
Happy reading
Hujan deras turun lagi. Akhir-akhir ini sering sekali hujan, mungkin karena sudah masuk musim penghujan. Di dalam ruangan luas yang cukup gelap terdengar suara koper dan langkah dari dekat lorong.
Cklekk (suara pintu terbuka)
"Akhirnya kau datang juga," sambut Devan bangkit dari tempat duduknya.
"Aku menunggu hari-hari ini, bahkan tiap harinya," balas Sella.
"Kau terlalu terobsesi dengan Kevin, Sel. Jika rencanaku gagal lagi, kau tidak akan bertemu dengannya lagi Sella."
"Hentikan omong kosongmu! Jangan menyentuhnya sampai aku bisa mendapatkannya. Aku sudah merencanakan ini semua dengan matang-matang. Jadi kali ini kumohon kau bisa mengerti."
Devan mendesah kesal, ia melangkah lebih dekat kearah Sella. "Hah, coba kita lihat. Kau sengaja jauh-jauh ke London hanya untuk ini?" Devan tersenyum kecut menunjuk perut gadis tersebut yang mulai membesar sekarang.
Sella memutar malas bola matanya. "Huh, aku ke London hanya ingin bertemu dengan orangtuaku. Setelah aku tahu perut ini membesar, aku pindah dari tempat itu agar tidak ketahuan."
"Setelah kau melihat perutku yang besar ini, kau pikir anak yang kukandung ini anak siapa?!" timpal Sella.
"Maksudmu?" tanya Devan sambil menautkan kedua alisnya.
"Yang didalam perutku ini anakmu Dev!"
......................
"Ayah...., Ibu!" teriak seorang gadis kecil menangis memukul-mukul pintu. "Aku ingin pulang!" gadis kecil itu membanting dirinya berkali-kali kearah pintu.
"Sudahlah. Mereka tak akan mendengarmu dari sini," ucap Angga dengan suara lesuh.
Pria kecil itu memeluk lututnya sambil menangis. Rasanya sakit sekali ia terpisah dengan orangtua dengan cara diculik. Angga menatap gadis kecil yang berada dihadapannya.
Hatinya tergerak untuk memeluk gadis kecil nan manis tersebut. Perlahan ia berdiri, namun langkah itu terhenti tatkala menatap seorang pria dewasa dengan tubuh yang besar berada dibelakang gadis kecil tersebut.
Kakinya seakan terhenti dan mulutnya tak bisa berbicara, begitu pula dengan gadis kecil itu.
Pria bertubuh besar itu melangkah mendekati gadis kecil yang berada dihadapannya. "Kau tahu? Kau itu sangat berisik. Mengganggu waktu tidurku hari ini," ucap pria bertubuh besar itu sambil mencekeram rahang gadis kecil tersebut.
"M-maafkan aku."
Pria itu tersenyum smirk kemudian membopong tubuh gadis kecil itu membawanya keluar dari ruangan tersebut.
Gadis kecil itu menatap Angga berharap ia akan ditolong "Anggaaa!" teriaknya. Angga berlari menuju pintu. Namun terlambat, pintu itu sudah tertutup duluan dari luar.
__ADS_1
"Icaaa!"
"Icaaa!" teriak Kevin yang terbangun dari mimpinya. Tubuhnya penuh keringat, nafasnya tak beraturan.
Mimpi buruk itu lagi-lagi datang menghantui Kevin.
Entah kenapa, mimpi itu akhir-akhir ini lebih sering datang. Kenapa semua mimpi itu terasa sangat nyata? Jika benar mimpi itu nyata lalu siapa gadis kecil yang ada di dalam mimpinya?
"Huh, jika anak yang bernama Angga itu aku. Lalu siapa gadis yang bernama Ica itu?"
Kevin menyibakkan selimutnya, kedua kakinya telah mencapai lantai sekarang. Ditatapnya jam dinding yang menunjukkan pukul 03.00 pagi. Ia menghela nafas kemudian berjalan keluar dari kamar untuk mengambil minum.
Kaki Kevin terhenti tatkala menatap Lisa berada di dapur dengan tanktop dan celana pendeknya. Gadis itu seperti sibuk membuat segelas teh.
"Lisa!" panggil Kevin membuat gadis itu menatap balik.
Secara spontan, Lisa menutup belahan dadanya dengan kedua tangannya dan Kevin memalingkan wajahnya.
Kedua pipi mereka saling memerah, bahkan Kevin sudah memikirkan sesuatu hal yang tidak-tidak. Sangat jarang ia melihat Lisa berpakaian sexy, ralat, tidak pernah.
"Cuaca dingin. Apa kau tidak kedinginan, berpakaian seperti itu?" tanya Kevin tanpa menoleh. Perasaan khawatirnya muncul seketika.
"Ah itu, aku sering berpakaian seperti ini jika tidur. Tadinya, aku ingin berganti pakaian karena kedinginan. Tapi, aku akan membuat teh dulu hehe," balas Lisa dengan jujur sambil tertawa cengengesan menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Kamu, mau aku buatkan teh?" sambung Lisa.
"Hehe, siap tuan!"
Lisa berlari sambil tertawa melihat ekspresi Kevin yang geram mendengar kata ' tuan '. Gadis itu tampaknya memang sengaja mengatakannya agar suasana tidak terlalu canggung seperti tadi.
"Hah, ada-ada saja."
Kevin tersenyum, jantungnya masih berdegup kencang tak karuan. Rasa beban dikepalanya berkurang hanya dengan melihat Lisa tersenyum gembira.
Pria itu menarik kursi meja dan duduk dikursi tersebut. Selang beberapa menit Lisa kembali ke dapur dengan piyama tidurnya.
Ia membuat dua gelas teh hangat sembari terus tersenyum dengan sendirinya. Gadis itu tak bisa menahan senyumnya, bahkan Kevin bingung dibuatkan.
"Ini," Lisa meletakkan satu cangkir teh itu di depan Kevin dan satu cangkir lagi dibawanya pergi menuju kamar.
"Hei! Kau mau kemana?" tanya Kevin memutar kepalanya kebelakang.
"Ke kamar."
__ADS_1
"Tidak usah. Temani saja aku disini!" pinta Kevin.
Lisa menghela nafas dan memilih untuk menuruti keinginan Kevin. Sedangkan pria itu tersenyum kemenangan, ia tak kesepian hari ini meskipun terbangun di pukul 03.00 pagi.
"Lisa."
"Hmm?"
"Apa kau mencintaiku?"
Lisa menyemburkan air yang berada dalam mulutnya. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" pria itu menatapnya dengan serius sekaligus dengan tatapan sendunya.
"Jika kau mencintaiku. Maka sebaiknya buang rasa itu. Aku bukanlah pria yang baik-baik yang cocok denganmu. Dengar Lisa, Jikalau kau tetap bersamaku, akan banyak rintangan dihadapanmu."
"Aku tidak tahu, apa yang kau alami dahulu hingga sekarang. Tapi...., Aku merasa, aku harus bertahan hingga semua akan selesai. Aku akan tetap bersamamu."
Kevin menghela nafasnya. "Bahkan sekalipun aku mencintai orang lain, dan—"
"Dan...?"
"Aku menghamilinya."
......................
Hari ini adalah hari keberangkatan keluarga Arreondo ke Prancis, untuk mengurus beberapa perusahaan mereka yang ada disana. Sebelum mereka berangkat, Claudia bersama dengan suaminya berniat pergi untuk berpamitan pada Lisa dan Kevin.
"Aku tidak yakin. Kevin akan menerima kita untuk masuk ke apartemennya," ujar Arga.
"Sudahlah, paling tidak aku hanya ingin melihat wajahnya saja," jawab Claudia sambil menekan bel.
Terdengar suara bel luar, Lisa langsung bersigap. "Aku saja yang membuka," ucap Lisa dengan celemek yang menggantung ditubuhnya. Gadis itu sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.
"Tidak usah. Biar aku saja, kau lanjut memasak saja," pinta Kevin.
Kevin melihat cctv halaman luar yang disana sudah terdapat wajah kedua orangtuanya seperti sedang menunggu. Ia menghela nafas kemudian membuka pintu apartemen dengan perlahan.
Kevin menatap jengah tanpa menoleh kearah mereka. "Apa yang kalian lakukan kesini?"
"Kami akan pergi Perancis hari ini. Aku harap kami bisa berpamitan dengan kalian," balas Claudia dengan tatapan sendu. Matanya sudah berkaca-kaca merindukan pria kecilnya yang dulu, yang selalu menunggu mereka di depan pintu.
"Itu saja yang akan anda katakan? Kalau begitu aku tutup du—"
"Papa, mama. Masuklah! Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian juga," potong Lisa menarik tangan Claudia dan diikuti Arga dari belakang.
__ADS_1
"Ah, Mengesalkan!"
TBC