Change You

Change You
Bertemu Ayah


__ADS_3

Dua Minggu berlalu semenjak kejadian yang menimpa Lisa. Kini, Lisa sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit.


Gadis cantik dengan pipi berlesung itu mengikat rambutnya kebelakang agar ia tak terusik saat merapikan pakaian.


"Lisa."


Lisa menoleh kebelakang dan mendapati Kevin yang tampak sedang menunggu di depan pintu. Ia langsung mempercepat gerakannya secepat mungkin agar Kevin tidak marah.


Kevin yang melihat dari belakang hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Lisa.


Hanya dalam beberapa menit, Lisa sudah menyelesaikan semua perlengkapannya. Namun beberapa detik kemudian ia berputar menghadap Kevin, menatap pria itu dengan tatapan sendu.


"T-tuan. Aku tahu anda membawa ayahku berada di rumah sakit ini. Kumohon izinkan aku bertemu dengan ayahku satu kaliiii saja."


"Pergilah. Aku tidak akan melarangmu lagi bertemu dengan ayahmu."


Lisa menatap Kevin dengan tak percaya. Gadis itu berteriak riang berlari mendekati Kevin untuk memeluknya.


Kevin mendorong gadis itu dengan pelan. "Jaga batasanmu," ucapnya dengan ketus.


Lisa langsung mundur beberapa langkah seraya membungkuk.


Gila. Apa yang kulakukan?!


......................


Akhirnya mereka sampai di lorong kamar Rendra Alexandra, ayah dari Lisa. Lisa menatap ayahnya dari luar kamar dengan tatapan sendu.


Sang ayah tampak kesepian. Walaupun beliau sedang memejamkan mata saat ini tetapi, Lisa bisa melihat kalau ayahnya sedang meneteskan air mata.


Karena tak kuasa menahan rindu. Lisa langsung masuk sambil berteriak "Ayah!" ucap Lisa memeluk sang ayah dengan erat.


Rendra membuka matanya, sambil tersenyum memeluk erat putrinya. "Lisa kemana aja? Ayah selalu menunggumu, tahu!"


"Maafkan aku. Ayah harus menghukumku!" ucap Lisa melepaskan pelukannya. Gadis itu tertunduk diam meneteskan air mata. Ia paling tak sanggup jika melihat Rendra bersedih. Sehingga, gadis itu tak berani menatap wajah sang ayah.


"Sudahlah tidak apa-apa, yang terpenting. Ayah masih bisa memelukmu," ucap Rendra sembari mengelus rambut panjang Lisa.


Lisa mengangguk dan memeluk kembali ayahnya dengan tangisan yang tersedu-sedu.


Rendra menoleh kearah belakang Lisa. "Siapa pria yang di belakangmu?"


"Belakangku?" Lisa menoleh kebelakang dan mendapati Kevin yang sedang berdiri santai di dekat pintu masuk.


"Apa yang dilakukannya. Sejak kapan dia ada disitu?"


"Dia....,"


"Dia...?" tanya Rendra.

__ADS_1


"Saya Kevin. Suaminya Lisa, Ayah," sahut Kevin berjalan menghampiri Lisa, dan berdiri tepat disamping gadis tersebut.


Rendra menatap wajah putrinya yang menunduk ketakutan. "Apa itu benar?"


"I-iya. Saat itu, sebelum ayah menyadarkan diri... Kevin melamarku. Kuharap ayah tidak marah." jawab Lisa.


Rendra tertawa kecil melihat ekspresi putrinya. "Jadi ceritanya, putriku sibuk. Sehingga tak bisa mengunjungiku. Begitu bukan?"


"Ayah marah?" tanya Lisa dengan nada rendah hampir tidak kedengaran.


Rendra menarik tangan Kevin dan Lisa, kemudian menaruh kedua tangan mereka di atas dadanya.


"Ayah senang kalian bisa bersama tanpa harus dijodohkan."


Keduanya tersenyum tipis, dan saling bertatapan sejenak. Berpikir ini semua segeralah cepat selesai.


"Kevin, putra Arreondo bukan?" tanya Rendra.


"Iyah ayah," jawab Kevin dengan senyum yang begitu tulus. Lisa belum pernah melihat ini sebelumnya, gadis itu sangat bersyukur Kevin melakukan ini untuknya walaupun hanya sandiwara.


"Ayah berpikir, Lisa hanya putri ayah dan tidak ada yang boleh memilikinya. Ternyata, sekarang Lisa milikmu. Jaga dia baik-baik, jangan sampai membuatnya menangis," pinta Rendra.


Kevin mengangguk sebagai jawaban 'iya'. Lagi-lagi senyum manis dari Kevin, membuat Lisa ingin meleleh jadinya. Namun, Lisa langsung tersadar kalau Kevin bukanlah miliknya.


......................


"Bagaimana bisa, wanita yang kau tusuk?!" bentak Devan pada pria yang telah menusuk Lisa.


Devan memutar kursinya. "Menurutmu siapa gadis itu?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi aku masih mengingat wajahnya."


"Kalau begitu, cari tahu tentang gadis itu sekarang juga. Untuk sekarang ini, para polisi mencarimu. Kau tidak aku perbolehkan untuk keluar dari markas. Mengerti!"


"Baik bos!"


Devan memutar kursinya menghadap keluar jendela ruangannya. "Seorang gadis?" gumamnya.


......................


Akhirnya perbincangan hangat antara Kevin dan Rendra ayah Lisa, telah usai. Kevin berjalan keluar dari kamar beliau, sementara Lisa yang sedari tadi berada di luar kamar menatap Kevin bingung. Wajah Kevin terlihat memerah sekarang.


"Tuan anda tidak apa-apa?" tanya Lisa menatap Kevin dengan tatapan khawatir.


"Tidak apa-apa, ayo cepat pulang!" jawab Kevin tanpa menoleh kearah Lisa. Pria itu melanjutkan langkahnya dengan cepat.


"Aneh. Apa dia marah? Apa ayah mengatakan sesuatu yang membuatnya marah?" pikir Lisa.


Gadis itu berlari mengejar Kevin, yang ternyata dirinya sudah tertinggal jauh.

__ADS_1


Selama di dalam mobil, mereka tidak bicara sama sekali. Lisa hanya terus memperhatikan Kevin dengan penuh kebingungan. Apa dia melakukan kesalahan lagi? Pasti ayahnya yang membuat Kevin menjadi begini.


Sesampainya di depan mansion, Kevin bingung para pelayannya sudah berada di depan apartemen. Padahal pria itu tidak ada sama sekali memperintahkan mereka.


Kevin keluar dari mobilnya, "Kalian! Siapa yang perintahkan kalian untuk disini!"


"Tuan besar memerintahkan kami, untuk menjaga nona Lisa tuan," jawab salah seorang penjaga. Kevin menatap tajam kearah Lisa yang tertunduk takut.


"Huh, yasudalah."


Kevin pun berjalan memasuki apartemen yang diikuti Lisa dibelakangnya.


Kevin pov


Apa dia akan mengikutiku terus seperti ini? membuat semakin jengkel saja. Aku menoleh kebelakang, menatap wajah polos Lisa yang aku pikir terkesan imut dan sexy.


"Apa yang kupikirkan?


"


Segera aku menepis semua pikiran itu dan menatapnya tajam. "Apa kau akan terus mengikutiku?" ucapku membuatnya berhenti melangkah.


"Tuan!" panggilnya. Terpaksa aku harus menoleh.


"Terimakasih!" Ucapnya sembari menundukkan kepala. Aku tersenyum dan berpikir bahwa akulah yang harusnya berterimakasih padanya.


"Anggap saja impas. Karena kau sudah menyelamatkan nyawaku, maka aku juga akan membalasnya," jawabku sambil berpikir apa yang aku lakukan ini sudah benar, dan masih terdengar arogan bukan?


Lisa tersenyum lebar yang menampakkan lesung pipi yang dalam. Aku menghindarinya sejauh mungkin, sebelum pikiranku berubah untuk mengurung Lisa dikamarku seharian.


Akhirnya aku berhasil menjauh darinya, tetapi perut yang keroncongan ini membuatku harus kembali meminta bantuan padanya.


"Apa aku harus kembali? Tidak, tidak. Aku meminta pelayan saja."


Aku keluar dari kamarku yang berada dilantai tiga, dan menuju ke dapur yang berada di lantai dua.


Aku melihat gadis itu lagi dan lagi. Tapi, kali ini ada seorang pria di sampingnya. Aku langsung bersembunyi di balik dinding sambil memegang gelas yang sempat aku ambil tadi.


"Jun. Apa yang dilakukannya?"


Entah mengapa aku tidak suka melihat tatapan Lisa padanya. Apalagi dia selalu tersenyum setiap kali berbicara.


"Tuan?" panggil salah seorang pelayan yang berhasil mengagetkanku.


Prangg


Kevin menjatuhkan gelas yang berada ditangannya, membuat Lisa dan Jun menoleh kearah kericuhan itu.


"Aaa sialan. Apa yang kulakukan? Kalau begini pasti ketahuan," teriakku dalam hati.

__ADS_1


TBC


__ADS_2