"Lupakan saja. Kau boleh pergi dari sini!" Kevin mengambil ponselnya dan memberikan perintah agar gadis itu secepatnya diusir dari tempat itu.
Sebelum para penjaga datang, Lisa sudah berjalan duluan meninggalkan ruangan tersebut.
Lisa sudah tidak tahu lagi ingin mengadu dengan siapa, yang hanya dipikirannya hanya bagaimana cara ia mendapatkan uang sebesar itu.
Jika ia menerima permintaan itu, bukannya sama saja dia seperti wanita malam? Menerima kemauan Kevin kemudian menjadi wanitanya dan menerima uang darinya.
Sambil berjalan dengan mata sembab gadis itu kembali ke rumah sakit. Ia melihat ayahnya yang sedang tertidur lelap, tampak seperti orang yang sedang kelelahan.
Setelah berhasil memeluk sang ayah, gadis itu keluar dan menutup pelan pintu ruangan agar sang ayah tidak terbangun.
"Kebetulan sekali!" kejut sang dokter menatap Lisa dari belakang berjalan melewati lorong. Lisa yang mendengar suara itu pun langsung menoleh ke arah sang dokter.
"Kamu wali pasien bukan?"
"Ya, saya anaknya," jawab Lisa singkat.
"Kamu dipanggil untuk ke ruang administrasi," ujar sang dokter sambil tersenyum.
"I-iya dokter."
Lisa sudah yakin ini pasti akan terjadi. Ia pun segera bergegas menuju ruang administrasi.
Penyakit ayahnya yang serius, membuat ia mau tak mau harus membawa ayahnya ke rumah sakit yang bagus.
Gadis itu pun melihat kembali biaya yang terus-menerus membuatnya khawatir dan ingin menangis.
Sementara pembayaran itu harus segera dilunaskan. Jika mereka tak segera melunaskan tunggakan tersebut, maka ayahnya yang tidak berdaya sekali pun akan segera di keluarkan dari rumah sakit.
"Huh, apa aku harus kembali menerima tawaran?" batin Lisa dengan pikiran yang mulai berkecamuk. Ia bahkan tidak bisa lagi melihat jalan karena bendungan air matanya.
Kepala gadis itu sangat pusing hingga akhirnya ia tak mampu melawan alam sadarnya. Ia pingsan tepat di dekat trotoar jalan.
Banyak sekali yang memperhatikannya, semua orang berkerumunan di jalan sampai-sampai mobil-mobil tidak bisa melewati jalan itu.
Salah satu mobil yang tidak bisa lewat itu adalah mobil Kevin. Pria dengan kacamata hitamnya membuka sedikit kaca mobilnya.
Pria itu tak mau ambil pusing, ia langsung menyuruh supirnya untuk mengusir semua orang yang menggangu jalan.
Beberapa menit kemudian bawahannya kembali menemuinya.
__ADS_1
"Maaf tuan muda, mereka tidak mau pergi," ujar supir tersebut.
"Ck, apa yang mereka lihat?" tanya Kevin dengan perasaan kesal.
"Tadi saya melihat seorang gadis yang pingsan di tengah-tengah kerumunan itu, dan kalau tidak salah... Gadis itu yang memaksa bertemu dengan anda tadi siang," ujarnya.
Kevin langsung membuka pintu mobilnya tanpa membalas ucapan sang supir. Pria itu keluar dari mobilnya dan menaruh kacamata hitamnya disaku.
Para kerumunan itu langsung berteriak histeris melihat Kevin di tengah-tengah mereka. Pria yang sangat sulit untuk digapai dan dilihat kini berada di hadapan mereka.
Semua orang memberi jalan pada Kevin. Dengan gagahnya Kevin berjalan menuju kearah gadis yang berada ditengah-tengah kerumunan itu.
"Astaga!" gadis-gadis yang berada di sekitar itu langsung berteriak histeris dan ada juga yang memotret aksi Kevin menggendong gadis tersebut.
Tanpa memikirkan resiko karirnya, Kevin kembali ke mobil sembari meletakkan gadis itu dengan perlahan di jok. Tidak ada kata sapaan dari Kevin, dia hanya pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Aksi memotret itu terus berlangsung sampai mobil Kevin tidak terlihat lagi.
Kini Lisa sudah berada di mobil Kevin dan belum menyadarkan diri sama sekali. Karena melihat kening gadis itu yang sedikit berdarah.
Kevin mengelapnya dengan perlahan dan menaruh kepala Lisa tepat di bahunya.
"Tuan muda apa yang anda lakukan? Mereka memotretmu," tanya supir pribadi Kevin tidak setuju dengan keputusan yang diambil Kevin.
"Mulai hari ini dia akan menjadi wanitaku."
||β’||**βπππππ||β’||
20.00**
Lisa membuka matanya perlahan dan yang pertama kali ia lihat adalah ruangan nuansa putih. Di lengkapi berbagai poster dan juga berbagai jenis koleksi barang.
Harum yang semerbak menyeruak ke dalam hidung Lisa. Melihat ruangan yang terlihat asing, membuat gadis itu langsung merubah posisinya menjadi duduk.
"Dimana aku?" monolog Lisa.
Lisa langsung menarik selimutnya ketakutan saat mendengar suara dari arah pintu kamar mandi. Bukan karena takut hantu atau sejenisnya, tetapi Lisa takut kalau saat ini dirinya diculik seseorang saat ia pingsan tadi.
Percuma jika dirinya masuk ke dalam selimut, itu takkan membuatnya bisa bersembunyi. Gadis cantik itu langsung menyibakkan selimutnya dan berjalan kearah pintu luar.
Sayang sekali ternyata pintu itu butuh sidik jari untuk membukanya, dan tentu saja sidik jari tersebut hanya berlaku untuk pemilik kamar.
Gadis itu mencoba mencari alat untuk bisa membuka pintu kamar tersebut. Alhasil tidak ada yang ia temukan.
Pintu kamar mandi pun terbuka dan tampaklah seorang pria dengan handuk kecil yang melilit di tubuhnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Kevin.
Lisa yang sempat melihat tubuh bidang Kevin langsung menutup kedua matanya.
"Aaaa! Pakai bajumu!" teriak Lisa sambil melempari barang-barang yang ada dimeja tersebut.
"Yak. Ini kamarku!" seru Kevin.
Lisa baru ingat kalau dia tidak boleh macam-macam dengan Kevin. Karena Kevin satu-satunya orang yang sangat diperlukannya saat ini.
__ADS_1
Gadis itu pun membungkukkan badannya seraya meminta maaf. Ia kemudian berbalik badan tanpa menoleh kearah Kevin sedikit pun.
Kevin tidak menanggapi permintaan maaf Lisa, ia hanya menyunggingkan senyumnya kemudian berbalik arah menuju lemari baju.
Kevin melepaskan handuknya tanpa peduli bahwa dirinya saat ini sedang bersama gadis yang tidak ia kenal.
Setelah beberapa menit menunggu, Lisa memberanikan diri untuk berbicara meskipun tetap tidak menoleh.
"Apa anda sudah selesai?" tanya Lisa.
"Sudah," jawab Kevin santai.
Lisa pun berbalik arah dan mendapati Kevin di belakangnya dengan bertelanjang dada. Lisa ingin berteriak, tapi Kevin sudah lebih dulu menutup mulutnya.
"Jangan berteriak. Mengerti!" sentak Kevin yang dibalas anggukan kecil dari Lisa. Gadis itu menarik nafasnya yang hampir kehilangan pasokan oksigen.
||β’||βπππππ||β’||
Saat ini Kevin tengah berbaring di atas ranjangnya sambil memainkan ponsel. Sedangkan Lisa duduk di meja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia ingin berbicara soal uang yang ingin dipinjamnya tetapi dirinya tak berani mengatakan kata itu untuk kedua kalinya.
"Kau berubah pikiran?" tanya Kevin yang tetap fokus pada ponselnya.
"Ya?"
"Aku tanya kau berubah pikiran?!"
"Aku-- aku menerima persyaratan anda. Tapi setidaknya berikan aku waktu satu bulan bekerja dengan anda!" ucap Lisa.
Kevin meletakkan ponselnya kemudian berbalik arah menatap Lisa yang terus menerus menundukkan kepalanya.
Ia yakin gadis itu menunduk bukan karena dirinya patuh, tetapi ia yakin pasti gadis yang berada dihadapannya saat ini tengah menahan tangis.
"Kau mau jadi asisten pribadiku? Dengan gaji yang lebih tinggi dari yang kau minta bisa kau dapatkan dalam seminggu."
"Benarkah?"
"Tentu saja, kemarilah!" seru Kevin dengan lembut.
Lisa terlihat takut, semua itu terlihat tampak jelas di mata Kevin.
"Aku tidak ingin melakukan apa-apa, aku hanya ingin kau mengambil gelas itu untukku," pinta Kevin sambil menunjuk gelas yang berada di sampingnya.
Padahal gelas itu mudah sekali digapai oleh tangannya, tapi ia malah menyuruh Lisa yang bahkan lebih jauh jaraknya dari gelas tersebut.
"Baiklah," jawab Lisa sembari berjalan mengambil gelas tersebut.
Tidak ada air di dalamnya, lantas mengapa Kevin menyuruh untuk mengambilnya? Sebelum Lisa berbicara Kevin sudah terlebih dahulu menarik tangan Lisa.
Kevin menjatuhkan gadis itu tepat di atas ranjang dan mengunci kaki serta tangannya. Sehingga Lisa yang berada dibawah kukungan Kevin tidak bisa bergerak.
"Apa yang anda lakukan!" Lisa membelalakkan mata. Gadis itu berusaha melepas cengkeraman Kevin yang kuat.
"Hanya hari ini. Setelah itu kau tidak perlu khawatir... Aku akan menempatkan ayahmu di ruang VIP," bisik Kevin.
TBC
__ADS_1