Change You

Change You
Keraguan


__ADS_3

Happy reading


"Lisya, kamu kenapa?"


"Gapapa Jef."


"Gue nanya betulan Lis, kamu kenapa nangis?" Jefri memasang ekspresi bingung. Alisya gadis yang tangguh menurut Jefri dan kini ia menangis tiba-tiba.


"Kevin, Jef."


"Kevin kenapa?"


"Dia dah nikah Jef."


"Sama?"


"Lisa. Nama gadis itu Lisa. Tadi kamu sempat bilang mobil Kevin mencurigakan, ternyata di dalamnya wanita itu, Jef," ceplos Alisya sambil menangis.


"Apa?!"


Jefri menatap Alisya dengan tak percaya. Ia tersenyum seraya berpikir mungkin itu hanya bualan Kevin saja, agar Alisya tidak mendekati Kevin terus menerus.


"Ish! Kamu kok malah ketawa sih!" sentak Alisya mendorong pelan bahu Jefri.


"Udahlah gak usah nangis lagi. Kan masih ada aku," bujuk Jefri dengan sedikit candaan darinya.


"Apaan sih! Gak ah, kamu itu gak seganteng Kevin," ucap Alisya dengan tatapan jengkelnya. Jefri membalasnya dengan gelak tawa yang cukup kuat, "Hahaha, siapa juga yang mau sama lo."


Jakarta 09.00


Suasana apartemen milik Kevin biasanya terlihat ramai, terlebih lagi banyak pelayan dan penjaga yang bersiap untuk melindungi dan melayani Kevin. Namun, akhir-akhir ini mereka datang mulai pukul 12 siang sampai jam 8 malam.


Sebagian dari mereka juga ada yang datang di waktu siang saja, yang berati shift kerja mereka telah ditetapkan oleh Kevin. Kini apartemen itu lebih sering ditempati dua orang saja, yaitu Kevin dan Lisa.


Hari ini Kevin mimpi buruk lagi membuatnya tak bisa tidur hingga semalaman. Namun pada akhirnya Kevin tertidur pulas dipukul enam pagi dan kembali terbangun dipukul sembilan.


Pria itu berjalan sempoyongan kedapur dengan mata yang sedikit terpicing. Kevin meraba-raba meja makan yang tampak kosong dengan tangannya.


"Mana sarapanku?" tanya Kevin dengan suara beratnya yang menahan kantuk. Tak ada jawaban dari sana. Bagaimana mungkin ada seseorang yang menjawab, sedangkan didapur hanya ada dirinya sendiri.


Kevin mengucek matanya dan menoleh kesegala penjuru. Tak ada ia temukan Lisa yang biasanya berada didapur dengan celemek bunga-bunga.


"Apa dia masih tertidur?" pikir Kevin.

__ADS_1


Karena tak bisa menahan rasa lapar, Kevin langsung berlari ke kamar Lisa. Pria itu sudah berada di depan pintu sekarang, juga sudah mengetuk pintu hingga beberapa kali, namun tidak ada sahutan.


Kevin khawatir terjadi sesuatu pada Lisa. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar tanpa aba-aba. Ia menatap kesegala arah dan berlari menuju jendela kamar yang terbuka lebar.


"Apa dia kabur dari jendela? Apa aku terlalu jahat padanya dan berbuat salah," batin Kevin yang mulai berkecamuk dikepalanya.


Hampir setengah tubuhnya sudah berada di luar jendela untuk memastikan apa Lisa masih berada dibawah.


Sangat tak masuk akal memang jika Lisa turun dari jendela, sedangkan kamarnya sangat tinggi untuk turun kebawah.


Lisa yang ternyata berada dikamar mandi mendengar keributan dari luar kamar. Bergegas gadis itu berjalan keluar dengan handuk.


Mendengar suara pintu yang terbuka, reflek Kevin membalikkan tubuhnya menatap kearah pintu.


"Lisa—" panggil Kevin dengan girang. Namun, mulutnya bungkam seketika melihat Lisa dengan paha yang terekspos dan dengan belahan dada yang sedikit terlihat.


Terlebih lagi rambut panjang dan bibirnya tampak basah, serta alisnya yang tebal terlihat berserakan. Gadis itu terlihat sangat....


Sexy


Lisa segera menutup tubuhnya yang terekspos, tapi Kevin sudah terlebih dahulu membelakangi Lisa.


Dengan wajah yang memerah dan suara yang berat seperti tercekat, "Dimana sarapanku?" tanya Kevin yang berusaha menutupi nafsunya semaksimal mungkin.


"Maaf, aku kesiangan tadi. Akan aku buatkan setelah ini," jawab Lisa yang wajahnya tak kalah merah dari Kevin.


Lisa terbungkam dengan ucapan Kevin. Sedangkan pria itu memukuli wajahnya berulang kali.


Apa ia harus menuruti Kevin? Tentu saja tidak harus bukan? Tetapi ia sadar dengan posisinya sebagai istri sekarang, hak Kevin merupakan kewajiban buat Lisa.


Selain itu Lisa masih mempunyai kontrak dengan Kevin pada saat sebelum pernikahan, dan ia tidak tahu apakah itu masih berlaku atau tidak sekarang.


Lisa sudah memutuskan hal ini untuk memberikan hak Kevin walaupun ia menyadari bahwa hati Kevin bukan untuknya. Gadis itu menyentuh punggung Kevin dari belakang.


Ayolah, ini bukan pertama kalinya Kevin melihat tubuhnya, dan sepertinya Kevin sudah menyentuh gadis itu sebelum hari pernikahan.


"Baiklah. Penuhi hasratmu," ungkap Lisa sembari membalikkan tubuh Kevin untuk menghadap kearahnya. Kevin mundur beberapa langkah, tetap berusaha menghormati Lisa.


"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan kok," bujuknya melangkah maju mendekati Kellvin.


Kevin menyerah untuk menahan hasratnya. Lisa terlihat sepuluh kali lipat lebih cantik dari biasa. Ia ikut melangkah maju, "Tidak ada paksaan untukmu?" tanya Kevin kembali.


Lisa tersenyum sembari menarik lengan Kevin dan menaruh lengan itu tepat dipunggungnya, "Tidak, lakukan saja," balasnya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tidak bisa lagi berhenti sekarang."


Kevin langsung menarik tubuh Lisa agar lebih dekat dengannya. Hal yang pertama kali dilakukannya adalah mengecup bibir gadis itu dengan memberi sedikit gigitan kecil.


Gadis itu sedikit meringis dan tetap membalas tautan itu.


Hanya sekali tarikan, handuk itu langsung terjatuh. Tubuh Lisa terekspos dengan sempurna sekarang.


Lisa sedikit mundur menatap Kevin dengan wajahnya tampak berubah menjadi lebih seram ketika melihat tubuhnya. Selain itu kepala Lisa juga pusing dan perutnya mual.


Kevin hendak mendaratkan bibirnya lagi pada Lisa. Tetapi, gadis itu malah mundur dan menjatuhkan dirinya ke lantai.


"Lisa!" panggil Kevin dengan raut wajah khawatir. Ia langsung mengangkat Lisa yang setengah sadar. Gadis itu memuntahkan cairan bening dari dalam mulutnya tepat mengenai piyama tidur Kevin.


Lisa menyeka bibirnya, "Slurrp, maaf, aku tidak senga—" belum sempat Lisa berbicara ia sudah duluan tak menyadarkan diri.


Kevin mengguncang tubuh gadis itu yang melemah, "Lis, Lisa!"


Tak mau membuang waktu, Kevin langsung membawa Lisa ke rumah sakit setelah memakaikan baju untuknya.


****************


Jefri dan Alisya bertemu satu sama lain untuk memastikan apa benar Lisa dan Kevin mempunyai hubungan? Atau itu hanya akal-akalan Kevin saja agar Alisya menjauh darinya.


Alisya sudah mengelilingi meja untuk kelima kalinya. Sementara Jefri  berulangkali menatap jengah Alisya. Mungkin dengan memainkan beberapa game bisa mengurangi rasa bosannya.


Hingga keenam kalinya Alisya akan berputar, Jefri mencekal tangannya.


"Apaan sih Jef!"


"Gue capek liat lo mutar mulu! Bisa gak kita bicarain sama-sama aja. Daripada lo mondar mandir gak jelas gitu?"


"Gue lagi mikirin gimana cara kita supaya tahu kalau mereka ada hubungan," ujar Alisya sembari melepaskan cekalan tangan Jefri.


"Yaelah. Cuman itu aja, mendingan kita langsung ke apartemen Kevin. Kalau benar Lisa istrinya Kevin, pasti dia tinggal di apartemen Kevin bukan?"


"Bener banget! Tumben Lo pintar," puji Alisya dengan bersemangat.


"Heleh, memang dari dulu kali."


Jefri dan Alisya membuat rencana untuk mengunjungi apartemen Kevin. Sementara orang yang dicari sedang duduk dibangku rumah sakit sambil bermenung.


"Apa Lisa hamil? Tapi tidak mungkin, Siapa ayahnya? Atau diam-diam Jun dan Lisa— akh! Apa yang aku pikirkan sih, tidak mungkin Lisa dan Jun melakukan itu."

__ADS_1


"Apa aku yang membuatnya saat mabuk itu. Itu juga tak mungkin! Aku sangat sadar saat itu. Kenapa aku berpikir aneh-aneh seperti ini? Harusnya aku berpikir kesehatan Lisa sekarang," batin Kevin.


TBC


__ADS_2