
HAPPY READING
Hari ini orang tua Kevin akan pergi mengunjungi Kevin dan juga Lisa. Sebab, kemarin malam Lisa menghubungi mereka karena khawatir dengan keadaan Kevin. Untuk itu Lisa menghidangkan cukup banyak makanan dimeja.
Tanpa Kevin sadari, ternyata ia telah memperhatikan Lisa yang sedari tadi asik memasak. Sebaliknya, Lisa tidak mengetahui kalau Kevin sedang memperhatikannya dari lantai atas.
"Aku tidak tahu kenapa Lisa datang di kehidupanku, merusak semuanya. Tapi, saat ini aku merasa bersalah disini," batin Kevin seraya mengepalkan tangannya.
Kevin pun menuruni anak tangga satu persatu hingga akhirnya ia berhasil mendekati Lisa yang sedang menata makanan.
Lisa menoleh. "Aa- tuan anda sudah bangun?"
"Ya."
"Apa anda ingin makan? Aku sudah menyiapkan ini un-"
Belum selesai Lisa berbicara, Kevin langsung memotong pembicaraannya. "Aku tak butuh semua makanan yang dimeja itu."
T-tapi ini bukan untuk anda," jawab Lisa yang berhasil membuat Kevin menjadi malu.
"Ekhem, yang mengatakan itu untukku siapa? Lagipula aku tidak mau memakannya," balas Kevin.
Karena tak mau terlihat malu, pria itu melipat tangan bajunya sambil membuang muka."Aku sudah menyiapkan bubur untuk anda."
"Tidak perlu, itu juga. Buang saja!" balas Kevin ketus.
Mereka berdua terdiam sejenak ketika mendengar suara bel dari luar apartemen. Lisa yang menyadari bunyi itu pun langsung sadar kalau itu pasti orang tuanya Kevin.
"Biar aku saja," gadis itu langsung berlari keluar yang diikuti Kevin dari belakang.
Lisa pun membukakan pintu mansion itu dengan lebar. Sedangkan Kevin menutup mulutnya tak percaya, dengan melihat kedatangan tamunya hari ini.
"Kalian. Untuk apa kalian kemari?" tanya Kevin dengan tatapan datarnya.
"Sudah kuduga kau pasti akan mengatakan itu. Kami kemari untuk menemui menantuku bukan untuk menemuimu," jawab Arga, ayah dari Kevin. Pria paruh baya itu langsung masuk melewati Kevin.
Sebaliknya Lisa memperhatikan Kevin yang mengeraskan rahangnya. Kedua orang tua Kevin sudah berada di ruang tamu tanpa seizinnya, dengan menyisakan mereka berdua di depan pintu.
Lisa melirik ke arah Kevin yang masih menghadap ke arah luar. Gadis itu hendak melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu. Namun, Kevin mencegahnya.
"Untuk saat ini berpura-puralah menjadi istriku!" paksa Kevin dengan tatapan tajamnya.
Lisa hanya mengangguk meskipun ia tak mengerti tujuan Kevin yang sebenarnya.
__ADS_1
Gadis itu langsung menyambut kedua orang tua Kevin dengan lembut. Kevin? Pria itu berada di kamarnya, ia bahkan tidak memperdulikan orang tuanya.
"Lisa, kau tidak apa-apakan nak? Kau terlihat kurus sekarang," tanya Claudia merasa khawatir dengan keadaan Lisa.
"Aku baik-baik aja kok tan- maksudku ma," jawab Lisa sambil tertawa cengengesan.
"Hah, tapi kau terlihat seperti kelelahan sayang. Bagaimana mungkin Kevin menyuruhmu untuk membersihkan seluruh mansion besar ini? Dia memang sudah keterlaluan. Nanti mama pekerjakan pelayan disini, oke!"
"Tapi mah, tu-- Kevin bilang dia tidak mau ada satu pelayan pun yang ada disini."
"Sudahlah, nanti mama yang bilang. Satu atau dua orang tidak akan jadi masalah," jawab Claudia dengan santai.
Lisa terbungkam dan tak bisa menyanggah lagi. Sementara Arga sedari tadi memperhatikan foto-foto yang berada di apartemen tersebut.
Suasana kembali hening, Lisa pun menawari mereka untuk makan masakannya.
Terlihat kedua mertuanya ini sangat menyukai masakan Lisa. Terlebih lagi mereka sangat jarang memakan masakan rumahan. Kecuali sang istri sedang berlibur. Lisa menerima banyak pujian hari ini.
"Mama, papa. Apa aku boleh bertanya?" panggil Lisa di sela-sela pembicaraan mereka.
"Apa itu?" ucap keduanya serentak.
"Hm, mungkin aku terlalu ikut campur dengan masalah yang seharusnya tidak harus kupertanyakan. Tapi, aku sangat ingin tahu sekarang, kenapa Kevin bersikap tak acuh pada kalian?"
"Huh, Kevin dari kecil jarang sekali kami temui. Bahkan bukan kami yang mengurus anak itu. Kami terlalu sibuk hingga kami melupakannya.
"Sejak saat dia berumur lima tahun, bukan kami yang mengurusnya. Sejak saat itulah Kevin membenci kami dan selalu membuat masalah di sekolah," timpal Claudia.
Lisa mulai mengerti situasi sekarang ini, tapi yang masih ia tak mengerti kenapa kedua pasangan paruh baya ini sangat ingin dirinya menjadi istri Kevin?
Semua itu dimulai dua bulan yang lalu saat ayahnya melakukan pertemuan dengan orang tua Kevin.
Lisa tak mengerti kenapa ibu dan ayah Kevin memaksa dirinya untuk menjadi menantu mereka. Yah, meskipun ia tahu kalau ayahnya dengan orang tua Kevin merupakan kerabat dekat.
Dirinya bahkan di tawarkan untuk melanjutkan kuliah dan diberi kehidupan yang serba berkecukupan. Tetapi Lisa menolak, ia bahkan tak mengenal Kevin.
Ia hanya melihat foto-fotonya yang terpampang jelas di jalanan. Itulah yang membuat dirinya saat ini masih tak mengerti.
"Lisa?" panggil Claudia yang melihat Lisa termenung.
"Ha. Iya mah?"
"Apa yang kau pikirkan?"
__ADS_1
Lisa tertawa cengengesan. "Tidak, aku hanya berpikir bagaimana supaya Kevin bisa mengerti dengan niat baik kalian."
Claudia tersenyum. "Kami memang tak salah memilihmu, buatlah Kevin merasa dicintai. Jika ia tak mendapatkannya dari kami, setidaknya ia mendapatkannya darimu.
Lisa hanya bisa tersenyum, meskipun demikian ia sudah menguatkan hatinya untuk mengalahkan egonya Kevin.
Tekadnya semakin kuat dan meyakinkan dirinya bahwa Kevin bukanlah pria yang jahat. Sesuatu pasti merubah sikapnya menjadi seperti ini.
"Kau tidak makan?" tanya Claudia.
"Kevin belum makan dari semalam, aku makan nanti saja mah."
"Ah iya, kalau begitu kami juga ingin pergi sekarang, kalau terjadi sesuatu apa-apa katakan saja langsung," pinta Claudia seraya memeluk Lisa yang merupakan menantu satu-satunya sekarang.
"Jika dia menyakitimu katakan saja langsung, kami selalu membukakan pintu untukmu nak," timpal Arga sembari mengeluarkan obat-obatan di dalam plastik.
Lisa hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Hari ini tidak terlalu buruk untuknya, ya meskipun tidak tahu untuk hari esok.
......................
Kevin saat ini tengah setengah berbaring sambil memainkan ponselnya.
Tok tok
Terdengar suara ketukan pintu yang cukup pelan. Membuat pria itu yakin kalau saat ini yang mengetuk pintu adalah Lisa.
"Masuklah! Aku tak menguncinya," ucapnya yang masih berfokus pada ponsel.
Lisa pun memasuki kamar itu perlahan dan menutupnya kembali dengan sangat pelan.
"Aku membawakanmu makanan, anda belum makan dari semalam."
Kevin melirik nampan yang ada di tangan Lisa, lagi-lagi gadis itu membawakan bubur untuknya.
"Aku tidak sakit! Buang saja bubur itu dan bawakan aku makanan yang baru kau masak pagi ini." tukas Kevin dan diberi anggukan oleh Lisa.
Gadis itu kembali dengan membawa nampan berisi makanan yang dimasaknya waktu pagi sesuai perintah Kevin. Kevin melirik isi nampan tersebut dan mengambil hidangan itu dari tangan Lisa.
Satu suapan telah masuk, sesuai dengan harapan Kevin. Makanan itu sangat enak hingga ia melahap suapan demi suapan dengan cepat.
Kevin melirik Lisa yang ternyata masih berada di sampingnya.
Karena merasa malu ia langsung menjauhkan piring tersebut dari dekatnya. "Apa yang kau lihat? Jangan membuatku ingin memuntahkan makanan ini jika kau masih ada disini!"
__ADS_1
Lisa hanya mengangguk menurut, dan berjalan keluar sambil tersenyum kecil tanpa di ketahui Kevin.
TBC