
Pintu kamar terbuka sempurna. Kevin masuk ke dalam kamar dengan jalan yang agak sempoyongan karena alkohol yang diminumnya.
Ia berjalan mendekat kearah Lisa, membuat jantung gadis itu semakin tak karuan karena ketakutan. Tanpa melepaskan sepatu ataupun jasnya, Kevin berbaring diatas ranjangnya dan memeluk erat gadis itu dari belakang.
Lisa tidak menanggapi dia hanya mencoba menerima perannya saat ini.
"Aku tahu kau akan menerimanya, nikmati saja kehidupanmu mulai sekarang," bisik Kevin.
Lisa membuka matanya, berbalik arah menghadap Kevin. "Aku-- aku menerima persyaratan anda tuan muda," ucap Lisa dengan gugup.
Kevin pov
Aku tak menyangka gadis ini ternyata lebih mencintai ayahnya daripada dirinya sendiri. Aku sedikit kagum melihatnya, tapi kutepis semua pikiran yang mengenai kebaikan tentang dirinya.
Kapan pun dan dimana pun seorang gadis yang bernama Lisa Alexandra hanya seorang wanita perusak hubungan orang.
Aku pun tersenyum tatkala ia menyetujui persyaratanku. Kukeluarkan senyum hangatku sambil melepaskan pelukanku beranjak mengambil beberapa kertas yang sudah tercetak beberapa tulisan untuk persyaratan kontrak antara kami.
Dia ikut duduk diranjangnya. Sambil menarik selimutnya keatas, aku pun memberinya selembar kertas yang sengaja aku buat saat dikantor.
...
"Aku ingin kau menyetujuinya," pinta Kevin sembari memberikan selembar kertas yang berada ditangannya. Gadis itu melihat beberapa kata-kata yang telah tertera dikertas tersebut, dan tak lain adalah persyaratan kontrak mereka.
Di dalam kertas itu berisi semua ucapan mengenai ia adalah majikan Lisa. Gadis itu tidak boleh sedikit pun membantah dan apapun yang ia lakukan pada Lisa, gadis itu harus menerimanya.
Lisa membaca semua itu sambil ingin menangis dalam batinnya. Ia pikir mungkin ini adalah cobaan dari tuhan untuknya, dan ia yakin semua itu pasti ada jalan keluar.
Lisa mengangguk sambil tersenyum kearah Kevin. Begitu juga dengan Kevin yang tersenyum sambil berkata di dalam hati bahwa inilah penderitaan dari gadis itu sebenarnya.
...
Lisa terbangun dari tempat tidurnya. Lagi-lagi tempat asing yang ditemuinya. Kamar itu terlihat agak kosong dan tidak ada yang menempati. Gadis itu melihat ke arah selimut, didapatinya baju kaos serta celana panjang.
Ia melihat ke segala arah memastikan Kevin tidak berada disana. Untungnya ia tidak menemukan pria yang ditakutinya. Jadi ia merasa aman untuk saat ini.
"Hahh," Lisa bernafas lega. Setidaknya dia tidak perlu merasa ketakutan saat ini.
Lisa mengambil pakaian yang telah tersedia didekatnya dan berjalan menuju kamar mandi yang berada didalam kamar tersebut.
Gadis itu mandi sambil menahan perutnya yang kelaparan. Hal ini membuat penyakit asam lambungnya kembali bangkit.
__ADS_1
Lisa keluar dengan keadaan yang sudah bersih dengan memakai pakaiannya yang telah disediakan. Didudukinya bangku yang tersedia di samping ranjang sambil bermenung bagaimana keadaan ayahnya saat ini.
Tok tok (suara ketukan pintu)
Lisa membelalakkan matanya tatkala mendengar ketukan pintu tersebut. Ia mendengar pintu yang terus diketuk dari luar. Sejenak Lisa berpikir tidak mungkin kalau Kevin mengetuk pintu bukan? Biasanya dia akan masuk begitu saja.
Lisa berjalan perlahan dan membuka pintu kamarnya dengan rasa ketakutan. Akhirnya pintu itu terbuka sempurna, ia melihat dari bawah hingga atas. Seorang pria tampan membawakan makanan untuknya.
"Maaf nona, tuan muda menyuruhku untuk memberikanmu sarapan," ujar pria tersebut sambil tersenyum seraya membawa nampan dan juga gelas yang berisi susu di dalamnya.
Karena kebetulan Lisa sangat lapar, ia langsung mengambil nampan dan gelas tersebut sambil tersenyum.
"Terimakasih," ucap Lisa diiringi senyuman yang memperlihatkan lesung pipi yang dalam.
"Sama-sama nona," balas pelayan tersebut membalas senyuman Lisa.
Baru saja pria itu berjalan lima langkah, ia langsung berbalik lagi melihat Lisa yang tengah berada dimeja menikmati makanan yang diberikannya.
Lisa menelisik rambut panjangnya kebelakang telinga. Membuat pria itu refleks tersenyum memperhatikan wajah cantiknya.
"Cantik," gumam pelayan tersebut.
"Aa-- nona! Aku baru ingat. Kalau tuan muda menyuruhku untuk memberitahumu tidak boleh keluar dari rumah ini. Tapi, anda di perbolehkan untuk mengelilingi rumah ini," ujar pria tersebut dengan sedikit gugup.
"Ah-iya, boleh aku tahu namamu? Biar aku bisa lebih mudah memanggilmu."
"Namaku, Jun Nathan Aldebaran. Nona boleh memanggilku Jun ataupun Nathan. Tapi biasanya orang memanggilku Jun, sih," jawab Jun dengan lembut dan suara yang terdengar ramah.
Kalau saja pria yang bernama Jun itu Kevin, pastinya Kevin tidak akan menyiksa Lisa dan membuat gadis itu langsung jatuh ke dalam pesonanya.
...
Brakk.. brukkhh..
Suara kericuhan terdengar di telinga para staf di dalam ruangan tersebut. Yah, ruangan yang ditempati Kevin secara pribadi. Tidak ada seorang pun yang boleh masuk kedalam ruangan itu selain dirinya.
Pria yang biasa di panggil tuan muda atau nama lengkapnya Kevin Anggara Arreondo, kini menghancurkan beberapa barang yang ada diruangannya untuk meluapkan kemarahannya.
Tetapi kemarahan itu lenyap seketika saat dirinya melihat foto yang sangat dijaganya selama ini.
"Sel ..., kenapa kau meninggalkanku sendiri disini? Sampai sekarang aku tidak tahu keberadaanmu. Pasti saat ini kau sedang bersedih bukan? Jangan bersedih. Bagaimanapun aku akan tetap mencintaimu selamanya, dan mulai sekarang aku akan membalaskan dendammu padanya," monolog Kevin sambil memeluk foto itu dengan erat.
__ADS_1
"Lisa Alexandra Qiana, gadis itu bukan? Bahkan aku mendengar namanya saja sudah ingin muntah. Aku minta maaf jika aku harus menikahi gadis itu. Karena mulai saat ini dia juga harus ngerasain apa yang kamu rasakan."
...
Cukup bosan berada dikamar. Akhirnya Lisa memutuskan untuk keluar dari kamar. Sekali lagi dia benar-benar terkagum melihat rumah yang besar bak istana baginya. Mungkin saat ini untuk kembali ke kamarnya gadis itu sudah lupa.
Banyak sekali bunga hias yang berada dirumah bak istana itu. Tidak hanya itu, kamarnya pun juga sangat banyak persis seperti sebuah kos-kos rumahan yang terdiri banyak ruangan.
Tanpa Lisa sadari, ternyata dia begitu menikmati pemandangan dari rumah itu. Ia juga menemui jendela besar yang memperlihatkan kolam renang di bawah jendela tersebut.
"Nona?" panggil Jun menyentuh pundak gadis yang saat itu sedang berada dibalkon.
"Iya?" Lisa langsung membalikkan tubuhnya dan menoleh kearah Jun.
"Apa anda ingin berkeliling di rumah ini? Aku akan memberitahumu ruangan dirumah ini," jawab Jun.
Lisa tersenyum seraya mengikuti Jun dari belakang. Karena tempat itu paling dekat dengan dapur. Mereka pun langsung sampai diruangan dapur.
"Nona, kenalkan! mereka adalah para pelayan di rumah ini. Aku sebagai kepala pelayan dirumah ini," ucap Jun dengan ramah.
Tidak hanya wanita, pelayan pria juga sangat banyak dirumah itu. Persis seperti kerajaan, Kevin rajanya dan mereka dayang-dayang dari kerajaan ini.
Lisa sempat berpikir mereka adalah orang yang baik. Namun tidak, sebagian dari mereka menghujat Lisa dari belakang dengan mengatakan bahwa gadis itu adalah gadis yang tidak baik-baik.
Cukup lama Lisa berkeliling ia merasa badannya sudah cukup lelah. Mengingat ia tidak bisa bertemu ayahnya, membuat Lisa kembali frustasi dan pergi kembali ke kamarnya.
"Nona anda ingin kemana?" panggil Jun.
"Ah, kepalaku pusing. Aku ingin kembali ke kamar saja, Jun," balas Lisa seraya melangkah menuju kamarnya.
Gadis yang mempunyai mata bak boneka itu menatap luar jendela kamarnya sambil mengeluarkan air mata. Rasa rindu pada ayahnya membuatnya benar-benar ingin keluar dari tempat ini dan segera berlari kerumah sakit. Sayangnya Kevin tidak memperbolehkannya.
Cklekk
Suara pintu dan langkah kaki itu langsung dikenali Lisa. Gadis itu langsung mengusap air matanya dan menoleh kebelakang.
"Tuan muda!" kejut Lisa sembari berdiri tegak menghadap pria tersebut.
"Menikahlah denganku! Tidak ada penolakan!" paksa Kevin dengan nada datarnya.
TBC
__ADS_1