
Happy reading
Jefri dan Alisya berhenti tepat di depan mansion Kevin. Mereka datang sangat tepat, dimana Kevin dan Lisa baru saja akan berangkat untuk makan diluar.
"Kevinnnn!" seru Alisya.
"Lah, si nenek sihir," gerutu Kevin.
Lisa melirik kearah suara yang menunjuk di luar gerbang. Sudah terlihat Jefri yang tersenyum menatap kearahnya. Kevin melihat tatapan Jefri dengan tidak suka pada istrinya.
Dia harus jujur kali ini. Bahwa Lisa, adalah orang yang pernah ia ceritakan.
"Coba kita lihat? Jalan berdua dengan pakaian rapi. Kalian ingin berkencan?" tanya Alisya sambil memutari keduanya.
"Kalian akan kemana?" sambung Jefri.
"Hanya mencari angin," jawab Kevin singkat.
"Aku ikut!" seru Alisya.
"Aku juga!" timpal Jefri.
Kevin memutar malas bola matanya. "huft, kalian mengganggu kencanku saja," ujar Kevin mendahului mereka sambil menggenggam tangan Lisa.
"Yak Kevin! ayo Jef, kita ikuti mereka!" seru Alisya.
----------------
Klotak klotak
Terdengar suara sepatu highels dari kejauhan. Sepatu itu, semakin jelas terdengar saat melewati lorong.
"Dev."
Devan menoleh ke depan. Memperhatikan satu gadis cantik dengan aura menakutkan baginya. Siapa lagi kalau bukan Sella? gadis itu memakai pakaian mewah serba hitam, dengan sepatu highels berwarna merah.
"Bagaimana penampilanku, indah bukan?"
"Jangan menunjukkan wajah itu. Kau terlihat seperti psychopat sekarang. Selain itu, tidak baik memakai pakaian terlalu ketat saat hamil."
"Ck! harusnya kugugurkan saja."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Devan berusaha untuk melainkan pembicaraan. Salah, jika dirinya mengizinkan Sella untuk menggugurkan bayi itu. Devan hanya berharap janin itu akan baik-baik saja hingga lahir.
"Aku hanya memintamu untuk menjalankan tugasmu Dev. Apa yang akan aku lakukan nanti, itu terserahku."
"Ck. Mengesalkan!"
Sella memasang senyum smirk sambil memutar tubuhnya 90 derajat. "Akan kubawa Kevin, kemari. Hidup atau mati, Kellvin adalah milikku."
Devan hanya menghela nafas, dan kembali fokus pada ponsel. Sedangkan gadis itu melanjutkan langkahnya menuju keluar lorong.
...
__ADS_1
Suasana terlihat canggung sekarang. Dimana, Kevin dan Lisa duduk berseberangan dengan Alisya dan Jefri. Bukan ini yang diinginkan Kevin!
"Kalian. Mengganggu makan siangku dengan Lisa, saja!" seru Kevin.
"Aku hanya menunggu kepastian darimu, Vin. Kau mengatakan kalau Lisa istrimu padaku. Sementara, kau mengatakan kalian tidak ada hubungan apa-apa, dengan Jefri."
"Kan sudah kukatakan—"
"Sebentar," timpal Kevin.
Kevin mengambil ponselnya yang menunjukkan pesan baru-baru ini. Matanya sangat berfokus pada ponsel, membuat kedua teman dan Lisa menatap Kevin penasaran.
Kevin menutup layar ponselnya. "Jef, aku titip Lisa padamu. Jangan sekali-kali kau menyentuhnya. Mengerti!" ucap Kevin dengan tergesa-gesa.
Kevin berlari dengan tergesa-gesa keluar dari restoran. Alisya sempat mencegatnya dengan menarik tangan pria tersebut.
"Kamu kenapa sih, Vin? Kamu belum jawab pertanyaanku!"
"Lisa istriku, Al! kan sudah kukatakan," Kevin menghempas lengan Alisya dan langsung berlari memasuki mobilnya.
Ketiganya terdiam. Jefri sudah yakin dengan hal ini. Namun, dia merasa ada yang aneh pada Kevin. Hal yang membuatnya seperti ini biasanya karena Sella.
"Aku minta maaf," ucap Lisa.
"Untuk?" tanya Jefri.
"Untuk semuanya. Aku dan Kevin sudah berbohong dengan kalian."
Jefri tersenyum. Semakin kesini, semakin ia jatuh cinta melihat Lisa. Berbeda halnya dengan Alisya yang menatap kesal terhadap Lisa.
"5 bulan yang lalu."
"Apa?!" seru Jefri dan Alisya dengan serempak.
Sesuatu hal membuat Alisya menjadi penasaran. Ia langsung berdiri dari kursinya, menarik Lisa jauh dari Jefri.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" teriak Jefri tidak terima.
"Bentar, Jef. Ini urusan perempuan," jawab Alisya sambil mengedipkan sebelah mata.
Alisya menarik Lisa lebih jauh lagi agar Jefri tidak mendengarkan percakapan mereka. Lisa hanya menurut mengikuti tarikan tangan Alisya.
Alisya berhenti tepat ditempat lumayan sepi. Ia mengelilingi Lisa berulangkali sambil memperhatikan gadis itu dari bawah hingga atas.
"Sepertinya, kau masih terlalu muda. Berapa umurmu?" tanya Alisya dengan antusias.
"19 tahun," jawab Lisa sambil menunduk ketakutan.
"Sudah kuduga!" seru Alisya.
Alisya memegang kedua pundak Lisa dan menatapnya penuh penasaran.
"Sudah sejauh mana hubungan kalian?" tanya Alisya dengan tatapan serius.
__ADS_1
Lisa mengernyitkan dahi, bukannya pertanyaan ini hanya untuk orang berpacaran? Kenapa ia menanyakan hal ini padanya?
Tidak ada respon dari Lisa. Membuat gadis yang bernama Alisya itu harus berbisik langsung padanya. Bisikan tersebut membuat pipi Lisa menjadi merah.
"Tidak pernah," jawab Lisa singkat.
"Kalian sudah menikah selama 5 bulan, bagaimana mungkin kalian belum melakukannya?!" sontak Alisya membuat orang-orang yang berada di restoran tersebut beralih padanya.
Jefri mengusap wajahnya. Alisya selalu saja membuat ia malu dengan suara lantangnya. Jefri saja malu, apalagi dengan Lisa? Dirinya bahkan tak mau melihat orang lagi.
Jefri segera berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri mereka berdua. Ditatapnya Alisya dengan tajam seraya menarik lengan Lisa untuk pergi.
"Ah! Kenapa harus kuat-kuat Alisya! Kau memang memalukan." batin Alisya.
Jefri dan Lisa sudah keluar dari restoran tersebut. Namun, tangan Jefri belum melepaskan genggamannya dari lengan Lisa.
Lisa yang merasa risih, segera melepaskan genggaman Jefri dipergelanganan tangannya. "Terimakasih. Tapi, bisa anda lepaskan?" ucap Lisa menatap kearah kedua tangan mereka.
Jefri langsung melepaskan genggaman tersebut.
"Ah-iya. Maafkan aku."
"Tidak apa-apa."
Sejak pagi hingga siang, Lisa belum makan apapun. Gadis itu tengah menahan laparnya sekarang. Padahal ia baru saja keluar dari rumah sakit tadi pagi.
Alisya berlari menghampiri mereka berdua. Ia melirik kearah Lisa berulang kali karena merasa bersalah.
"Lisa, aku minta maaf," ucap Alisya sambil menggenggam erat tangan Lisa.
"Tidak apa-apa, salahku juga. Mungkin, lebih baik aku berbisik juga," balas Lisa sambil tertawa cengengesan.
Jefri mengerti maksud mereka berdua. Itu sebabnya, pria ini membuang muka saat Lisa mencoba melihatnya.
----------------
Dengan langkah tergesa-gesa, Kevin berlari memasuki cafe. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat punggung gadis yang sangat dirindukannya.
"Kevin! kita bertemu kembali. Aku sangat merindukanmu!" sambut Sella, memeluk pria itu dengan sangat erat.
Kevin membalas pelukannya. Walaupun begitu, entah mengapa ia merasa pelukan itu terasa tidak nyaman dan sedikit dibubuhi rasa takut.
Sella menarik tangan pria itu dan meletakkan tepat diatas perutnya.
"Apa kau merasakannya?" tanya Sella penuh manja.
Kevin hampir tidak bisa berkata-kata. Apa benar yang dikatakan Devan tentangnya? Bagaimana jika memang benar dirinya yang menghamili Sella? Rasa takut mulai menghantui Kevin kembali.
"Anak... s-siapa yang kau kandung?"
"Anakmu."
Kevin tersenyum kecut. Jika benar janin itu karena ulahnya, apa yang harus dikatakannya pada Lisa?
__ADS_1
TBC