Change You

Change You
Sikap Kasar Kevin


__ADS_3

Cahaya matahari yang menembus jendela, membuat Lisa terusik. Gadis itu kini berada di atas ranjang, mengerjapkan matanya berulang kali kemudian melihat ke arah jendela.


Lisa hampir tidak bisa membuka mata karena kepalanya yang sangat pusing. Ia tidak bisa mengingat kejadian apapun semalaman selain kedua tangannya diikatkan di tiang ranjang.


Kevin juga menutup mulutnya dengan dasi dan menyuntikkan sebuah jarum suntik tepat di lengan hingga Lisa terasa sangat mengantuk dan tidak bisa sadarkan diri.


Lisa melihat ke segala penjuru ruangan dengan ketakutan untuk memastikan apakah Kevin ada di ruangan itu atau tidak. Namun ia tidak menemukan Kevin di dalam kamar tersebut.


Entah sejak kapan butir-butir air jatuhย dari matanya. Mungkin karena rasa keputusasaan membuat Lisa tidak bisa mengontrol air matanya.


Lisa menoleh ke seluruh penjuru ruang namun tidak ia temukan sosok pria yang menyiksa dirinya semalam.


"Kau sudah bangun?"


Suara berat Kevin berhasil mengagetkan Lisa yang tengah bermenung. Gadis itu langsung menarik selimutnya sampai bahu.


"Kenapa menangis hm? tidak ada yang perlu ditangiskan," ujar Kevin mendekati Lisa.


Semakin dekat, Kevin menghampiri Lisa yang terjelas di raut muka gadis itu kalau ia sedang ketakutan.


Entah apa niatnya saat ini, yang pasti Kevin sedang berusaha mengeluarkan ponsel dari sakunya dan fokus mengutak-atik ponsel itu


"Lihat. Ayahmu sudah aman sekarang, aku sudah menaruhnya diruang, VIP. Jadi tidak ada yang perlu ditangiskan. Bukannya itu maumu?"


Lisa semakin tak mengerti maksud dari perlakuan Kevin yang menurutnya itu gila.


"Aku memang menginginkan ayahku selamat, tapi tidak dengan ini caranya," Lisa memberanikan dirinya untuk berbicara."Pria gila. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!"


Entah dari mana Lisa mempunyai kekuatan untuk melawan. Padahal jika Kevin mau, dirinya bisa saja membunuh gadis itu sekarang tanpa ada yang menuntut dari perbuatannya.


Pria yang dianggap Lisa gila, turun dari ranjang untuk mengambil jasnya. Tidak ada tanggapan dari Kevin. Lisa hanya bisa melirik Kevin yang tengah menyeringai di depan dirinya.


"Aku bisa kapan saja mengeluarkan ayahmu dari rumah sakit dan membayar semua rumah sakit agar tidak ada seorang pun yang menerimanya--"


"Aku terkesiap ketika mendengar perkataannya, tidak boleh. Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti ayahku yang hanya kumiliki satu-satunya" pikir Lisa


"Jangan. Kumohon jangan! Hanya dia satu-satunya yang aku miliki," ucap Lisa yang refleks memotong perkataan Kevin.

__ADS_1


"Aku akan memberimu pilihan, turuti semua perkataanku atau ayahmu...., lupakan! Kau bisa memilih salah satu di antara keduanya."


Seketika Lisa terbungkam, jika memilih menolak maka nyawa ayahnya akan terancam.


Saat itu juga Lisa menyadari mulai saat ini ia hanya akan terus merasakan perlakuan kasar Kevin dan penyiksaan. Jika itu hanya untuk ayahnya ia akan melakukan semuanya.


||โ€ข||โ„‚๐•™๐•’๐•Ÿ๐•˜๐•–||โ€ข||


Kevin dengan mobil merahnya baru saja sampai di gedung kerja untuk pemotretan. Kacamata hitam serta jasnya yang besar membuat dia selalu kelihatan elite di depan mata publik.


Sepanjang perjalanan masuk ke dalam gedung, Kevin terus tersenyum. Membuat para staf yang berada di gedung tersebut kebingungan.


Berita Kevin yang menggendong seorang gadis sedang jadi pokok pembahasan. Pria itu duduk di bangku ruang hias, dilihatnya ponsel untuk memeriksa beberapa hal penting.


Siapa sangka bahwa berita heboh itu telah menyeluruh ke dunia. Matanya lekat melihat gambar dalam ponsel tersebut untuk memastikan, dan ya, gambar itu hasil dari potret saat dia menggendong Lisa di jalan.


Dirinya tak menyangka hanya karena ia menggendong gadis tersebut, berita itu sampai ke penjuru dunia virtual. Kevin memasang wajah kesalnya dan beranjak pergi dari tempat tersebut.


"Tuan, anda ingin kemana? Pemotretan belum selesai," ujar salah satu staf pria tersebut.


"Memangnya kau siapa berani mengaturku!" sontak Kevin memberikan tatapan tajamnya.


"Maaf tuan," jawab staf tersebut.


"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Kau staf baru disini, bukan?" tanya Kevin dengan sedikit menyeringai.


"I-iya tuan."


"Aku peringatkan! Mulai saat ini jangan pernah menampakkan wajahmu disini lagi!" tegas Kevin menghempaskan tubuh staf pria tersebut, hingga punggungnya mengenai kursi belakang.


Pria berjasย hitam tersebut pergi meninggalkan staf pria tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kevin memasang kacamatanya dan berlanjut pergi menaiki mobil.


"Sialan!" umpat Kevin sambil memukul setir mobil merahnya.


Sebenarnya Kevin bisa saja membungkam semua berita tentangnya, tapi bukannya itu percuma saja? Semua orang sudah tahu berita tentangnya dan sudah menyebar hampir ke seluruh penjuru.


Pria itu berdecak kesal dan pergi ke bar seperti biasa. Dia melakukan aktivitas seperti biasa minum alkohol untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


Cukup lama Kevin berada di bar hingga tengah malam. Dirinya setengah sadar saat ini membuat dirinya tidak menyadari seorang wanita telah berada di samping mencoba untuk mendekatinya.


"Sayang," bisik wanita tersebut mendekati telinga Kevin.


Kevin tersenyum dan membalikkan tubuhnya menghadap wanita di sampingnya. Kini senyum terpapar jelas di wajah wanita itu.


Ia mengira Kevin akan mendekatinya, ternyata salah, Kevin malah mencekeram rahangnya dengan kuat.


"Tidak ada seorang pun yang boleh memanggilku dengan panggilan sayang, kecuali wanitaku. Kau mengerti!"


Kevin menghempas tubuh gadis itu hingga ia terjatuh dari kursi. Tanpa merasa bersalah, Kevin dengan santainya pergi meninggalkan wanita malam tersebut.


Di sepanjang perjalanan pulang, Kevin tertawa kecil menahan kekesalannya untuk hari ini.


"Lisa! Lisa Alexandra Qiana, hahaha gadis yang malang. Lihat bagaimana aku akan memperlakukanmu."


||โ€ข||โ„‚๐•™๐•’๐•Ÿ๐•˜๐•–||โ€ข||


Tepat jam 01.00 malam, Lisa masih di dalam kamar Kevin merenungi nasibnya. Ia tidak bisa keluar sedikit pun apalagi kamar itu terkunci.


Seluruh tubuhnya juga sudah sangat tak berdaya rasanya, dia belum makan ataupun minum seharian membuat sekujur tubuh gadis itu lemas.


Ia hanya bisa berbaring di ranjang Kevin. Tangannya juga terlihat membiru akibat ulah pria itu. Gadis itu hanya bisa menangis kedinginan menunggu kapan semua ini akan berakhir.


Cklekk....


Suara pintu yang terbuka membuat Lisa semakin takut, ia menutup matanya dan kemudian menarik selimut seakan-akan dirinya sedang tertidur.


Pintu kamar itu terbuka sempurna dan masuklah Kevin ke dalam kamar dengan jalan yang agak sempoyongan karena minuman yang berakohol yang diminumnya.


Kevin berjalan menuju kearah Lisa. Jantung gadis itu semakin tak karuan karena ketakutan. Tanpa melepaskan sepatu ataupun jasnya, pria itu berbaring di atas ranjang dan memeluk erat gadis itu dari belakang.


Lisa tak menanggapi dia hanya mencoba menerima perannya saat ini.


"Aku tahu kau akan menerimanya, nikmati saja kehidupanmu mulai sekarang," bisik Kevin tepat di dekat telinganya


Lisa membuka matanya dan berbalik arah menghadap Kevin.

__ADS_1


"Aku...., aku menerima persyaratan anda tuan muda," ucap Lisa dengan gugup.


TBC


__ADS_2