Change You

Change You
Aku Menyukaimu


__ADS_3

Happy reading


"Aaaaa!" teriak Lisa berlari berhamburan keluar dari kamar.


Gadis itu hampir saja mengelilingi apartemen yang sangat luas tersebut hanya untuk mencari Kevin. Hanya satu ruangan yang belum dimasukinya, yaitu kamar Kevin sendiri.


Sebelum mengetuk pintu, Kevin sudah duluan membukakan pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Kevin dengan ekspresi wajah kebingungan, seakan-akan ia tak tahu apa yang terjadi pada Lisa pagi ini. Lisa menghirup oksigen dalam-dalam untuk menyesuaikan nafasnya.


"Hosh, dikamarku."


"Dikamarmu?"


"Iya. Apa ada orang lain, yang berada di apartemenn ini selain kita?" Gadis itu berbicara selayaknya orang kelelahan sembari memegang lutut.


"Aku rasa tidak ada. Memangnya ada apa?"


"Entahlah, tadinya aku membuat kamar berserakan dengan kertas-kertas...,"


"Kau membuatnya berserakan dengan kertas-kertas. Lalu?" potong Kevin yang tadinya Lisa sempat berhenti berbicara.


"Huh! Lupakan saja. Anda tidak pergi hari ini?"


"Sepertinya tidak. Kau mau kutemani bertemu dengan ayah?" Kevin berhasil membuat pipi Lisa kembali merona mendengar kata 'ayah' membuat Lisa merasa semakin dekat dengan Kevin.


Kevin mengulum senyumnya, sedikit memajukan wajahnya dengan Lisa. Membuat pipi gadis itu menjadi seperti kepiting rebus sekarang.


"Wajahmu merah? Apa kau sakit?" goda Kevin. Lisa menolak tangan Kevin dengan pelan, yang ada jika seperti ini terus gadis itu bisa mati ditempat sekarang.


"Sehat. Aku sangat sehat kok!" Ujar Lisa sambil mengangguk dengan senyum yang terlihat ambigu. Kevin mundur beberapa langkah sambil tersenyum tipis.


......................


Kevin dan Lisa kini telah sampai di depan rumah sakit. Melihat hal ini, Lisa sangat bersemangat keluar dari mobil. Namun, Kevin menahannya.


Lisa menaikkan sebelah alisnya bingung dengan tujuan Kevin. Pasalnya setelah Kevin menahannya, malah pria itu pula yang keluar terlebih dahulu.


Kevin berlari kecil setengah memutari mobil dan berhenti tepat didepan pintu mobil bagian kiri.


Pria itu membukakan pintu untuk Lisa sambil mengeluarkan senyumnya yang lebar. Perlakuan apa ini? Ini hanya akan membuat Lisa semakin meleleh melihatnya.


Kevin berusaha membuat Lisa merasa spesial. Tetapi Lisa malah berpikir, semua ini adalah akting dari Kevin. Walaupun begitu, Lisa berharap semuanya akan seperti ini selamanya.


Lisa tersenyum mendapati perlakuan manis dari Kevin. Andai saja ia merasakan perlakuan ini setiap hari, mungkin ia akan betah di dalam rumah satu harian.


Keduanya pun berjalan memasuki salah satu kamar rumah sakit. Disitu sudah terdapat orangtua Kevin serta ayah Lisa.


Kevin hendak saja masuk, namun ia mengundurkan diri setelah melihat kedua orangtuanya duduk disamping ayah Lisa.

__ADS_1


Suasana terlihat canggung. Lisa dan ayah Lisa, mengetahui kalau Kevin tidak menyukai orangtuanya sendiri.


Jangan ragukan lagi mengapa ayah Lisa mengetahui Kevin membenci orangtuanya. Tentu saja karena ayah Lisa sahabat dari tuan besar Arreondo.


Kevin menoleh kearah Lisa. "Ah aku tunggu diluar saja ya," ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Lisa yang masih diam terpaku.


Gadis itu menatap Kevin sejenak, kemudian menutup pintu kamar dan melangkah maju mendekati ayah dan mertuanya.


Tuan besar Arreondo beserta istrinya langsung tersenyum manis pada Lisa begitu pula dengan ayah Lisa yang sangat menyayangi putrinya.


"Hm kenapa, papa dan mama ada disini?" ucap Lisa sembari menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Kami sering mengunjungi ayahmu, sebelum berangkat keluar. Kami akan berangkat ke Prancis sore ini. jadi kami pikir, kami akan singgah untuk berpamitan," ucap Arga sembari tersenyum.


"Kami dengar, Lisa ulang tahun hari ini?" tanya Claudia sambil menatap bola mata Lisa yang besar bak boneka. Lisa menatap sang ayah. Terdapat kilatan di bola mata Lisa, gadis itu tak sanggup membendung air matanya.


Lisa langsung mengangguk sembari menunduk. Ia masih mengingat bahwa setahun yang lalu sang ibu masih disampingnya untuk mengucapkan ulangtahun untuknya.


Claudia yang memahami perasaan gadis itu, langsung berjalan memeluk Lisa dan mengelus lembut rambut Lisa dari belakang.


"Tenanglah, semuanya pasti akan baik-baik saja."


Lisa mengangguk dan membalas sebuah pelukan ibu yang dirindukannya, Bagaimana dengan ayah dan mertua Lisa? Mereka hanya bisa tersenyum haru melihat hal itu.


......................


Drrtt drrtt


"Tuan, kami hampir menyelesaikan semuanya sesuai perintah anda."


"Kerja bagus!"


Sambil tersenyum Kevin menaruh kembali ponselnya kedalam saku. Ia yakin kali ini ia melakukan hal yang benar. Pandangan Kevin teralihkan ke arah Lisa yang tengah menutup pintu kamar rumah sakit.


Kevin berjalan mendekati. "Sudah selesai?" Lisa menunjukkan deretan giginya seraya tersenyum gembira. "Sudah!" serunya.


"Cepat sekali. Hmm, aku jadi bingung harus melakukan apa," ujar Kevin mengerutkan dagunya. "Kau mau makan?" sambungnya.


"Kita baru makan siang tadi," jawab Lisa spontan. Kevin menepuk dahinya. "Ah iya! Bagaimana, kalau berkeliling?" tanyanya kembali.


"Hmm, aku rasa kita. Lebih baik kita pulang saja. Aku juga ingin menyiapkan makan malam."


"Jangan! Kita akan menunggu dulu, sampai semuanya akan selesai," ceplos Kevin.


Lisa mengerutkan dahinya "Menunggu semuanya, maksud anda?"


Kevin tertawa garing. Padahal tidak ada yang lucu sama sekali. Tapi, hal itu dilakukannya hanya untuk menghilangkan kecurigaan Lisa padanya.


Pikiran Lisa tak teralihkan, malah ia semakin bingung melihat pria yang teratwa dihadapannya saat ini.

__ADS_1


"Ya. Maksudku, menunggu sedikit perbaikan. Tadinya aku sempat pulang kerumah dan ingin menggantikanmu memasak. Tapi-- ya begitulah. Pasti kau tahu bukan?"


Kali ini Lisa yang tertawa terbahak-bahak. Terlebih lagi melihat ekspresi Kevin yang menurutnya sangat lucu saat bercerita.


Sedangkan Kevin hanya tertawa cengengesan sembari menggaruk tengkuknya.


"Jadi, kau mau ikut denganku. Berkeliling?"


"Baiklah, tuan Kevin yang aneh."


Lisa berlalu melewati Kevin dengan ekspresi bingung sekaligus senang. Menurutnya, Lisa sudah cukup berani untuk mengatakan hal-hal seperti itu. Tapi, disisi lain hal itu membuatnya senang.


......................


"Hah. Aku rasa kita sudah berkeliling berjam-jam," ujar Lisa menekuk lutut.


"Kita baru saja berkeliling 1 jam 27 menit."


"Ah! anda benar-benar menghitungnya ternyata."


"Tentu saja! Aku sangat efektif dalam hal-hal seperti ini," Kevin memasang wajah angkuhnya, sementara Lisa sama sekali tidak memperhatikannya dan lanjut berjalan. Tentu saja hal itu membuat Kevin kesal.


"Yak! Kau meninggalkanku."


"Haha. Tidak-tidak, aku hanya berpikir apa yang akan kita makan malam nanti. Sepertinya kita tidak ada sawi dirumah."


"Nanti saja itu. Tunggu sebentar disini."


Lisa mengangguk dan memilih duduk di bangku sambil menunggu. Entah apa yang dilakukan Kevin, yang pasti ia hanya tersenyum bahagia melihat perlakuan Kevin hari ini.


Beberapa menit kemudian sebuah tangan muncul dari belakang dengan ice cream. Lisa menoleh kebelakang dan mendapati Kevin yang menyuguhkan ice cream itu padanya.


"Kau suka ini?" tanya Kevin.


"Tidak."


Satu kata itu membuat Kevin menjadi lesuh seketika. "Maafkan aku. Aku tidak tahu ternyata kau tidak suka. Aku buang saja," Kevin berjalan mendekati tong sampah.


"Jangan! Aku hanya bercanda. Aku sangat menyukainya sama seperti aku menyukaimu," ceplos Lisa tanpa sengaja. Membuat Kevin diam terpaku.


"Sama seperti aku menyukaimu." kata-kata itu terus melayang dipikiran Kevin.


"Tuan?" panggil Lisa sembari melambaikan tangannya di depan wajah Kevin.


"Haha, kau pintar membuat sesuatu hal yang lucu," ucap Kevin memberikan ice cream itu pada Lisa.


"Aku mengatakan hal yang sebenarnya," batin Lisa.


"Aku harap itu benar," batin Kevin sembari tersenyum dan menggenggam serta menarik tangan gadis itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2